UNTE PANGIR

Unte Pangir (Citrus hystrix DC.)

Unte Pangir (Citrus hystrix DC.)

Orang Batak sangat mengenal yang disebut Unte Pangir atau dalam bahasa Indonesia disebut Jeruk Purut atau bahasa latinnya  Citrus hystrix DC. Pada jaman dimana orang Batak masih menganut agama Mulajadi, maka unte pangir menjadi salah satu media ritual untuk pemujaan, namun saat ini pamor unte pangir sudah hampir sama dengan nasibnya kemenyan. Banyak orang Batak bila mendengar nama unte pangir akan berkonotasi negatif kepada asumsi pemujaan setan, padahal sebelum orang batak mengenal yang namanya shampoo maka unte pangir adalah salah satu bahan pencuci rambut yang sangat manjur untuk menjaga kebersihan rambut. 

Orang Batak dahulu, terutama para datu (cerdik cendekia) menggunakan unte pangir untuk membersihkan seluruh badan sewaktu mandi. Setelah mengguyur seluruh tubuh dengan air (biasanya di pancuran) maka sebelah potongan unte pangir diperas di atas kepala lalu rambut dikeramas. Dijamin bahwa kulit kepala akan terbebas dari ketombe. Pemakaian jeruk purut di kepala tidak terasa pedih karena kandungan asam sitratnya tidak terlalu tinggi dibanding jeruk nipis. Rambut-rambut lainnya seperti pada ketek/ketiak dan rambut di tempat rahasia lainnya yang rawan sebagai tempat bersemayamnya para pasukan kuman selayaknyalah dicuci dengan unte pangir sehingga terbebas dari kuman yang umumnya menimbulkan bau dan gatal. Kulit hasil perasan berfungsi untuk menggosok seluruh kulit badan sewaktu mandi, maka daki-daki dan kuman yang bersembunyi dibalik sel kulit yang mati akan lari tunggang langgang meninggalkan tubuh. Maka bila anda menggunakan sebutir unte pangir sebagai pengganti sabun 2 x seminggu maka tubuh anda akan benar-benar bersih. Kalau fisik anda total bersih plus iman anda bersih maka bila anda berhubungan dengan tuhan anda niscaya anda layak diterimanya. 

Sampai sekarang ini, dalam proses-proses ritual tertentu, unte pangir masih menjadi media simbol kebersihan bukan saja oleh orang-orang Batak tetapi suku-suku lainnya di Indonesia. Dalam praktek-praktek perdukunan (ilmu pengobatan) oleh dukun Batak biasanya menyediakan unte pangir yang dipasangkan dengan daun sirih dan sebutir telur, disamping air bersih yang ditaruh di dalam sebuah cawan. Bahan-bahan ini digunakan oleh seorang dukun untuk memulai proses ritual meminta petunjuk dari Sang Pencipta Alam Semesta – Mulajadi Nabolon yang dianggap sebagai sumber pengetahuan untuk memberikan pengobatan penyakit fisik atau non-fisik. Biasanya sang dukun akan memejamkan matanya berkonsentrasi, lalu mengucapkan kalimat-kalimat tertentu sebagai mantra. Kalau orang Batak masa kini yang sudah meninggalkan agama leluhurnya dan menganut agama dari luar yang di anutnya juga melakukan ritual komunikasi dengan tuhannya dengan menutup mata dan mengucapkan kata-kata yang disebut doa, bahkan dalam keadaan tubuh dan jiwa kotor diperkenankan melakukan pemujaan kepada tuhannya. 

Mungkin anda belum pernah tau bahwa Bika Ambon, makanan jenis kue yang sangat terkenal sebagai oleh-oleh dari Kota Medan, bahan aktif aromatiknya terbuat dari parutan kulit buah unte pangir. Kalau tidak diberikan parutan kulit buah unte pangir maka kekhasan Bika Ambon sudah pasti dikatakan tidak enak. Bila anda memasak gule, apakah gule kepala kakap, atau gule ayam, apabila tidak diberikan beberapa lembar daun unte pangir maka gule anda belum syah sebagai gule yang lezat. 

Apabila anda membeli unte pangir untuk keperluan anda, maka paling gampang mencarinya di penjual bunga tabur yang ada disetiap pasar tradisional. Bila anda ada di Jakarta maka hampir semua pasar tradisional ada menjual unte pangir dengan harga rata-rata Rp 3.000 per butir, tetapi bila anda membelinya di Pasar Senen Jakarta maka harganya Rp 10.000 per butir karena di-klaim berasar dari Medan (Brastagi) yang lebih baik kualitasnya dan penjual mengiming-iming lebih manjur. 

Unte pangir dikenal juga oleh suku-suku lainnya dengan sebutan jeruk purut oleh orang Melayu dan Jawa, parale oleh orang Makassar, lemon papeda oleh orang Ambon, lemon titigila oleh orang Ternate, percupin orange oleh orang Inggris, bai magrut oleh orang Cina, dan bahasa ilmunya Citrus hystrix DC. Rasa asam pada unte pangir mengandung sedikit asin, dan mengandung sekitar 1,5% steroid triterpenoid, 1,8% tanin, dan sitrat sekitar 2,5% sehingga unte pangir bersifat penyegar dan stimulan. Banyak kesan mengatakan tidak semua dapat berhasil menanam unte pangir, padahal penanamannya biasa saja yang dapat ditanam melalui biji atau cangkok dengan menjaga kelembaban tanan dan cukup sinar matahari. 

Berikut adalah resep-resep dari Datu Bolon:

  1. Influenza: 1 butir unte pangir diseduh dengan ½ cangkir air panas dan diminum selagi hangat 2 x sehari.
  2. Kulit Kotor: 1 butir unte pangir dibelah dua dan masing belahan digosokkan ke kulit yang kotor selama 30 menit lalu dibilas dengan air.
  3. Rambut berketombe dan bau: 1 butir unte pangir dibelah dan diremas-remas sampai hancur dan tambahkan sedikit air bersih. Air remasan disaring lalu dikeramas di rambut sampai mengena pada kulit rambut lalu dibilas dengan air.
  4. Badan Lemas tak bersemangat: 1 butir unte pangir diperas dan dicampur dengan segelas air lalu diminum.

Untuk keterangan lebih lanjut, kunjungi dan klik disini: Resep-resep Datu Bolon

Back home again

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: