03-Mr. Miller bercerita

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

PERJALANAN MR. MILLER KE TANAH BATAK

Mr. Miller bercerita:

Sebelum kami menetapkan perjalanan ini, kami menanyai orang-orang yang dulunya pernah berhubungan dengan perdagangan kayu manis (kulit manis) ke tempat yang paling tepat untuk dikunjungi. Mereka menginformasikan kepada kami bahwa pohon-pohon itu dapat ditemukan di dua kawasan; yaitu disebagian daratan arah utara dari perkampungan tua di Tappanuli; dan juga di negri Padambola, yang terletak antara 50 sampai 60 mil jauh ke arah selatan. Mereka menganjurkan kami lebih baik pergi ke negri Padambola, walaupun agak jauh, dengan pertimbangan bahwa penduduk negri Tappanuli (sebagaimana mereka sebutkan) lebih sering melakukan gangguan kepada pendatang (orang asing). Mereka juga mengatakan kepada saya bahwa ada dua jenis kulit manis, satu diantaranya, menurut penjelasan mereka, diharapkan dapat terbukti bahwa benar-benar sebagai pohon kulit manis. 

Pada tanggal 21 Juni 1772, kami berangkat dari Pulo Punchong dan berangkat dengan menggunakan sampan ke arah kuala (quallo) sungai Pinang Suri, dimana teluknya kira-kira 10 atau 12 mil arah tenggara Punchong. Besok paginya kami menyusuri sungai kearah atas dengan menggunakan sampan, dan kira-kira 6 jam tiba disebuah tempat bernama Quallo Lumut. Seluruh daratan di arah dua sisi sungai adalah dataran rendah, yang ditumbuhi pohon-pohon dan tidak berpenduduk. Di hutan ini saya mengamati adanya pohon kapur barus, dua jenis kayu jati, meranti, rangi, dan beberapa jenis kayu lainnya. Sekitar seperempat mil dari sana, di arah berlawanan dari sisi sungai terdapat kampung Batak, yang berlokasi diatas bebukitan dan puncak gunung yang sangat indah, yang mencuat berbentuk pyramidal, ditengah-tengah padang rumput kecil. Raja dari kampong ini, yang diberitahukan oleh orang melayu dimana kami berada dirumahnya, datang mengunjungi kami, dan mengundang kami untuk berkunjung kerumahnya, lalu kami diterima dengan sebuah sambutan yang besar, dan disambut penghormatan dengan kira-kira 30 tembakan. Kampung ini terdiri dari kira-kira 8 atau 10 unit rumah, yang juga terdapat rumah lumbung (padi house). Kampung itu mempunyai pertahanan yang kuat dengan pagar berlapis terbuat dari papan kasar dari pohon kapur barus, yang ditancapkan dalam kedalam tanah dan sekitar 8 atau 9 kaki (2,5 – 3 m) tingginya di atas tanah. Pagar-pagar ini kira-kira 12 kaki (4 m) berjajar, dan diantara pagar tersebut digunakan untuk menambat kerbau pada malam hari. Di sisi luar pagar ini ditanami mereka dengan sejenis bambu berduri, yang hampir tak dapat ditembus denga ketebalan dari 12 sampai 20 kaki (4-7 m) tebalnya.  Di sapiyau atau dimana raja menerima tamu asing kami melihat tengkorak kepala manusia bergelantungan, menurut yang diceritakannya bahwa digantungkan disana adalah sebagai tropi, tengkorak itu adalah tengkorak musuh yang mereka tawan, dimana tubuhnya (berdasarkan adat Batak-nya), mereka telah memakannya kira-kira dua bulan yang lalu. 

Pada tanggal 23 Juni 1772, kami berjalan melalui daerah berhutan datar ke kampung Lumut, dan hari berikutnya ke Satarong, dimana saya amati beberapa perkebunan pohon kemenyan, kapas, pohon biru, kunyit, tembakau, merica. Kemudian kami berlanjut ke Tappolen, ke Sikia, dan ke Sapisang. Yang terakhir ini berlokasi di tebing sungai Batang-tara, tiga atau empat hari perjalanan dari laut; sehingga perjalanan kami hampir sejajar dengan pantai. 

Tanggal 1 Juli 1772, kami meninggalkan Sapisang dan mengambil arah ke pebukitan, mengikuti jalur Batang-tara. Kami berjalan sepanjang hari melalui daerah dataran rendah, berhutan, dan daerahnya belum terjamah, dan sepertinya tak ada yang masuk dalam observasi. Penunjuk jalan kami telah mengarahkan untuk sampai disebuah kampung, bernama Lumbu; tetapi salah jalan  yang seharusnya menyusuri sungai antara empat atau lima mil (7-8 km), dan setelah waktu agak lama tibalah di sebuah ladang sudah sangat melelahkan; dimana buruknya cuaca memaksa kami untuk berhenti dan beristirahat seperempat jam di sebuah pondok terbuka ditengah sawah. Hari berikutnya, sungai terlihat banjir setelah hujan deras sehari sebelumnya sehingga kami tidak dapat melanjutkan perjalanan kami, dan bermaksud untuk melewatkan saja malam itu dalam keadaan yang tidak menyenangkan. (Saat ini adalah pertengahan musim kering di bagian selatan pulau.) 

Pada tanggal 3 Juli 1772, Kami meninggalkan ladang dan berjalan melalui jalur yang jarang dilalui dan tak berpenghuni, penuh dengan bebatuan dan berhutan belantara. Hari ini kami menyeberangi tebing yang sangat curam dan bukit yang tinggi, dan pada sore harinya tiba disebuah negri yang berpenghuni dan persawahan yang diusahai dengan baik dan pada ujungnya yang tanahnya datar disebut Ancola. Kami tidur semalaman disebuah gubuk ladang terbuka, dan besoknya melanjutkan perjalanan menuju sebuah kampung yang disebut Koto Lambong. 

Pada tanggal 5 Juli 1772, berjalan melalui sebuah negri yang lebih terbuka dan sangat menyenangkan yaitu Terimbaru, sebuah kampung besar disebelah ujung selatan dataran Ancola. Daerah ini samasekali tak berhutan dan dibajak serta ditanami padi dan jagung, atau ditanami untuk makanan kerbau dan kuda. Raja telah diberitahukan tentang keinginan kami untuk datang ke sana, dan raja itu mengirim anaknya yang dikawal oleh sekitar 30 atau 40 orang diperlengkapi dengan senjata seperti pedang dan senjata lantak, mereka menemui kami dan mengawal kami sampai ke kampungnya, disambut dengan pukulan gong, dan menembakkan senjatanya sepanjang jalan. Raja menerima kami dengan penyambutan yang hebat, dan memerintahkan untuk menyembelih seekor kerbau, menahan kami sehari, dan sewaktu kami mau melanjutkan perjalanan, raja menyertakan anaknya dan sejumlah orang untuk mengawal kami. Saya mengamati bahwa semua wanita yang belum kawin memakai banyak sejenis cincin ditelinganya (ada yang berjumlah 50 cincin pada sebelah telinganya), dari keadaannya, sama seperti suasana negeri itu kelihatannya menunjukkan kaya denga kandungan mineral; tetapi sewaktu tanya sanasini diketahui bahwa timah itu dibawa dari selat malaka. Setelah memberikan cendramata sebagai hadiah kepada raja maka kami meninggalkan Terimbaru pada tanggal 7 Juli 1772 dan melanjutkan perjalanan ke Samasam, dimana raja ditempat itu dikawal oleh sekitar 60 atau 70 pengawal yang diperlengkapi dengan senjata lengkap menjumpai kami dan mengawal kami sampai dikampungnya, dimana sudah dipersiapkan sebuah rumah untuk menerima kami, memperlakukan kami dengan penuh hormat dan keramahan. Negeri sekeliling Samasam penuh berbukitan tetapi tidak banyak pepohonan, dan kebanyakan ditumbuhi rerumputan untuk ternak merumput, oleh karenanya mereka memiliki banyak ternak. Tidak banyak yang mengagumkan saya temukan disini kecuali satu jenis bumbu yang mereka sebut Andalimon, dimana bijinya dan daunnya rasanya sangat menyengat (spicy taste), dan selalu digunakan untuk jenis masakan kari. 

Pada tanggal 10 Juli 1772, melanjutkan perjalanan kami ke Batang Onan, dimana biasanya orang Melayu membeli kulit manis dari orang Batak. Setelah kira-kita 3 jam perjalanan melalui negeri yang berbukit terbuka, kemudian kami masuk kedalam hutan lebat, dimana kami bermaksud bermalam disitu. Besok paginya kami menyeberangi lagi tebing curam dari sebuah bukit yang tinggi dan dipenuhi hutan lebat. Disini kami menemukan pohon kemenyan liar. Pohonnya tumbuh jauh lebih besar dari pohon yang diperkebunkan, dan menghasilkan jenis dammar yang disebut keminian dulong atau kemenyan manis (sweet scented benzoin). Perbedaannya biasanya lebih lengket, dan aromanya mirip biji almon yang digerus. Tiba di Batang Onan disore hari. Kampung ini berada di dataran sangat luas ditepian sungai besar yang langsung menuju selat Malaka, dan disebutkan dapat dilayari sekitar satu hari perjalanan dari Batang Onan.

Catatan:

Beberapa nama tempat yang tertulis dalam buku ini sudah berbeda penamaannya pada saat sekarang ini, dan sebagian nama-nama tersebut masih belum diketahui penamaannya sekarang ini. Apabila saudara pengunjung yang budiman ada mengetahui nama-nama kuno tersebut untuk sudi menanggapinya agar diketahui umum. 

Index:

  1. cassia = kayu manis (kulit manis) yang banyak didapat di Tanah Batak dan diminati oleh orang-orang Eropah.
  2. Tappanuli = Tapanuli
  3. Padambola = Padang Bolak, pembagian sub Bangsa Batak menurut Inggris, sebuah kecamatan di Kabupaten Padang Lawas sekarang.
  4. Pulo Punchong
  5. Quallo Lumut = Kuala Lumut
  6. Sapiyau = (Tampar piring – red), Jenis rumah diperkampungan Batak sebagai tempat menerima tamu asing
  7. Lumut = nama sebuah kampung dekat dengan Kuala Lumut
  8. Satarong = nama sebuah kampung
  9. Tappolen = nama sebuah daerah
  10. Sikia = nama sebuah daerah?
  11. Sapisang = nama sebuah daerah?
  12. Batang-tara = Batangtoru, saat ini menjadi Hutan Konservasi yang berada di tiga wilayah Tapanuli yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan.
  13. Lumbu = nama sebuah kampung,
  14. Ancola = Angkola, akan menjadi sebuah Kabupaten terpisah dari Kabupaten Tapanuli Tengah.
  15. Koto Lambong = Huta Lumbung, nama sebuah desa penghasil salak(C)
  16. Terimbaru = Huta Imbaru sebuah desa di utara Padang Sidempuan, asal dari marga Harahap Mompang di Siharang karang(C)
  17. Samasam = Si Masom nama sebuah desa di kaki Gunung Lubuk Raya masuk Kec Sidimpuan Timur(C)
  18. Andalimon = Andaliman, nama bumbu masakan khas Batak
  19. Batang Onan = Batang Onang, nama ibukota kecamatan Batang Onang(C).
  20. keminian dulong = kemenyan dulang (sweet scented benzoin)
  21. Pinang Suri = Pinangsori, nama sebuah sungai di Sibolga Tapanuli Tengah, juga nama sebuah lapangan terbang di Sibolga, juga menjadi nama sebuag Kecamatan di Sibolga.

Catatan:

Index yang bertanda kurung (C) adalah info dari komentator Dogom Harahap.

Bagi sahabat pengunjung yang mengetahui nama-nama lama dalam index yang sudah berubah dan dikenal sekaran ini, diharapkan memberi informasi agar semua kalangan mengetahui penggal-penggal sejarah Bangsa Batak. Thanks !

Sebelumnya<<<Batak Menurut William Marsden>>>Selanjutnya

Mulak tu bona>>>

4 Responses to “03-Mr. Miller bercerita”

  1. maria ulfa harahap Says:

    uda dogom,, maaf sblm nya dan salam kenal ya… setahu sy klw yg di siharang-karang itu bkn harahap mompang, tapi harahap oppu sori “setahu sy maaf klw salah”

    • @Maria Ulfa Harahap; semakin jelaslah catatan sejarah itu dengan adanya tanggapan seperti ini, mudah-mudahan waktu akan membuatnya menjadi terang benderang. Terima kasih ito.Horas

  2. dogom harahap Says:

    nama-nama tempat itu sekarang:
    Batang Onan = Batang Onang sekarang ibu kota kecamatan Batang Onang;
    Koto Lambung = Huta Lambung, sekarang sebuah desa penghasil salak, namanya salak Huta Lambung;
    Terimbaru = Huta Imbaru sebuah desa di utara Padang Sidempuan, asal dari marga Harahap Mompang di Siharang karang;
    Samasam = Si Masom nama sebuah desa di kaki Gunung Lubuk Raya masuk Kec Sidimpuan Timur bukan di Pahai Jae;

    • Terimakasih Bung Dogom Harahap. Sudah makin tambah pemahaman geografis di Tanah Batak. Saya akan update ke artikel ya… Thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: