PERBUDAKAN ISTRI BATAK

Oleh: Maridup Hutauruk 

Kutipan: 

Perilaku Berumahtangga & Kedudukan Wanita Pada Komunitas Batak Jaman Dulu. 

Laki-laki diijinkan mengawini banyak istri sebanyak yang mereka suka atau mampu, dan memiliki setengah lusin istri bukanlah hal aneh. Masing-masing istri bertempat di bagian yang berbeda di ruangan besar, dan tidur tak berbatas dengan yang lainnya, tidak dipisahkan oleh partisi atau berbeda bagian.  Suami menjatah masing-masing kepada istri-istri beberapa perapian dan peralatan memasak, dimana mereka membenahi masing-masing persediaan makanan secara terpisah, dan meladeni suami bergiliran. 

Bagaimana mungkin keadaan berumahtangga dan batasan imajinasi yang sangat tipis untuk bisa diterima akal tentang nafsu cinta yang membara dan tak terkendali, dan kecemburuan dipastikan terjadi pada bentuk selir-selir ketimuran ini? Atau haruskah adat diijinkan untuk mengatasi semua pengaruh lainnya, baik secara moral maupun fisik? Dengan kata lain mereka sedikit berbeda adatnya dalam hal perkawinan dibanding dengan daerah-daerah lain di pulau itu (Pulau Sumatera). 

Orangtua wanita biasanya menerima mahar yang mahal (dalam bentuk sejumlah kerbau atau sejumlah kuda) dari orang yang meminangnya; yang harus dikembalikan apabila terjadi perceraian karena disebabkan oleh pihak laki-laki. Perempuan sebagaimana lazimnya selalu melihat yang orangtuanya kaya. 

Kedudukan wanita kelihatannya tidak lebih daripada sebagai budak. Suami memiliki kekuasaan memanfaatkan istri-istri dan anak-anaknya. Mereka juga, selain bekerja untuk rumahtangga, juga bekerja di sawah. Hal ini sama terjadi juga di daerah lain di pulau itu; kecuali di kawasan tengah, negerinya lebih tertata, lebih banyak menggunakan bajak, menggaru, yang ditarik oleh kerbau. 

Laki-laki, apabila tidak sedang dalam perang sebagai kegiatan yang disenangi, lebih banyak berdiam diri, tidak memiliki kegiatan, menghabiskan hari-hari hanya bermain seruling, yang dihiasi dengan sejenis karangan bunga; diantaranya adalah jenis bunga amaranthus, yang memang banyak tumbuh sebagai tumbuhan asli.  

 

Wanita dan Anak Batak Jaman Dahulu 

Sepertinya masyarakat Batak moderen tidak setuju atau bahkan marah bila mengetahui bahwa posisi wanita digambarkan seperti pada kalimat dalam tanda kutip diatas. Tetapi boleh percaya boleh juga tidak bahwa gambaran tersebut diatas adalah sebuah kesaksian yang dapat digambarkan tentang kedudukan wanita-wanita Batak dalam sebuah perkawinan, oleh orang-orang yang melihatnya pada masa itu. 

Maranak Jea, So Maranak Punu, sebuah kalimat (statement) yang bermakna mendalam bagi sebuah keluarga Batak. Beberapa puluh tahun lalu, kalimat tersebut pernah keluar dari ucapan seorang bapak kepada temannya yang ditujukan kepada anaknya yang tak mau menerima ajar dari orangtuanya. 

Kalimat tersebut -menurut penulis- tetap saja berlaku untuk jaman dahulu dan sampai sekarang. Kalau kita cermati kehidupan keluarga Batak pada jaman dahulu, sebelum atau pada saat Bangsa Batak mulai bersentuhan dengan peradaban asing, bahwa wanita-wanita (istri-istri) dan anak-anak adalah sebagai objek yang mutlak dimanfaatkan oleh seorang suami di keluarga Batak jaman dahulu, untuk kepentingan pribadinya, atau kepentingan komunitas kelompoknya. 

Memiliki setengah lusin istri, tentu menurunkan banyak anak bukanlah hal aneh sepanjang seorang suami mampu melakukannya sesuai adatnya yang harus membayar mahar (kerbau, kuda, dll) yang mahal untuk mendapatkan istri-istrinya. Konsekwensi pembayaran mahar (sinamot) yang mahal ini mewajarkan seorang suami memanfaatkan istrinya untuk bekerja di sawah dan ladang untuk memenuhi kebutuhan suami dan dirinya, termasuk memanfaatkan anak-anaknya untuk tugas yang sama. 

Fungsi suami adalah menjaga dan membela keluarganya (istri-istri dan anak-anaknya) dari rongrongan pihak luar, berupa bentuk perang dan gangguan lainnya. Prilaku seperti ini merupakan suatu nilai kehidupan yang selayaknya berlaku pada masa itu, semasa komunitas bangsa Batak beralih dari kehidupan berpindah-pindah (nomad) yang berkembang membentuk pemukiman (settlement). Alamnya memang mendukung nilai-nilai kehidupan ini harus dijalani demikian. Suami menjadi di-raja-kan dalam sebuah keluarga oleh istri-istri dan anak-anaknya. 

Sama seperti bangsa Jepang di jaman Meiji, yang dipaksa oleh bangsa Barat untuk membuka diri terhadap dunia luar, maka bangsa Batak kira-kira memiliki sejarah yang hampir sama pula, dimana sebelumnya mengurung diri dalam suatu ketertutupan dari dunia luar (splendid isolation), sementara perilaku demikian di jaman sekarang ini disebutlah sebagai bentuk-bentuk perbudakan, atau tidak menerapkan faham emansipasi wanita, termasuk eksploitasi anak-anak. 

 

Revolusi Sosial Batak 

Pada masa sekarang, sebut saja bahwa komunitas Batak disebut moderen, sudah bersentuhan dengan peradaban lain yang dengan sendirinya akan saling mempengaruhi membentuk keseimbangan kultur sosial dalam masyarakat majemuk yang dimerekkan sebangsa dalam naungan sebuah negara merdeka disebut Indonesia. 

Ada beberapa tahapan besar yang boleh diklasifikasikan sebagai bentuk Revolusi Sosial bagi bangsa Batak, antara lain: 

1. Revolusi Sosial-I: Perang Saudara Paderi. Penulis menyebutkannya sebagai Perang Saudara, karena tidak setuju dengan pandangan versi pemerintah yang memfokuskan Perang Paderi sebagai perang melawan penjajah Belanda saja. Padahal pada saat Paderi melakukan peperangan yang berselimutkan agama, awal peperangan itu adalah terhadap bangsa Batak (1816-1820), dimana Belanda belum memijakkan kakinya sebagai penjajah di Tanah Batak pada saat itu. 

Perang Saudara Paderi ini telah merubah tatanan kemasyarakatan bangsa Batak secara radikal, Kultur budaya yang menyatu dengan agama leluhur meruntuhkan faham tentang raja sebagai titisan Maha Pencipta Alam Semesta –Mulajadi Nabolon. Kultur budaya yang bersatu dalam tatanan sistim kekerabatan marga-marga rontok menjadi menjadi kubu-kubu kelompok. 

2. Revolusi Sosial-II: Evangelisasi Kristen di Tanah Batak Utara semakin memperjelas pengelompokan sub-bangsa Batak. Mengawali Evangelisasi Kekristenan di Tanah Batak Selatan beralih dan terkonsentrasi di Tanah Batak Utara, khususnya di Silindung. Keyakinan terhadap agama leluhur kehilangan legitimasi setelah Perang Saudara Paderi, dan menjadi berkah tersembunyi (blessing in disguise) bagi Evangelisasi Kristen, yang secara perlahan dan pasti telah merubah pemahaman keagamaan sebagian masyarakat bangsa Batak yang berkelompok. 

Dalam masa yang bersamaan, Belanda memijakkan kakinya sebagai penjajah di Tanah Batak, yang kemudian memunculkan Perang Batak yang berkepanjangan terhadap penjajah Belanda. Fungsi-fungsi otoritas raja-raja bius yang sebelumnya telah berhasil menjaga keutuhan tatanan kemasyarakatan, dengan licik ditandingi oleh penjajah dengan membentuk raja-raja tandingan (Raja Ihutan) sehingga terjadi konflik kepentingan ditengah-tengah masyarakat yang sedang bingung. 

Sentuhan Revolusi Sosial-II ini, secara perlahan menjalar dan menyebar ke kawasan Tanah Batak lainnya seperti, Simalungun, Humbang, Dairi/Pakpak, Karo, yang sebelumnya tidak mengalami Revolusi-I. Termasuk juga Tanah Batak Selatan di era Penjajahan Belanda yang mengeliminer kekuasaan raja-raja Kuria. 

3. Revolusi Sosial-III: Jaman kemerdekaan sampai sekarang, komunitas bangsa Batak mengalami eforia kebebasan dimana Negara Indonesia yang menjadi satu kesatuan, seutuhnya diterjemahkan oleh masyarakat bangsa Batak yang sebelumnya berkarakter splendid isolation, menjadi bermigrasi ke berbagai kawasan sampai di segala penjuru Tanah Air. Konsekwensi logis ada saling interaksi dengan berbagai suku sehingga mempengaruhi kultur purba leluhurnya.

 

Wanita dan Anak Batak Jaman Sekarang 

Tiga tahapan Revolusi Sosial yang dialami bangsa Batak ini juga mempengaruhi pandangannya terhadap berbagai aspek kehidupan yang terikat oleh kultur budaya leluhur, dan dalam pembahasan ini termasuk pandangan terhadap Perilaku Berumahtangga & Kedudukan Wanita Pada Komunitas Batak. 

Setelah kurun waktu sekitar 200 tahun ini, pandangan terhadap wanita sebagai istri, termasuk terhadap anak, telah mengalami kemajuan yang sangat pesat ditinjau dari sudut pandang norma-norma sosial yang universal. Adaptasi terhadap norma-norma sosial yang universal ini secara total diserap oleh komunitas bangsa Batak, dan teradopsi seutuhnya menjadi bagian dari kultur budayanya dan melupakan kultur budaya leluhurnya pernah terjadi perilaku perbudakan terhadap istri dan anak, menurut pandangan moderen sekarang. 

Inang Parsinuan, Inang Pangitubu, Inang Soripada, Ina Paniaran, Parsonduk bolon, adalah sebutan-sebutan mulia bagi wanita-wanita Batak pada jaman moderen sekarang, bahkan konotasi tersebut telah melampaui definisi wanita bagi suku-suku lain yang ada di Indonesia, bahkan di dunia, yang mengagungkan posisi wanita Batak pada tempat yang tertinggi. 

Posisi wanita yang demikian tinggi dalam kemasyarakatan bangsa Batak sekarang ini, termasuk dalam tatanan adat, bukan berarti wanita menjadi mendominasi status laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga Batak, tetapi posisi mereka memang sudah sangat setara dalam kehidupan bermasyarakat, maupun adat istiadat. 

Demikian pula tentang anak-anak yang mendapat tempat tertinggi dalam keluarga sebagai generasi tenggang untuk mendapatkan cucu laki-laki yang sah sebagai penyambung generasi. Sebutan anak buha-baju, anak sibulang-bulangan, menunjukkan posisi seorang anak yang sangat dipentingkan dalam keluarga, baik sebagai penyambung generasi maupun sebagai calon raja. 

Apakah komunitas Batak sekarang ini menyadari bahwa dari sudut pandang kultur budaya Batak sekarang ini, bahwa mereka pernah menempatkan wanita (istri-istri) sebagai posisi budak? Tak bisa dipungkiri bahwa pencirian itu masih dapat dilihat sekarang ini, terutama di kawasan Tanah Batak yang masih jauh dari interaksi sosial dunia moderen. 

Masih banyak ditemukan wanita-wanita (istri-istri), termasuk anak-anak yang bekerja di sawah dan ladang sementara para suami bersantai ria di kedai kopi atau lapo membahas masalah dunia yang sebanarnya adalah bahasan tak bermakna untuk dirinya dan keluarganya. Ini adalah sisa-sisa kultur budaya kuno yang masih tertinggal di jaman moderen sekarang ini. Tetapi para istri-istri ini dan anak-anak dalam komunitas sosial masyarakat Batak sekarang ini sudah diakui mendapat tempat yang mulia. 

Memposisikan istri dan anak-anak dalam sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang ayah di jaman moderen sekarang ini selalu pula memiliki konsekwensi logis yang ambisius dari seorang ayah. Seorang ayah tidak lagi mengharapkan tenaga anaknya (masih kecil = anak-anak) untuk menghidupinya, melainkan berusaha memposisikan anaknya tersebut ke tempat yang tertinggi. Bukan hanya di keluarga, tetapi di komunitasnya, semisal dengan menyekolahkannya setinggi yang mampu dilakukannya, termasuk berusaha membentuk anaknya berkarakter yang diinginkannya (misalnya yang masih melekat dengan kultur Batak), sehingga muncul istilah ‘Anakhonhi do hamoraon di au’, demikian kata sang ayah. 

Tetapi tidak jarang bahwa dalam perjalanan pembentukan karakter yang diinginkannya itu banyak benturan antara sang ayah dan sang anak. Bukan lagi Anakhonhi do hamoraon di au, yang disebutkan oleh sang ayah, tetapi muncullah kekesalan dengan menyebutkan seperti yang sudah disinggung di atas; “Maranak jea, so maranak punu”. 

Ciri-ciri lain yang masih tersisa tentang adanya pandangan posisi perbudakan terhadap istri terlihat dari predikat yang sudah dari dulunya disebutkan kepada istri yaitu Inanta Soripada. Kata sori sebagai kata dasar dapat diartikan sebagai: penderitaan, kesengsaraan, nasib buruk, malapetaka. Sebutan itulah yang disematkan kepada istri-istri pada jaman dahulu, walaupun jaman sekarang konotasi itu sudah hilang sama sekali dari pandangan orang-orang Batak moderen sekarang ini.

Kalimat dalam tanda petik yang disebutkan pada awal artikel ini dipetik dari buku History of Sumatra oleh William Marsden pada Bab-20 tentang Batak dan paragrap tentang Perilaku Berumahtangga & Kedudukan Wanita pada komunitas Batak jaman dulu. Buku ini diterbitkan pertama sekali pada tahun 1784 dan edisi ke-3 diterbitkan pada tahun 1811. 

William Marsden dan tim ekspedisinya menyusuri seluruh Sumatra melakukan penelitian tentang penduduk-penduduk Sumatra dari Aceh sampai Lampung, termasuk Batak. Menurut penulis bahwa William Marsden tidak memiliki versted interest untuk menuliskan tentang mendiskreditkan Batak karena pada masa itu Inggris belum memiliki kepentingan khusus tentang Batak dan tidak didudukinya sebagai jajahan seperti Belanda. 

Penulisan tentang posisi wanita Batak dalam keluarga menjelaskan bahwa istri-istri Batak pada masa itu tidak lebih sebagai budak. Penulisan ini sebagai kesaksian yang terjadi pada abad-18 atau sekitar tahun 1776 tentang kedudukan istri-istri dalam keluarga Batak, lalu bagaimana pula bila masa itu mundur 1000 tahun kebelakang?

Banyak juga artikel-artikel yang mengungkap tentang perbudakan istri Batak pada jaman dulu direspon oleh penanggap  sebagai sebuah pelecehan, karena memposisikan istri-istri tersebut pada kedudukan istri dijaman sekarang. Apakah istilah selingkuh, anak haram, poligami, perbudakan, menjadi relevan untuk kita tempatkan sebagai kenistaan di jaman ribuan tahun yang lalu?  

8 Responses to “PERBUDAKAN ISTRI BATAK”

  1. berbicara masalah tinggi rendahnya istri dihadapan suami, saya rasa di kaum batak tidak ada apalagi zaman sekarang dikuatkan dengan persamaan jender yg mulai tersosialisasi di negara kita (persamaan hak antara laki2x n perempuan). saya meresa semua perempuan batak adalah boru ni raja….. namun terlepas dr manusianya/suku, mungkin masih ada yg merendahkan istri dihadapan suami. masalah rumah tangga/keluarga, hal ini tidak dapat dipungkiri karena yg kembar saja masih mau bersilang pendapat hingga pereseteruan keluarga, apalagi dalam suatu pernikahan yg menyatukan 2 orang yang memiliki banyak perbedaan namun perbedaan itu indahhhh,…. ibarat tali gitar, bila semua tali 1 dan tdk ada tali 2 s/d 6, tidak akan membentuk irama yg enak didengar.

  2. kami orang batak gak ada yang memandang rendah istrinya,makanya gak ada yang poligami.
    kalau ada kekerasan dalam rumah tangga,saya rasa itu biasa.
    siapa sihh yang gak punya masalah….????

  3. bah,sejak kapan orang batak itu pro poligami….????
    di zaman dulu kalau anak lelaki adalah emas yang sangat beharga di masyarakat batak.
    jadi kalau dia gak bisa mendapat anak lelaki,dia secara langsung di izinkan istrinya untuk menikah.
    sejak kapan ada raja raja batak yang dulu punya istri banyak…….
    semuanya menjunjung dalihan na tolu ( kalau penulis orang batak pasti tau dong)
    mohon ini menjadi bahan revisi di kita,agar jangan bicara tanpa bukti yang kongkrit,
    soal kekerasan dalam rumah tangga,itu kembali dalam kehidupan kita masing masing….
    siapa sih yang gak punya masalah,…????

    horas ma jala gabe.

    • Belum perlulah kita langsung mencocor hidung kepada penulis artikel ini. Sejarah itu kita akui kebenarannya bukan hanya sebatas sepanjang umur hidup sendiri. Ada sejarah semasa orangtua, ada sejarah semasa kehidupan kakek, ada sejarah semasa kehidupan nenek moyang, dan yang tidak kita alami sendiri bukan berarti menjadi sejarah yang tidak benar, makanya ada catatan sejarah atau sejarah yang tercatat, dan itulah yang dicatatkan dalam artikel ini. Kebetulan gaya tulis dalam WebBlog ini sengaja tidak mencantumkan referensinya supaya pembaca mau mencari sendiri. Silahkan cari sendiri kebenarannya.

  4. ayo sama-sama kita memulainya dari dirikita sendiri. Bravo..

  5. memang sebuah realita yang menyakitkan…karena sampai saat ini pun perbudakan istri batak itu masih ada.

    Masih banyak saudara-saudara kita yang memandang rendah istrinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: