Mampukah Batak Bertutursapa?

Oleh: Maridup Hutauruk 

Budaya Bertutur 

Bahasa bertutursapa merupakan perangkat komunikasi untuk menyampaikan suatu maksud berdasarkan kaidah-kaidah sopan santun yang berlaku dalam sebuah komunitas. Adakalanya maksud yang akan disampaikan oleh seseorang kepada seseorang lainnya tidak menjadi komunikasi yang saling bersambut, hanya karena kesalahan penempatan bahasa bertutur sapa. Oleh karena itu, bahasa bertutur menjadi cerminan budaya sebuah komunitas untuk mengetahui tingkat pemahaman hubungan seseorang dengan orang lainnya. 

Dalam hal bertutursapa, maka di dunia ini, Batak adalah bangsa yang paling kaya akan sebutan untuk bertutursapa melalui predikat-predikat (senutan) yang melekat pada diri seseorang. Tak ada bangsa lain yang memiliki predikat untuk tutursapa seperti bangsa Batak. Bagi Bangsa Batak (Batak adalah bangsa, bukan suku) sebutan untuk bertutursapa adalah identitas diri dari seorang pribadi yang akan menentukan bagaimana pribadi itu harus bersikap terhadap pribadi lainnya, baik sebagai sikap dalam bertutur bahasa, maupun sikap dalam gerak tubuh dan mimik. 

Ada lebih dari seratusan predikat yang melekat pada seorang pribadi Batak, dimana predikat ini menentikan sikap berkomunikasi dengan pribadi Batak lainnya, baik antara laki-laki dengan laki-laki, antara perempuan dengan perempuan, atau antara laki-laki dengan perempuan. Maka untuk seorang pribadi Batak akan menyandang hampir seratus sebutan bertutursapa sebagai identitas seorang pribadi Batak. Oleh karena itu pula apabila seorang mengaku sebagai seorang Batak, maka seorang pribadi Batak memiliki hampir seratus identitas diri, yaitu marga dan predikat bertutursapa, dan identitasnya ini harus dipertanggungjawabkannya di dalam dirinya sendiri. 

Oleh karena itu pula, Bangsa Batak harus bangga sebagai bangsa yang memiliki norma-norma sopan santun yang paling tinggi di antara semua bangsa di dunia ini bila harus dibandingkan dengan standar sopan santun yang diakui secara universal. Maka tidak perlu ada sebutan sinisme kepada seorang insan Batak seperti sebutan: kasar, bengis, bebal, bodoh, keras kepala, masa-bodoh, dan lain-lain, kalau dianya memang menganut dan memahami kearifan leluhur mereka. Maka jadilah seorang Batak yang mewarisi nilai-nilai kesopanan diatas standar kesopanan bangsa lain.

Predikat Bertutursapa Pada Bangsa Batak 

Sebutan bertutursapa yang disampaikan dalam bentuk ucapan antara seorang pribadi Batak dengan pribadi Batak lainnya, secara lamiah dilakukan bersamaan dengan gerak tubuh dan mimik, sesuai dengan hirarki pribadi-pribadi yang berkomunikasi secara oral. Sementara Sikap bertutursapa secara tulisan juga disampaikan berdasarkan hirarki melalui bahasa tulis, dimana antara sipenyampai tutursapa dan sipenerima tutursapa juga seolah ada tergambar gerak tubuh dan mimik sesuai hirarkinya. 

Berikut ini sejumlah predikat untuk bertutursapa yang berlaku pada Bangsa Batak:

Tutursapa Dalam Kultur Bangsa Batak (Toba)

No

Sebutan

Pengartian dan Penjelasan

1 Ahu Aku, saya (Lk)
2 Aleale Teman akrab, biasanya berbeda marga (Pr terhadap Pr atau Lk terhadap Lk)
3 Amang Ayah, bapak (Lk/Pr terhadap Lk)
4 Amang Bapak, sapaan umum menghormati kaum laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk)
5 Amang Naposo Anak laki-laki dari abang/adik hula-hula (Pr terhadap Lk)
6 Amang siadopan Suami (Pr terhadap Lk)
7 Amangbao (Bao) Suami dari adik/kakak (ito) suami (Pr terhadap Lk)
8 Amangboru Suami kakak/adik perempuan ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
9 Amangtua Uwak, abang dari ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
10 Amangtua Uwak, suami dari kakak ibu (Lk/Pr terhadap Lk)
11 Amangtua mangulaki Ompung (Kakek) ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
12 Amanguda Pak Cik (Bapak Kecil, Kecik), Pak De (Bapak Adekan), adik laki-laki dari ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
13 Amanguda Pak Cik (Bapak Kecil, Kecik), Pak De (Bapak Adekan), suami dari adik ibu (Lk/Pr terhadap Lk)
14 Amanta Bapak kita, orang tua Lk kita (Lk/Pr terhadap Lk)
15 Amanta jabu Suami (Pr terhadap Lk)
16 Amanta raja Bapak-bapak, Kaum Bapak, dalam sebuah acara formal (Lk/Pr terhadap Lk)
17 Ampara Saudara, penyapa awal semarga/seketurunan masih sebaya (Lk terhadap Lk)
18 Anak Anak laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk)
19 Anggi Adik laki-laki (Lk terhadap Lk)
20 Anggi Adik suami (Pr terhadap Lk)
21 Anggi Adik kita (Pr terhadap Pr)
22 Anggi Adik, boru tulang sudah nikah (Lk terhadap Pr)
23 Anggi doli Adik, suami dari boru ulang suami (Pr terhadap Lk)
24 Anggi doli Adik suami sudah nikah (Pr terhadap Lk)
25 Anggiboru Isteri adik laki-laki (Lk terhadap Pr)
26 Anggiboru Istri adik laki-laki suami (Pr terhadap Pe)
27 Anggiboru Adik, boru tulang sudah nikah (Lk terhadap Pr)
28 Angkang Abang, abang kandung sendiri (Lk terhadap Lk)
29 Angkang Abang, anak namboru istri (Lk/Pr terhadap Lk)
30 Angkang Kakak kandung (Pr terhadap Pr)
31 Angkang Kakak, boru tulang sudah nikah (Lk terhadap Pr)
32 Angkang boru Isteri abang (Lk terhadap Pr / Pr terhadap Pr)
33 Angkang boru Kakak, boru tulang sudah nikah (Lk terhadap Pr)
34 Angkangboru mangulaki Namboru ayah dari seorang perempuan (Pr terhadap Pr)
35 Angkangdoli Abang yang sudah kawin (Lk terhadap Lk)
36 Angkangdoli Abang, abang dari suami (Pr terhadap Lk)
37 Bere Anak (lk+prp) dari kakak/adik (pr) (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
38 Bere Kakak/adik dari menantu laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
39 Bona niari Tulang dari kakek (Lk/Pr terhadap Lk)
40 Bona niari binsar Tulang dari ayah kakek (Lk/Pr terhadap Lk)
41 Bonatulang Tulang dari ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
42 Boru Anak perempuan sendiri (Lk/Pr terhadap Pr)
43 Boru Anak perempuan + Suaminya (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
44 Boru Semua marga keluarga menantu laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
45 Boru Semua marga keluarga dari kakak/adik perempuan ayah (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
46 Boru diampuan Keturunan dari namboru ayah (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
47 Boru Nagojong Keturunan namboru kakek (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
48 Boru namatua Keturunan namboru kakek (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
49 Borutubu Semua menantu laki-laki & isteri dari satu ompung (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
50 Dahahang (baoa) Abang, sebutan sayang (Lk/Pr terhadap Lk)
51 Dahahang (boru) Istri Abang, sesbutan sayang  (Lk/Pr terhadap Pr)
52 Dainang Sebutan kasih sayang anak kepada ibu  (Lk/Pr terhadap Pr)
53 Dainang Digunakan juga oleh ayah kepada anak perempuannya (Lk terhadap Pr)
54 Damang Sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
55 Damang Panggilan digunakan juga oleh ibu kepada anaknya (lk) sendiri (Pr terhadap Lk)
56 Damang parsinuan Ayah/Bapak kandung (Lk/Pr terhadap Pr)
57 Daompung Orangtua dari bapak/ibu kandung kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
58 Daompung (baoa) Kakek, sebutan sayang (Lk/Pr terhadap Lk)
59 Daompung (boru) Nenek, sebutan sayang (Lk/Pr terhadap Pr)
60 Datulang Paman, sebutan hormat kepada Abang/adik (lk) dari ibu (Lk/Pr terhadap Pr)
61 Dongan saboltok Abang-adik, serupa marga (Lk terhadap Lk)
62 Dongan sabutuha Abang-adik, serupa marga (Lk terhadap Lk)
63 Dongan sahuta Sahabat yang tinggal sekampung (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
64 Dongansapadan Saudara, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
65 Dongantubu Saudara semarga (Lk terhadap Lk)
66 Eda Sapaan umum (Pr terhadap Pr)
67 Eda Kakak atau adik ipar (Pr terhadap Pr)
68 Haha Saudara tua/abang (Lk terhadap Lk)
69 Haha Ni Hela Abang dari mantu (Lk/Pr terhadap Lk)
70 Haha Ni Uhum Paling tua dalam silsilah sekelompok (Lk/Pr terhadap Lk)
71 Haha boru Sebutan hormat utk Isteri abang (Lk/Pr terhadap Pr)
72 Haha doli Abang kandung suaminya (Pr terhadap Lk)
73 Haha doli Abang dari urutan struktur marga; dapat juga tidak semarga lagi (Lk/Pr terhadap Lk)
74 Halak Orang lain
75 Hami Kami (Lk/Pr), jamak
76 Hamu Kamu (Lk/Pr), jamak
77 Hela Menantu laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk)
78 Hela Menantu, suami dari anak abang/adik (Lk/Pr terhadap Lk)
79 Hita Kita (Lk/Pr) jamak
80 Ho Kau, sebutan utk satu orang (tutur dibawah)
81 Hula-hula keluarga abang/adik dari isteri (Lk/Pr terhadap Lk)
82 Iba (ahu) Saya/aku, lebih sopan (Lk/Pr)
83 Ibana Dia, sebutan sebaya (Lk/Pr)
84 Ibebere Keluarga (marga) suami bere perempuan (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
85 Inang Ibu (Lk/Pr terhadap Pr)
86 Inang Sebutan untuk putri sendiri (Lk/Pr terhadap Pr)
87 Inang baju Semua adik perempuan ibu (Lk/Pr terhadap Pr)
88 Inang bao (Bao) Isteri hula-hula atau tunggane (abang/adik isteri) (Lk terhadap Pr)
89 Inang Naposo Isteri dari paraman/amangnaposo (Pr terhadap Pr)
90 Inang Siadopan Istri Lk terhadap Pr)
91 Inang Simatua Ibu mertua (Lk/Pr terhadap Pr)
92 inang tua mangulaki Ompung ayah kita (Lk/Pr terhadap Pr)
93 Inang uda Isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban (Lk/Pr terhadap Pr)
94 Inang tua Isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban (Lk/Pr terhadap Pr)
95 Inanta Ibu, sebutan hormat untuk perempuan menikah (Lk/Pr terhadap Pr)
96 Inanta Soripada Kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara (Lk/Pr terhadap Pr)
97 Indik-indik Cucu dari cucu perempuan (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
98 Iboto Kakak/Adik perempuan sendiri atau serupa marga (Lk terhadap Pr atau Pr terhadap Lk)
99 Ito Sapaan pertama untuk Lk/Pr (sebaya) (Lk terhadap Pr atau Pr terhadap Lk)
100 Ito Kakak/Adik perempuan sendiri atau serupa marga (Lk terhadap Pr atau Pr terhadap Lk)
101 Ito Anak gadis Amang boru/namboru (Lk terhadap Pr)
102 Ito Anak Lk tulang (Pr terhadap Lk)
103 Iba Aku, saya (Lk/Pr)
104 Jolma Manusia, orang lain (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
105 Jolmana Istrinya (Lk/Pr terhadap Pr)
106 Jolmaku Istriku (Lk terhadap Pr)
107 Lae Tutur sapa awal perkenalan (Lk terhadap Lk)
108 Lae Tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk) (Lk terhadap Lk)
109 Lae Suami dari kakak/adik kita sendiri (lk) (Lk terhadap Lk)
110 Lae Anak laki-laki dari namboru kita (lk) (Lk terhadap Lk)
111 Maen Anak perempuan dari hula-hula (Lk/Pr terhadap Pr)
112 Marsada inangboru Abang/Kakak adik karena ibu kita kakak-adik (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
113 Namboru Kakak/adik dari ayah (Lk/Pr terhadap Pr)
114 Nantulang Isteri Tulang (Lk/Pr terhadap Pr)
115 Nantulang Mertua dari adik kita laki-laki.
116 Nantulang Mangulahi Cucu terhadap mertua Pr (Lk/Pr terhadap Lk)
117 Nasida Dia/mereka, orang yang dihormati (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
118 Nasida, halak-nasida Disebutkan oleh (lk) atau (pr) amat dihormati karena berpantangan (Lk terhadap Pr atau Pr terhadap Lk)
119 Natoras Orangtua kandung (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
120 Natua-tua Orangtua/ orang dituakan, sebutan hormat (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
121 Nini Anak dari cucu laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
122 Nono Anak dari cucu perempuan kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
123 Ompung Ayah dari bapak kita (Lk/Pr terhadap Lk)
124 Ompung suhut Ayah/ibu dari bapak kita (Lk/Pr terhadap Lk)
125 Ompung bao Orangtua dari ibu kandung kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
126 Ompung boru Ibu dari ayah (Lk/Pr terhadap Pr)
127 Ompung doli Ayah dari bapak kita (Lk/Pr terhadap Lk)
128 Ondok-ondok Cucu dari cucu laki-laki kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
129 Pahompu Cucu, anak-anak dari semua anak kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
130 Paidua ni suhut Orang kedua pemilik hajatan (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
131 Pamarai Abang/adik dari suhut utama, orang kedua (Lk/Pr terhadap Lk)
132 Paramaan Anak (lk) dari hula-hula kita (Lk/Pr terhadap Lk)
133 Parboruon Semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
134 Pardijabu. Isteri (Lk terhadap Pr)
135 Pargellengon Tingkatan anak secara umum (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
136 Pariban Abang-adik karena isteri juga kakak-beradik (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
137 Pariban Semua anak prp dari tulang (Lk terhadap Laki)
138 Pariban Anak prp dari pariban mertua prp (Lk terhadap Pr)
139 Parrajaon Semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
140 Parsonduk bolon Isteri (Lk terhadap Pr)
141 Parumaen Mantu prp/ istri dari anak (Lk/Pr terhadap Pr)
142 Pinaribot Sebutan hormat kepada wanita dalam acara (Lk/Pr terhadap Pr)
143 Rorobot Tulang isteri (bukan narobot) (Lk terhadap Lk)
144 Simandokhon Iboto, kakak atau adik lk.
145 Simatua boru Mertua (Pr) (Lk/Pr terhadap Pr)
146 Simatua doli Mertua (Lk) (Lk/Pr terhadap Lk)
147 Simolohon Iboto, kakak atau adik lk.
148 Sinonduk Suami (Pr terhadap Lk)
149 Suhut Pemilik hajatan (Lk/Pr terhadap Lk/Pr)
150 Tulang Abang atau adik lk dari ibu kita (Lk/Pr terhadap Lk)
151 Tulang Mertua Lk dari abang/adik kita (Lk/Pr terhadap Lk)
152 Tulang  mangulaki Mertua Lk ayah (Lk/Pr terhadap Lk)
153 Tulang  mangulaki Cucu terhadap mertua Lk (Lk/Pr terhadap Lk)
154 Tulang naposo Paraman yang sudah kawin (Lk terhadap Lk)
155 Tulang Ni Hela Tulang dari menantu laki-laki (Lk/Pr terhadap Lk)
156 Tulang rorobot Tulang isteri (bukan narobot) (Lk terhadap Lk)
157 Tunggane Abang/adik (lk) dari isteri (Lk terhadap Lk)
158 Tunggane Anak laki-laki dari tulang  (Lk terhadap Lk)
159 Tunggane boru Istri (Lk terhadap Pr)
160 Tunggane doli Suami (Pr terhadap Lk)
161 Tunggane huta Raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta (Lk terhadap Lk)

 

Patokan Sikap Bertutursapa 

Sedemikian banyaknya predikat yang memungkinkan melekat pada seorang Batak, baik sebagai laki-laki atau perempuan, sehingga seorang Batak tidak boleh melepaskan diri dari sikap bersopansantun dalam bertutursapa dengan orang lain diluar dirinya.

Setiap predikat yang dipaparkan di atas merupakan patokan spesifik untuk bersikap dalam berkomunikasi dengan orang lain. Namun secara umum sikap tersebut dikelompokkan dalam tiga hirarki yang difahamkan oleh Bangsa Batak sebagai falsafah kehidupannya di dalam sistim kekerabatan yang disebut Dalihan Natolu, atau yang didefinisikan sebagai tiga kelompok kekerabatan Dongan Tubu – Hulahula – Boru. 

Dalam kelompok kekerabatan Dongan Tubu, secara filosofis disebutkan ‘manat mardongan tubu’ yang diartikan ‘harus ada keperdulian terhadap saudara semarga’. Nilai filosofis manat mardongan tubu sering diterjemahkan dengan pengartian ‘berhati-hati’ yang diambil dari kata ‘manat = hati-hati’, sehingga dalam praktek kehidupan sehari-hari diantara yang mardongan tubu (saudara semarga) menjadi terpaku dalam kehatihatian untuk berkomunikasi terhadap teman semarga, padahal makna yang terkandung secara filosofis adalah ‘care = perduli; bukan ‘becareful = awas, hati-hati’. Mungkin cekokan pengartian yang salah ini mengakibatkan komunikasi diantara saudara semarga menjadi seolah menjaga jarak, yang seharusnya interaktif. Olehkarena itu predikat bertutursapa diantara saudara semarga terlihat kurang ‘friendly used’. 

Dalam kelompok kekerabatan Hula-hula, secara filosofis disebutkan ‘somba marhula-hula’ yang diartikan ‘bersikap sembah raja terhadap hula-hula’. Nilai folosofis somba marhula-hula sering pula diterjemahkan secara salah, dan secara sigap ditangkap oleh orang-orang dari kalangan agamais sebagai tuduhan menduakan, Tuhan dimana Hula-hula dianggap sebagai saingan Tuhan. Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh kalangan agamais itu untuk memojokkan kultur Bangsa Batak kearah pandangan paganisme sebagai pemujaan leluhur. Dengan sendirinya mempengaruhi banyak kalangan di komunitas Batak menghilangkan sikap bertutursapa kepada kelompok Hula-hula yang seharusnya bersikap sembah raja. Lalu predikat untuk kelompok Hula-hula menjadi cenderung disamaratakan atas pandangan ‘manusia itu sama dihadapan Tuhan’. 

Dalam kelompok kekerabatan Boru, secara filosofis disebutkan ‘eleh marboru’ yang diartikan ‘bersikap pengayoman. Nilai filosofis elek marboru sering pula disikapi sebagai tuntutan untuk bersikap sembah raja oleh kelompok kekerabatan boru kepada Dongan Tubu. Padahal sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh Dongan Tubu adalah pengayoman, bukan tuntutan, karena dengan sendirinya tanpa ada tuntutanpun bahwa kelompok kekerabatan boru sudah dengan sendirinya membawakan sikap sembah raja, dan bukan karena tuntutan untuk bersikap demikian. Oleh karena itu, kelompok kekerabatan boru akan cenderung bersikap menghindar menjaga jarak, karena dalam lingkaran yang simultan merekapun punya posisi yang sama sebagai hula-hula. Kerenggangan jarak komunikatif antara Hula-hula dan boru dengan sendirinya merubah sikap bertutursapa, lalu predikat dongan tubu sebagai hula-hula terhadap boru kurang kental dalam gerak-tubuh dan mimik dalam bertutursapa. 

Demikianlah pengelompokan predikat dalam bertutursapa dalam sistim kekerabatan Dalihan Natolu. Konsep kekerabatan Dalihan Natolu memang tidak dipaparkan secara detai dalam bahasan ini, yang dikhususkan untuk menyampaikan nilai-nilai bertutursapa pada komunitas Batak. 

Sikap Generasi Muda Dalam Bertutursapa 

Generasi muda tentu dipentingkan sebagai penyambung segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut secara alami oleh sebuah komunitas. Kita tidak mempermasalahkan tentang definisi generasi muda dalam bentuk kelompok-kelompok umur, akan tetapi dalam konteks kultur Batak, generasi muda sering digambarkan sebagai generasi yang baru memasuki jenjang perkawinan secara adat. 

Generasi muda dalam konteks kultur batak akan selalu berada pada posisi ‘bagai telur diujung tanduk’. Generasi muda Batak pada jaman moderen sekarang, terutama yang berada diluar bonapasogit, berada pada posisi pola pikir alternatif dengan mindset-nya merasa punya hak untuk memilih, sementara dalam kultur Batak, hal hak untuk memilih tidak berlaku, melainkan suatu keharusan yang alami untuk ikut terlibat dalam komunitas yang menerapkan kultur-kultur tradisionalnya. Mengapa demikian? 

Ada kelemahan yang mendasar dalam pelaksanaan tatanan adat istiadat Batak, terutama setelah masuknya agama-agama impor dan dianut secara kerubutan oleh komunitas Batak. Banyak prosesi adat istiadat yang terpotong di awal-awal tahap-tahap kehidupan seseorang insan Batak, sehingga pada saat seseorang sudah harus terlibat dalam prosesi adat-istiadat utama, seorang generasi muda Batak seolah berada ditengah lautan yang tidak terlihat olehnya dimana daratan, sehingga pula seseorang tersebut tidak tau harus memulai dari mana mulai bergerak untuk menjejakkan kakinya di daratan kultur Batak. 

Seorang generasi muda pada masa memasuki jenjang perkawinan secara adat, banyak yang merasa shock bila harus mengalami prosesi adat yang sedemikian panjangnya, sementara dianya dari sejak masa kecil belum pernah merasakan atau mengalami pelaksanaan prosesi adat hingga tiba masa jenjang perkawinan. Ada pandangan pada generasi muda yang berasumsi bahwa prosesi adat adalah sesuatu hal yang samasekali tidak berguna menurut mereka, tak dapat disalahkan karena mereka sejak awal memang tak tersentuh dengan kultur adat Batak, yang seharusnya sudah dialaminya sejak dianya berada dalam kandungan, sejak lahir, masa kanak-kanak, dan seterusnya. 

Ketidakpernahan mengalami dan menjalani kultur adat semasa muda, mengakibatkan minimnya interaksi hubungan kekerabatan dalam dirinya. Pengenalan persaudaraan yang beragam tidak pernah dialaminya, sehingga dia tidak akan pernah mengenal bahwa dirinya sebagai seorang Batak yang memiliki sekitar seratusan predikat yang melekat sebagai modal untuk bertutursapa dengan orang lain di komunitas Batak. Yang muncul adalah kata-kata menyederhanakan semuanya, menerapkan jalan-jalan pintas, membawakan standar dari luar kultur kedalam kultur Batak, yang dikenalnya hanya sebatas kulit membalut tulang. Tergambarlah komunitas Batak sebagai image kasar, keras kepala, bebal, cavemen, jeruk makan jeruk, sesama supir angkot saling mendahului, dan lain-lain. Bahkan tak jarang komunikasipun berwujud kompensasi sosial, mengalir deras dengan kata-kata sakti: arroa, adong karupuk, asa huropuk; dan yang muncul, otak-encer berganti menjadi otot dan urat leher. (Maridup Hutauruk, Oktober 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: