Kosmologi Batak: Parlangitlangitan

PARLANGITLANGITAN

Oleh Maridup Hutauruk

Bangsa Batak memandang ruang dan waktu sebagai bagian yang tidak pernah terlepas dari kehidupannya. Awal terjadinya Alrase (Alam Raya Semesta), Penciptaan Belangit (Benda-benda Langit), Alam, Manusia, dan mahluk-mahluk merupakan suatu keterkaitan satu sama lainnya dalam suatu proses kehidupan. Pandangan kosmis ini disebut dengan Parlangitlangitan.

Kosmologi Batak menyangkut pengetahuan dan pemahaman Bangsa Batak dalam mempelajari hubungan Alrase dengan struktur kehidupan masyarakatnya yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Masyarakat Bangsa Batak mengeksplorasi alam pikirannya menelusuri sejarah peradabannya sampai kepada satu titik temu awal berdasarkan kemampuan penalaran terhadap perbintangan, filsafat dan kepercayaannya yang bermula pada sosok Mulajadi Nabolon (Pencipta Alam Raya Semesta) sebagai awal dari segalagalanya.

Lebih tepatlah dikatakan Parlangitlangitan dibanding istilah kosmologi untuk menjelaskan budaya dan kehidupan Bangsa Batak. Pengertian kosmologi seolah sedemikian sempit untuk menjelaskan keagungan budaya Bangsa Batak, sehingga istilah parlangitlangitan yang paling tepat. Parlangitlangitan yang berkata dasar langit diartikan sebagai alam surga dan dikatakan sebagai imaginasi sesuatu yang tertinggi menyangkut dimensi ruang dan waktu bagi kehidupan dan Budaya Bangsa Batak.

Banua

Banua secara harfiah diartikan sebagai benua sebagaimana benua nyata yang dikenal seperti Benua Asia, Benua Afrika, Benua Amerika, Benua Australia, Benua Eropah, atau Benua Antartika. 

Yang didefinisikan dalam konteks pandangan kosmologis bahwa banua diartikan sebagai suatu hamparan imajinatif yang sangat luas dan tak terdefinisi dimana para penguasa alam mistis menggerakkan kekuasaannya dari banua ini. 

Bangsa Batak menggambarkan dimensi banua ini dalam tiga alam kosmis yang disebut Banua Ginjang (Alam Atas), Banua Tonga Alam Tengah) dan Banua Toru (Alam Bawah), yang dijelaskan berikut ini: 

Banua Ginjang 

Langit dipercaya menjadi bagian dari Banua Ginjang tempat bersemayamnya arwah manusia setelah kematian. Langit bukan merupakan tempat ditakdirkan untuk ada dalam kehidupan nyata, tetapi menjadi tempat dari suatu sebab akibat perbuatan selama hidup di Banua Tonga

Banua Ginjang merupakan suatu tempat terestial yang tercipta oleh Mulajadi Nabolon dan dihibahkan olehnya kepada dewa penguasanya yaitu Debata Batara Guru dan para dewa-dewi pengikutnya. 

Kehidupan arwah atau roh setelah kematian bukan ditempatkan di Banua Toru, jadi pandangan ini kontras berbeda dari konsep pandangan beberapa ajaran agama yang men-dokma-kan bahwa setelah kematian, setiap arwah kematian akan masuk ke alam baka menunggu penghakiman dari Tuhannya, sebagai pertimbangan untuk masuk ke surga atau neraka. 

Pandangan Batak tentang arwah setelah kematian ditempatkan dibagian dari Banua Ginjang. Diyakini bahwa langit (surga) terbentuk dalam tujuh lapisan langit dimana arwah setelah kematian badan akan menempati langit-langit ini sesuai dengan porsi perbuatannya selama dalam kehidupan nyata.

Pandangan ini berdasar dari keyakinan bahwa manusia Batak memang berasal melalui kelahiran dari mahluk Dewa-dewi yang turun dari Banua Ginjang dan dilahirkan di Bumi Banua Tonga. Dewa-dewi yang melahirkan manusia pertama ini tetap hidup dan bersemayam di Banua Ginjang segera setelah tugasnya melahirkan manusia selesai di Banua Tonga. 

Oleh karenanya Bangsa Batak meyakini bahwa roh (tondi) tetap hidup selamanya, adalah hakikat dari Banua Ginjang, sedangkan tubuh adalah bagian dari unsur-unsur yang terdapat di alam seperti tanah di Banua Tonga yang menjaga kehidupan tubuh dari unsur-unsur tanah di tempat mana dia menjalani kehidupan badaniah. 

 

Banua Tonga 

Banua Tonga merupan suatu tempat di alam kosmis dalam bentuk nyata yang tercipta oleh Mulajadi Nabolon dan dihibahkan olehnya kepada dewa penguasanya yaitu Debata Soripada dan para pengikutnya. Bumi adalah salah satu alam nyata dimana manusia dan mahluk lainnya berdomisili. 

Bumi sebagai bagian nyata dari Banua Tonga hanyalah sebagai media penyedia unsur kehidupan untuk tubuh dimana tubuh sebagai tempat bersemayamnya arwah/roh (tondi) yang berasal dari Banua Ginjang. 

Disamping adanya bagian dari Banua Tonga dalam bentuk nyata yang mampu direkam oleh Panca Indra, maka di Banua Tonga terdapat juga alam kosmis yang maya yang hanya mampu terekam  oleh indra ke enam seperti insting, hati, nurani dan perasaan. 

Dalam praktek keseharian bahwa alam kosmis maya yang ada di Banua Tonga diterjemahkan dalam kesehariaannya berbentuk Kepercayaan (Agama), Falsafah Kehidupan, kultur budayanya yang berkaitan dengan hubungan kekerabatan seperti marga, kelompok marga, persaudaraan, wilayah, bahkan kebangsaan. 

Tidak heran kalau sering didengar pernyataan seperti mangkuling do mudar yang artinya aliran darah dalam tubuhnya dapat menterjemahkan bahwa seseorang itu adalah saudaranya, walaupun saling tidak mengenal, bahkan tak bertegur sapa sekalipun seolah ada kontak batin diantara mereka. 

Alam kosmis maya lainnya yang terdapat di Banua Tonga adalah keyakinan akan adanya roh yang berkategori jahat dan roh-roh yang berkategori baik. Bukan hanya dua (Baik-jahat) pengartian alam roh bagi Bangsa Batak, melainkan ada beberapa pengelompokan yang akan diuraikan pada bahasan berikutnya. 

Hanya ada satu roh yang berkategori jahat yang diyakini oleh Bangsa Batak yaitu yang disebut Begu, walaupun begu ini memiliki banyak jenis dan pendefinisiannya. Sementara roh yang berkategori baik dan umumnya tidak ditakuti karena arwah tersebut masih dianggap ada hubungan dengan dirinya. 

Eksistensi Roh Baik dan Roh Jahat berada di dua alam baik secara bersamaan maupun secara terpisah yaitu di Banua Ginjang dan di Banua Tonga, sementara Banua Toru hanya sebagai Alam mistis tempat bersemayamnya Dewa-dewi penguji kehidupan manusia di Banua Tonga. 

Banua Toru 

Banua Toru merupakan suatu tempat terestial yang tercipta oleh Mulajadi Nabolon dan dihibahkan olehnya kepada penguasa tertingginya yaitu Debata Mangala Bulan. 

Banua Toru memang sudah ditakdirkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewi yang ditugaskan oleh Mulajadi Nabolon untuk menguji kehidupan manusia dimasa hidupnya dalam bentuk penghakiman, seperti oleh Naga Padoha dan dewa-dewa lainnya. 

Dalam kehidupannya di Banua Tonga maka penguasa Banua Toru akan selalu mengawasi setiap perbuatan manusia. Apabila perbuatan manusia menyimpang dari ajaran leluhur yang diyakininya maka konsekwensi itu akan diterimanya dimasa hidupnya, bukan setelah kematiannya. 

Tidak ada tergambar dalam keyakinan Bangsa Batak bahwa arwah setelah kematiannya akan mendapat pertimbangan untuk berubah posisi semisal dari penempatan arwah yang terendah menjadi lebih tinggi, melainkan posisi penempatan rohnya hanya ditentukan semasa hidupnya dan kekal selamanya. 

Oleh karenanya manusia Batak akan berusaha dalam kehidupannya untuk mengambil posisi terbaik di kehidupan nyata dan setelah kematiannya akan mendapatkan tempat yang layak di langit mana dia pantas berada. (Mph)

Bersambung…..

Artikel dalam Format PDF: Kosmologi Batak Parlangitlangitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: