04-Mr. Miller Bercerita (lanjutan)

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

Perjalanan Mr. Miller ke Tanah Batak (lanjutan)

Pohon Kayu Manis

Pohon Kayu Manis atau Kulit Manis disebut juga sebagai Cassiavera atau bahasa latinnya disebut Cinnamomum verum, synonym C. zeylanicum. Kayu Manis ini diberitakan sudah dikenal oleh Bangsa Mesir Kuno sekitar 5000 tahun lalu dan banyak juga disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama. Sebagai contoh ayat-ayat berikut: 

Karena omelan Bangsa Israel maka Musa berdoa: Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,” (Keluaran 15:25 TB)

Perintah Tuhan kepada Nabi Musa: “Ambillah rempah-rempah pilihan, mur tetesan lima ratus syikal, dan kayu manis yang harum setengah dari itu, yakni dua ratus lima puluh syikal, dan tebu yang baik dua ratus lima puluh syikal,” (Keluaran 30:23-TB) 

Perkataan seorang cewek perayu: “Tempat tidurku telah kututupi dengan seperei beraneka warna dari Mesir, dan sudah kuharumkan dengan wangi-wangian mur, cendana dan kayu manis.” (Amsal 7:16-17 BIS) 

Nyanyian cinta Sulaiman: Disana tumbuh pohon-pohon delima, dengan buah-buah yang paling lezat. Bunga pacar dan narwatsu, narwatsu dan kunyit, kayu manis dan tebu, dengan macam-macam rempah pilihan. (Kidung Agung 4: 13-14, BIS) 

Terbukti bahwa kayu manis sejak zaman Nabi Musa dan Raja Sulaiman sudah menjadi komoditi berharga. Mengapa Bangsa Eropah (Inggris dan Belanda) mencarinya ke Tanah Batak abad-18? Sudah barang tentu pohon ini sebagai tumbuhan endemik Tanah Batak, walaupun orang-orang menyebutkannya berasal dari Sri Lanka. Oleh karena itu catatan ini menjadi satu bukti bahwa Bangsa Batak memang sudah eksis sejak zaman purba berhubungan dengan dunia luar. 

Berikut adalah lanjutan Perjalanan Mr. Miller ke Tanah Batak yang dikutip dari History of Sumatra oleh William Marsden. 

 

KAYU MANIS

Tanggal 11 Juli 1772. Berangkat ke Panka-dulut, raja yang mengaku memiliki lahan pohon Kayu Manis (cassia-trees), dan orang-orangnya biasanya memotong dan mengupas kulit kayunya dan mengirimnya ke tempat yang disebutkan sebelumnya (Batang Onan). Pohon Kayu Manis yang terdekat letaknya kira-kira 2 jam perjalanan (jalan kaki) dari Panka-dulut di pegunungan dataran tinggi. Pohon itu tumbuh setinggi 40 – 60 kaki (12 – 20 m) tingginya, dan bercabang rimbun. Pohon Kayu Manis ini bukan di budidayakan tetapi dibiarkan tumbuh sendiri di hutan. Kulitnya biasanya diambil dari batang pohon yang berdiameter 1 atau 1½ kaki (30 – 50 cm); kulitnya menjadi agak tipis bila pohonnya dipanen semasih muda, sehingga akan menurunkan kualitasnya. 

Disini saya membutuhkan jenis Kayu Manis yang berbeda yang telah diebutkan sebelumnya, tetapi sekarang diberitahukan bahwa hanya ada satu jenis, dan perbedaan yang mereka sebutkan itu bisa ada karena perbedaan tanah dimana pohon itu tumbuh, bahwa yang tumbuh di tanah kering bebatuan pohonnya berwarna kemerahan, dan kulitnya memiliki kualitas super dibanding yang tumbuh di tanah liat lembab dan pohonnya cenderung berwarna kehijauan. Saya juga berusaha mendapatkan informasi bagaimana cara mereka mengupas dan memproses kulit manis, dan menyampaikan kepada mereka niat saya untuk mencoba beberapa eksperimen untuk meningkatkan kualitas dan menjadikannya lebih berharga. 

Mereka mengatakan belum ada yang dipanen dalam dua tahun belakangan ini, sehingga terhenti jual-belinya di Tappanuli; dan jika saya datang dengan suatu kewenangan untuk membuka perdagangannya, saya harus memanggil orang-orang sekitar kampung untuk berkumpul bersama membicarakannya, menyembelih kerbau untuk mereka, dan meyakinkan mereka semua bahwa Kayu Manis akan ditampung lagi; dalam hal ini mereka akan segera memulai panen dan memproduksinya, dan dengan rela mengikuti semua perintah yang saya berikan kepada mereka; tetapi sebaliknya mereka bisa saja tak mematuhinya. 

Saya melihat bahwa saya dihambat mendapatkan informasi yang memuaskan sebagaimana saya harapkan karena kelakuan licik orang yang menemani kami sebagai penunjuk jalan, karena dia mengetahui seluk beluk negri itu, dan tentang Pohon Kayu Manis, dimana dia sebelumnya adalah orang yang mengatur perdagangannya, Kami kira kami beralasan berharap atas semua yang kami inginkan seperti bantuan dan informasi, tetapi bukan hanya menolak memberikannya, tetapi mencegah kami sebisa mungkin mendapatkan keterangan dari orang-orang negri itu. 

Tanggal 14 Juli 1772, kami meninggalkan Batang Onan untuk kembali pulang, singgah semalaman disebuah kampung bernama Koto Moran untuk bermalam, dan malam berikutnya kami sampai di Sa-masam tempat dimana kami sebelumnya menempuh jalur jalan yang berbeda dari jalan kami menuju ke Si-pisang; dimana kami mengadakan sampan, dan kembali menyusuri sungai Batang-tara menuju ke laut. Tanggal 22 Juli 1772 kami kembali ke Pulo Punchong. 

Akhir Dari Catatan Mr. Miller. 

Sudah sejak awal difahami bahwa mereka salah pengertian, dan membawa jalan yang berputar-putar untuk menghindari kampung tertentu dalam mempertimbangkan jalan pulang ke Tappanuli, atau mungkin karena alasan lain. Dekat dengan tempat berikutnya, di jalan utama, Mr. John Marsden, yang menyusuri jalan menuju tempat penguburan salah satu pimpinan mereka, mengamati dua buah monument batu berusia tua, yang satu berbentuk seorang laki-laki, yang satu lagi seorang laki-laki sedang menunggang gajah, terlihat cukup bagus dilakukan, bahkan tak satupun diantara mereka sekarang ini mampu lakukan seperti itu. Ciri tersebut sangat kuat tentang Batta

Pemukiman kami di Natal (sebenarnya Natar), beberapa mil arah selatan sungai besar di Tabuyong, dan berbatasan dengan negri Batta, yang membentang dibelakangnya, adalah sebuah tempat yang ramai perdagangan, tetapi diperuntukkan bukan karena terjadi alami atau kepentingan politik. Tempat itu dihuni oleh penduduknya untuk tujuan perdagangan yang datang dari negri Achin, Rau, dan Menangkabau, yang memakmurkan penduduk dan kaya. Emas dengan kualitas sangat tinggi diproduksi disini (beberapa penambangannya berjarak sekitar 10 mil dari pabriknya), dan ada transaksi dagang untuk barang-barang impor, sebagai penggantinya adalah kapur barus yang sangat mudah pembuatannya. 

Sama seperti kota-kota di daerah Melayu lainnya, mereka diperintah oleh datu-datu sebagai pimpinan bergelar ‘datu besar’ (datu bolon, red.) atau hakim kepala yang tidak menetap; dan walaupun pengaruh perusahaan dagang disini sangat kuat kuasanya bukan berarti berdiri kokoh sebagaimana di kawasan-rempah2 di bagian selatan yang memiliki sejumlah pegawai, memiliki harta kekayaan mereka, dan berbentuk perusahaan, bersemangat mandiri. Boleh dikatakan bahwa mereka lebih mengarah kepada menjalankan menejemen perusahaan dan mendapat dukungan daripada memerintah. Mereka menganggap orang Inggris bermanfaat sebagai penengah antara mereka dan lawan dagangnya, yang tak jarang menjurus kepada perang, walaupun dalam bentuk unjuk kekuatan, dan sebagai alasan kehadiran orang-orang kami (Inggris) berada diantara mereka. 

Di awal periode proteksi kami melindungi adalah menyenangkan mereka melawan orang-orang yang melakukan kecurangan, seperti yang mereka tuduhkan pada Belanda, yang memulai masalah dan mengakui mereka cemburu. Melalui artikel Perjanjian Paris di tahun 1763 pernyataan claim ini dijelaskan bahwa mereka menghormati dua kekuatan Eropah ini, dan kependudukan Natal dan Tappanuli secara jelas harus dikembalikan kepada Inggris. Mereka kenyataannya telah diduduki kembali. bahkan telah memiliki hak atas apa yang dikemukakan dari keinginan dan persetujuan oleh raja-raja setempat. 

Index:

  1. Panka-dulut =
  2. Batang Onan = Batang Onang, nama ibukota kecamatan Batang Onang
  3. Tappanuli = Sekarang Tapanuli
  4. Koto Moran =
  5. Sa-masam = Sekarang Simasom, nama sebuah desa di kaki Gunung Lubuk Raya masuk Kec Sidimpuan Timur
  6. Si-pisang = Sipisang, nama sebuah tempat di …
  7. Batang-tara = Sekarang Batangtoru, saat ini menjadi Hutan Konservasi yang berada di tiga wilayah Tapanuli yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan.
  8. Pulo Punchong =
  9. Batta = Sebutan untuk Batak, sebutan lain menyebut Batak dengan kata Battak, Batech, Pa-ta.
  10. Natal (sebenarnya Natar) =
  11. Tabuyong = Sekarang disebut Tabuyung, nama kota di pantai barat Sumatra Utara dekat dengan Natal

Catatan:

Bagi pengunjung yang mengetahui nama-nama lama pada index yang sudah menjadi sebutan baru, dimohon untuk memberikan informasi itu agar semua pihak mendapat manfaat. Untuk itu, sebelumnya Batak One mengucapkan terima kasih.

Sebelumnya<<<Batak Menurut William Marsden>>>Selanjutnya

Mulak tu bona>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: