Pustaha Batak (Poda-poda)

Oleh Maridup Hutauruk

Apakah bangsa Batak purba memang bangsa yang primitif? Orang-orang Batak tidak perlu merasa berkecil hati apabila ada yang menciptakan stereotype negatif tentang keberadaan mereka dimasa lalu, karena kenyataannya mereka sendiri yang sudah terbelenggu kepada pencitraan itu dan kebanyakan diantaranya tak mampu lagi untuk mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’.

Jangankan pada generasi muda Batak, bahkan lebih banyak dari kalangan orang-orang yang lebih tua tidak mengingat lagi bahwa mereka pernah menggunakan aksaranya sendiri, tetapi saat sekarang ini bila pertanyaan itu dialamatkan kepada mereka, maka mereka akan menjawab seolah mereka sama sekali tidak pernah mengenalnya.

Ada nuansa fenomenal yang terjadi pada generasi Batak yang hidup saat ini bahwa segala sesuatunya tentang Batak dimasa lalunya merupakan kehidupan yang kelam, kegelapan, jahiliyah, bahkan primitif. Bahkan beberapa kelompok lebih ekstim lagi, bahwa untuk sebutan ‘Batak’ sudah dianggapnya sebagai sesuatu yang haram. Jangan heran apabila ada diantara sub-bangsa Batak yang sudah tidak mengakui diri sebagai Batak.

Apakah memang ada nuansa fenomenal yang disebutkan diatas terjadi pada komunitas bangsa yang disebut Batak? Jawaban yang pasti memang terletak pada pribadi-pribadi yang merasa masuk dalam komunitas bangsa Batak. Tetapi kita boleh saja mereka-reka kebenarannya apabila mau mencoba membuka perjalanan sejarah bangsa Batak ini.

Ada beberapa periode sejarah yang menjadi catatan kebenaran sebagai awal terjadinya stereotype negatif tentang sebutan Batak sebagai sebuah bangsa, sebut saja  terkonsentrasinya sejumlah 1500 tentara Chola di Barus di tahun 1024, yang mengakibatkan terjadinya pengaruh budaya asing ini ada melekat sampai sekarang di masyarakat Batak seperti asimilasi perkawinan dengan pendatang asing ini bahasa (nama, penamaan, istilah), marga (silsilah, tarombo, tambo). Kelompok keturunan ini untuk kurun waktu selanjutnya telah membentuk komunitas yang mulai mendapatkan pengaruh baru lainnya seperti semasa ketidak berhasilan Chola menguasai Sriwijaya, kemudian mulai berkembangnya yang disebut Melayu sejalan mulai pudarnya Sriwijaya, dan kemudian berlanjut masuknya ekspedisi Pamalayu semasa Singosari dan berlanjut dengan Majapahit.

Apa yang tidak berubah dari Batak semasa pengaruh-pengaruh besar yang melingkupi komunitas bangsa ini? Jawabannya adalah aksara. Aksara Batak telah menjadi alat tulis yang memang asli dimiliki oleh Bangsa Batak yang tidak dipengaruhi oleh bangsa-bangsa yang pernah mempengaruhi mereka.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa Aksara Batak sudah mulai berkembang sekitar tujuh abad sebelum masehi, dan kalau dikaitkan kemiripannya dengan pengkajian semasa perdagangan Jaman Besi (Bronze Age Trade) dari hasil kajian arkeologis kapal karam di Haifa (Utara Israil), menyebutkan bahwa tulisan yang tercantum pada produk dagangan seperti Batangan Timah Murni (Tin ingot) yang disebut sebagai Sarasvaty Hieroglyph, dan semuanya masih dalam proses pengungkapan bukti sejarah oleh Sarasvaty Research Center di India.

Membandingkan kemiripan Aksara Batak dengan aksara-aksara lain yang digunakan oleh komunitas di Nusantara yang terdapat pada manuskrip-manuskrip kuno di Indonesia, maka Aksara Batak sangat jauh kemiripannya. Kesamaan yang boleh diperbandingkan hanyalah dengan Aksara Rejang Lebong, dan Aksara Aramaik yang banyak digunakan terbatas pada komunitas keagamaan di negri Jahudi jaman dahulu kala.

Untuk sementara waktu, bolehlah dikatakan bahwa Aksara Batak merupakan aksara asli yang tercipta dan digunakan hanya oleh Bangsa Batak sebagai salah satu perangkat budaya untuk berkomunikasi. Namun sangat disayangkan bahwa penggunaan aksara ini sudah tidak pamor lagi dikalangan komunitas Bangsa Batak sendiri, yang juga tereliminer akibat pengaruh kuat dari masuknya intervensi asing kepada Bangsa Batak, yang kemudian terjadinya Perang Saudara semasa Paderi, dan berlanjut masuknya agama-agama dari luar.

Penerapan Aksara Batak didalam komunitasnya diwujudkan dalam bentuk buku yang disebut Pustaha Batak. Sedemikian kreatifnya para cerdik-pandai pendahulu Batak untuk menggunakan Aksara Batak dalam memproduksi Pustaha Batak yang berisi berbagai ilmu-ilmu pengetahuan yang sudah dikuasai oleh nenek moyang Bangsa Batak. Disayangkan bahwa ribuan Pustaha Batak saat ini berada di berbagai Museum di luar Indonesia, sementara skripsi Batak yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia terbatas hanya sebanyak sekitar dua ratusan saja. Mungkin ada puluhan ribu naskah-naskah dalam Aksara Batak yang termusnahkan semasa Perang Saudara Paderi, semasa Perang Penjajahan, Semasa Evangelisasi Keagamaan, dan yang sengaja dimusnahkan oleh kalangan Batak sendiri karena anggapan paganisme.

Berikut ini adalah salah satu Pustaha Batak yang terselamatkan dari kemusnahannya, dan berisi tujuh bentuk Ilmu Pengetahuan yang pernah berkembang pada komunitas Batak pada masa itu, seperti:

  1. Poda Ni Si Aji Mamis,
  2. Poda Ni Pormamis Na Lima,
  3. Poda Ni Pehu Na Pitu,
  4. Pangarumai,
  5. Poda Ni Porsili,
  6. Pinangan Ni Ari,
  7. dan Parsimboraon.

Silahkan anda melihat, mengamati, membaca, menterjemahkan, memahami, kemudian anda akan bangga dengan keaslian anda sebagai bagian dari Bangsa Batak. Pustaha ini tersedia dalam format PDF berikut: Pustaha Batak _Poda-poda_ (harap bersabar menunggu downloading karena datanya sebesar 5.693 kb, atau sebanyak 37 halaman).

HORAS TONDI MADINGIN PIR TONDI MATOGU NI BANGSO BATAK

2 Responses to “Pustaha Batak (Poda-poda)”

  1. Windra Pratama Naibaho Says:

    Mantap lae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s