Bab-bab Lain Berkaitan Dengan Batak

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008. 

Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

 

Bab-bab lain dalam buku The History of Sumatra yang berkaitan dengan Batak.

Bab-1: 

  • Marco Polo sewaktu akan kembali ke Venisia dari perjalanannya ke Cina disebutkan menyusuri pelayarannya dan sampai di Sumatra yang disebutnya Java Minor. Sebenarnya tidak diketahui pasti tahun ketibaannya di Sumatra tetapi dia sampai di Venisia pada tahun 1295. Diperkirakan dia berada di Sumatra pada tahun 1290, tetapi adapula yang mengatakan sekitar tahun 1292.
  • Marco Polo menyebutkan bahwa di pulau Sumatra terdapat delapan kerajaan tetapi hanya enam kerajaan yang diketahui namanya sementara yang dua lagi tidak diketahui. Ke enam kerajaan yang disebutkan itu namanya adalah Ferlech (Parlak), Basma (Basman), Pase (Pacem = Portugis), Samara (Samar-langa), Dragoian (Indragiri), Lamri, Fanfur (Fansur). 
  • Ferlech (Parlak) terletak di pedalaman sebelah timur pantai utara dimana penduduknya sepertinya yang pertama-tama mengusahai lahan. Disini dikatakannya penduduknya secara umum adalah pemuja dewa tetapi menurut Saracen pedagang yang rutin di daerah itu mengatakan bahwa mereka penduduk perkotaan sudah beralih kepercayaan kepada Mahomet (Islam, red.), sementara yang masih berada dipegunungan masih hidup seperti binatang, dan berperilaku pemakan manusia. (Kalau dalam konteks Batak yang disebutkan pada masa itu sebagai penduduk pemakan manusia; apakah daerah pedalaman pegunungan yang dimaksud adalah Tanah Batak?, red.) 
  • Fanfur (Fansur) dimana ditemukan kamfer (Kapur-barus, red.) jenis terbaik yang harganya sama dengan emas berdasarkan beratnya. Penduduknya hidup dari makan beras dan minuman yang disadap dari sejenis pohon (tuak, red). Ada juga jenis pohon yang menjadi sumber makanan, ukurannya besar, berkulit tipis dimana dibalik kulitnya itu terdapat serat kayu keras kira-kira tebalnya tiga inci, dan dari bagian tengahnya dapat dikeruk dan disaring menjadi makanan (sago = sagu, red.) yang sangat digemari. (Fansur dikenal juga dengan nama Barus di Tanah Batak dan sejak jaman purba memang sudah menjadi pintu gerbang perdagangan kuno untuk bahan dagangan Kapur-barus, kemenyan dan emas. Sagu yang dimaksud adalah yang terdapat dari inti batang pohon enau ‘bagot’ dan masyarakat Karo jaman dulunya memang menggemari makanan ini, red.) 
  • Nicolo di Conti dari Venesia kembali dari petualangannya di tahun 1449 dan menyampaikan laporan perjalanannya kepada Paus Eugenius-IV yang lebih konsisten dan memuaskan atas apa yang dia lihat dalam perjalanannya dibanding dengan para pendahulunya. Setelah menjelaskan uraiannya tentang Kulit-manis dan produk lain dari Zeilam (Srilanka, red.) dia mengatakan bahwa dia berlayar ke sebuah pulau besar bernama Sumatra yang disebut jaman purba sebagai Taprobana dimana dia tinggal di pulau itu selama satu tahun. Dia menjelaskan tentang tanaman lada, buah durian, dan adat-istiadat yang luar biasa oleh orang Batak. 
  • Di pulau ini juga terdapat banyak danau yang besar dan indah yang membentang secara terpisah sepanjang tengah-tengah Sumatra, yang banyak disebut-sebutkan di berbagai tempat tetapi ukurannya, keadaannya, atau tempatnya sangat sedikit diketahui, walaupun para penduduk asli sering menyebutnya pada setiap cerita perjalanannya. 
  • Yang paling banyak dibicarakan adalah sebuah danau yang sangat besar tetapi ditempat yang belum dikenal di negri Batak, ada juga satu di negri Korinchi (Kerinci, red.), yang kemudian dikunjungi oleh Mr. C. Campbel; dan yang lainnya ada di negri Lampung yang memanjang kearah Pasummah, yang dapat dilayari dengan sampan besar di musim hujan dan dibutuhkan sekitar satu hari satu malam untuk sampai, dimana bagian dari daerah itu mengalir sungai Tulang Bawang yang berhubungan dengan sungai Palembang. 
  • Airterjun dan riam (airterjun kecil) juga dijumpai di kawasan yang tanahnya tidak datar seperti di kawasan pantai barat. Satu yang menakjubkan dijumpai di sisi utara gunung Pugong. Di Pulau Mansalar yang terlindung di teluk Tapanuli terlihat sangat jelas airterjunnya, dimana di teluk tersebut terdapat jenis kerang yang sangat besar yang disebut kima (chama gigas) ada dalam jumlah besar. 
  • Kima yang terbesar yang pernah saya lihat dibawa dari Tapanuli oleh Mr. James Moore dari Arno’s Vale di utara Irlandia. Diameternya 3 kaki 3½  x 2 kaki 1¼ inci diameternya. Salah satu cara menangkapnya dari air-dalam adalah dengan menusukkan bambu yang panjang ke dalam mulut kerang sewaktu terbuka. Kulit kerang itu berwarna putih sempurnah dengan ketebalan beberapa inci dan orang setempat menggunakannya sebagai bahan untuk gelang dan bila digosok akan sama mengkilap seperti kaca.

 

BAB-2: 

  • Perbedaan yang nyata diantara penduduk pulau yang biasanya banyak dituliskan oleh pelaut sebelumnya adalah penduduknya penganut Islam di kawasan pantai dan Pagan terdapat di pedalaman. Pembedaan ini, bukan tanpa maksud menghina, terlihat kabur dan tak jelas, bukan saja karena pencirian orang-orang diantara mereka tetapi penduduk pedalaman ada juga yang Islam dan yang di kawasan pantai juga ada yang Pagan. Bukan tak jarang terjadi seorang yang bertempat tinggal bukan di Timur menyebutkan penduduk pulau itu tanpa pandang bulu dengan sebutan Melayu. Ini sama sekali salah dan membuat semakin bingung dibanding para pendahulu. >>> Saya akan mengarahkan mengambil jalan tengah dan kemudian membuat penduduk Sumatra dalam pembagiannya. Pertama-tama pembagian kekuasaan antara Minangkabau dan Melayu; kemudian Aceh; kemudian Batak; Rejang dan tetangganya Lampung. 

 

Bab-4:

  • Mengenai tanaman padi. Di Pedalaman dimana temperature udara lebih cocok untuk pertanian, mereka menabur benih di ladang untuk tiga tahun; dan disitu biasanya ditabur juga benih bawang segera setelah jeraminya dibakar. Di Negri Manna disebelah selatan Bengkulu sudah diterapkan teknik pertanian yang lebih maju, yang lebih baik dibanding daerah lainnya di pulau itu, kecuali di Tanah Batak. 
  • Dalam hal perdagangannya, beras Sumatra kelihatannya lebih gampang rusak dibanding di negri lain. Beras dataran tinggi hanya diharap dapat bertahan kurang dari setahun, dan beras dataran rendah menjadi busuk setelah enam bulan. Di Natal ada kebiasaan menaruh sejumlah daun Lagundi (Vitex trifolia) kedalam lumbung dengan maksud untuk mencegah kerusakan atau padi menjadi tumbuh bertunas. Di Bengal (India Selatan, red.), padi yang dikhususkan untuk eksport direndam di air panas, kemudian dijemur di panas matahari; mampu bertahan dua atau tiga tahun. Jika tetap dibiarkan dalam bentuk padi (bukan beras, red.) akan dapat bertahan dalam waktu yang lama tanpa rusak. Orang desa biasanya menumbuknya menjadi tepung sehingga dapat digunakan setiap saat atau dijual. 
  • Mengenai bambu. Dalam hal jumlah dan kegunaannya yang berharga, bambu (Arundo bambos) merupakan kebutuhan berharga diantara jenis sayuran di negri itu, walaupun saya tidak terlalu perhatikan dibanyak tempat diusahai untuk keperluan setempat, tumbuh secara liar di hampir semua tempat. Di Tanah Batak, mungkin disebagian daerah lainnya, mereka menanamnya disekeliling kampung dengan sangat rapat yang berguna sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh. Penggunaan bambu sebagai pagar ini hampr tak dapat ditembus. 
  • Mengenai jagung. Jagung atau turkey-corn (Zea mays) walaupun sangat umum terlihat, tidaklah ditanami dalam jumlah yang cukup sebagai salah satu bahan pangan, kecuali di Tanah Batak.

 

Bab-6:

  • Kerang-kerangan, kupang (mytilus), rimis (donax), kapang (Teredo navalis), sea-egg, bulu babi (echinus), bia papeda (nautilus), ruma gorita (argonauta), bia unam (murex), bia balang (cuprea), dan banyak lagi jenis lainnya. Jenis-jenis yang berbentuk karang yang indah ini yang terbaik banyak dijumpai di Teluk Tapanuli dan tak ada daerah lain yang mengunggulinya. Dari koleksi yang hebat ini adalah milik Mr. John Griffiths telah dicantumkan di terbitan volume 96 tentang the Philosophical Transactions, the Description of a rare species of Worm-Shells, ditemukan disebuah pulau di pantai barat-daya Sumatra. Pada terbitan itu juga ada sebuah tulisan oleh Mr. Everard Home yang berisi pengamatan tentang kulit-kerang dari Cacing Laut yang ditemukan di Pantai Sumatra, disebutkan masuk dalam spesies Teredo dengan penjelasan anatomi dari Teredo navalis yang sebelumnya, disebutnya Teredo gigante. The sea-gras atau ladang-laut dimana Sir James Lancaster menceritakan tentang cerita yang mengagumkan mengenai sifat alami dari ladang-laut atau binatang karang; Bentuk aslinya adalah lembut dan bila disentuh menyusup kedalam pasir; tetapi bila kering berubah menjadi keras, kokoh, dan rapuh. 
  • Mengenai kemenyan. Keinginan yang sebelumnya saya butuhkan  dalam hal (bukan diri saya sendiri diman pohon itu tumbuh) membuat saya percaya dengan meyakinkan bahwa minyak dan kristal kering tidaklah diperoleh dari pohon yang sama; tetapi ini untuk pertamakalinya saya dibohongi oleh Mr. R. Maidman yang pada bulan Juni tahun 1788 menyurati saya dari Tapanuli sewaktu dia menjadi residen. 
  • Biang kamfer biasanya dibeli dengan harga enam dolar Spanyol per pound (lb = ±½ Kg, red.) atau delapan dolar per kati, dan menjualnya di China di Canton seharga 9-12 dollar per pound, atau 12-15 dollar per pikul (/100 kati atau 133⅓ pound). Bila kualitas tertinggi dijual seharga dua ribu dollar, dan saya telah diyakinkan bahwa pilihan lainnya adalah sample yang dihasilkan diatas tigapluh dolar per kati. Diperkirakan bahwa semua jumlahnya setiap tahun yang dijual di bagian barat pulau ini tidak melebihi dari limapuluh pikul. Perdagangan ini dikuasai oleh orang Aceh yang bertempat tinggal di Singkil yang membelinya dari orang Batak dan mengirimkannya kepada orang Eropah dan Cina yang tinggal disitu. 
  • Benzoin atau Benjamin (Styrax benzoin) dalam bahasa Melayu disebut kami-nian (kemenyan, red), sama seperti kamfer, hanya ditemukan di Tanah Batak, kearah utara khatulistiwa, tetapi bukan di wilayah kekuasaan Aceh.  Juga dijumpai, walaupun jarang, disebelah selatan khatulistiwa, tetapi disana, baik yang ditemukan alami di hutan atau yang diambil dengan keahlian menyadap, hasilnya sedikit, yang berwarna hitam dan harganya murah. Pohonnya tidak tumbuh besar dan tak berharga sebagai bahan kayu. Bibit atau biji yang berbentuk bulat berwarna coklat dan besarnya sebesar pil, disemai di sawah, kemudian tak diperlukan pengolahan lahan, hanya membersihkan semak-semak untuk penanaman tanaman muda. Di tempat lainnya, terutama di pinggiran pantai telah dilakukan perkebunannya, dan disebutkan bahwa penduduk asli menjadi mendapat keuntungan besar bagi mereka dari perdagangan itu. Dari sudut pandang nasional, mengharuskan kepemilikannya diatur dengan undang-undang agar dapat berhasil.

 

Bab-9:

  • Rabuk atau mesiu senjata (gunpowder) diproduksi di beberapa tempat di pulau itu, tetapi lebih sedikit diproduksi di provinsi sebelah selatan dibanding diantara orang-orang Minangkabau, Batak, dan Aceh, yang sering berperang memerlukan banyak kebutuhannya. Ada sebuah persetujuan yang dibuat tahun 1728 bahwa penduduk Anak-sungai dilarang memproduksinya, dicantumkan bahwa perjanjian ini dapat diperpanjang bila dibutuhkan. Mesiu senjata tersebut terbuat dari campuran batubara, belerang, dan nitrat, tetapi komposisinya sangat jauh dari sempurnah sehingga untuk penggunaan sedikit tak dapat dipersiapkan secara cepat. Bahan lainnya adalah sendawa (saltpeter-cave) dijumpai dalam jumlah besar yang umumnya dihasilkan dari kotoran kambing.

 

Bab-10:

  • Saya tidak menemukan bahwa orang Melayu memiliki tulisan asli milik mereka sendiri, mungkin saja dulunya ada dan tidak digunakan lagi, kebetulan yang ditemukan adalah tulisan Batak, Rejang, dan tulisan Sumatra lainnya. 
  • Bahasa-bahasa utama oleh orang Sumatra adalah Batak, Rejang, dan Lampung, yang perbedaannya tidak begitu banyak yang digunakan dalam surat-menyurat menggunakan huruf-huruf yang  berbeda dan rumit. 
  • Sungguh suatu yang luar biasa dan mungkin hanya satu-satunya dalam sejarah perkembangan manusia bahwa kelompok manusia di pulau yang sama yang dianggap sebagai penduduk asli, dimana dalam hal peradabannya hampir mirip, dan menggunakan bahasa dari turunan yang sama, ternyata menggunakan jenis tulisan yang berbeda satu sama lain. Huruf yang dijumpai di pulau tetangga seperti Jawa (disebutkan oleh Corneille Le Brun), yang digunakan oleh orang Tagala (Tagalog, red.) di Pilippina (seperti dijelaskan oleh Thevenot), dan oleh orang Bugis di Sulewesi (seperti dijelaskan oleh Captain Forrest), sekurangnya sangat bervariasi satu sama lainnya, dan tulisan Rejang berbeda dari tulisan Batak. >>> Di negri Aceh dimana bahasanya berbeda dari Melayu, mengadopsi tulisan Arab dan bukan sebagai tulisan asli mereka.

 

Bab-18:

  • Mengenai agama yang dianut oleh para raja Melayu (semenanjung, red.) sewaktu mereka migrasi dari Sumatra, dan sekitar 116 tahun kemudian (setelah tahun 1511 semenanjung dikuasai Portugis, red.) hanya sedikit yang diketahui karena para penulis tinggal disana adalah semasa adanya perubahan anutan agama, seperti halnya Mahometan (penganut Islam, red.) menganggap najis bila masuk ke hal-hal yang tahayul dan memandang mereka dengan kebencian; tetapi dari bukti-bukti yang ada kami sedikit ragu mengatakan bahwa mereka menganut agama Brahmana, namun demikian yang lebih buruk lagi dan perpaduan pemujaan yang primitif terdahulu di negri ini adalah seperti yang kami temukan diantara orang Batak. 
  • Sewaktu Sumatra pertama kali dikunjungi oleh pelaut Eropah kekuasaan kerajaan sudah banyak berubah berdasarkan kepentingan politis semasa periode raja-raja Aceh, Pedir, dan Pase, dimana mereka mengakui kekuasaannya berasal (dari Melayu, red.) sebagai penguasa tertinggi, dan beberapa diantara mereka memberikan upeti untuk mendapatkan kekuasaan yang independent. Contohnya kerajaan Aceh dibawah kesepakatan atas suatu jaminan yang sesungguhnya atau hanya kepura-puraan sehingga menjadi sultan karena mengawini putri melalui upacara perkawinan sehingga sang putri membujuk ayahnya untuk memperluas kekuasaannya sampai ke pantai barat dan menempatkan panglimanya di banyak tempat di kawasan Minangkabau khususnya di Pariaman di dekat gunung berapi besar. Disebutkan bahwa jaminan ini dalam bentuk pemerasan bukan dengan kekuatan senjata tetapi melalui lobby tingkat tinggi, sampai ke semua daerah dataran rendah pesisir barat sejauh selatan Bengkulu atau Silebar. Sekitar tahun 1613 sebenarnya kekuasaannya tidak lebih jauh dari pada Padang, dan kekuasaan sebenarnya hanya sampai Barus. 
  • Pada periode waktu yang tidak begitu lama sebelumnya, batas terjauh (kerajaan Melayu, red.) antara sungai Palembang dan Siak disebelah timurnya, dimana di sebelah baratnya diantara Manjuta (dekat Indrapura) dan Singkil yang berbatasan dengan negri independent Batak. 
  • Telah disebutkan bahwa sultan pertamam Minangkabau adalah Syarif dari Mekkah, keturunan dari khalifah bernama Paduka Sri Sultan Ibrahim bermukim di Sumatra yang meminta kekuasaannya atas pemberian kehormatan oleh raja di negri itu yaitu Perapati Sibatang bersaudara. Ditambahkan pula bahwa sultan yang berada di Pagaruyung dan yang di Suruwasa adalah keturunan dari Syarif yang bertempat di Sungai Trap, bergelar Datu Bandara Putih keturunan asli Perapati, tetapi ada keberatan yang kuat atas pendapat ini. Pendapat umum yang dikemukakan oleh penduduk asli dan diperkuat oleh penulis terdahulu yang meyakinkan kami, mengenai masa lalu kerajaannya muncul semasa berkembangnya agama Islam di pulau itu. Raden Tumanggung, anak dari Raja Madura, adalah seorang yang cerdik yang menetapkan dirinya sebagai pangeran dan meyakinkan saya bahwa inilah penguasa Sumatra yang pertama yang terdahulu memperkenalkan kepercayaan Arab yang diwajibkan tetapi bukan secara pemaksaan, demikian juga yang dianggap oleh orang-orang dari semenanjung. Sudah cukup lama cerita ini difahami turun temurun secara tradisiolal dan dari mulut ke mulut, dan sultan dari garis keturunannya di gembar-gemborkan sebagai garis keturunan keramat dari nabi, tetapi sama sekali tak ada indikasi mengarah kesitu; akan hal ini kami boleh menambahkan bahwa tahayul yang mengkeramatkan mereka melekat pada keluarga bukan saja kepada penganut Islam yang terus berkembang, tetapi sampai juga diantara sebagian orang Batak dan sebagian lagi tidak merubah agamanya yang menganggap baginya bukan menjadi kehormatan menerima agama baru sehingga mereka menolak untuk menerimanya.

 

Bab-19:

  • Anak sultan Gulemat (dari kerajaan Anak-Sungai Indragiri) bernama sultan Alaeddin ditempatkan di Tapanuli di tahun 1780 saat berusia 90 tahun, sebagai tahanan pemerintah di Madras semasa pemerintahan Mr. Morse, juga sebagai paman raja Aceh yang berkuasa tahun 1784. (dijelaskan oleh Captain Forrest dalam Voyage to the Mergui Archipelago, page 57). 
  • Pasaman adalah daerah paling utara dari provinsi itu segera bergantung pada Minangkabau dan kemudian bersama Pariaman dan banyak kawasan dipesisir jatuh ketangan kekuasaan raja Aceh. Kemudian dibagi menjadi dua kerajaan kecil dan masing-masing diperintah oleh raja dan empat belas pangulu. Sebelumnya kawasan itu adalah tempat perdagangan, disambing sebagai peng-export lada, juga menerima emas murni dari pegunungan di negri Rao yang berjarak tiga hari perjalanan darat. Penduduknya disebut Batak yang sudah merubah agamanya menjadi Islam dan berbaur dengan orang Melayu. Mereka diperintah oleh Datu. >>> Suku Agam bergabung dengan Rao dan berhubungan ke selatan dengan Minangkabau, sedikit berbeda dengan Melayu, dan juga diperintah oleh Datu.

 

Bab-21:

  • Kerajaan Aceh menguasai barat-daya bagian dalam Sumatra, secara umum berbatasan dengan Tanah Batak; tegasnya di dataran tidak lebih jauh kira-kira 50 mil kearah tenggara. Sepanjang pantai timur di tahun 1778 sampai ke daerah yang disebut Karti, tidak begitu jauh dari sungai Batubara, termasuk Pidir, Samerlonga, dan Pase. Di pantai barat yang dulunya di gemborkan penguasaannya sampai ke Indrapura dan memiliki kekuatan hukum di Tiku, sebenarnya tidak lebih jauh hanya sampai Barus; dan bahkan di Barus di pelabuhannya, walaupun pengaruh Aceh cukup dominant dan para pedagangnya banyak disana, kekuasaannya kelihatannya hanya sedikit. Penduduk pedalaman dari Aceh ke Singkil dibedakan antara Alas, Riah, Karrau. Pengaruh Aceh cukup kuat pada Alas dan Riah tetapi Karrau mirip Batak dari mana mereka berasal melalui pegunungan Bukit Barisan. 
  • Orang Aceh jauh berbeda dengan orang Sumatra lainnya, secara umum perawakan lebih tinggi, berkulit lebih gelap. Mereka sepertinya berasal dari percampuran Batak, Melayu, Chola (India selatan, red.) dimana sejak dahulu pelabuhannya saling berhubungan. Wataknya kelihatan lebih rajin daripada beberapa tetangganya dan terlihat lebih cerdas, memiliki pengetahuan lebih dibanding negri lainnya, dan dalam perdagangan mereka lebih maju dan liberal. Tetapi pengamatan terakhir menunjukkan bahwa penampilan itu hanya terdapat pada pedagang berdasarkan modal dan transaksi dagangnya daripada penilaian sifat yang ada diamati di Aceh, yang berdasarkan temperamen dan sikap kekuasaan kerajaan, lebih sering bersifat agak bodoh (narrow), bersifat memaksa (extortionary), bersifat menindas (oppressive). Bahasa mereka adalah salah satu dialek umum di pulau itu, ada persamaan dengan Batak, tetapi mereka menggunakan huruf Melayu. Dalam hal agama mereka menganut Islam, memiliki banyak ulama, dan banyak berhubungan dengan orang asing yang sama agamanya. 
  • Walaupun tidak lagi menjadi perdagangan besar untuk komoditi dari belahan timur, Aceh masih berperan dalam perdagangan dengan pedagang perorangan Eropah juga dengan penduduk asli bagian pantai India yang disebut Telinga negri yang terletak di Kistna dan sungai Godavery, tetapi namanya berasal dari bahasa Melayu untuk sebutan Kling (Keling, red.) yang secara umum dikenal untuk pantai Coromandel. Barang dagangan yang terdiri dari garam, kain katun, kain cita, dan barang yang mereka kirim adalah biji-emas, sutra mentah kualitas rendah, buah pinang, lada, belerang, kamfer, kemenyan. Dua barang dagangan terakhir bulak-balik dibawa melalui sungai Singkil diman mereka membelinya dari negri Batak, dan lada dari Pidir.

 

Bab-20: Khusus mengenai Batak, sudah diterbitkan berseri.

Bab-22:

Tahun 1529:

Semasa rejim Ibrahim yang bergelar sultan Salehuddin Shah berahhir ditahun 1528 karena dibunuh dengan racun oleh salah satu istrinya yang balas dendam karena adiknya Daya terluka ditangan. Kekuasaannya berlangsung selama 18 tahun semula di tahun 1511-1529 yang kemudian digantikan oleh adiknya yang memangku galar sultan Salehuddin Shah dan menambah gelarnya Kahar yang berarti berkuasa (powerful). Menurut orang Portugis, dia menyatakan dirinya raja Aceh, Barus, Pidir, Pase, Daya, dan Batak, sebagai pangeran di tanah yang diapit dua lautan dan pertambangan Minangkabau.

Tahun 1547:

  • Sampai tahun 1537 tidak banyak catatan tentang sultan Aceh ini, tetapi di tahun 1537 mereka mencoba untuk menyerang Malaka dengan pasukan sebanyak 3000, tetapi mereka mundur dengan sejumlah 500 orang tentara tewas. Beberapa bulan kemudian mereka menyerang lagi namun juga tak berhasil. Di tahun 1547, mereka mencoba lagi menyerang Malaka tetapi mereka dikalahkan oleh skuadron Portugis. Sekitar antara tahun 1539 – 1541 disebutkan oleh Ferdinan Mendez Pinto, banyak kejadian semasa rejim sultan ini terutama dengan negri Batak, tetapi tulisan ini sangat diragukan kebenarannya karena kewenangannya.

 

Tahun 1606-1677:

  • Iskandar Muda yang dikenal oleh petualang kami dengan gelar sultan Paduka Sri penguasa Aceh dan negri seperti Aru, Dilli (Deli, red.), Johor, Pahang, Kedah, dan Perak di satu belahan, dan Barus, Pasaman, Tiku, Sileda, dan Priaman di belahan lainnya. Setelah kematian Iskandar Muda pada bulan Desember 1636. Dia digantikan oleh Alauddin Mahayat Shah yang kekuasaannya hanya berlangsung selama empat tahun dan mangkat di bulan Pebruari 1641. Kemudian Kerajaan Aceh diperintah oleh wanita. >>> Valentyn menyebutkan bahwa dia adalah istri dari raja sebelumnya, tetapi dari cerita sejarahnya disebutkan sebagai putrinya yang bernama Taju Al Alum, suaminya adalah Maghayat-Shah. Taju Al Alum meninggal tahun 1675 setelah berkuasa selama tiga puluh empat tahun. Kemudian dia digantikan perempuan bernama Nur Al Alum yang hanya berkuasa selama dua tahun yang meninggal tahun 1677. Penggantinya lagi juga perempuan bernama Anayet Shah

 

Tahun 1684:

  • Untuk menerapkan pembagian perdagangan lada, Inggris berpaling pada kerajaan Aceh dan mengirim dua perwakilannya bernama Ord dan Cawley di tahun 1684. Pada masa itu raja Pariaman dan negri lain di pantai barat Sumatra berada dipihak Aceh menentang Belanda yang mengadu domba dan melakukan gangguan dan penganiayaan. Karena itu Aceh berkeinginan kuat agar Inggris membangun wilayahnya dengan menawarkan lahan untuk membuat benteng pertahanan dan diberikan keistimewaan dalam perdagangan lada. Beberapa tahun sebelum kesepakatan ini, ratu Anayet Shah mengundang raja Siam untuk membicarakan pembaharuan atas hubungan pemerintahan yang sudah berlangsung sejak jaman dahulu, dan untuk bersatu melawan Belanda yang melakukan pelanggaran batas wilayah perdagangan dan perluasan dominasi ratu yang sudah banyak dibatasi. Tidak ada penjelasan apakah tawaran ini terjadi pertemuan dan juga tidak ada lagi batasan kekuasaan Aceh sejak periode itu yang berbatas diluar Pidir di utara dan Barus di pantai barat.

 

Tahun 1752:

  • Pendudukan yang dianggap penting adalah di Natal yang didirikan 1752, kemudian di Tapanuli tidak lama kemudian, yang melibatkan perselisihan antara Inggris dan Belanda yang meng-claim negri dimana mereka berada. Tahun 1760 Perancis dibawah Comte d’Eataing menghancurkan seluruh pendudukan Inggris di pesisir Sumatra; tetapi kemudian kembali diduduki dan aman dimiliki sampai dengan adanya Traktat Paris tahun 1763.

 

Tahun 1752:

  • Di tahun 1772, dikatakan oleh Captain Forrest, “Mr. Giles Holloway, residen di Tapanuli, dikirim ke Aceh oleh gubernur Bengkulu, dengan surat yang diserahkan langsung, untuk memberikan persetujuan mendirikan pemukiman disana. Saya membawanya dari rumahnya. Saya kurang begitu sehat setibanya disitu, saya tidak mendampingi Mr. Holloway (seorang yang perasa dan penuh kehati-hatian, dan seorang yang mampu berbahasa Melayu secara fasih) di pantai pada pemunculan pertamanya; dan mendapat kesan sepertinya ingin memberitahukan akan ada kegagalan bila saya sama sekali tidak pergi ke tempat itu. Ada kerusuhan besar dan kesimpang siuran pada saat itu, dan saya dilaporkan selalu muncul ketidak puasan disekitar istana raja malam itu.

 

Catatan kaki:

Sebagaimana sebelumnya sudah ditulis resmi (maksudnya pada bab-20, red.) berikut ini mengenai sifat orang Batak yang diperoleh Mr. Charles Holloway dari Mr. W.H. Hayes, telah sampai ditangan saya. “Di Bulan Juli tahun 1805 sebuah ekspedisi yang terdiri dari orang Sepoy, orang Melayu, orang Batak, dikirim ke Tapanuli untuk melawan seorang raja bernama Punei Manungum, yang tinggal di Nega-timbul (Naga Timbul, red.) sekitar tiga puluh mil ke pedalaman dari Tapanuli-lama, sebagai konsekuensi dia menyerang kampung yang berada dalam kekuasaan perusahaan, membunuh beberapa penduduk, dan sebagiannya ditawan. Setelah penyerangan selama tiga hari, dibuat persiapan terencana, dilakukan gencatan senjata, sewaktu masing-masing kubu meletakkan senjatanya yang berdasarkan keyakinan dijunjung oleh kedua pihak, dan saling bertukar seolah-olah dalam persahabatan yang sangat akrab. Kesepakatan itu terbukti tidak memuaskan, sebelumnya masing-masing menurunkan senjatanya dan memperbaharui permusuhan yang selama ini berlangsung saling berseteru itu.

Pada hari kedua kawasan itu di-evakuasi, dan sewaktu orang-orang kami masuk Mr. Hayes menemukan seorang laki-laki dan dua perempuan, dimana musuh itu membunuh mereka sebelum mereka pergi (menjadi orang terakhir yang tinggal dari enam belas tawanan yang mereka bawa), dan dari kakinya telah dipotong bagian besarnya, sebagai bukti adalah untuk dimakan. Selama ekspedisi ini satu grup kecil dikirim untuk memeriksa raja-raja di Labusukum (Lobu Sikkam, red.) dan Singapolum (daratan Sibogah), dimana mereka adalah sekutu dari Punei Manungum. Disini ditemukan bukti yang lebih kuat dari yang dianggap, membuat serangan tiba-tiba dari kampung mereka, menyerang kelompok pasukan dan membunuh seorang Sepoy dimana dianya adalah dipercayakan untuk mengawal Mr. Hayes keluar dari Naga Timbul, diperintahkan untuk membantu kelompok yang mundur; tetapi ternyata mengambil rute berbeda dan dia mengabaikan kehilangan pasukannya.

Kampung Singapollam segera diserbu dan musuh itu mundur satu gerbang, sewaktu pasukan kami masuk melalui jalur berlawanan, pasukan pelengkap orang Sepoy yang terbunuh sehari sebelumnya terlihat tergantung sebagai trophy di depan rumah mereka, dan di sopo-godang (town-hall). Mr. Hayes melihat kepalanya sama sekali sudah dikuliti dan salah satu jarinya ditusuk pada garpu, masih terasa hangat yang baru diangkat dari api. Sewaktu memasuki kampung Labusucom (Lobu Sikkam, red.) situasinya tidak lebih dari dua ratus yard dari sebelumnya, dia menemukan tumpukan daun pisang yang penuh dengan daging manusia, dicampur dengan air-asam dan cabe-lada, melihat itu, dia merasa ngeri bahwa mereka dikejutkan atas tindakan memakan orang Sepoy, bahwa tubuh mereka dibagi-bagi diantara dua kampung itu. Setelah beberapa kampung berdamai dengan para rajanya mereka mengakui secara sungguh-sungguh bahwa memang demikianlah kejadiannya, pada saat yang bersamaan berkata, “anda tau itulah kebiasaan kami, mengapa kita harus merahasiakannya?” 

Agama dari bangsa ini, jika harus disebutkan namanya, sangat mirip dengan apa yang sudah dijelaskan tentang Batak; tetapi bentuk penguburan orang meninggal mereka sangat berbeda, analoginya agak mirip dengan yang dilakukan oleh penduduk daratan Laut-Selatan, mayat ditempatkan pada tempat bertingkat yang dipersiapkan untuk mayat itu, dan dengan sejumlah daun ditebarkan diatasnya, lalu dibiarkan membusuk. Harta diwariskan kepada keturunan laki-laki, rumah dan sawah, senjata dan barang-barang ayahnya, menjadi milik anak-anak laki-lakinya.

Ketua-ketua memiliki tingkatan yang sedikit berbeda diantara komunitas mengenai wewenang dan kepemilikannya, kekuasaan mereka menjadi ketua diumumkan dalam pesta rakyat, sebagai ungkapan penghormatan. Mereka tidak memiliki kekuasaan hukum, semua persoalan, kriminal diselesaikan, dihakimi dengan bentuk keputusan bersama oleh seluruh penduduk desa. Pembunuhan dihukum dengan membalas, untuk hukuman itu sitertuduh diserahkan kepada keluarga korban yang akan menghukumnya mati; tetapi peristiwa kriminal sangat jarang terjadi. Pencurian, untuk beberapa peristiwa, dianggap sebagai pelanggaran besar. Dalam hal pelecehan sexual suami sikorban berhak untuk mengambil ganti diluar ikatan perkawinan, dan terkadang menghukum istrinya dengan memotong rambutnya. Bila si suami sebagai tertuduh istrinya berhak menceraikannya dan dia (istri) harus dikembalikan kepada orangtuanya. Perbuatan zinah ringan oleh orang yang belum menikah bukanlah dianggap kriminal berat dan tidak dianggap perbuatan tak terhormat. Tingkat perbudakan tidak pernah ada diketahui diantara orang-orang ini, dan mereka tidak memberlakukannya dalam kehidupan mereka.

Bahasa sangat jauh berbeda antara Batak dan Lampung daripada di tempat lainnya, dan semua bukti-bukti mereka memilikinya dari sumber yang sama. Pengucapannya sangat sangau, baik berdasarkan kebiasaan atau bentuk organ bicara yang ganjil yang sulit mengucapkan huruf  ‘p’, tetapi dalam kata-kata Melayu, dimana ada bunyinya muncul seperti ‘f ‘ (misalnya disebutkan Fulo Finang untuk Pulo Pinang), sebaliknya Melayu tidak terbiasa dengan ‘f ‘ dan mengucapkan kata fikir dengan sebutan pikir. Sesungguhnya orang Arab sendiri memiliki kesamaan pengucapan dengan penduduk Nias, mungkin sebaliknya perlu diamati dalam hal bahasa-bahasa penduduk di pulau Laut-Selatan.

Sebelumnya <<<>>> SELESAI <<<

4 Responses to “Bab-bab Lain Berkaitan Dengan Batak”

  1. Roy manihuluk Says:

    Penjelasan pribadi yg mengabaikan penelitian ilmuwan asing brpengalaman,.akibatny mjd ribet tuk ngebacanya.

    • Apakah maksudnya ‘Penjelasan pribadi’ William Marsden – penulis ini? ‘penelitian ilmuwan asing berpengalaman’; apa maksudnya ilmuwan setelah buku ini terbit 1811? Kira2 penelitian yang mana dan oleh siapa itu?

      Ini adalah paparan buku yang pernah diterbitkan oleh William Marsden tentang ‘Batak’ di Sumatera berdasarkan suatu ekspedisi di Sumatera sejak tahun 1776 sampai diterbitkan tahun 1811. Kalau ada penelitian lain setelah tahun ini, tentulah tidak masuk dalam bukunya ini.

  2. makasih ilmunya…sangat membantu,,salam hangat,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: