Demban Sidaun Sirih

 

Sirih (Piper betle)

 

Demban atau bahasa Indonesia populer disebut daun sirih (Piper betle L.) atau Batak Karo menyebutnya belo, Batak Gayo menyebutnya blo atau sereh, orang Batak Angkola atau Mandailing menyebutnya burangir. Demban sudah sangat lama dikenal oleh orang Batak, bahkan demban ini dianggap sebagai daun magis dan sampai sekarang masih dipakai dalam ritual-ritual atau dalam tatacara adat terutama dalam perkawinan, disamping masih secara umum dipakai sebagai kunyahan oleh ibu-ibu dipedesaan di Tanah Batak. Dahulu dalam ritual-ritual keagamaan demban dipakai sebagai alas untuk sajian persembahan yang biasanya dengan jumlah ganjil disertakan beserta jeruk purut jantan dan telur beserta sesajen lainnya untuk persembahan kepada Maha Pencipta Mulajadi Nabolon, termasuk pengobatan-pengobatan yang dilakukan oleh dukun (datu).

Pada masa sekarang ini demban masih disertakan dalam tatacara adat perkawingan. Pada saat pembicaraan mahar maka dari tetua pihak pengantin laki-laki menyerahkan sejumlah mahar diatas sebuah pinggan (piring) yang dialasi dengan demban dan ditaburi beras diatasnya. Ibu-ibu di pedesaan Tanah Batak sampai saat ini masih getol mengunyak demban yang dicampur sedikit kapur tohor dan sepotong biji pinang dan dipercaya bahwa kunyahan ini dapat pula menguarkan akar gigi sehingga gigi menjadi kuat sampai berumur lanjut usia. Disamping itu mewangikan nafas karena kuman di mulut tidak dapat berkembang oleh zat yang dikandung oleh kunyaan demban. Kebiasaan ini bagi ibu-ibu sudah turun-temurun sejak jaman dahulu kala mengikuti legenda yang berkembang di Tanah Batak sewaktu penciptaan Bumi (Banua Tonga) dan segala isinya termasuk terciptanya manusia di Bumi oleh Maha Pencipta Mulajadi Nabolon.

Dikisahkan dalam legenda sewaktu seorang dewi anak dewa Bataraguru bernama Siboru Deakparujar mengerjakan tenunan ulos di Bumi yang kita tinggali sekarang dan pada waktu itu masih seluruhnya tertutupi oleh air dan dia hanya dimodali Maha Pencipta dengan segumpal tanah untuk tempatnya berpijak. Lalu dewi Siboru Deakparujar menenun ulos dan mewarnainya dengan air liurnya yang berwarna merah karena mengunyah demban yang dari dewi-dewi yang berada di kayangan (Banua Ginjang) dan setelah ulos digelar maka itulah menjadi tanah yang menjadi meluas untuk tempat tinggal manusia yang dilahirkannya kemudian. Demikian pula dikisahkan sewaktu dewi Siboru Deakparujar sedang mengembangkan luasan tanah dari hamparan ulos yang dia tenun maka Naga Padoha yang berkuasa atas alam bawah (Banua Toru) mengganggunya dengan mengguncang-guncangkan bumi, maka Siboru Deak Parujar meludahkan air liurnya yang merah dan wangi itu sehingga sang penguasa alam bawah Naga Padoha lengah lalu Siboru Deakparujar mampu mengikatnya dan bumipun tidak lagi berguncang.

Demban mengandung minyak atsiri sejumlah 1-4,2% yang terdiri dari chavikol, chavibetol, hydroxychavikol, carvakol, eugenol, eugenol metil eter, p-cymene, cyenole, caryophyllene, cadinese, estragol, terpennena, seskuipermena, fenil propana, tanin, diastase, gula, pati. Kandungan chavikol menyebabkan demban memiliki bau yang khas dan bersifat anti bakteri yang kuat, dan secara umum demban bersifat hangat, pedas, aromatik, astrigen, stimulan, antiradang, antiseptik, antibakteri, hemostatis, sedatif (penenang), peluruh kentut, penghilang gatal, merangsang air liur, mencegah infeksi.

Berikut resep-resep untuk mengobati berbagai penyakit:

  1. Bau Badan: 5 helai demban segar direbus dengan dua gelas air bersih dan sampai tersisa 1 gelas, lalu dapat diminum di siang hari dalam keadaan hangat atau dingin.
  2. Bau Mulut: apabila bau mulut memang berasal dari rongga mulut maka pengobatan cukup dengan kumur-kumur, akan tetapi apabila bau mulut berasal dari lambung atau pencernaan maka pengobatannya harus dengan meminum; 3 helai demban diremas dan dimasukkan kedalam gelas lalu diseduh dengan air mendidih dan ditutup rapat sampai airnya menjadi hangat untuk pengobatan kumur atau diminum.
  3. Gusi berdarah: resep no. 2 untuk dilakukan sebagai obat kumur.
  4. Sakit Gigi (Gigi berlubang): hanya dilakukan dengan mengunyah demban yang sudah dibersihkan.
  5. Sariawan: 1 helai demban dicuci bersih lalu dikunyah sampai halus dan didiamkan kunyahan beberapa menit sebelum dibuang. Pengunyahan dapat dilakukan berulang apabila diperlukan.
  6. Mimisan (Keluar darah dari hidung): Satu helai demban segar yang agak muda dicuci bersih, lalu dilipat dua dan kemudian digulung hampir seperti rokok gulung, lalu kemudian dimasukkan ke dalam lobang hidung. Apabila darah mimisan keluar dari dua lobang hidung maka demban yang digulung juga sebanyak dua buah dan masing-masing satu daun untuk satu lobang hidung. Pemakaiannya kepada sipenderita harus dalam keadaan duduk agar darah tidak masuk balik ke rongga dalam hidung.
  7. Batuk: 17 helai demban setelah dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air hingga sisa menjadi 2 gelas dan diminum untuk 3 x sehari dengan tambahan madu secukupnya.
  8. Bronchitis: 7 helai demban + 1 potong gula batu (1 ujung jempol) + 2 gelas air dan direbus bersamaan sehingga tersisa menjadi 1 gelas. Setelah dingin disaring dan diminum untuk 3 x minum dengan menambahkan madu secukupnya.
  9. Mata Gatal atau Mata Merah: 5 helai demban muda yang baru dipetik direbus dengan 1 gelas air sampai mendidih. Air didihan didinginkan sampai cukup dingin untuk membasuh mata yang merah atau mata gatal. Pembasuhan mata dilakukan sebanyak 3 x sehari.
  10. Kulit Koreng dan Gatal-gatal: 20 helai demban yang sudah cukup tua lalu direbus dengan 4 gelas air sampai tersisa menjadi 3 gelas lalu didinginkan dan digunakan untuk membasuh kulit yang gatal atau korengan selagi air rebusan masih hangat.
  11. Luka Bakar: 2 helai demban dihaluskan dan dicampur dengan madu lalu diaduk merata dan ditempelkan diluka bakar. Resep dapat diganti seperlunya apabila sudah mengering.
  12. Bisul: dua helai demban dicuci lalu dihaluskan dan dibalurkan pada bisul dengan menyisakan lubang pecah lalu diperban. Pengobatan dilakukan 2 x sehari.
  13. Jerawat: 10 helai demban dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih, lalu didinginkan dan untuk kemudian digunakan untuk mencuci muka 3 kali sehari.
  14. Payu Dara Bengkak: Biasanya ibu yang mau menghentikan pemberian asi kepada bayi (±2 tahun) mengalami bengkak menyakitkan, dan juga dapat digunakan untuk menurangi produksi asi yang terlalu banyak; 4 helai demban diolesi minyak kelapa lalu didadang di atas api dan ditempelkan di sekitar payudara.
  15. Keputihan: Demban dengan campuran herbal lain dapat mengobati keputihan; 10 helai demban + 15 helai daun sambiloto + 7 helai daun ketepeng cina direbus bersama-sama dengan 2,5 gelas air sampai mendidih dan dibiarkan mendidih selama 15 menit, lalu setelah dingin digunakan untuk mencuci vagina dengan cebok 2-3 kali sehari.

Catatan: Apabila pengolahan demban dengan merebus atau menyeduh dengan air panas agar ditutup rapat supaya kasiatnya lebih manjur karena demban mengandung minyak atsiri yang gampang terbang.

Back home again

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: