05-PEMERINTAHAN BATAK

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

[Catatan kaki sebelumnya: Setelah pendirian kembali pabrik di tahun 1762 residen menuduh Datu besar (Datu Bolon, penls.), dengan sikap marah besar. Sejumlah mayat selalu terlihat mengambang dihilir sungai, dan mengajukan kerjasamanya untuk mencegah pembunuhan di negri itu, oleh karena kekacauan terjadi di daerah itu selama penanganan sementara dari pengaruh Perusahaan. “Saya tak dapat menyetujui apapun alasannya untuk pendirian pabrik itu” kata Datu itu: “Saya mendapat bagian dari pembunuhan-pembunuhan ini dengan keuntungan duapuluh dollar untuk setiap kepala bila keluarga-keluarga itu menuntut.” Satu kompensasi sebesar 30 dollar per bulan ditawarkan kepadanya, walaupun  hal ini berat untuk diberikan padanya, melihat bahwa dia adalah pihak yang kalah, sebagaimana dalam kasus ini setidaknya tiga orang setiap bulan. Dilain waktu, sewaktu residen mencoba untuk menerapkan peraturan untuk dilaksanakan, dia (Datu,penls.) mengatakan, “kami tiadah suka begito, orang kaya!”, dan mengangkat tangan kanannya sebagai tanda kepada bawahannya untuk menyerang  apabila yang dia usulkan tidak dipenuhi. Tahun-tahun berikutnya sikap dan sifat untuk kepentingan bersama telah melunakkan hati mereka menjadi lebih akomodatif.]

 

PEMERINTAHAN BATAK 

Pemerintahan negri Batak, walaupun dalam hal jumlah berada dibawah kekuasaan tiga atau lebih raja-raja yang berkuasa penuh, secara efektif (sejauh yang kami dapat pastikan setelah berhubungan dengan orang-orang) dibagi dalam sejumlah tak tentu raja-raja kecil, yang pimpinannya, juga berperan sebagai raja, juga kelihatannya tidak tunduk kepada kekuasaan yang lebih tinggi, tetapi masih masuk kedalam suatu komunitas bersama raja-raja lainnya, khususnya dengan orang-orang yang berasal dari satu suku (marga), untuk pertahanan dan keamanan bersama terhadap setiap musuh dari luar. Pada saat yang bersamaan mereka sangat iri bila ada kenaikan pamor dari kekuasaan saudara-saudara mereka, dan untuk hal-hal yang sangat kecil saja sebuah peperangan dapat pecah diantara mereka. 

Kekuatan pertahanan diantara kampung-kampung tidak selalu persis sama, dan sejumlah raja-raja memiliki pengaruh besar terhadap lainnya; dan memang demikian adanya, dimana setiap orang bisa memiliki selusin pengikut dan dua atau tiga senjata untuk berdiri sebagai kekuatan yang bebas (independence). 

Tanah dari sebuah tempat bernama Sokum memberikan upeti sebagai tanda hormat kepada seorang pemimpin perempuan atau uti (kata uti menurut pemahaman saya mempunyai arti putri, seorang putri raja), yang kekuasaan hukumnya meliputi banyak suku (marga; penls.). Cucunya yang menjadi pangeran yang berkuasa, barusaja dibunuh oleh seorang penyusup, dan dia (uti, penls.) telah mengumpulkan pasukan berjumlah dua atau tiga ribu laki-laki untuk balas dendam. Seorang agen Perusahaan (Perusahaan Inggris, penls.) berangkat melalui sungai kira-kira 15 mil (23 km) dan berharap mampu mengatasi untuk mengakomodir masalah yang mengancam kedamaian di negri itu; tetapi dia diingatkan oleh uti, kalau tidak mendaratkan tentaranya, dan mengambil sikap berpihak padanya, maka dia (agen perusahaan, penls.) tidak punya urusan disana, dia (agen perusahaan, penls.) diwajibkan menaikkan kembali orang-orangnya tanpa urusan apapun. Aggressor itu mengikutinya pada malam itu dan kemudian melarikan diri. Sepertinya tidak ada terlihat, dari sikap dan sifat orang-orang itu, bahwa seluruh negri pernah bersatu dibawah sebuah penguasa tertinggi.

 

KEKUASAAN RAJA-RAJA 

Raja-raja yang lebih berkuasa memanfaatkan kekuasaannya terhadap kehidupan rakyatnya. Pengikutnya diwajibkan untuk mendampingi perjalanan pimpinannya dan juga dalam hal terjadinya perang, dan apabila ada seseorang yang menolaknya maka dia dikeluarkan dari lingkungan masyarakatnya tanpa diperbolehkan untuk membawa hartanya. 

Para pengikut raja yang ikut dalam hal perang dipersiapkan makanan untuk ekspedidi-ekspedisinya, dan memberikan suatu penghargaan untuk setiap orang yang mereka bunuh. Penghasilan dari seorang pemimpin utamanya diperoleh dari denda-denda dalam bentuk kerbau yang diputuskan dalam kasus-kasus criminal, yang disisihkan untuk dirinya sendiri; dan dari hasil produksi pohon kamfer (kapur barus) dan kemenyan dari seluruh daerah kekuasaannya, tetapi ini tidak secara paksaan diminta dari rakyatnya. Apabila seseorang membayar hutang judi, dia mengambil pajak semaunya yang dia rasa cocok yaitu berupa kuda-kuda atau kerbau-kerbau (belum ada bentuk koin yang berlaku di negri itu), yang dia berlakukan, dan putusannya mengharuskan untuk menerima apa maunya. Mereka dipaksa bekerja pada gilirannya, untuk sejumlah hari di sawahnya. 

Ada, -mungkin memang adatnya demikian-, suatu jenis pelayanan untuk kepemilikan tanah orang lain, penyewa tanah terikat kewajiban untuk memberi hormat kepada tuantanah dimanapun dia bertemu tuannya, dan menyediakan pelayanan bilamana tuannya datang berkunjung kerumahnya. Orang-orang kelihatannya secara permanen memiliki kepemilikannya, berhak melakukan jual-beli diantara mereka bila mereka sudah saling sepakat. Jika seseorang menanam pohon dan meninggalkannya, tak seorangpun penghuni dikemudian harinya dapat menjualnya, walaupun dia boleh memakan buahnya. 

Perdebatan-perdebatan dan pendakwaan-pendakwaan dari segala sesuatu yang terjadi antara orang-orang sekampung dapat diselesaikan oleh seorang pejabat yang ditunjuk untuk itu, dan dari dia disebutkan tidak ada pembiayaan kepada raja. Apabila sekelompok orang diutus ke Teluk untuk membeli garam atau untuk bisnis lain mereka didampingi oleh pengawal yang apabila mencuri secara sadar atas kepentingannya, dan kadangkala menghukumnya langsung ditempat sebagai seorang criminal atau seorang begajul. Aturan ini terlihat berhasil untuk banyak kasus aturan dan tatasusila.

 

HAK WARIS 

Dinyatakan bahwa Hak-waris untuk menjadi pimpinan tidaklah semata-mata langsung turun kepada anak yang ditinggal mati, tetapi kepada keponakan dari seorang saudara perempuan; dan bahwa peraturan yang diluar kebiasaan itu, yang berkaitan dengan harta secara umum, hal yang demikian juga berlaku diantara orang melayu yang ada dibagian lain dari pulau itu, dan bahkan di Padang negri tetangganya. Yang berwenang untuk ini adalah dari berbagai orang dan tidak berhubungan satu sama lain, tetapi tidak cukup jelas untuk meyakinkan saya untuk mengakui bahwa hal itu berlaku umum dalam prakteknya.

 

MENGHORMATI SULTAN MINANGKABAU

Walaupun ada suasana kebebasan di Bangsa Batak, dan mereka memandang rendah atas seluruh kekuatan yang mempengaruhi kekuasaannya terhadap masyarakat yang kecil (dalam jumlah, penls.), mereka memiliki rasa hormat yang mendalam kepada Sultan Minangkabau, dan menunjukkan kepura-puraan mengakui atas hubungan persahabatannya dan mengirim sejumlah utusan, sungguhsungguh atau berpura-pura, ketika sesuatu muncul diantara mereka untuk maksud pemberian upeti; bahkan sewaktu mengucapkan perkataan yang menyinggung perasaan dan mengancam jiwa mereka, mereka tidak berusaha untuk menolak: mereka beranggapan bahwa hubungan mereka tidak akan pernah lebih baik; bahwa padi mereka akan mendapat hama, kerbau mereka akan mati; bahwa mereka akan tetap dibawah tekanan sejenis mantra untuk merasa bersalah kepada utusan-utusan suci itu.

 

PERAWAKAN MANUSIANYA 

Manusia Batak penampilannya agak lebih rendah dari perawakan orang melayu, dan sifat umum, air muka, rupa dan warna kulit terlihat lebih lumayan (fairer), yang mungkin telah diturunkan dari nenek moyangnya, untuk sebagian besar wilayah, dari laut, tidak secara mendasar semuanya sama.

 

PAKAIAN

Pakaian mereka biasanya terbuat dari kain katun sederhana yang dibuat sendiri, tebal, kasar, tetapi kuat, kira-kita empat hasta panjangnya, dan dua dipakai di bagian dada, dililitkan dibagian tengah, dengan memakai sejenis selendang di bagian pundak. Pakaian ini terdiri dari berbagai campuran warna, yang menonjol adalah kecoklatan agak merah dan warna biru yang mendekati hitam. Mereka gemar menghiasinya, terutama selendangnya, dengan rambu-rambu dan jalinan benang. Tutup kepala biasanya terbuat dari kulit kayu, tetapi untuk kalangan kelas tinggi memakai pakaian bergaris warna biru dari luar negeri mirip tiruan destar Melayu, dan sejumlah baju yang bercorak bunga-bunga. Wanita muda, disamping lilitan kain di bagian tengah, ada juga kain melilit di bagian dada, dan (sebagaimana tercatat di jurnal Mr. Miller) memakai sejumlah anting-anting dari timah di telinganya, dan juga sejumlah ring tebal yang terbuat dari kuningan dipakai di leher. Pada hari-hari perayaan mereka menghiasi diri mereka dengan anting terbuat dari mas, jepit rambut, oleh karena itu kepala mereka mirip burung atau ular naga, memakai sejenis plat dada yang berbentuk tiga kerucut, dan memakai gelang berlobang di lengan bagian atas, semuanya terlihat seperti terbuat dari mas. Kulit kerang kima, yang banyak terdapat di teluk, dibentuk dan dipakai sebagai gelang tangan, dan terlihat lebih mengkilat daripada gading.

 

SENJATA 

Senjata mereka adalah senjata lantak, olehkarena itu mereka adalah ahli tempa, tombak bambu atau tombak dengan ujung-tombak yang panjang terbuat dari besi, dan senjata samping yang disebut ‘jono’, yang mirip dan digunakan sebagai pedang dibanding sebagai keris. Kotak selongsong peluru diperlengkapi dengan sejumlah rak kecil terbuat dari bambu, masing-masing berisi peluru pengganti. Alat-alat ini dibawa bersama potongan kayu, dan ranjau kecil, yang lebih panjang disambungkan dengan bambu, selempang seperti tempat anak panah di bahu. 

Mereka memiliki mesin yang diukir secara cermat dan dibentuk seperti paruh burung besar untuk mengikat peluru, dan lainnya adalah bentuk-bentuk yang aneh untuk tempat cadangan bubuk peluru (mesiu = gunpowder) tergantung di depan. Disebelah kanan tergantung batu-api dan besi, dan juga cangklong (pipa tembakau). Senjata mereka, pelatuknya (untuk menggantungkan potongan kayu) terbuat dari tembaga, peralatan ini diperoleh dari pedagang yang datang dari Minangkabau; Pedang adalah yang mereka buat sendiri, mereka juga membuat sendiri serbuk senjatanya yang diekstrak dari belerang, sebagaimana disebutkan, diambil dari permukaan tanah di bawah rumah yang telah lama dihuni (sehingga secara praktis kurang bersih dan sangat tercemar dengan garam kotoran binatang), dimana kambing dipelihara disitu. Walaupun air tanah disaring, dan selanjutnya menguapkan belerang dan ada ditemukan pada tabung senjatanya. Standar umum mereka dalam berperang adalah sebuah kepala kuda, darimana melambai-lambai rambut panjangnya atau ekornya, disamping itu mereka memakai baju berwarna merah dan putih. Untuk genderng mereka menggunakan gong, dan dalam aksinya melakukan teriakan-teriakan perang.

 

PERANGKAT PERANG 

Semangat berperang sangat menggebu pada bangsa ini dengan membuat semacam provokasi, dan taktik yang sudah dirancang memang langsung dilaksanakan. Kehidupan mereka kenyataannya berada dalam permusuhan, peperangan, pertempuran yang terus-menerus, dan mereka selalu siap untuk menyerang dan bertahan. Apabila mereka menetapkan untuk merancang melakukan perang tindakan pertama terhadap tantangannya adalah menyerang dengan tembakan, tanpa peluru, kedalam kampung musuhnya. Tiga hari kemudian dikerahkan pasukan gempur untuk mengajukan syarat-syarat penguasaan, dan jika ini masih belum tuntas, atau syarat-syarat itu tak dapat disetujui, pernyataan perang secara syah di deklarasikan. 

Unjuk penembakan dengan serbuk senjata adalah aksi menunjukkan asap kepada musuh. Semasa terjadinya peperangan, yang kadangkala berlangsung selama dua atau tiga tahun, mereka jarang bertemu di luaran atau mencoba menyelesaikan perseteruan dengan sebuah perjanjian umum, karena kedua pihak masing-masing mungkin sudah kehilangaa selusinan serdadunya yang mungkin sudah menuju kehancuran bersama, merekapun tidak akan pernah mau berjabatan tangan, tetapi menjaga jarak aman, sangat jarang mendekat atau hanya kurang dari jarak tembak saja, kecuali dalam suatu serangan mendadak. 

Mereka berbaris dalam satu barisan, dan biasanya menembak dengan gaya berlutut. Sangat jarang bahwa mereka mengambil resiko untuk menyerang langsung berhadap-hadapan, tetapi mencari kesempatan untuk menciduk musuh yang ketinggalan barisan dan yang sedang lewat di dalam hutan. Satu kelompok dengan tiga atau empat orang akan bersembunyi dekat dengan jalur lintasan, dan bila mereka melihat musuhnya mereka menembak dan segera melarikan diri, menanam ranjau dibelakang mereka untuk mencegah pengejaran. Dalam keadaan seperti ini seorang serdadu akan mampu bertahan dengan sebuah kentang (ubi, penls.) per hari, sehingga mereka mendapat keuntungan dibanding Melayu (terhadap siapa mereka selalu berhubungan dalam hal peralatan perang), yang menginginkan disupply dengan lebih baik.

 

PERTAHANAN 

Mereka mempertahankan kampungnya dengan gundukan tanah yang besar sebagai kubu pertahanan, diatasnya mereka tanami dengan semak belukar. Ada dibangun sebuah parit tanpa kubu gundukan tanah, dan pada setiap sisi terdapat tancapan kayu runcing yang cukup tinggi biasanya dari kayu kemenyan. Diseberangnya ditanami pagar yang tak dapat ditembus terbuat dari bambu berduri yang bila sudah tumbuh membesar memiliki kerapatan yang luarbiasa rapat, dan secara sempurnah tampilan sebuah kota menjadi tersamar secara rahasia. 

Ranjau-ranjau seukuran panjang untuk badan dan kaki disusun untuk mencegah datangnya bahaya dari penyerangan yang biasanya hampir terang-terangan. Pada setiap pojok dari benteng, sebagai ganti menara atau rumah pengintaian, mereka mencari akal untuk menanam pohon yang tinggi, dimana mereka dapat memanjatnya untuk mematamatai atau sebagai tempat menembak. Tetapi mereka tidak suka tetap dalam posisi bertahan di benteng kampung, karena itu, mereka meninggalkan beberapa orang untuk mengawal mereka, biasanya maju sampai ke tempat yang datar, dan sementara tiarap dan masuk dalam parit-parit.

Index:

  1. Sokum = nama sebuah daerah sekarang bernama …..
  2. uti =
  3. jono = sejenis senjata mirip parang yang digunakan seperti pedang dan bukan seperti menggunakan keris.

Bagi sahabat pengunjung yang mengetahui nama-nama lama dalam index yang sudah berubah dan dikenal sekarang ini, diharapkan memberi informasi agar semua kalangan mengetahui penggal-penggal sejarah Bangsa Batak. Thanks !

Sebelumnya<<<Batak Menurut William Marsden>>>Selanjutnya

Mulak tu bona>>>

3 Responses to “05-PEMERINTAHAN BATAK”

  1. Terus terang saya kater… blog nie .. memang terbaikklahhh🙂

  2. […] Sebelumnya<<<Batak Menurut William Marsden>>>Selanjutnya […]

  3. […] Sebelumnya<<<BATAK MENURUT WILLIAM MARSDEN>>>Selanjutnya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: