FORMARS

FORUM MASYARAKAT RURA SILINDUNG (FORMARS) SEJABODETABEK 

Sebelas marga Silindung yang berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) menggalang kebersamaan dengan membentuk Forum Masyarakat Rura Silindung (Formars) se-Jabodetabek. Pembentukan Formars yang diprakarsai seluruh tokoh dan ketua-ketua 11 marga yang secara historis bermukim di Rura Silindung itu, merupakan yang pertama di Indonesia. Rencananya, pelantikan pengurus akan dilakukan tahun depan.

Ke-11 marga Silindung yang bersatu dalam Formars ini, adalah marga Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutapea, Lumban Tobing, Simorangkir, Sitompul, Hutauruk, Sibagariang, Simanungkalit, dan Situmeang. Dengan mengusung visi “Merindukan Silindung Bersatu” dan misi “Membangun Masyarakat Silindung”, Formars bertekad untuk lebih berkiprah dalam pembangunan Rura Silindung (Kabupaten Tapanuli Utara dan sekitarnya). 

“Forum Masyarakat Rura Silindung merasa sudah saatnya lebih kokoh lagi untuk bersatu. Jadi, setelah melakukan pertemuan beberapa kali di Jakarta akhirnya semuanya sepakat dan memang semuanya merindukan kesatuan dan persatuan. Dan semuanya memang sudah pernah melakukan yang terbaik untuk membangun Rura Silindung,” kata Ketua Umum Formars Drs Simon L Tobing MBA, ketika bertemu dengan tokoh masyarakat Sumut DR GM Panggabean di kantor SIB Medan, Senin (12/11/2007). Ikut hadir dalam pertemuan itu, Ketua I Formars Nelson Sitompul SE MM, Sekretaris Umum Ir Sanggam Hutapea, dan Bendahara Umum Drs Junius H Situmeang. Sedangkan Pak GM didampingi Ir GM Chandra Panggabean.

Meski pembentukan formars diprakarsai oleh 11 marga ini, namun menurut Simon Tobing, Formars tidak tertutup bagi marga-marga lain. Ia mengatakan, Formars yang juga akan dibentuk di seluruh kawasan di Indonesia, terutama di Medan dan bona Pasogit juga untuk mendukung percepatan pembentukan Propinsi Tapanuli. ”Setelah melihat perjalanan dan perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli, forum ini merasa pantas membuat suatu forum untuk persatuan dan kesatuan guna memuluskan pembentukan Propinsi Tapanuli,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu, Pak Simon Tobing juga menjelaskan rentetan pertemuan untuk membentuk forum itu. Diawali pertemuan di golf Rawa Mangun pada Mei 2007 dan kemudian berlanjut di Hotel Sultan pada Juli 2007. Pada pertemuan itu menurut Simon, disepakati untuk membentuk forum. ”Semua masyarakat Rura Silindung yang ada di perantauan dan di kampung pun akan kita rangkul. Soal pusatnya, mungkin akan dibuat di Sumatera Utara,” katanya.

Selain menginformasikan tentang pembentukan Formars, kedatangan para Badan Pengurus Harian (BPH) Formars menemui Pak GM, juga meminta kesediaan Pak GM untuk duduk di Badan Kehormatan. Kepada Pak GM, Simon Tobing juga menjelaskan, Formars nantinya memiliki dewan pakar, dewan penasehat dan dewan kehormatan. Untuk dewan pakar, orang-orangnya tidak harus dari 11 marga ini, bisa saja dari tokoh-tokoh nasional. Namun untuk dewan penasehat harus dari 11 marga ini karena merekalah mitra utama Formars. Sedangkan dewan kehormatan sebanyak mungkin bisa dari 11 marga tersebut. “Kami berharap Pak GM mau duduk di dewan kehormatan, siapa lagi yang bisa memberikan pengarahan dan masukan buah pikiran kepada kami selain Pak GM,” ujarnya.

Menanggapi pembentukan forum ini, Pak GM menyatakan sangat gembira dan berterimakasih kepada pemrakarsa Forum Masyarakat Rura Silindung. Ini satu ide yang luar biasa, yang perlu terus digulirkan, tandasnya bersemangat. Selama ini selalu orang berkata, orang Batak tak bisa bersatu. Ini sengaja terus dihembus-hembuskan, untuk memecah belah kita. Padahal dalam banyak kesempatan, sudah membuktikan, orang Batak bisa bersatu. Dalam Lembaga Sisingamangaraja XII yang saya pimpin, orang Batak bisa bersatu! Dalam perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli, orang Batak bisa bersatu, bahkan untuk perayaan Natal Umat Kristen Sumatera Utara 2007 ini, bukan lagi hanya Gereja-Gereja yang bersatu membuat suatu perayaan Natal Oikumene, tapi di Medan untuk tahun ini, Gereja-Gereja bersatu dengan Kumpulan-Kumpulan Marga-marga Batak dan Paguyuban Etnis-etnis lainnya, menyelenggarakan perayaan Natal, kata Pak GM. Jadi bukan lagi hanya marga-marga Batak yang bersatu, tapi juga Marga-Marga Batak sudah dapat bersatu dengan peguyuban etnis-etnis lain. Apa itu tak hebat? tanya Pak GM.

Menurut Pak GM, untuk mempersatukan orang Batak, memang perlu ada Pemimpin. Tapi memimpin masyarakat Batak memang tidak mudah. Harus “parbahul-bahul na bolon,” punya kharisma cukup daya, cukup dana, cerdas, berani, mau berkorban, dan tetap menjunjung tinggi falsafah “Dalihan Natolu” serta adat-istiadat kita yang nilainya begitu tinggi dan lain-lain.

Pak GM menilai, lahirnya FORMARS ini di Jakarta, suatu hal yang patut disyukuri. Sebab terbukti, orang -orang Batak sekarang ini, tidak pernah berhenti memikirkan persatuan di kalangan masyarakat Batak, dan semakin terdorong untuk membangun persatuan, yang lebih kokoh, lebih bermakna, demi untuk membangun kehidupan yang lebih sejahtera.

Semoga, langkah FORMARS ini juga bisa dicontoh di wilayah-wilayah adat lainnya, seperti di Humbang, Toba, dll. Nah,- kalau mungkin, satu waktu nanti, jika Tuhan mengizinkan akan terbentuklah Forum Komunikasi Masyarakat Batak yang scopenya lebih luas, meliputi seluruh marga-marga. Dengan wadah yang ada, akan lebih memudahkan masyarakat Batak menjalin kemunikasi. Bagaimana kita membangun daerah kita, melestarikan adat-istiadat kita, memajukan pendidikan anak-anak kita, membuat Tapanuli menjadi suatu propinsi model di Indonesia, dan bagaimana kita ikut membangun negara kita tercinta ini serta membelanya kalau NKRI diganggu, misalnya, dan etc,etc tandas Pak GM.

Pada kesimpulannya, Pak GM menegaskan, hanya dengan bentuk satu frontlah, kita dapat menghadapi tantangan yang ada pada dewasa ini, dan hanya dengan pembentukan satu front itu pulalah kita dapat membentuk satu kekuatan yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Akhirnya DR GM Panggabean, menyatakan, dia menyambut baik dan mendukung terbentuknya FORMARS ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam itu, Pak GM banyak menguraikan pengalamannya dalam berusaha menggalang persatuan di lingkungan masyarakat Batak. Banyak juga yang lucu-lucu, sehingga para tamunya ikut ketawa terbahak-bahak. Dari empat orang tamunya itu yang kesemuanya tokoh-tokoh ketua Marga di Jakarta, hanya Pak Simon L.Tobing MBA yang sudah pernah bertemu dengan Pak GM sebelumnya, waktu massa mengadakan demo ke DPRDSU menuntut dikeluarkannya rekomendasi pembentukan Propinsi Tapanuli. Beliau waktu itu dengan rombongan datang dari Jakarta bergabung dengan rombongan marga Tobing di Medan, ikut demo.

Mungkin terkesan dengan pertemuan selama 3 jam kemaren, Drs Junius H Situmeang mengatakan dan mengharap kiranya Pak GM diberkati oleh Tuhan agar bisa hidup selama seratus tahun. Semua kembali ketawa.  

Sumber: Harian SIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: