Batak Marugamo

Oleh: Maridup Hutauruk

Batak Marugamo. Judul ini sengaja dipinjam dari bahasa Batak dengan maksud untuk memperkecil lingkup bahasan karena tulisan ini ada kaitannya sebagai tanggapan umum atas beberapa artikel yang terbit dibeberapa situs dengan muatan bernuansa agama, termasuk pertanyaan yang mengundang jawaban tentang iman Nenek Moyang Bangsa Batak dahulu. Ugamo dalam Kamus Batak Toba – Indonesia, karangan Drs. Richard Sinaga adalah persis sama dengan kata Agama, tanpa ada definisi atau pengartian lain tentang Ugamo. Jadi, Batak Marugamo sama artinya Batak Beragama, yang pengertiannya bahwa Bangsa Batak purba sudah menganut agama.

Banyak artikel bermuatan dengan nuansa agama, selalu menimbulkan polemik dan bahkan menjadi pertentangan antara satu dan lainnya. Padahal Tuhan yang ada pada agama, pada dasarnya berkeinginan untuk membawa keselamatan umatnya untuk menjauhi pertentangan. Ini menandakan bahwa agama memegang peranan yang sangat penting dalam gerak kehidupan manusia. Kalau boleh saya pinjam kalimat yang ditulis oleh Hotman Jonatahan Lumban Gaol dalam artikel berjudul Kristen Hau-hau, yaitu Agama itu candu (opium) rakyat, yang menurut Karl Marx, atau agama yang ambigu yang membebaskan sekaligus memperbudak penganutnya, yang dipetik dari buku Agama dan Kerukunan oleh Dr. A.A. Yewangoe.

Kata saya dan aku ternyata ada pengartiannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sehingga resmi sama-sama dapat dipakai sebagai bahasa pengantar yang umum. Dalam tulisan ini kata ganti pribadi yang digunakan adalah ‘saya’. Hal ini perlu disampaikan karena ada yang berpendapat dimana saya memberikan komentar, kemudian dikoreksi untuk tidak memakai kata ‘saya’ melainkan ‘aku’, sementara masing-masing pribadi tentu berlatar belakang yang berbeda-beda dimana ada yang beranggapan kalau memakai kata ‘aku’ seolah-olah menunjukkan ke-aku-an (selfish), atau seperti bahasa di film saja, atau semisal dalam kalimat berikut: Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang….. Chairil Anwar; atau kalimat: Akulah Tuhan Allahmu, jangan ada padamu illah lain dihadapanKu. Kebetulan menurut penulis bahwa kata ‘saya’ lebih akrab dan bernilai kesetaraan sebagai bahasa bebas. Ini hanya pendapat lho….

Definisi agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut, sedang kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tradisi.

Definisi agama menurut bahasa universal seperti bahasa Inggris (agama = religion) disebutkan bahwa (1). Agama adalah keyakinan akan adanya kuasa yang mengatur, menciptakan dan mengawasi alam semesta secara supranatural (gaib) yang memberikan alam roh yang akan tetap hidup setelah kematian. (2). Agama adalah salah satu dari berbagai macam sistim (nilai) keyakinan dan pemujaan berdasarkan kepercayaannya. (3). Agama adalah tingkat kesadaran akan kebenaran yang dianut oleh seseorang menjadi suatu ikatan. Demikian pula pengartian yang sama bila dipetik dari Merriam – Webster Dictionary atau dari American Heritage Dictionary. Secara etymology bahwa kata religion sendiri berasal dari bahasa latin dengan asal kata re-ligare yang berarti mengikat kembali.

Di Negara Republik Indonesia mengundangkan tentang agama dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 29 dengan semangat kebebasan memeluk agama dan kepercayaan karena diyakini bahwa agama dan kepercayaan seseorang adalah hak yang paling hakiki yang mengikat dirinya dan tuhannya. Namun dalam praktek berbangsa di Negara ini tetap saja penguasa Negara membatasinya sebagaimana tertuang dalam Penpres (Penetapan Presiden) No./PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 bahwa Negara hanya mengakui 6 agama di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu, tetapi tetap saja bahwa penganut agama Konghucu dilarang menjalankan agamanya dan bahkan ada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (SK Mendagri) di tahun 1974 yang mengakui hanya 5 agama minus Konghucu dalam pencantumannya di KTP, dan baru pada masa pemerintahan Presiden Abdulrahman Wahid (Gus Dur) larangan tersebut dicabut dengan Kepres No.6/2000. Walaupun UUD’45 menjamin tidak ikut campur Negara dalam hak hakiki seseorang tentang agama dan kepercayaannya namun tetap saja Negara melibatkan diri untuk tidak konsekwen dengan Undang Undang Dasar tersebut dan itulah yang dipaparkan oleh Hotman Jonatahan Lumbangaol dalam artikel DEMOKRASI DAN KEBEBASAN BERAGAMA, dan Dr. A.A. Yewangoe dalam artikelnya berjudul AGAMA DAN NEGARA: SEBUAH HUBUNGAN YANG TIDAK MUDAH, yang disadur oleh Saortua Marbun.

Sebelum terbentuk Negara Republik Indonesia bahwa suku-suku di daerah-daerah sudah menganut agama dan kepercayaan asli seperti agama Wiwitan, Cigugur, Buhun, Kejawen, Kaharingan, Tonas Walian, Tolottang, Wetu Telu, Naurus, Marapu, Purwoduksino, Budi Luhur, Pahkampetan, Bolim, Basora, Samawi, dan Bangsa Batak sudah menganut agama asli yaitu agama Mulajadi yang sudah ada sejak jaman purba sampai kemudian pada masa Sisingamangaraja-X (sepuluh) mulai berkembang agama baru yang dianut sebagian dari Bangsa Batak yaitu Ugamo Malim dan penganutnya disebut Parmalim.

Merujuk kepada topik judul; Agama apa yang dianut leluhur kita?, oleh Saortua Marbun yang berupa pertanyaan dan isi topikpun berisi pertanyaan-pertanyaan tentu menjadi gampang dijawab. Inti jawaban dari judul itu tentu berpatokan pada kata leluhur kita. Kalau leluhur kita adalah Bangsa Sunda atau Jawa Barat maka agamanya adalah antara Wiwitan, Cigugur, Buhun. Kalau leluhur kita adalah Bangsa Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur) maka agamanya adalah Kejawen. Kalau leluhur kita adalah Bangsa Kalimantan maka agamanya adalah Kaharingan. Kalau leluhur kita adalah Bangsa Sulawesi Utara maka agamanya adalah Tonaas Walian. Kalau leluhur kita adalah Bangsa Sulawesi Selatan maka agamanya adalah Tolottang. Kalau leluhur kita adalah Bangsa Lombok maka agamanya adalah Wetu Telu. Kalalu leluhur kita Bangsa Maluku di pulau Seram maka agamanya adalah Naurus. Kalau leluhur kita Bangsa Sumba maka agamanya adalah Marapu. Penting di ingat kalau leluhur kita bangsa-bangsa dari keturunan Abraham maka agamanya adalah agama Abrahamisme yaitu Jahudi, Kristen, Islam. Ada hampir 300-an agama tradisional di Indonesia yang kesemuanya mungkin lebih halus dikatakan sekarang ini sebagai aliran kepercayaan.

Dalam hal leluhur kita adalah Bangsa Batak maka agama yanga dianut oleh leluhur kita itu tentu agama Mulajadi dengan supreme god yang disebut Mulajadi Nabolon yang diartikan sebagai Pencipta Alam Semesta. Kalau demikian maka semua orang Batak dulunya sudah menganut agama monotheis sebelum datangnya agama-agama yang meng-claim monotheis yang diakui oleh Negara Republik Indonesia. Tentu tidak sulit pula untuk menjawab pertanyaan lainnya yang mempertanyakan apakah leluhur Bangsa Batak adalah benar sebagai orang beriman kepada tuhan yang sama sebagaimana diakui oleh para pemuka agama-agama besar bahwa tuhan itu satu. Tuhan yang satu yang dimaksudkan itu adalah tuhan yang dipujasembah oleh leluhur Bangsa Batak pada masa itu, karena mereka mengakui tuhan yang menciptakan Alam Semesta, apa ada Alam Semesta ciptaan lainnya? Kemudian pertanyaan tersebut meminta fakta-fakta yang mungkin dimaksudkan agar tidak sangsi mengakui bahwa para keturunan leluhur Bangsa Batak dari dahulu sampai sekarang mengimani Allah yang sama?

Ada ribuan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli mengenai agama dan salah satunya bahwa agama itu tercipta berkaitan erat dengan bahasa dan tulisan, terbukti bahwa agama membawa pengajarannya dalama bentuk buku-buku suci terlepas apakah isinya berupa legenda ataupun catatan sejarah yang wajib diimani oleh pengikutnya seperti Torah, Bibel, Al Quran, Veda, dan lain-lain. Agama pun diartikan sebagai tradisi dari kelompok yang menganutnya dan tidak ada agama yang tidak berlatar belakang kepada kultur dimana oknum inisiator agama itu terbentuk. Bangsa Batak sudah sejak dahulu kala mengemukakan karyacipta yang maha besar melalui umpasa (pantun nasihat), umpama (Kata-kata bijak = wisewords), turi-turian (mitos, legenda), kesemuanya mengandung kearifan yang membawa Bangsa Batak kepada kemuliaannya dengan tatanan nilai normatif apapun takarannya. Kandungan moral yang demikian tinggi pada karya-karya Bangsa Batak ini sebenarnya sudah seharusnya membawa bangsa ini kepada superiority-nya di Negara ini. Kalau Mahatma Gandhi mengatakan bahwa esensi dari agama adalah moralitas. Rusak moral maka rusak manusianya. Kalimat ini dipetik dari artikel berjudul PEMANASAN GLOBAL DAN PERANAN AGAMA oleh Hotman Jonathan Lumbangaol.

Kadang-kadang memang jadi timbul pemikiran untuk membandingkan agama dan moral. Mana yang lebih tinggi derajatnya? Kalau agama di-claim mengandung moral-moral kebaikan, namun moral-moral kebaikan dalam agama ini masih menjadi segmen-segmen yang dapat diperbandingkan antara moral agama yang satu dengan moral agama-agama lainnya. Sedangkan moral dalam pandangan universal merupakan kandungan kebaikan dan kebenaran yang absolute dan inilah yang dipahami oleh philosopher seperti Socrates, Plato dan banyak philosopher besar lainnya bahwa filsafat menjadi agamanya. Bukankah moral menjadi sesuatu yang berdiri sendiri di luar agama? Makanya tidak heran apabila Karl Marx meninggalkan agamanya, atau Jean Jacques Rousseau mengakui tidak bertuhan sebagaimana tuhan yang diakui oleh orang kebanyakan, atau Charles Darwin yang tidak mau pusing berdebat tentang tuhannya dan bersikap mengakui saja karena dia hanyala sedikit orang yang kurang waras diantara banyak orang-orang waras tentang tuhan pada masa itu. Memang sangat benar bahwa esensi agama adalah moralitas dan bila dikatakan tidak bermoral maka rusaklah manusianya. Bagaimana pula bila dikatakan seseorang tidak beragama, apakah seseorang tersebut tidak bermoral juga?, atau menjadi rusak manusianya?

Ironisnya bahwa kearifan kandungan lokal ini bukanlah menjadi agama yang diakui oleh Negara karena hanya dianggap sebagai ajaran animisme, paganisme yang hanya dihargai sebagai aliran kepercayaan saja yang tak punya legitimasi dan hak pencantumannya sebagai identitas. Setelah bersatu dalam satu Negara Republik Indonesia dan menyebut multi kultur menjadi Bangsa Indonesia dengan slogan sebagai bangsa yang besar bila menghargai para pahlawan yang membentuk Negara ini dan bila pun tidak menghargai kearifan kandungan lokal bisa juga menjadi bangsa yang besar? Dengan pengakuan Negara hanya terhadap 6 agama yang diakui menyiratkan pengertian bahwa Negara ini dapat terselamatkan hanya oleh kuasa dari 6 agama berdasarkan definisi agama yang disebutkan sebelumnya, karena wujud dari anutan agama adalah penyelamatan penganut oleh tuhannya. Sementara menurut Hotman Jonathan Lumbangaol dalam artikel Siapakah Tuhan itu? , pada paragraph terakhir menurut penulisnya, kebenaran tidak ada pada agama-agama, dan satu pun agama tidak ada yang mengerti Tuhan dan terserah kita bebas memilih.

Sejarah perkembangan agama telah banyak meninggalkan catatan-catan bahwa agama sebenarnya bukanlah mencerminkan makna sebagaimana didefinisikan. Agama adalah institusi sebagai kendaraan untuk mengenal tuhan sebagai pencipta Alam Semesta, jelas bukan ciptaan Tuhan namun tercipta berdasarkan figure-figur yang menciptakan agama tersebut dan figure-figur tersebut adalah kalanya sebagai nabi atau dewa atau bahkan tuhan. Dari 6 agama yang diakui oleh Negara Republik Indonesia ada 5 diantaranya tercipta oleh figure-figur yang membentuknya kecuali agama Hindu. Para ahli mengatakan bahwa perkembangan agama sejalan dengan perkembangan kemampuan berpikir dan sikap modernisasi. Penelitian ahli-ahli mengatakan bahwa sikap empati, kemampuan belajar dan mematuhi aturan sosial, sikap saling memberi, mementingkan kedamaian ada ditemukan pada primata non-manusia dan sikap-sikap ini juga sebagai cirri-ciri moralitas manusia. Ada juga pembuktian bahwa manusia purba sudah melakukan ritual-ritual kematian yang mencirikan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian dan ini merupakan pengembangan konsep-konsep agama oleh manusia.

Dr. Frans de Waal seorang primatologist dan Matt J. Rossano seorang psychologist terkenal sama-sama mengakui bahwa agama berkembang jauh ribuan tahun setelah berkembangnya moralitas pada manusia. Sayangnya bahwa konsep Kristen tidak mengakui teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin mengenai evolusi manusia, dimana menurut Kristen bahwa manusia tercipta seketika oleh Tuhan yang disebut Adam. Konsep hubungan antara manusia dan tuhannya inilah yang disebut monotheis. Adam dan istrinya Hawa, termasuk Kain dan istrinya?, adalah penganut monotheis. Kemudian mereka jatuh kedalam dosa maka mereka menggunakan persembahan binatang dalam ritualnya bahkan terbentuk sistem dan tatacara ritual semisal di altar di atas batu atau di bawah pohon yang disebut keramat. Praktek-praktek ini sama seperti yang dilakukan misalnya oleh Abraham, dan muncullah pandangan keagamaan yang disebut animatisme yang mempersembahkan binatang kepada tuhannya. Sejalan dengan berkembangnya peradaban dan jumlah manusia maka faham ini berkembang menjadi animisme yang mengasumsikan bahwa binatang yang dipersembahkan mempunyai kemanjuran-kemanjuran untuk dipersembahkan kepada tuhannya, binatang dianggap memiliki roh kekuatan.

Binatang sudah tentu tidak mempunyai agama tetapi binatang mungkin memiliki tuhan?, atau setidaknya mungkin suatu saat nanti mereka akan mengenal tuhannya setelah memiliki agama? Degradasi pemahaman ini memunculkan faham keagamaan yang disebut polytheisme yang meyakini adanya berbagai kekuatan yang menguasai Alam Semesta. Agama-agama yang muncul dari Abrahamisme seperti Jahudi, Kristen, Islam secara tegas mengakuinya sebagai monotheis dan di-claim sebagai pioner agama monotheis walaupun sebenarnya jauh sebelum adanya Abrahamisme sudah berkembang Zoroantrian dan Zoroaster sebagai nabinya, dan bahkan jauh sebelumnya lagi bahwa Zoroaster mengembangkan konsep ini dari agama Mehr (penyembahan matahari) sebagai agama monotheis yang berkembang di Iran. Di Mesir disebutkan bahwa agama monotheis pertama sekali berkembang semasa dinasti ke-18 yang dipimpin oleh Amenhotep-IV sebagai pharaoh dan dia yang pertama sekali mencetus penyembahan kepada matahari dan menyematkan namanya sebagai Akhanaten.

Pada dasarnya agama-agama lokal (tribal religion) merupakan agama monotheis yang tetap terjaga konsep-konsepnya karena memang jauh dari sentuhan peradaban luar, apalagi konsep-konsep agama ini jauh dari sifat ekspansionis yang dalam perkembangannya bahwa sejarah agama-agama besar adalah sebaliknya. Bagaimana cerita munculnya Zoroastrian dari Mehr; demikian pula Jahudi, Kristen, Islam dari Abrahamis; atau Budha dari Hindu termasuk Sikh. Kalau ada derivatif dari induknya tentu karena ada konflik yang memicu munculnya agama-agama barunya. Tribal religions tak bisa disangkal adalah sebagai agama yang mendasar yang menggambarkan hubungan pencipta dengan alam semesta.

Kembali kepada pertanyaan yang diajukan oleh Saortua Marbun dalam judul tulisan Agama apa yang dianut leluhur kita? atau apakah leluhur Bangsa Batak sebagai seorang beriman, tentu akan ditanggapi dengan berbagai pendapat. Sebagaimana saya paparkan sebelumnya bahwa saya menjamin leluhur Batak beriman kepada Mulajadi Nabolon dengan agama Mulajadi. Kalau ajakan pertanyaan mengarahkan jawaban untuk patokan iman agama yang diakui oleh Negara republik Indonesia seperti yang mendekati semisal Islam atau Kristen yang banyak dianut oleh orang Batak masa kini tentu jawabnya tidak. Akan tetapi bila pertanyaannya mengarah kepada eksistensi Tuhan sebagai pencipta Alam Semesta maka leluhur Batak bertuhankan Tuhan yang sama seperti Tuhan yang saya yakini, atau mungkin juga sama dengan Tuhan yang diyakini oleh orang lain?.

Kebetulan Bangsa Batak belum berpengalaman menganut agama dibanding bangsa-bangsa lain yang ada di Indonesia sehingga salah satunya seperti saya ini belum banyak berpengalaman dibidang agama dan secara KTP baru sekali memeluk agama. Kalau bangsa Sriwijaya dan Majapahit dan masyarakat kerajaan-kerajaan besar di Indonesia yang sudah berpengalaman anutan agama sejak nenek moyang yang secara umum diketahui seperti anutan agama Hindu beralih ke Budha, beralih ke Islam atau Kristen disamping agama-agama local tentu sudah selayaknya secara genetika lebih berpengatahuan mengenai ketuhanan. Bangsa Batak baru dikenal ada oleh dunia Eropah mulai abad-15, 16 yaitu oleh bangsa Portugis yang diketahui dalam tulisan-tulisan oleh Tome Pires. Kemudian di abad-17 disusul oleh bangsa Inggeris dan diketahui dari tulisan oleh Marsden dalam bukunya History of Sumatra dengan kesaksian-kesaksian yang banyak ceritanya tentang Bangsa Batak. Baru pada abad-18 Bangsa Batak tersentuh dari keterisolasian yang amat ketat dari hubungan pemahaman kebudayaan dan agama dimana masuknya faham agama Islam ke Tanah Batak bagian selatan oleh Paderi.

Pada abad-19 yaitu tahun 1864 resmi Batak Utara dirasuki faham agama Kristen terutama oleh Nommensen dan hilanglah sama sekali faham agama Mulajadi dari Tanah Batak dan beralih ke faham agama Islam dan Kristen. Mengapa bisa hilang sama sekali hanya dalam kurun waktu sekitar 140 tahun ke masa sekarang ini padahal sejak jaman perdagangan mas, mur, dan kemenyan, termasuk kamfer sudah berhubungan dengan dunia luar tanpa terpengaruh atau tak terusik oleh faham-faham luar. Ternyata ada masa frustrasi yang tak teratasi pada masa Paderi yang menimbulkan hubungan manusia Batak yang monotheis dengan Mulajadi Nabolon dianggap tidak mampu membendung tuhannya orang luar dari Bangsa Batak. Faham agama Islam yang sudah bercokol di Batak Selatan dengan anggapan memiliki superiority dibanding Batak di Utara sementara kekosongan di Batak Utara menjadi Blessing in disguise (karunia tersembunyi) bagi Evangelisasi Kristen. Faham monotheis Bangsa Batak dengan Mulajadi Nabolon dianggap pagan oleh Islam Paderi dan Kristen juga menganggap Bangsa Batak sebagai Sipele Begu memunculkan tuhannya yang superior dibanding tuhan Bangsa Batak. Terbasmilah konsep ketuhanan Bangsa Batak dan selanjutnya budaya-budayapun terkikis habis. Kalau tiba-tiba saat sekarang ini ada manusia Batak yang mencoba untuk memahami agama leluhurnya itu sudah tentu harus merajut kembali benang kusut atau bahkan benang putus diantara benang kusut itu dan akan selalu terbentur kalimat seperti judul nyanyian Tarida Hutauruk dengan Runtuhnya Keangkuhan.

Rujukan: Naipospos Online

Back home again

2 Responses to “Batak Marugamo”

  1. akhirnya terjawab deh……….mauliate ya ito….. blognya membukakan pengertianku tentang agama dan adat istiadat……….. intinya hanya SATU TUHAN yang disembah baik oleh agama maupun oleh adat istiadat yaitu TUHAN yang menciptakan Alam Semesta…. dan jika Dosa masuk kedalam manusia… barulah peran adat istiadat ada sebab dosa itu sama dengan Sibolis yang masuk dalam diri kita, maka menyelesaikannya harus dengan adat juga agama… agar seimbang……….. itulah pendapatku untuk saat ini… hehe🙂 Horassss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: