06-Perdagangan

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

BATAK MENURUT WILLIAM MARSDEN, lanjutan:

PERDAGANGAN

Penduduk yang bermukim di pesisir pantai memperdagangkan kemenyan, kapur barus, kayu manis (serbuk emas sepertinya seolah tidak bernilai) untuk dipertukarkan dengan besi, baja, tembaga, dan garam, barang dagangan terakhir adalah seratus ribu bambu setiap tahunnya diambil di teluk Tappanuli. Semuanya ini mereka barter kepada penduduk pedalaman, dalam bentuk seperti yang diuraikan di atas, kemudian dipertukarkan dengan barang-barang mentah dan barang-barang jadi buatan negeri itu, seperti kain tenunan sendiri; sejumlah kecil kain katun yang didatangkan dari daerah pesisir pantai untuk kemudian diperdagangkan kepada penduduk setempat. Yang mereka minati adalah kain berwarna biru untuk tudung kepada dan kain bahan kursi yang bercorak bunga-bunga.

 

PASAR RAMAI MINGGUAN ( Onan, red.) 

Waktu yang paling ramai melakukan perdagangan lokal berada di belakang Tappanuli yaitu mengadakan pasar besar, dengan empat tahapan, mereka mengundang keramaian masyarakat membentuk pasar setiap hari ke-4 setiap minggunya sepanjang tahunnya dimana setiap pasar tersebut hanya berlangsung dalam satu hari itu saja. Orang-orang dari masyarakat tahapan keempat memperdagangkan barang dagangannya di satu wilayah tertentu, kemudian dari wilayah tahapan ketiga berfungsi sebagai pembeli. Orang-orang dari tahapan ketiga  kemudian memperdagangkan barang-barang tahapan kedua, dan dari tahapan kedua ke tahapan kesatu untuk kemudian selanjutnya memperdagangkannya langsung kepada orang-orang Eropah dan Melayu. 

Dalam suasana keramaian pelaksanaan pasar ini, semua bentuk permusuhan diantara kelompok masyarakat secara otomatis tidak berlaku, dan yang terjadi hanyalah bentuk perdagangan semata. Setiap orang yang membawa senjata (jenis senjata kuno) biasanya menyertakannya dengan menggigit dahan hijau dimulutnya sebagai tanda perdamaian. Bila dia masuk ke tempat berlangsungnya pasar, harus mengikuti aturan-aturan dari pimpinan pasar, kemudian mengeluarkan peluru senjata itu di gundukan tanan, untuk kemudian bila nantinya akan pulang, dia akan mengambil kembali pelurunya. 

Ada sebuah rumah di pasar itu yang dikususkan untuk tempat bermain judi. Tempat berjualan dibuat berbilik-bilik dikhususkan untuk wanita dibawah naungan barisan pohon berbuah yang biasanya adalah pohon durian, dan satu barisan itu dikhususnya untu wanita. Setiap transaksi dilaksanakan dengan penuh keteraturan dan secara adil; pimpinan pasar biasanya mengamati dari kejauhan untuk memantau bila terjadi kesalah pahaman, dan seorang pengamanan berjaga-jaga dengan senjata tombak untuk menjaga keamanan, sebagai mana layaknya orang yang berperadaban. Saya telah diyakinkan oleh orang-orang yang pernah menghadiri pertemuan mereka bahwa dalam setiap penampilan dan tingkah laku mereka adalah lebih bengis disbanding yang diamati di Rejang dan penduduk Lampung. 

Para pedangan dari pedalaman Tanah Batak yang terletak di utara dan selatan, melaksanakan perdagangan ini secara periodik dimana kegiatan yang dilaksanakan dilakukan dengan barter. Mereka tidak asing lagi dengan kawasan ini dan melaksanakan perdagangan ini diberbagai daerah seperti di Batang-kapas dan Ipu. Oleh orang Melayu mereka kegiatan ini mereka sebut onan

MENAKSIR BERDASARKAN KOMODITI DIBANDING KOIN 

Karena tidak memiliki mata uang (koin), semua nilai ditaksir berdasarkan komoditi tertentu. Dalam perdagangannya mereka menghitung dengan tampangs (bentuk bongkahan) untuk kemenyan; dalam transaksi diantara mereka lebih umum dibandingkan dengan nilai seekor kerbau; bahan dari kawat kuningan atau kadang-kadang digunakan manik-manik sebagai medium. Satu galang (gelang, atau ring yang terbuat dari kawat kuningan diberi nilai setara dengan 1 dollar. Tetapi untuk pembayaran bernilai kecil, garam adalah ukuran yang paling banyak digunakan. Sebuah ukuran yang disebut salup; beratnya kira-kira 1 kg, setara dengan satu fanam atau 2,5 penny (mata uang Inggris, pnls.); Satu balli, jenis ukuran kecil lainnya, kira-kira senilai 4 keppeng, atau setara sekitar 3/5 penny (jenis mata uang Inggris). 

MAKANAN

Makanan yang umum untuk orang-orang kelas bawah adalah jagung dan ubi jalar, sementara para raja dan tokoh-tokoh adalah nasi. Kadang-kadang mereka juga mencampur makanan itu seperti jagung dan beras. Hanya dalam kesempatan tertentu saja mereka menyembelih ternak untuk makanan; tetapi bukan tidak menikmati selera mereka yang tidak segan memakan bagian-bagian dari seekor kerbau mati, babi, tikus, buaya, atau binatang buas lainnya yang mereka jumpai. Sungai-sungai mereka tidak banyak ikannya. Daging kuda merupakan makanan istimewa, karena itu mereka memeliharanya dan memberikan makanan yang baik untuk peliharaan itu. Ada banyak kuda-kuda di wilayah itu, dan orang-orang Eropah di Bengkulu mendapatkan kuda-kuda dari daerah ini, tetapi bukan yang terbaik diberikan, karena kuda-kuda terbaik digunakan untuk perayaan-perayaan. Menurut Mr. Miller, mereka juga memiliki jenis anjing hitam yang agak kecil dengan telinganya tegak keatas, dimana mereka memeliharanya digemukkan untuk dimakan. Mereka sangat gemar meminum tuak sebagai minuman pada pesta-pesta.

 

BANGUNAN

Rumah-rumah dibangun dengan rangka dari kayu, dengan dinding-dinding papan, dan atap terbuat dari iju (ijuk = serabut yang diperoleh dari pohon bagot, aren). Rumah-rumah itu biasanya terdiri dari satu ruangan besar, dimana masuknya melalui pintu di bagian tengah berbentuk perangkap. Jumlah rumah tidak lebih dari dua puluh untuk setiap kampung; tetapi diluar setiap kampung terdapat bangunan terbuka yang digunakan untuk tempat duduk-duduk sewaktu siang hari, dan di malam hari sebagai tempat tidur anak laki-laki yang belum kawin. Barisan bangunan ini mengapit sebuah jalan. Disetiap kampung juga terdapat balai dimana penduduk melakukan transaksi bisnis, merayakan pesta, dan mengadakan resepsi bagi pendatang baru yang mereka layani dengan keterusterangan dan keramahan. Pada ujung bangunan ada tempat yang dibagi, dimanan para wanita melihat pertunjukan dan menari, dan di bagian bawahnya ada sejenis orkestra untuk musik. 

 

PERILAKU BERUMAHTANGGA

Laki-laki diijinkan mengawini banyak istri sebanyak yang mereka suka atau mampu, dan memiliki setengah lusin istri bukanlah hal aneh. Masing-masing istri bertempat di bagian yang berbeda di ruangan besar, dan tidur tak berbatas dengan yang lainnya, tidak dipisahkan oleh partisi atau berbeda bagian.  Suami menjatah masing-masing kepada istri-istri beberapa perapian dan peralatan memasak, dimana mereka membenahi masing-masing persediaan makanan secara terpisah, dan meladeni suami bergiliran. 

Bagaimana mungkin keadaan berumahtangga dan batasan imajinasi yang sangat tipis untuk bisa diterima akal tentang nafsu cinta yang membara dan tak terkendali, dan kecemburuan dipastikan terjadi pada bentuk selir-selir ketimuran ini? Atau haruskah adat diijinkan untuk mengatasi semua pengaruh lainnya, baik secara moral maupun fisik? Dengan kata lain mereka sedikit berbeda adatnya dalam hal perkawinan dibanding dengan daerah-daerah lain di pulau itu (Pulau Sumatera).

Orangtua wanita biasanya menerima mahar yang mahal (dalam bentuk sejumlah kerbau atau sejumlah kuda) dari orang yang meminangnya; yang harus dikembalikan apabila terjadi perceraian karena disebabkan oleh pihak laki-laki. Perempuan sebagaimana lazimnya selalu melihat yang orangtuanya kaya. 

 

KEDUDUKAN WANITA

Kedudukan wanita kelihatannya tidak lebih daripada sebagai budak. Suami memiliki kekuasaan memanfaatkan istri-istri dan anak-anaknya. Mereka juga, selain bekerja untuk rumahtangga, juga bekerja di sawah. Hal ini sama terjadi juga di daerah lain di pulau itu; kecuali di kawasan tengah, negerinya lebih tertata, lebih banyak menggunakan bajak, menggaru, yang ditarik oleh kerbau. 

Laki-laki, apabila tidak sedang dalam perang sebagai kegiatan yang disenangi, lebih banyak berdiam diri, tidak memiliki kegiatan, menghabiskan hari-hari hanya bermain seruling, yang dihiasi dengan sejenis karangan bunga; diantaranya adalah jenis bunga amaranthus, yang memang banyak tumbuh sebagai tumbuhan asli. 

 

BALAP KUDA

Mereka disebutkan suka berburu rusa dengan menunggang kuda, dan juga sebagai hiburan dalam balap kuda. Mereka menunggang dengan berani tanpa menggunakan pelana, terkadang membentangkan tangannya ke atas sambil memacu kudanya pada kecepatan penuh. Sambungan tali kekang terbuat dari besi, yang memiliki beberapa sambungan, pegangan tali kendali terbuat dari rotan; sebagian terbuat dari ijuk, dan juga kayu. 

Mereka, seperti kebanyakan orang Sumatra, sangat ketagihan berjudi, dan prakteknya bukanlah dalam suasana yang tenang, bahkan habis-habisan sampai ada yang kalah total. Apabila seorang yang kalah dan berhutang, dia ditahan dan dijual sebagai budak; bentuk-bentuk inilah yang umum terjadi. Seorang pemenang judi sering juga menyisihkan kemenangannya dalam jumlah tertentu untuk menyembelih seekor kuda dan mengadakan pesta umum.
Indeks:

  • Batang Kapas = nama sebuah tempat diperuntukkan untuk berdagang, sekarang disebut….
  • Ipu = nama sebuah tempat diperuntukkan untuk berdagang, sekarang disebut….
  • Onan= sebutan untuk pasar barter oleh orang Melayu di Tanah Batak. (menurut ceritanya selalu muncul perkataan dari pedagang Batak yang selalu menyebut ‘on’ (ini) dan ‘an’ (itu) untuk menunjukkan barang-barang dagangan yang di-barter.
  • Tampangs = sejenis alat ukuran untuk menakar nilai kemenyan berdasarkan ukuran bongkahan.
  • Salup = jenis alat ukur yang digunakan untuk mengukur nilai barang berdasarkan berat; beratnya kira-kira 1 kg.
  • Fanam = sejenis alat ukur yang setara dengan 2,5 penny
  • Penny = mata uang Inggris yang setara dengan nilai 1/20 shilling dimana satu shilling adalah senilai 1/20 pounsterling.
  • Balli = sejenis alat ukur yang setara dengan 4 keppeng
  • Keppeng = sejenis alat ukur yang setara dengan nilai 3/5 penny.

Sebelumnya<<<BATAK MENURUT WILLIAM MARSDEN>>>Selanjutnya

Mulak tu Bona>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: