07-BAHASA-TULISAN-BUKU2….

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

BATAK MENURUT WILLIAM MARSDEN:

07-BAHASA-TULISAN-BUKU2-AGAMA-MITOLOGI-SUMPAH-UPACARA PENGUBURAN-KRIMINAL

BAHASA 

Mereka memiliki Bahasa dan Tulisan sebagaimanan telah diamati sebelumnya, suatu bahasa dan jenis huruf tulis yang khusus berlaku bagi mereka, dan bahsa ini adalah milik mereka, sekurangnya ada yang mirip dengan lainnya di pulau itu, sebagaimana bahasa Jawa, Sulawesi (Celebes), dan Pilipina, dalam hal istilah-istilah sehari-hari banyak juga yang sama dengan bahasa Melayu (menurut saya berasal dari satu bahasa yang sama), lagipula dalam hal adanya ketidakcocokan akibat pengaruk politis dan agama, yang diinginkan oleh tetangga terdekatnya, lidah orang-orang Batak sangat sedikit berubah dibanding suku lainnya. Untuk jenis kata-kata, huruf, dan cara membaca dimana bunyi huruf-hurufnya tidak sepenuhnya sama. Yang sangat menakjubkan bahwa proporsi orang-orang yang mampu membaca dan menulis jauh lebih besar dibanding orang-orang yang tak mampu baca tulis, kualifikasi demikian jarang diamati terhadap penduduk yang belum maju di bagian dunia ini sebagaimana di Batak. dan bahkan jarang ditemukan pada penduduk yang sudah lebih maju.

TULISAN 

Tulisan mereka yang digunakan untuk penggunaan umum, seperti sudah dijelaskan tentang bahasa Rejang, dituliskan pada potongan bambu.

BUKU-BUKU 

Buku-buku mereka (sebagaimana mereka gunakan untuk yang penting-penting) di tuliskan di bagian dalam kulit kayu jenis tertentu dipotong berbentuk lembaran panjang dan dilipat berbentuk persegi. membiarkan bagian ujung-ujung kulit kayu dipergunakan sebagai sampulnya. Kulit kayu yang digunakan untuk tulisan dikikis sampai licin dan tipis, dan digosok dengan air beras. Pena yang digunakan adalah dari jenis ranting kayu atau dari jenis serat daun, dan tintanya terbuat dari getah dammar cair yang dicampur dengan air gula tebu. 

Isi dari buku-buku mereka masih sedikit yang kami ketahui. Kebanyakan dari tulisan-tulisan yang bukunya saya miliki adalah gabungan dari kata kasar dan gambar-gambar binatang berbisa, dan ada sebagian berbentuk diagram, dimana mereka menerapkan pengamatan astrologi dan yang bersifat ketuhanan dan ramalan. Dalam hal ini mereka suka mencaritau secara menyeluruh tentang kegiatan dalam hidupnya, dan kejadian-kejadian diramalkan dengan menggunakan huruf-huruf yang bertanda tertentu pada potongan bambu, dicocokkan pada baris-baris yang terdapat pada buku sucinya, dengan demikian dapat dibuat suatu perbandingan tentang ramalannya. Tetapi bukan hanya seperti ini saja cara berhubungan dengan ketuhanannya. 

Sebelum berangkat untuk berperang, mereka menyembelih seekor kerbau atau unggas yang benar-benar berwarna putih, dan melalui gambaran-gambaran yang ada pada usus itu, mereka mampu menentukan hari baik atau nasib buruk yang akan menimpa mereka; Pemuka agama yang memimpin acara ritual ini adalah sebagai penentu mutlak, oleh karena apabila dia meramalkan yang bertentangan dengan kejadian, disebutkan bahwa dia terkadang menjatuhkan hukuman kematian atas apa yang teramal pada perangkat ramalannya. Selain itu buku ini berisi tulisan-tulisan ilmu gaib, ada juga berisi legenda-legenda dan cerita-cerita mitos.

Catatan oleh Dr. Leyden 

Dr. Leyden, dalam desertasinya tentang bahasa dan literature bangsa-bangsa Indo-Cina mengatakan bahwa tulisan Batak dibaca apakah dari kanan ke kiri, atau bukan dari kiri ke kanan, atau bukan dari atas ke bawah, tetapi sifatnya sangatlah berlawanan dengan tulisan Cina yang dari bawah ke barisan atas. Dan bahwa saya telah menyampaikan kekeliruan pendapat mengenai bentuk alami tulisannya itu bahwa penyusunannya adalah secara horizontal dibanding penempatannya yang secara tegak lurus. 

Sekarang memang tidak mendapat kesempatan untuk menentukan bukti nyata yang saya pahami bahwa sebenarnya mereka menulis sebagaimana urutan yang praktis, sebut saja, dari kiri kekanan (sama seperti tulisan Hindu, dimana ada alasan kuat sepertinya aslinya mereka mendapat pengajaran). Saya hanya akan mengamati bahwa saya memiliki tiga contoh yang berbeda tentang aksara Batak, yang ditulis oleh suku asli yang berbeda pada masa yang berbeda pula. 

Tetapi pada saat yang bersamaan saya berkeyakinan yang seperti pendapat inilah yang dikenal oleh bangsa-bangsa Eropah, dan berdasarkan tulisan kami ini, mungkin mereka sudah menyimpang dari yang biasa mereka lakukan, sehingga bukti-bukti itu tidak begitu menentukan lagi. Mungkin saja memang benar dianggap bahwa buku-buku milik mereka merupakan patokan yang paling cocok. Tetapi berdasarkan penempatan huruf yang mereka gunakan mungkinsaja letak huruf-huruf itu sesuai dengan model lainnya walaupun sebenarnya mudah untuk menentukan pengamatan sederhana dimulai dari awal tulisan. 

Pada Catatan Batavia (Volume 3 halaman 23) sudah sering dimunculkan, disebutkan dengan jelas bahwa orang-orang Batak menulis layaknya orang-orang Eropah dari kiri ke kanan dan sebenarnya tidaklah mudah untuk memahami bagaimana seseorang menggunakan tinta dapat menggunakan tangannya dari bawah kearah atas halaman yang tidak menyenangkan untuk dilakukan. Tetapi masih menjadi kenyataan, kalau memang demikian, tak ada cara lain untuk membantahnya, dan saya tidak keberatan untuk menegaskan kebenarannya.

AGAMA 

Agama mereka, sama seperti penduduk lainnya di pulau itu yang belum menganut Islam, sangat kabur atas prinsip-prinsipnya sepertinya hampir tidak membuka ruang bahwa agama itu memang ada hidup diantara mereka. Walau demikian mereka lebih banyak memiliki upacara dan melakukan ketaatan beribadah dibanding orang Rejang atau Pasemah, dan ada seorang pemimpin yang mereka sebut guru (istilah yang juga dikenal dalam Hindu), seorang yang disebut pendeta (pemuka agama), dimana mereka dipekerjakan untuk mengambil sumpah, yang meramal hari keberuntungan dan hari sial, melakukan kurban, dan pelaksanaan ritual penguburan. Untuk suatu keilmuan tentang keagamaannya itu kita berhutang budi pada M. Siberg, seorang gubernur pendudukan Belanda di pantai Sumatra, oleh dia catatan tentang berikut ini diperbincangkan kepada mendiang M. Radermacher, Yang Terhormat anggota Masyarakat Batavia, dan oleh dia mengenai diterbitkan pada notulennya. 

MYTHOLOGY 

Penduduk negri ini memiliki cerita-cerita yang menakjubkan yang secara singkat akan disebutkan. Mereka mengakui ada tiga dewa yang mengatur dunia ini, yang namanya disebut Batara-guru, Sori-pada, Mangalla-bulang. Yang disebutkan pertama, berperan mengatur di surga, adalah sebagai bapak dari semua umat manusia, dan peran lainnya, sebenarnya sebagai pencipta bumi, yang sejak awal-mulanya terletak di kepala Naga-padoha, tetapi, karena semakin keletihan menahan lebih lama, dia menggelengkan kepalanya, sehingga bumi tenggelam, dan tak ada yang tersisa di dunia kecuali air. 

Mereka bukan mengada-ada atas satu pengetahuan tentang penciptaan bumi dan air yang sebenarnya, tetapi dikatakan bahwa pada masa seluruhnya tertutup air, Dewa utama Batara-guru, memiliki seorang putri bernama Puti-orla-bulan yang memohon ijin turun ke dunia bawah (Banuatoru, red.) dan selanjutnya turun mengendarai seekor burung hantu putih (Manuk Patiaraja, red.), didampingi seekor anjing, tetapi mereka tak mampu karena air yang menutupi Dunia bawah. Ayahnya menjatuhkan satu gunung suci (Pusuk Buhit, red) yang diberi nama Bakkara, yang sekarang menjadi nama daerah di negri Batak, sebagai tempat kediaman untuk anaknya. Dan dari gunung ini seluruh tanah secara bertahap terbentuk. Suatu ketika kemudian bumi tertumpu diatas tiga tanduk Naga-padoha, dan dia tidak lagi merasa berat beban ketika Batara-guru mengirim anaknya yang bernama Leangleang mandi (burung laying-layang) untuk mengikatnya di tangan dan kaki. Tetapi sewaktu dia menggoncangkan kepalanya mereka merasakannya sebagai akibat gempabumi. Kemudian sewaktu Puti-orla-bulan tinggal di bumi mempunyai tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan dan darisitulah berkembang biak semua umat manusia. 

Dewa mereka yang kedua memerintah udara diantara bumi dan surga, dan dewa yang ketiga memerintah bumi, tetapi dua dewa ini adalah bawahan dari dewa yang pertama.

Disamping itu mereka memiliki dewa-dewa jahat karena ada mahluk berakal di bumi, atau ada ditengah kelompok manusia, yang berkuasa atas laut, juga ada yang menguasai sungai, menguasai hutan, berkuasa atas peperangan, dan berkuasa atas keinginan.  Sebaliknya mereka meyakini empat roh jahat, yang mesemayam di empat buah gunung, dan bilamana mereka mengalami sakit, mereka menyembah kepada satu diantara roh jahat ini. Bila kejadian yang demikian, mereka datang kepada seseorang pintar, orang yang mencari jalan untuk menolong dengan caranya dengan memotong sebuah jeruk untuk mengetahui apa kira-kira yang membuat terjadinya kejahatan itu, dan dengan cara itu roh jahat boleh dibujuk; yang selanjutnya disyaratkan harus menyembelih kerbau, babi, kambing, atau apabila jenis binatang apapun yang ada disitu menjadi tersihir pada hari itu maka itulah yang pantas untuk dimakan. Apabila permintaan dialamatkan kepada dewa yang terkuat dan pemurah untuk dimintai tolong, dan pemuka agamanya menyarankan untuk mengurbankan kuda, kerbau, anjing, babi, atau unggas, dan dipersyaratkan bahwa binatang yang dikurbankan haruslah seluruhnya berwarna putih. 

Mereka juga memiliki pemikiran yang samara-samar dan membingungkan tentang keabadian jiwa manusia, dan tentang masa depan yang bahagia atau menderita. Mereka mengatakan bahwa jiwa seorang yang mati keluar dari lobang hidungnyaa, dan terbang terbawa angin ke surga bila seseorang melakukan perbuatan baik dalam hidupnya, tetapi jika berperilaku jahat, jiwanya akan pergi ke kawah yang dahsyat, dimana jiwa itu akan terpanggang di api sampai tiba saatnya Batara-guru menghakiminya apakah untuk mendapatkan penderitaan sesuai dengan dosa-dosanya atau mendapat pengampunan ke surga; dan saatnya akan tiba bila rantai dan ikatan  pada Naga-padoha terlepas, dan mengakibatkan bumi tenggelam, dan kemudian matahari berada pada jarak yang sangat dekat padanya, dan jiwa orang-orang semasa hidupnya baik, akan tetap hidup selamanya, akan tinggal di surga, dan orang-orang yang licik akan ditempatkan di kawah yang maha dahsyat, dan secara terus menerus terpanggang oleh sinar matahari yang terus mendekat, dan tetap berada disana disiksa oleh menterinya Batara-guru yang bernama Suraya-guru, hingga sampai tertebus perbuatannya, mereka akan diajarkan tujuan jasa atas penerimaan ke dalam dunia surga. 

Bagi para sarjana Sanskerta yang akan memberikan pengecualian atas adanya kekurangan ejaan banyak dari nama-nama ada kemiripannya. Untuk Batara dibacanya sebagai avatara; dan dalam Naga-padoha dia mengenalnya seperti ular sebagai posisi Wisnu.

SUMPAH 

Upacara-upacara mereka yang memperlihatkan ciri-ciri dari agama yang dilaksanakan seperti pengambilan sumpah, dan pada upacara penguburan. Seorang yang tertuduh melakukan kriminal dan yang mengaku tidak bersalah adalah sejumlah kasus membebaskannya setelah menyatakan sumpahnya, tetapi dalam hal lain tak langsung menjalani sejenis hukuman berat. 

Sebuah tenggorok ayam biasanya dipotong oleh guru untuk kejadian seperti ini. Si tertuduh kemudian meletakkan sedikit beras kedalam mulutnya, dan berharap akan menjadi batu bila jika dia bersalah atas kriminal yang dituduhkan kepadanya, atau, memegang sebuah peluru senapan kuno, mendoakan bahwa dia akan mendapat nasib buruk bila dalam peperangan, dalam banyak contoh-contoh penting mereka menaruh timah kecil atau bentuk timah diatas sebuah piring nasi, kemudian menghiasinya dengan peluru itu; ketika seseorang itu berlutut, kemudian berdoa bahwa panen padinya akan gagal, ternaknya mati, dan dia tidak akan mendapat garam (bahan sangat penting bagi kehidupan), bila dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Bentuk timah ini terlihat seperti bentuk sesembahan; tetapi saya tak dapat memahami bahwa setiap bentuk pemujaan dibayarkan kepada mereka pada setiap kejadian lebih daripada bentuk batu yang disebutkan sebelumnya. Misalnya seperti bentuk orang suci, mereka sekedarnya saja menggunakannya untuk melaksanakan bentuk sumpah yang lebih misterius, dengan demikian meningkatkan perasaan lebih hikmat dalam pelaksanaannya.

UPACARA PENGUBURAN 

Bila seorang raja atau seorang yang setara raja meninggal, upacara penguburan biasanya dilakukan berbulan lamanya; mayat dibiarkan tak terkubur hingga seluruh penduduk dan pemimpin-pemimpin dari daerah jauh berdatangan, atau, dalam kasus-kasus umum, keluarga dan yang turut berduka, dapat diundang rapat untuk melaksanakan acara ritual supaya mendapatkan harga diri dan kehormatan. Bisa saja masa tanam dan panen ditunda, dan ada acara kegembiraan yang dihadirkan sebelum upacara pemakaman dilakukan.

Mayat untuk sementara waktu ditempatkan pada sejenis peti mati. Untuk membuat peti mati ini mereka menebang pohon besar (biasanya pohon enau, karena bagian tengahnya yang lunak dan batang luarnya keras), dan setelah memotong pangkal-pangkalnya untuk mendapatkan ukuran yang pas, lalu membelahnya, lalu melubanginya pas untuk ukuran tubuh, untuk kemudian dapat menyatukan untuk menutupnya kembali. Para pekerja memercikkan darah anak babi, dan dagingnya diberikan kepada mereka sebagai balasan. Mayat kemudian dipersiapkan dan dibawa ke rumah yang dipersiapkan untuk itu, dengan meletakkannya diatas tikar, dan ditutupi kain. Bila keluarga mampu menaburkannya dengan kapur barus. Bila kedua belah batang kayu enau ditutup lalu mengikatnya dengan rotan, lalu keseluruhannya dilapisi dengan dammar kemenyan atau perekat. Adakalanya mereka memasukkan bambu ke bagian bawahnya, sebagai alas menumpu tanah untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. 

Sewaktu keluarga dan para sahabat berkumpul, masing-masing membawa kerbau, babi, kambing, anjing, unggas, atau bawaan lainnya bergantung kepada kemampuannya, dan perempuan membawa keranjang beras, yang dibawa secara beraturan, perayaan berlangsung selama sembilan hari sembilan malam, atau selama yang diperlukan. Pada akhir dari hari perayaan, peti mayat dikeluarkan dan dipajangkan diluar, dikelilingi oleh para perempuan yang meratapinya sambil berlutut dan kepala tertutup kain, menangis berbalasbalasn, sementara orang-orang muda dari keluarga menari-nari didekatnya dalam gerakan yang lambat mengikuti suara gong, kalintang, seruling. Pada malam harinya mayat dimasukkan kedalam rumah, dimana tari-tarian dan musik masih terus berlanjut, dan diselingi dengan sejumlah tembakan, dan pada hari kesepuluh, mayat dibawa ke kuburan, dibimbing oleh seorang guru atau imam yang anggota tubuhnya bertato bentuk burung dan jenis binatang, yang dicat berwarna-warni, dengan topeng kayu besarr dipakai diwajahnya. 

Dia mengambil sepotong sayatan daging kerbau, memutar-mutarnya kesana-kemari, kemudian menghempas-hempaskan tubuhnya kedalam bentuk gerakan dan gerakan badan yang tak lazim seperti karet, dan kemudian memakan potongan daging dengan lahap. Kemudian dia memotong seekor ayam diatas mayat, membiarkan mayat dilaburi darah, dan sebelum dipindahkan maka serempak para perempuan menangisi, dan dengan masing-masing memegang sapu kemudian menyapukannya kesana-kemari, seolah-olah mengusir roh jahat dan mencegah ikut campur dalam prosesi itu, seketika empat orang laki-laki, mengambil posisi untuk mengangkat mayat dan dengan cepat berbaris seolah-olah merebutnya dari setan, pendetanya terus menyapu dari jarak tertentu. Kemudian mayat itu diletakkan di tanah, tanpa ada upacara khusus, sekitar kedalaman 3 atau 4 kaki (± 1 m ) tanah disekitar kuburan ditinggikan, tangisan menyelimuti suasana, selanjutnya pestapun berlangsung untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya, tanduk dan tulang rahang kerbau dan ternak lainnya diikatkan pada tiang. Mr. John dan Mr. Charles Marsden adalah pengunjung terhormat dari penguburan raja di Tapanuli itu. Mr. Charles Miller menyebutkan bahwa dia telah menyaksikan penyembelihan seratus enam kerbau di pekuburan raja, disebagian tempat di negeri itu bila dilakukan upacara terkadang berlangsung sampai setahun setelah selesai proses penguburan, dan mereka kelihatannya menghormati leluhurnya sebagai manusia agung yang selalu hadir melindungi mereka.

KRIMINAL 

Kriminal yang ditetapkan adalah yang bertentangan dengan aturan dan kedamaian masyarakat, tidak terlalu banyak kejadiannya. Pencuri hampir tidak ditemukan diantara mereka, dan memang benar-benar sangat jujur satu sama lainnya, tetapi bila ditemukan pelanggaran yang dilakukan dibuat pertanggungjawaban senilai dua kali dari barang yang dicuri. Penyerobotan dari orang asing, bila tidak dikendalikan dengan hukum keramahtamahan terhadap tamu, yang mereka ketahui, dan merasa bukan bermoral kejahatan, karena mereka tidak merasa terjadi penyakit yang ditimbulkannya. 

Catatan. Sangat mengagumkan bahwa di dalam bahasa Bisayan di Pilipina sebutan untuk orang yang demikian dlam bahasa Spanyol disebut pintados, adalah batuc. Perilaku ini lazim terjadi di pulau-pulau dipesisir Sumatra yang disebutkan disini. Kelihatannya berlaku di banyak tempat di timur jauh seperti Siam, Laos, dan beberapa pulau-pulau.

Perampokan dan pembunuhan mendapat hukuman mati bila yang bersalah tidak mampu menebus nyawanya dengan sejumlah uang. Seorang yang bersalah melukai orang dengan bendatajam hingga mati diharuskan membiayai semua akibat kematian itu dan semua biaya pesta penguburan, atau, bila terlalu miskin maka saudara terdekatnya yang menanggung yang diharuskan untuk membayarnya dengan menjualnya sebagai budak. 

Dalam hal seseorang duakali ketahuan melakukan perkosaan akan dihukum mati, tentunya dengan suatu proses peradilan, tetapi yang wanitanya akan dipermalukan dengan menggundulinya dan dijual sebagai budak. Penerapan keadilan yang harus dilaksanakan dengan anggapan yang laki-laki jarang melakukan hal-hal melanggar, dan laki-laki itu sendiri memiliki kesempatan pembelaan oleh orang perantara. Seorang laki-laki yang belum menikah melakukan perkosaan dengan seorang perempuan kawin mendapat hukuman usir dan dikucilkan dari keluarga. Kehidupan orang yang melakukan kejahatan untuk banyak kasus dapat ditebus jika mereka atau keluarganya memiliki harta yang sesuai untuk mengganti, jumlahnya diukur sebanding dengan kejahatan yang diakibatkannya. 

Pada saat pengamatan ini dilakukan bahwa orang Eropah masih belum banyak yang tinggal membaur dengan orang-orang ini, sampai pada saat menjejakkan kakinya di daerah perdagangan lada, kami tidak begitu memahami prinsip-prinsip pelaksanaan humum-hukum mereka.

Indeks:

  1. Rejang atau Possuma (Pasemah) adalah suku tua yang terdapat di Sumatera Selatan sekarang.
  2. Batara-guru (Bataraguru), Sori-pada (Soripada), Mangalla-bulang (Mangalabulan), adalah 3 dewa utama dalam agama Batak yang dipercaya sebagai pengatur dunia dan segala isinya. Tiga dewa utama ini disebut juga debagai Debata Natolu.
  3. Naga-padoha (Nagapadoha) adalah salah satu dewa yang dikirim Tuhan (Mulajadi Nabolon) ke dunia bawah yang bertujuan untuk memberi teguran dan hukuman kepada manusia atas perbuatannya.
  4. Puti-orla-bulan, menurut cerita mitologi lainnya disebutkan bahwa Puti-orla-bulan adalah istri dari dewa Bataraguru di Banua Ginjang (Alam Nirwana).
  5. Manuk Patiaraja, dalam agama Batak disebutkan sebagai seorang dewi yang berbentuk burung sakti dan dipercaya sebagai Debata Asiasi (Trimurti) yang secara supranatural melahirkan tiga dewa utama Debata Natolu dan istri-istrinya. Debata Asiasi dapat disebutkan sebagai pasangan dari Tuhan Mulajadi Nabolon.
  6. Leangleangmandi adalah wujud dari seorang messanger atau pesuruh Tuhan.

Sebelumnya <<< >>> Selanjutnya

Comments are closed.

%d bloggers like this: