KEBIASAAN ANEH DAN MAKAN MANUSIA

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi. 

Yang sangat luarbiasa dari adat-istiadat Batak walaupun itu bukan hal yang aneh bagi mereka, masih belum banyak terungkap saat ini. Banyak diantara petualang terdahulu telah mencekoki dunia dengan penilaiannya sebagai pemakan manusia, yang mereka masih jumpai di bagian dunia ini seolah diantara jaman purba dan dunia moderen ada saling berhubungan. Benar atau salah, pada masa itu orang-orang masih suka dan terbiasa tentang sesuatu cerita yang menakjubkan dan secara umum masih dapat diterima dan dihargai. 

Ketika jaman sudah berubah, sewaktu orang-orang mulai skeptis dan ada hasrat untuk meneliti, sejumlah fakta-fakta yang ditemukan ternyata terbukti tak benar; dan orang-orang, dari berbagai kalangan kami sudah berpandangan yang mendarah daging, sehingga berbagai pendapat pada kenyataan sangat bertolak belakang.

Kemudian pandangan itu muncul menjadi kebenaran yang filosofis, muncul hampir disetiap pembicaraan, bahwa tak mungkin ada ras manusia seperti itu. Tetapi ada beragam, inkonsistensi, dan bertolak belakang berbagai sifat manusia dan memandang bahwa ada kemungkinan yang tak jelas yang hanya untuk melengkapi prinsip umum yang diterapkan pada semua ras umat manusia yang tak pantas menyandangnya, atau bahkan untuk mengumandangkannya secara terus menerus ketidak laziman yang bukan kebiasaan mereka.

 

MEMAKAN DAGING MANUSIA 

Pelayaran para petualang lautan terdahulu, yang pernyataannya merupakan kesaksian yang jujur adalah tak dapat disangsikan berdasarkan reputasinya, telah membuktikan ke seluruh dunia bahwa daging manusia dimakan oleh manusia biadab di New Zelaand; dan saya memiliki keyakinan yang sama, dari keyakinan akan kebenarannya, walaupun bukan dari seorang yang memiliki wewenang yang sama, menyatakan bahwa itu memang ada pada saat ini, manusia dimakan oleh orang Batak di Pulau Sumatra, dan hanya oleh mereka. 

Apakah ini merupakan kebiasaan mengerikan yang memang ada lebih lazim terjadi di jaman purba, saya tidak berani mengatakan kebenarannya, tetapi penulis sejarah lainnya mengatakan itu terjadi di pulau ini, dan ceritanya secara tidak pantas diceritakan sebagai cerita yang luarbiasa, juga terjadi pada banyak cerita pada bangsa-bangsa di timur, dan juga secara kusus di pulau Jawa, yang pada masa yang sama disebutkan sudah manusiawi. 

Mereka memakan manusia bukan berarti sebagai kenikmatan yang menyenangkan secara alami, karena memakan manusia bukanlah sebagai kebutuhan makanan bagi penduduk di negri seperti ini, karena alasan tak ada makanan, sehingga disembelih sebagai makanan lezat.

(Catatan kaki: Sebutan Batak pemakan manusia dan kebiasaan anehnya adalah diberitakan oleh NICOLO DI CONTI, 1449. “Di bagian tertentu di pulau Sumatra yang disebut Batak, manusianya memakan daging manusia. Mereka terus menerus berperang dengan tetangganya, menyediakan tengkorak musuhnya sebagai barang warisan, dianggap sebagai uang, dan dia dipercaya sebagai orang terkaya yang memelihara sebagian besar dari mereka dirumahnya.” ODARUS BARBOSA, 1516. “Ada sebuah kerajaan disebelah selatan, sebagai sumber utama emas, dan pulau lainnya yang disebut Aru (berbatasan dengan negri Batak) dimana penduduknya masi pagan, memakan manusia yang mereka sembelih dalam perang.” DE BARROS, 1563. “Penduduk asli di sebagian pulau yang berseberangan dengan Malaka, yang disebut Batak, memakan manusia, dan yang paling biadab dan suka berperang kepada semua penduduk pulau.” BEAULIEU, 1622. “Penduduk pulau itu adalah independent, dan berbicara dalam bahasa yang berbeda dengan Melayu. Mereka adalah pemuja dewa, dan memakan daging manusia; tak pernah menerima tebusan tawanan, tetapi memakannya dengan bumbu cabe dan garam. Mereka tak memiliki agama, tetapi mereka punya pemerintahan.” LUDOVICO BARTHEMA, 1505, mengatakan bahwa manusia Jawa adalah kanibal semasa dulunya mereka berhubungan dengan bangsa Cina.)
 

 

MOTIF DARI KEBIASAAN INI 

Batak memakan manusia adalah sebagai bagian dari suatu upacara; sebagai sebuah sikap untuk menunjukkan kebencian mereka terhadap kriminal tertentu dengan sebuah hukuman yang tercela dan memalukan. Sasaran dari jamuan makanan yang barbar ini adalah tawanan yang diambil dari peperangan, khususnya yang sudah terluka berat, tubuh yang sudah terpenggal, dan orang yang dijatuhi hukuman karena criminal berat tertentu, khususnya perkosaan. 

Tawanan yang tidak terluka (tetapi mereka tidak terlalu memberatkan untuk dipelihara) boleh dimintai tebusan atau dijual sebagai budak kepada orang yang tidak terlalu bermusuhan; sebagai orang hukuman, ada alasan untuk mempercayainya, tidak selalu disiksa bila temannya berniat untuk menebusnya dengan imbalan yang setara dengan duapuluh bincang atau delapan puluh dollar. 

Hal memakan daging manusia seperti ini boleh dilakukan oleh ras itu bila orang yang melanggar membuat perjanjian, tetapi tidak akan dijatuhi hukuman sebelum rajanya membuat persetujuan terhadap hukumannya. Bila dia sudah mengakui berat hukuman yang dijatuhkan kepadanya, lalu mengirim kain untuk menutupi kepala penjahat, bersama dengan sebuah piring besar (talam) yang berisi garam dan jeruk. Si pelaku kemudian diserahkan kepada orang yang diserangnya (jika itu adalah kesalahan pribadi, atau dalam hal tawanan dari sebuah peperangan) oleh siapa dia diikat di kayu pancang, kemudian tombak dilemparkan kepadanya dari jarak tertentu oleh orang tadi, saudaranya, dan sahabat-sahabatnya; dan bila terluka parah mereka berlari kearahnya, seolah seperti sedang dalam nafsu angkara murka, menyayat sepotong dari bagian tubuhnya dengan pisau, melaburkan potongan daging manusia itu ke piring besar yang berisi garam, air asam, cabe merah, lalu membentangkannya diatas api, dan menelan potongan itu dengan nafsu biadab. 

Kadang-kadang (saya membayangkan, berdasarkan tingkat kebuasan dan balas dendamnya) seluruh tubuhnya dikerubuti oleh kawanan yang ada disampingnya; sebagai contoh yang sudah dikenal umum dimana-mana, dengan sikap barbar yang semakin menjadi-jadi, mereka mengoyak-ngoyak daging dari mayat itu langsung dengan giginya. 

Untuk tingkat kebejatan yang demikian boleh jadi orang bergeleng-geleng kepala hingga tak satupun agama atau filosofi yang mampu mencerahkan langkahnya! Semuanya itu dapat disebutkan sebagai penyederhanaan kengerian upacara yang menyeramkan sehingga tak terlihat sebagai bentuk hiburan atas penyiksaan sipelaku kejahatan, dengan maksud untuk mempertinggi atau memperlama rasa sakit menuju kematiannya; Seluruh kemarahan dan kegeraman tertuju kepada mayat itu, yang masih membara bila masih terlihat hidup, tetapi sensasi rasa sakit cepat berlalu. 

Ada pemahaman yang berbeda yang muncul berkaitan dengan praktek memakan tubuh musuhnya yang disembelih dalam perang, tetapi sebagai imbalbalik keinginan yang memuaskan hati saya yang sudah terpenuhi, khususnya dalam hal orang-orang terhormat, atau kepada orang-orang yang menjadi pelengkap bagi perselisihan. Harus diamati bahwa pertunjukan perbuatan mereka (tepatnya dapat dibandingkan dengan perilaku predator diperbatasan negri kita) selalu berakhir dengan kehilangan tak lebih dari setengah lusin orang di kedua belah pihak. Tengkorak korban digantungkan sebagai trophy di ruang terbuka di depan rumah, dan biasanya dimintai tebusan oleh saudaranya yang masih hidup dengan sejumlah uang. 

 

KERAGUAN YANG HARUS DISINGKIRKAN 

Saya menjumpai bahwa beberapa orang (dan diantaranya adalah sahabat saya mendiang Mr. Alexander Dalrymple) telah mempertunjukkan keraguan dari kenyataan sebuah fakta bahwa daging manusia dimakan oleh umat manusia sebagai sebuah perilaku bangsa; dan pertimbangan bukti-bukti yang diungkapkan disini tidaklah cocok untuk satu contoh dari sekian banyak peristiwa di dalam sejarah mahluk-mahluk. Saya keberatan bahwa saya tak pernah menjadi saksi mata tentang Batak sebagai manusia binatang di bumi ini, dan bahwa wewenang saya tentang itu sangatlah lemah yang hanya datang sebagai orang kedua, atau bahkan tangan ketiga. Saya sangat merasa berat atas alasan-alasannya, dan saya tidak tertarik untuk memaksakan orang untuk meyakininya, sangat jauh dari memperdayanya dengan berpura-pura menjadi orang terpandang, sementara keluargaku hanya menuntut yang tidak muluk-muluk; tetapi pada saat yang bersamaan saya harus mengamatinya, karena hal itu sudah diposisikan menjadi pendapat yang tersistimatis, yang sama dengan melukai kebenaran dengan menyatakan seolah benar padahal hanya suatu keraguan.

Keyakinan saya akan kebenaran atas apa yang tidak saya lihat sendiri (dan kita harus diyakinkan atas fakta yang oleh kita sendiri atau orang yang kita hubungi pernah menjadi saksi mata) yang muncul dari situasi berikut ini, beberapa yang memiliki wewenang kecil, beberapa lainnya memiliki wewenang lebih tinggi. Sudah semestinya sebuah masalah yang umum dan tidak bertentangan yang mencari kemasyuran dengan cara yang tak baik mengenai penduduk seluruh pulau, dan saya sudah berbicara dengan banyak penduduk asli negri Batak (sebagian dari mereka adalah menjadi anak buah saya), yang mengakui adanya praktek tersebut, dan menjadi malu setelah mereka berada diantara orang-orang yang manusiawi. Sudah menjadi peluang bagi saya untuk didampingi paling tidak tiga bersaudara dan sepupu, disamping beberapa teman akrab (yang sekarang berada di England = Inggris), ketua dari pemukiman di Natal dan Tapanuli, darimana informasinya saya dapat sendiri, dan semua ceritanya saya dapatkan saya membenarnya semuanya. 

Pernyataan Mr. Charles Miller, yang namanya sama seperti bapaknya,  adalah sesuatu yang menguntungkan mengetahui dunia literature, sudah cocok untuk tujuan saya. Sebagai tambahan atas apa yang dia tuliskan dalam jurnal yang dikatakan pada saya bahwa pada sebuah desa dimana dia menggantungkan kepala dari seorang laki-laki, dimana tubuhnya telah dimakan beberapa hari yang lalu, adalah sesuatu yang sangat menjijikkan, dan dalam sebuah pembicaraan dengan sejumlah orang dikawasan angkola, membicarakan tentang tetangga mereka dan musuhnya sekarang yang ada di kawasan Padang Bolak, mereka menjelaskan bahwa orang Padang Bolak adalah ras yang tidak memiliki tatanan,  mengatakan, “Kami, sebenarnya, memakan manusia adalah sebagai sebuah hukuman atas perbuatan kriminal yang melukai kami; sementara mereka mencegat dan merampok pelintas untuk ‘ber-bantei = membantai, red’ atau menyembelihnya bagaikan ternak.” Dalam hal ini seyogianya pengakuan dan bukan skandal yang harus dibesar-besarkan. 

Sewaktu Mr. Giles Holloway meninggalkan Tapanuli dan meninggalkan ceritanya kepada penduduk setempat dimana dia bertukar pikiran dengan seorang Batak yang telah menjadi terlambat membayar hutangnya. “Saya akan,” kata orang itu, “Seharusnya sudah kesini lebih awal, tetapi panghulu saya terlihat akrab dengan istri saya. Dia tertuduh, dan saya harus mengikuti untuk memakan tubuhnya, upacara itu berlangsung tiga hari, dan baru kemarin malam berakhir.” Mr. Miller memunculkan percakapan ini, dan orang itu berbicara sungguh secara serius. 

Penduduk asli pulau Nias, yang menikam seorang Batak dalam sebuah suasana hiruk-pikuk di sungai Batang Toru dekat teluk Tapanuli, dan berusaha untuk melarikan diri, sewaktu terdengar tanda aba-aba, diciduk pada pukul enam pagi dan sebelum pukul tujuh, tanpa proses penghakiman dia diikat di tiang pancang, dipotong dengan sadis semasih hidup-hidup, dan langsung dimakan, direbus setengah matang, sebenarnya masih mentah. Kepalanya ditanam dimana dia membunuh orang tadi. Ini terjadi di bulan Desember tahun 1780, ketika Mr. William Smith telah membayar pemukiman. Seorang raja didenda oleh Mr. Bradley karena menyebabkan seorang tawanan dimakan ditempat dekat dengan pemukiman perusahaan, dan ini harus diperhatikan bahwa perbuatan buas ini tidak dilakukan didalam kampung mereka. 

Mr. Alexander Hall membuat tuntutan dalam catatan keuangan umumnya atas sejumlah uang yang dibayar kepada seorang raja sebagai bujukan kepadanya untuk menyediakan seorang laki-laki yang dia lihat sedang mempersiapkan seorang korban: dan ini menjadi kenyataan patut dihargai atas keputus-asaan perilaku itu oleh pemerintahan kami bahwa kejadian itu sangat jarang terlihat oleh orang Eropah di sebuah negri dimana tidak ada pelintas yang ingin tau, dan dimana para pembantu perusahaan, ketahuan mengaturnya, bukan saja dengan kehadiran mereka sebagai penonton, memberikan sebuah sanksi karena seharusnya tugas mereka untuk mencegah, walaupun pengaruhnya belum tentu mampu untuk mencegah mereka. 

Seorang ketua Batak bernama Raja Niabing, di tahun 1775 mengejutkan sebuah kampung tetangga dimana dia adalah sebagai musuh, membunuh raja secara sembunyi, membawa mayatnya dan memakannya. Keluarga yang malang mengadu kepada Mr. Nairne yang menjadi pimpinan di Natal, dan memohon tebusan ganti rugi. Dia mengirim pesan masalah itu kepada Raja Niabing, yang kemudian membalasnya dengan jawaban yang tak bersahabat dan mengancam. Mr. Nairne terpengaruh dengan perasaannya daripada akal sehatnya (karena orang-orang ini cukup dikeluarkan dari pengawasan perusahaan, dan keterlibatan kami dalam perseteruan tidaklah ada pentingnya) menggerakkan pasukan sejumlah kira-kira 50-60 orang dimana dua belas diantaranya adalah orang Eropah dengan maksud untuk menghukumnya; tetapi sewaktu mendekati kampong itu mereka menemukan kampong itu tertutup dengan tanaman bamboo yang sangat sempurnah diantaranya ada pagar kayu sehingga mereka bahkan tak dapat melihat dalamnya atau seorang musuh pun.

 

KEMATIAN MR. NAIRNE 

Sewaktu mereka maju untuk memeriksa pertahanan, sebuah tembakan dari seorang yang tak terlihat menembus dada Mr. Nairne, dan dia langsung terkulai. Ini adalah kehilangan seorang yang dihormati atas pengetahuan keilmuannya yang hebat, dan sebagai pelayan perusahaan yang berharga. Sangat sulit bagi pasukan itu untuk menyelamatkan nyawanya.  Seorang jongos dan seorang Melayu yang roboh dalam pertempuran itu kemudian dimakan. 

Pengalaman yang demikian dikemudian hari menjadi diakui berdasarkan keasksian seragam dari para penulis terdahulu; dan walaupun saya hati-hati bahwa masing-masing dan setiap bukti-bukti yang diambil sendiri boleh jadi mengakui beberapa hal kecil, demikian pula secara bersama mereka akan diajarkan kearah pembuktian yang memuaskan bahwa daging manusia secara kebiasaan dimakan oleh klas tertentu penduduk Sumatra. 

Bahwa bangsa yang luar biasa ini telah mempertahankan kebengisan yang mendarah daging atas sifat dan perilakunya yang kemudian dibuat pembenarannya untuk semua kasus; sebagaimana orang-orang yang menginginkan medali penghargaan di negrinya untuk memuaskan nafsu merampok oleh penguasa pendatang atau keserakahan kolonialis, dengan maksud memperoleh kekayaan alam dari tanah yang menguntungkan diperoleh melalui perdagangan dari pekerja penduduk asli; ketidaktauan mereka akan navigasi; alam yang dipecah belah oleh pemerintahan mereka dan independensi dari pimpinan-pimpinan kecil, yang diciptakan untuk tidak menyenangkan sehingga mengacaukan pemikiran baru dan adat-kebiasaan, sebagaimana bertolak belakang digambarkan pada kemasyarakatan yang sudah tuntas merubah agama seperti Minangkabau yang menganut kepercayaan ajaran Muhammad (Islam, red.); dan terakhir ide mempertunjukkan kebiadaban manusia atas praktek-praktek yang disebutkan diatas, yang secara sempurnah membuat pencitraan yang menggebugebu dan mengendalikan upaya-upaya kecemburuan oleh pencipta keagamaan.

>>>Akhir tulisan untuk Bab-20<<<

 Sebelumnya <<< >>> Selanjutnya

4 Responses to “KEBIASAAN ANEH DAN MAKAN MANUSIA”

  1. @Nikolas Simanjuntak,
    Memang sangat betul yang disebutkan oleh Bung Nikolas Simanjuntak bahwa para petualang Barat seperti NICOLO DI CONTI, 1449; ODARUS BARBOSA, 1516; DE BARROS, 1563; BEAULIEU, 1622; DLL memang terkesan dieksploitasi secara besar-besaran, tetapi William Marsden membantahnya setelah langsung melihat peradaban Batak dalam ekspedisinya. Namun disebutkan juga ada praktek kanibalisme ini dalam konteks HUKUM pada masa itu. Pliny di awal millenia ada juga mencatat bahwa banyak tribes dari mulai Afrika, Asia & China yang melakukan praktek kanibalisme pada masa itu. Bukan suatu kenistaan juga bagi bangsa Eropah bahwa mereka juga dari keturunan Ras Barbarian, jadi kita harus mengartikan ini dalam konteks durasi masa dari suatu peradaban.

    Korelasinya di jaman Moderen sekarang ini, persis seperti yang diungkap oleh Bung bahwa kita masih melihat praktek kanibalisme ini di masa sekarang dalam bentuk kemasan praktek Hukum, Politik, dan Social Interaction.

    Terima kasih Bung Nikolas Simanjuntak, I appreciate your opinion.

  2. JUN HERBERT MANALU Says:

    Terimakasih atas tulisan ini. Saya memang sering mendengar cerita seperti tulisan ini. Akan tetapi sebelum membaca tulisan ini saya masih meragukan cerita tsb.
    Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008.

    Dimakah saya bisa mendapatkan buku tsb? Jikalau bukunya mash ada saya ingin sekali membelinya.
    Terimasih sebelumnya…Horas..horas..horas.

    • Terimakasih bung Jun Herbert Manalu.
      Saja pun belum memiliki buku terjemahan oleh dua penerbit tersebut, tetapi artikel yang disajikan disi diterjemahkan secara bebas dari naskah berbahasa inggris.
      Mungkin dapat ditemukan di toko=toko buku Guning Agung, Gramedia, Karisma, dll. selamat mencari dan saya akan mencari kesempatan waktu untuk memilikinya sebagai koleksi. Thanks Horas.

      • Nikolas Simanjuntak Says:

        Riset sy ttg Kanibalisme menampakkan, pertama, topik itu dieksploitasi habis oleh para Orientalis dari Barat yg menganggap diri lebih beradab. Padahal, sejarah dunia juga menemukan Kanibalisme di berbagai belahan dunia seperti di Indian Amerika, Fiji, dan Kepulauan Pasifik lainnya, juga di Eropah, dan bangsa primitif lainnya di Asia, juga di Kalimantan, Papua, dsb. Kedua, sy sndri lebih melihat Kanibalisme bukan sebagai makanan nutrisi krn sumber gizi mereka temukan berlimpah di alam dg budaya ‘meramu’. Pelaksanaan Kanibalisme lebih tetap dilihat sebagai Hukum Acara utk menghukum musuh atau lawan, setelah lebih dahulu ditempuh acara DUEL atau TARUNG untuk memutuskan bahwa: yang MENANG adalah BENAR dan yang KALAH adalah SALAH. Maka hukuman bagi yg kalah antara lain diusir dari komunitas, atau diperbudak dan disita semua harta dan orang/anak2 keluarganya, atau dimatikan supaya tidak ada lagi musuh. Mati dalam pemahaman ANIMISME berarti bukan hanya FISIK tetapi juga ROHnya harus dihabisi, maka tempat Roh berdiam di dalam diri si musuh yg kalah adalah di Kepala, Hati, dan Jantung, maka bagian itulah yg harus dimakan rame2 oleh si pemenang untuk membuktikan bahwa si MUSUH TELAH DIHABISI LUAR DALAM, tubuh dan rohnya, sehingga tidak akan lagi bergentayangan. ‘Warisan primitif’ hukum acara ini masih diteruskan kini ke dalam Hukum Pailit, yang mematikan secara perdata si Pailit dan membagi habis hartanya tanpa bersisa supaya si Pailit tidak lagi hidup seterusnya. ‘Sisa kanibalisme’ di era modern kini masih muncul dalam praktik BISNIS dan POLIRIK PRAKTIS dg istilah “The Winner takes All” tdk bersisa bagi si yang kalah. Dalam bahasa geram amarah di Batak dan Sumut pun masih sering terdengar kata-kata “kumakan kau” atau di olahraga “libas habis” dst… Bisa kita kembangkan lagi (juga topik lain terkait) di kesempatan lain…
        Salam.
        Nikolas Simanjuntak di Jakarta (Pengajar Hukum Acara Pidana, HAM, dan ADR, di UAJ, dan aktivis di berbagai organisasi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: