Manusia Batak Berasal Dari Monyet?

Oleh: Maridup Hutauruk

Tidak banyak yang mengetahui bahwa teori asal manusia yang selama ini diyakini berasal dari Afrika sudah semakin ditinggalkan. Adapula yang mengatakan bahwa Asal-muasal manusia bukan hanya dari satu kawasan tetapi secara hampir bersamaan berawal dari beberapa kawasan. Pendapat yang lebih maju mengatakan bahwa manusia berasal dari kawasan Asia atau tepatnya Asia Tenggara. Tentu semua pernyataan ini didasari atas berbagai penelitian yang berbasis kepada berbagai ilmu pengetahuan yang mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. 

Yang merisaukan justru datang dari kaum agamawan yang menolak mentah-mentah tentang teori evolusi manusia. Dalam kenyataannya bahwa sepanjang sejarah peradaban moderen terbukti secara faktual bahwa ilmu pengetahuan secara gradual telah mengalahkan teori-teori agama mengenai kebenaran tentang alam semesta akan tetapi kaum agamawan tetap membandel untuk membenarkan teorinya menjadi sesuatu yang absolut menjadi pemahaman yang universal. Sangat disayangkan bahwa kaum penganut agama lebih suka bertindak sebagai kaum homo dibanding dengan kaum homo-sapiens yang sudah memanfaatkan volume isi cranial-nya untuk memahami kehidupannya dan alam lingkungannya.

Benua Pangea pada 250 juta tahun lalu

Benua Pangea pada 250 juta tahun lalu

Berdasarkan teori Dentubes (Big Bang) yang mengawali terciptanya jagad raya sekitar 16 miliar tahun lampau, maka bumi mulai terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu dimana bumi mulai dihuni oleh mahluk hidup jenis flora yang disebut Ursuppe sebagai bio-genesis. Mahluk hidup ini berevolusi selama miliaran tahun sehingga terciptanya fauna inverterbrata (tak bertulang) yang disebut protozoa pada 900 juta tahun lalu. Mahluk inipun mengembangkan dirinya dengan berevolusi selama ratusan juta tahun sehingga mereka sudah sukses berubah menjadi fauna bertulang belakang verterbrata yang disebut Agnathes (sejenis ikan sapu-sapu yang belum punya rahang) pada 500 juta tahun lalu. Semuanya bermula dari air. 

Selama sekitar 100 juta tahu kemudian, mereka berkelana dalam air di bumi menghadapi tantangan alam dan mereka sukses menjadi fauna bertulang belakang yang memiliki rahang pada 400 juta tahun lalu. Sekitar 50 jutaan tahun kemudian merekapun mengembangkan diri lagi menjadi fauna bertulang belakang yang memili kaki empat seperti dinosaurus atau contoh lainnya seperti buaya atau komodo pada 350 juta tahun lalu. 50 juta tahun kemudian mereka mengembangkan diri lagi dan mulai belajar menyusui dimana sebelumnya masih bertelur. Kemajuan mereka ini kira-kira 300 juta tahun lalu. Kemajuan mereka tidak berhenti sampai disitu dimana 50 juta tahun berikutnya mereka sudah menjadi kira-kira seperti kuda nil atau berang-berang yang hidup kadang di air dan di darat dan mereka dalam tahap evolusi menjadi binatang menyusui pada 250 juta tahun lalu. 

Ada perkembangan yang spektakuler terjadi pada mereka sehingga mereka menjadi benar sebagai binatang menyusui yang disebut mammalia. Mereka sudah mampu sepenuhnya hidup di darat atau terbang semisal jerapah atau kelelawar. Mammalia ini memulai kesuksesannya pada 220 juta tahun lalu. Perkembangan mereka masih berlanjut sehingga mereka mampu terbang seperti burung yang disebut Archaeopteryx sekitar 150 juta tahun lalu. Benua Pangea masih lebih banyak yang tandus tetapi dikawasan tropis seperti di khatulistiwa mempunyai iklim tropis yang mendukung kehidupan mereka. 

65 juta tahun lalu jenis primata mulai berkembang di bumi seperti jenis-jenis monyet. Monyet pun menjadi semakin pintar dan mereka mampu menyebar ke berbagai penjuru dari pusat kehidupan pertama di kawasan Atlantis yang sekarang disebut Pulau Sumatra dan menyebar ke pulau-pulau yang ada di Indonesia sekarang sembari mereka juga melakukan perjalanan darat ke daratan Asia mengisi berbagai kawasn yang sudah mulai bersahabat mendukung kehidupan mereka. Masa inilah yang disebut sebagai Era Kehidupan Baru atau Cenozoic Era

Primata yang mulai berkembang pada masa ini mengalami tantangan alam yang maha dahsyat. Banyak terjadi bencana benturan benda langit yang membentur bumi sehingga kandungan karbon menjadi tinggi dan bumi mengalami global warming. Semasa ini banyak mahluk mengalami kepunahan terutama di kawasan benua yang jauh dari khatulistiwa. Jenis-jenis dinosaurus menjadi punah baik akibat langsung benturan benda-benda langit maupun akibat global warming yang juga memunahkan tumbuh-tumbuhan sebagai rantai makanan jenis dinosaurus dimana mereka mengkonsumsi banyak tumbuhan termasuk jenis carnivore sebagai rantai makanannya. 

Bersyukur jenis-jenis primata yang memiliki kecerdasan relatif lebih tinggi dapat bertahan dan bahkan mengalami mutasi gen akibat kondisi drastis yang dialami bumi dan memampukan mereka beradaptasi dan bahkan semakin cerdas. Sampai kepada perkembangannya sekitar 2,5-3 juta tahun yang lalu memunculkan mahluk cerdas yang disebut homo. Jenis homo inipun kemudian mengembangkan otaknya untuk menggunakan peralatan untuk mendukung kehidupannya. Mereka berkembang menjadi homo erektus yang sudah berjalan tegak dan berlanjut menjadi homo-sapiens seperti disebut sebagai cikal bakal manusia moderen

Banyak ahli mempertanyakan kebenaran teori evolusi yang dikemukakan oleh Chaeles Darwin mengenai manusia moderen. Terutama banyak kaum agamawan sangat menentang teori Darwin yang mengarahkan bahwa manusia berasal dari jenis kera. Lalu para ahlipun mempertanyakan kalau memang manusia berasal dari kera lantas mengapa jenis kera masih ada sekarang dan tidak mengalami evolusi berdampingan dengan manusia moderen. Para ahli sibuk mencari matarantai yang hilang itu. 

Para ahlipun getol mencari jawabannya dan menyebutnya sebagai the missing link sebagai rantai yang hilang untuk mencari bukti berupa fossil yang mewakili mahluk antara diantara jenis kera dan manusia moderen. Ada harapan yang menggembirakan bagi kelompok pencinta teori Darwin bahwa Java-man yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil, termasuk kemudian Pucangan, Sangiran yang merujuk ke masa 1,6-1,8 juta tahun lalu, namun banyak juga yang menyangsikan penemuan itu sebagai jawaban untuk The Missing Link

Spencer Wells seorang doktor ahli genetika dan kepurbakalaan dari Universitas Texas dan Universitas Harvard mengemukakan penelitiannya bahwa manusia sekarang berasal dari Chromosom-Y Adam atau lebih dikenal dengan istilah Y-MRCA (Y-Most Recent Common Ancestor = Chromosome-Y laki-laki, nenek moyang terawal) yang diperkirakan hidup 60.000 tahun yang lalu. Sementara Metode mtDNA (mitocondrial deoxyribonucleic acid) menelusuri kode genetika melalui penelusuran garis ibu dan ibu biologis manusia pertama ditaksir ada 140.000 tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa secara biologis bahwa Adam sebagai ayah biologis manusia terpaut sekitar 80.000 – 100.000 tahun dengan Siti Hawa sebagai ibu biologis manusia, mereka tidak pernah bertemu. Artinya bahwa ilmu agama teranulir kebenarannya mengenai manusia pertama. Kita masih ditawarkan untuk menunggu perseteruan antara dua ilmu yaitu ilmu agama yang dikatakan surgawi dengan ilmu pengetahuan (science) membuktikan kebenaran nyata tentang alam semesta. Sama seperti Copernicus yang mengemukakan tentang pembuktian bahwa bumi bulat yang sebelumnya ditentang oleh dunia agamawan, dan banyak pembuktian lain yang secara halus menyiratkan bahwa ilmu agama adalah bohong belaka tentang penciptaan. 

Kaum intelektual dari berbagai bidang ke-intelektualan-nya tidak mesti menelan bulat-bulat apa yang dikatakan oleh para ahli tentang asal-muasal manusia dari Afrika. Relatif sudah cukup berbagai bidang ilmu bila dipadukan untuk menelusuri asal-muasal manusia untuk mencari kebenarannya. Pembenaran menurut ilmu agama yang mengatakan bahwa manusia tercipta sedemikian mudahnya atau katakan mahluk tercipta hanya dengan ucapan sebuah firman yang sekejap mata, alangkah nistanya kalau manusia harus terbuat dari tanah liat. Mungkin harus lebih bangga apabila manusia tercipta atau berasal dari jenis kera dari sebuah proses yang berlangsung demikian lamanya dan menjadilah manusia yang kenyataannya hanya terpaut beda 3% saja unsur DNA antara manusia dengan jenis kera semisal orang-utan atau simpanse. 

Ahli arkeologis sudah banyak mengadakan penggalian yang menemukan situs-situs peradaban purba yang menyimpulkan bahwa mereka secara meyakinkan menemukannya disekitar Asia Barat dan Afrika Utara sekitar Mesopotamia, Sumeria, Mesir sehingga berasumsi bahwa asal muasal manusia moderen adalah dari sana. Faham anutan agama moderen yang mempengaruhi peradaban moderen kebetulan pula berasal dari kawasan itu maka tertutuplah pemikiran untuk kemungkinan kawasan di garis khatulistiwa sebagai awal peradaban manusia moderen. 

Bila kita mengamati peta bumi pada era sekitar 250 juta tahun lalu dimasa mulai berkembangnya fauna mammalian yang menjadi cikal bakal manusia seperti digambarkan pada Peta Superbenua Pangea di atas maka tidaklah mungkin Afrika atau kawasan Timur Tengah menjadi awal terjadinya manusia, karena awal kehidupan sudah pasti dilintasan edar bumi terhadap matahari yaitu khatulistiwa, sebagaimana matahari sebagai sumber kehidupan di galaksi Bimasakti dan tentusaja di bumi juga. 

Variasi temperatur dan terjadinya Global Warming sebanyak 4 kali sepanjang usia bumi dan saat ini sudah menjelang global-warming yang ke lima kalinya

Variasi temperatur dan terjadinya Global Warming sebanyak 4 kali sepanjang usia bumi dan saat ini sudah menjelang global-warming yang ke lima kalinya

Cuaca di bumi semasa periode 250 – 65 juta tahun lalu juga kurang bersahabat dimana global warming yang ke-3 & 4 juga terjadi pada masa itu tentu menghambat pertumbuhan flora dan fauna untuk dapat survive dan saling mendukung dalam rantai makanan. Mahluk yang dapat bertahan tentu yang dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan iklim di bumi dan salah satunya jenis homidae atau homo yang terus bertahan dan berkembang secara evolusi. 

Pithecanthropus ternyata mengalami kemajuannya terbukti dari penemuan fossil diberbagai kawasan di bumi dari mulai Australia, Afrika, Asia, Eropah dan Asia Tenggara termasuk di Pulau Jawa dan kepulauan Indonesia menunjukkan bahwa mereka dapat bertahan di bumi yang tidak begitu ramah pada periode itu. 

Di jaman Pleistocene dimana temperature bumi turun secara drastic setelah berakhirnya global warming yang ke-4 yang disebut dengan jaman es banyak juga mahluk yang tak dapat bertahan sampai pada periode 2,4 juta tahun lalu, termasuk jenis homo yang terdapat di Afrika dan Eropah turut punah. Pada jaman es ini jenis homo yang dapat bertahan hanya dikawasan yang melintasi matahari yaitu di daratan lintasan khatulistiwa karena temperature hangat masih dijumpai di kawasan itu. Selamatlah jenis homo dan berkembang menjadi Pithecantropus erektus yang kemudian berkembang menjadi homo sapiens

Java-man menjadi yang berusia hampir 2 juta tahun lalu merupakan bukti bahwa Indonesia menjadi asal-muasal kehidupan termasuk sebagai tempat awal berkembangnya Homo Sapiens (manusia). Apila kawasan tandus di Afrika dan kawasan sub-tropis dan kutub banyak ditemukan fossil-fossil tengkorak yang dianggap sebagai homo-erektus sementara di kepulauan Indonesia tidak ditemukan secara merata, bukan berarti kawasan diatas menjadi awal berkembangnya homo-erektus atau homo-sapiens. Iklim di kawasan khatulistiwa merupakan tempat dimana tingkat humiditas yang tertinggi sehingga memudahkan untuk terjadinya pembusukan dan tidak meninggalkan fossil yang selalu menjadi referensi pembuktian. Jenis homo-erektus dari pencabangan dengan hominid sudah dianggap punah sementara pencabangan lainnya yang disebut homo-sapiens ternyata sukses mempertahankan diri dari seleksi alam. 

Sekitar 200.000 tahun lalu, Sebagian homo-sapiens sudah menggunakan jalur darat dimana Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya pada saat itu masih bersatu. Jalur pengelanaannya mengisi daratan Asia berlanjut sampai ke Afrika dan Eropah. Oleh karena itu perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa manusia moderen yang disebut homo-sapiens sudah terdapat di Indonesia, China, Timur Tengah, Afrika, dan bahkan Eropah menjadi awal penyebarannya membentuk perubahan fisik sesuai dengan alam dimana mereka beradaptasi. 

Dikatakan oleh para ahli bahwa Gunung Toba meletus sekitar 73.000 – 75.000 tahun lalu telah menimbulkan perubahan iklim yang sangat radikal dan dicurigai telah merubah genetika keturunan Homo-Sapien menjadi manusia seperti sekarang. Jumlah manusia diperkitakam pada masa itu sekitar 1 juta jiwa mengalami kepunahan hingga hanya tinggal sekitar 10.000 jiwa atau bahkan kurang atau sekitar 1.000 pasang saja. Kekuatan letusan diperkirakan sekitar 1 gigaton TNT dan kalau dibandingkan dengan bom nuklir di Hirosima yang besarnya hanya 13 kiloton TNT berarti daya rusak Gunung Toba adalah 77 juta kali lipat besarnya.  Volume debu vulkanis seperti pyroclastic yang disemburkan ke angkasa sebanyak 2.800 Km3 dan bila dibandingkan ledakan sejenis seperti Gunung Pinatubo di Filippina hanya sebesar 4 Km kubik, maka Gunung Toba adalah 700 kali lebih besar, makanya permukaan angkasa tertutupi debu vulkanis dan mengalami total gelap selama 6 tahun dan terjadinya perubahan cuaca menjadi sangat dingin selama 1.000 tahun dan selama 10.000 tahun berikutnya bumi mengalami pendinginan yang disebut jaman es (glacial age atau ice age). Endapan debu pasir yang menyebar ke seantero dunia (Afrika Timur, Asia, Timur Tengah) menutupi permukaan bumi seperti di Malaysia setinggi 9 m dan di India setebal sampai 6 m dan kawasan sekitar Toba ditutupi jenis debu vulkanis ini. 

Danau Toba sekarang adalah bekas dapur magma yang meletus sekitar 75.000 tahun lalu. Luas danau toba sekarang adalah panjang 100 km dan lebar 30 km, maka dapat diperkirakan ketinggian gunung Toba pada waktu itu, sebagai berikut: 

Perhitungan sederhana tinggi Gunung Toba

Perhitungan sederhana tinggi Gunung Toba

Apabila elevasi gunung 45° maka Tinggi Gunung Toba sekitar 60 Km. Apabila elevasinya 30°, Tinggi gunung Toba mencapai 35 Km (35.000 m), sebuah gunung yang sangat tinggi dan mungkin menjadi gunung yang tertinggi di dunia mengalahkan Mount Everest yang hanya setinggi 8.800 m. Memang ada perkiraan bahwa Gunung Toba sudah meletus sebanyak 3 kali sehingga ketinggiannya tidaklah seperti yang digambarkan di atas, akan tetapi tetaplah Gunung Toba menjadi gunung yang tertinggi yang pernah ada di bumi dan menjadi salah satu pilar Herkules yang pernah disebutkan oleh Plato

Apakah manusia yang tinggal disekitar Gunung Toba yaitu Atlantis tidak ada yang selamat? Para ahli menyimpulkan tidak mungkin selamat, tetapi perlu dikemukakan pendapat yang memungkinkan bahwa ada manusia sekitarnya yang selamat dan mungkin itulah cikal bakal manusia Batak? Alasan tidak mungkinnya ada manusia disekitar yang selamat menyurutkan para ahli untuk melakukan penelitian fossil di kawasan Pulau Sumatra dan Indonesia Pada umumnya. 

Apabila kita mengamati lapisan permukaan tanah yang terdapat disekitar danau toba maka terdapat dua jenis yaitu disekitar lingkaran Danau Toba ditemukan bebatuan keras sementara pada lingkaran berjarak 20- 50 km terdapat lapisan pasir pada ketinggian daratannya sekitar 900 m dpl. Kawasan sekarang seperti Simalungun di sebelah timur, Deli di sebelah utara, Madina disebelah selatan, Singkil disebelah barat merupakan kawasan kaki Gunung Toba semasa masih berada dalam kawasan Atlantis mungkin sudah banyak dihuni oleh manusia homo-sapiens di kawasan pada ketinggian sekitar 0 – 200 m dpl. 

Letusan Gunung Toba yang sangat dahsyat dan mengakibatkan perubahan alam dan kondisi iklim yang sangat radikal menjadikan homo-sapiens yang selamat mengalami mutasi-gen sehingga homo-sapiens mengalami perubahan yang relatif sangat cepat menjadi homo-sapien-sapiens yang dikenal dengan manusia cerdas sekarang ini. Rotasi bumi pada sumbunya menyebabkan debu vulkanis yang dimuntahkan oleh Gunung Toba relatif lebih cepat menghilang di kawasan garis Pulau Sumatra sekarang sehingga mataharis masih dapat memberikan kehidupan pada flora dan faunanya. Sementara di kawasan Benua Afrika, Benua Asia debu tersebut menutupi sinar matahari selama 6 tahun sehingga daratan menjadi tandus dan tertimbun pasir dan flora sebagai matarantai makanan turut punah. Letusan Gunung Toba memicu perubahan iklim yang drastis dan terjadi Zaman Es selama 10.000 tahun berikutnya yang menghambat perkembangan kehidupan diberbagai kawasan kecuali kawasan yang dilintasan khatulistiwa. Kawasan inilah yang disebut Atlantis

Seusai zaman es pertama sekitar 65.000 tahun lalu, iklim mulai bersahabat dan manusia mulai mengembangkan aktivitasnya termasuk melakukan perjalanan penyebaran manusia yang kedua kalinya kesegala penjuru dunia dari Pulau Sumatra, sementara homo sapiens yang sudah menyebar sebelumnya sebagian punah dan mungkin ada juga yang selamat menjadi homo-sapien-sapiens, seperti manusia sekarang. 

10.000 tahun kemudian yaitu sekitar 55.000 tahun lalu, ekosistem di kawasan sekitar Toba sudah mulai bertumbuh normal. Flora berkembang, siklus hujan sudah berjalan mengisi kawah letusan Gunung Toba. Berbagai jenis fauna menggeliat di kawasan Toba karena sudah didukung oleh flora dan ekosistim sebagai rantai makanan. Sekitar 50.000 tahun lalu manusia yang sudah beradaptasi dengan alam selama 25,000 tahun dan selamat dari letusan Gunung Toba mulai menapakkan kakinya di kawasan lembah di kaki Gunung Toba. Pada saat itu Pulau Sumatra masih bersatu dengan Semenanjung Malaya, Pulau Jawa dan Kalimantan yang disebut Atlantis. Mereka mulai berkelana ke berbagai penjuru melalui jalur darat. 

Peta Kawasan Atlantis sekitar 18.000 tahun lalu

Peta Kawasan Atlantis sekitar 18.000 tahun lalu

Selama 20.000 tahun anak-anak sungai mengalir mengisi kawah Toba sehingga menjadi danau yang sangat luas. Perjalanan tahun mengaktifkan dapur magma Toba mengangkat permukaan kawahnya dan mengalami pendinginan oleh air sehingga menyembul menjadi Pulau Samosir dimana proses itu setiap tahunnya mengalami kenaikan permukaan tanah. Ada pendapat bahwa permukaan air Danau Toba menurun, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa dapur magma yang ada dibawah Tanah Batak itu sedang beraksi menaikkan permukaan tanan sementara dasar Danau Toba relatif lebih terdinginkan sehingga kenaikan permukaan dasar Danau Toba relatif lebih kecil. 

15.000 tahun yang lalu terjadi gempa tektonik yang dahsyat akibat bergeraknya Benua Australia lebih kearah selatan khatulistia sehingga menyeret kerak bumi di kawasan Atlansis mengakibatkan patahan yang memisahkan Atlantis dari Daratan Asia Tenggara menjadi Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan. Terjadi Tsunami yang menenggelamkan Sebagian kawasan Atlantis menjadi terpisah oleh air laut dan terjadilah Pulau Sumatra, Pulau Jawa, dan Pulau Kalimantan. Sampai saat ini bila dilihat dari udara akan terlihat patahan besar sepanjang selat Malaka yang membatasi Semenanjung Malaya dan Pulau Sumatra, sampai ke selat Sunda. 

Pada masa itu peradaban manusia sudah sangat maju di kawasan berlembah. Bencana ini menewaskan jutaan manusia, namun sebagian yang berada di dataran yang lebih tinggi dapat menyelamatkan diri semakin kearah Dataran Tinggi Toba. Sebagian lagi masyarakat Atlantis dapat menyelamatkan diri dengan menggunakan wahana terbang dan mendarat di Pusuk Buhit arah barat Danau Toba. Manusia menata kehidupannya kembali serta mengembangkan peradaban baru kembali dari nol. Yang menyelamatkan diri kearah daratan Asia membentuk komunitasnya masing-masing melalui jalur darat seperti ke daratan Cina dan ada yang melalui daratan India dan menyebar ke Afrika dan Timur Tengah. Kondisi alam yang masih kurang bersahabat menjadikan mereka menjadi lebih kreatif untuk membentuk peradaban baru seperti di Sumeria, Mesopotamia, Mesir. Manusia yang selamat dikawasan khatulistiwa tidaklah sesulit yang di daratan benua. Kebutuhan pangan untuk mereka relative berlimpah karena hidup pada sumber kehidupan di kawasan khatulistiwa. Jadilah mereka manusia Batak dan manusia Indonesia sebagai asal muasal manusia di bumi dan bukan dari Afrika.. 

Kalaulah benar kronologi kejadian yang disebutkan di atas maka sudah barang tentu bahwa manusia Batak memang berasal dari jenis kera, ataukah mereka manusia Atlantis yang terbang menggunakan wahana pesawat dan mendarat di Pusuk Buhit?

3 Responses to “Manusia Batak Berasal Dari Monyet?”

  1. Persamaan tsb harus butuh penelitian yang akurat, bila ditinjau dari :
    1. Ciri-ciri fisik yang identik (rambut, bentuk tulang kepala, dahi, alis/mata, hidung, mulut/gigi, tangan/kaki, logat bicara. dsb
    2. kepercayaan masyarakat jaman dulu
    3. Adat/kebiasaan hidup
    4. jenis darah

  2. saya sebagai orang batak tak setuju dg anggapan ini masih perlu penelitian akademik

  3. […] Manusia Batak Berasal Dari Monyet? October 2009 3 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: