Dewi Deak Parujar Mau Berkunjung?

Dewi Deak Parujar Mau Berkunjung?

Oleh: Maridup Hutauruk

Memang unik Bangsa Batak yang mengakui bahwa mereka bukanlah manusia-manusia yang dibentuk dari sesuatu benda melainkan dilahirkan. Siapa yang melahirkan Manusia Asal Batak itu? Tersebutlah dalam Mitologi Bangsa Batak bahwa seorang dewi bernama Dewi Deak Parujar diutus oleh Mulajadi Nabolon Sang Pencipta Alam Raya Semesta untuk berkunjung ke Banua Tonga yang pada saat itu seluruhnya masih diselimuti oleh air.

Dewi Deak Parujar memulai tugasnya untuk membentuk hamparan tanah daratan di Banua Tonga yang dimulainya dari pemintalan benang dan kemudian menjadi lembaran Ulos. Kemudian Ulos ini digelarnya di permukaan bumi dan menjadilah hamparan tanah daratan agar dia lebih leluasa menjalankan tugas yang dititahkan oleh Mulajadi Nabolon. Saudara tua Dewi Deak Parujar bernama Dewi Sorbajati yang sebelumnya terkutuk oleh kekerasan hatinya untuk tidak mematuhi titah dari Mulajadi Nabolon sehingga dia terapung-apung dipermukaan air di Banua Tonga, mendapat kesempatan untuk merapat terdampar di pantai pinggiran tanah daratan yang telah dibentuk oleh saudara kecilnya Dewi Deak Parujar. Takdir menentukannya untuk bertumbuh di atas tanah menjadi sebuah pohon bernama Bagot. Kemudian berkembanglah jenis tumbuh-tumbuhan di atas permukaan tanah. 

Dewi Deak Parujar bukan tidak mengalami ujian berat selama berada di Banua Tonga. Salah satu penguasa Banua Toru bernama Dewa Naga Padoha selalu menggangu tugasnya untuk membentuk bumi ini. Dewa Naga Padoha selalu ingin merusak pekerjaan yang sudah bersusah payah dibentuk oleh Dewi Deak Parujar. Adakalanya Dewa Naga Padoha menyurukkan tubuhnya di dalam perut bumi, lalu mengguncang-guncangkan tubuhnya agar pekerjaan Dewi Deak Parujar rusak dan menjadi tidak indah di mata Mulajadi Nabolon. Terjadilah gempa tektonik, terjadilah tsunami yang meluluhlantakkan permukaan Tanah. Perbuatan Dewa Naga Padoha memanglah atas sepengatahuan Mulajadi Nabolon karena Dewa Naga Padoha memanglah ditakdirkan untuk menguji siapa saja penghuni Banua Tonga. Dewi Deak Parujar mendapat hikmat untuk menghentikan perbuatan Dewa Naga Padoha, dia berikhtiar untuk mengikat seluruh tubuh Dewa Naga Padoha agar tidak lagi menggerakkan tubuhnya. Upaya itupun berhasil dan bumi kembali menjadi tenang.

Ujian berat yang dialami oleh Dewi Deak Parujar di Banua Tonga, termasuk perbuatan Dewa Naga Padoha ternyata adalah takdir yang diberikan oleh Mulajadi Nabolon dalam pembentukan bumi menjadi lebih sempurnah. Terjadilah permukaan tanah yang bergunung, berlembah, dan tanah datar, dan menjadi permukaan yang indah dan lebih sempurnah untuk bumi mendukung kehidupan mahluk. Menjadilah aliran air dari gunung-gunung, dengan air terjunnya dan sungainya yang mengalirkan air menuju ke laut. Demikianlah kehidupan bumi bersiklus menuju kesempurnahannya.

Tugas Dewi Deak Parujar hampir rampung ketika bumi sudah penuh dengan keindahannya. Demikianlah rencana Mulajadi Nabolon untuk mengutus menurunkan seorang dewa yang akan menjadi pasangan bagi Dewi Deak Parujar di Banua Tonga. Tersebutlah dewa bernama Odapodap yang wujudnya berupa kadal (Ilik = Komodo) yang kemudian menjadi berpasangan dengan Dewi Deak Parujar. Tiba waktu yang tepat bagi pasangan ini untuk mendapatkan keturunan. Dewi Deak Parujar melahirkan sepasang manusia berjenis laki-laki bernama Raja Ihat Manusia dan jenis perempuan bernama Itam Manisia.

Demikianlah singkat kisah yang dikenal oleh Bangsa Batak sebagai asal-muasal manusia berkembang biak mengisi seantero bumi sebagai mahluk yang menguasai bumi untuk kemaslahatan kehidupan bumi. Manusia keturunan dewa-dewi ini mengalami kesempurnahan sesuai perjalanan waktu. Banyak anggota keluarga besar Banua Ginjang yang turut terlibat dalam mempersiapkan kesempurnahan bagi manusia keturunan dewa-dewi ini agar mampu menguasai bumi. Sebutlah yang terlibat itu adalah Debata Asiasi yang mengisi roh-roh kearifan bagi manusia. Demikian pula Leangleang Mandi sebagai malaikat pembawa pesan atas segala kebutuhan yang diperlukan oleh manusia di bumi.

Tiba saatnya bagi dewa dan dewi harus kembali keharibaannya di Banua Ginjang. Maka Dewi Deak Parujar dan Dewa Odapodap harus kembali pula ke Banua Ginjang dimana seharusnya mereka ditakdirkan oleh Mulajadi Nabolon. Tinggallah pasangan manusia itu menguasai bumi dengan bermodalkan Tondi yang sudah dipersiapkan bagi mereka. Tondi menjadi satu-satunya teman hidup manusia di bumi. Tondi merupakan raga-sukma (astral body) yang memampukan mereka berhubungan berkomunikasi dengan penciptanya dalam menjalankan kearifan kehidupannya di bumi yang diwariskan kepadanya.

Perjalanan waktu yang panjang telah membawakan manusia hidup berkelompok-kelompok mengisi seluruh pojok-pojok bumi ini. Demikian pula manusia keturunan dewa-dewi itu secara alami membentuk kelomponya dibumi ibu pertiwi yang disebut Bonapasogit (Mother Nature), itulah Bangsa Batak, yang dalam sejarahnya ribuan tahun telah berdiam di bagian dari peta Nusantara yaitu Sumatera Utara dan Aceh.

Masih cukup banyak Anak Bangsa Batak yang saat ini mampu mengenang keagungan leluhur mereka melalui catatan-catatan sejarah atau kisah-kisah yang pernah dicatatkan oleh orang-orang yang pernah bertemu dengan leluhur mereka terdahulu. Sebut saja kisah-kisah tentang kamfer dan kemenyan semasa jaman keemasan Mesir kuno. Kisah-kisah kayu kualitas dan emas semasa kekuasaan Raja Sulaiman. Kisah-kisah tentang Peradaban Atlantis yang diceritakan oleh Pujangga Plato. Kisah-kisah orang-orang dari Timur atau Orang Majus yang mempersembahkan Emas, Mur dan Kemenyan pada kelahiran Yesus. Kisah-kisah kerajaan Barus (Barussai/Fansur…). Kisah-kisah masuknya pasukan Chola (Banua Holing). Kisah perjalanan Marco Polo. Kisah Ekspedisi Pamalayu semasa Singosari dan Majapahit melalui Negara Kertagama dan Pararaton (Pararathon). Kisah-kisah semasa jaman keemasan Melayu sehingga diciptakannya dua faham yang sangat kontradiktif yaitu Melayu yang beragama dan Batak yang pagan. Kisah Perjalanan Ekspedisi William Marsden (1775) yang memetakan Wilayah Bangsa Batak. Kisah Perang Saudara Bonjol (Monjo). Kisah masuknya penjajahan Belanda. Kisah Evangelisasi Nommensen (1864). Kisah Perang Batak (1877-1907). Kisah sepanjang Jaman Kemerdekaan. Dan saat ini, sudah sampai dimana Bangsa Batak sekarang?

Masih banyak kisah-kisah dan kesaksian tentang Batak sebagai bangsa dan perjalanan yang sangat panjang itu sudah tidak lagi diingat oleh mereka. Sudah dimana kearifan (wisdom) dari leluhur yang sejatinya memang diturunkan dari Banua Ginjang oleh Mulajadi Nabolon, Debata Asiasi, Debata Natolu, Malaikat Leangleang Mandi, para Dewa dan Dewi? Sudah dimana keberadaan budaya leluhur terdahulu yang berwujud kepada ritual pengucapan syukur kepada Pencipta Alam Raya Semesta atas kebaikan Alam yang diwariskan kepada manusia? Sudah dimanakah pengetahuan-pengetahuan yang diturunkan dan diterima oleh manusia secara spiritual itu? Berupa pengetahuan tentang Alam Semesta (Parlangitlangitan). Tentang penanggalan seperti Parhalaan, Pormesa, Ombas. Tentang Tata Letak dan Arah seperti Desa Naualu termasuk pengetahuan tentang pendirian sebuah kota (huta) seperti huta bona, harbangan, sosor, sijambur, lobu, banjar, lumban, dan juga barkaitan dengan letak bangunan-bangunan/rumah seperti tangga, parik, talaga, toruan, pogu alaman, bona, tonga, soding, sitampar piring yang mirip dengan keilmuan Fengsui dari Cina. Tentang iklim yang berkaitan dengan pengaruh-pengaruh udara, air, matahari, galaksi seperti Sihalapariama-sihalasungsang yang mirip dengan keilmuan Yin-yang. Tentang pengetahuan pengobatan fisik dan metafisik. Tentang pemerintahan yang berorientasi kepada keseimbangan alam yang diwujudkan dalam bentuk tanggungjawab para raja-raja seperti Raja Ijolo, Pande-pande pada kedewanan Bius (Kuria), termasuk sistim pemerintahan global yang disebut Mangaraja , Raja Naopat, Raja Maropat. Tentang praktek tatanan sosial kemasyarakatan seperti Dalihan Natolu, Suhi Ampang Naopat yang pada dasarnya adalah wujud dari rahasia Pyramida di Mesir Kuno dan dipakai oleh peradaban Mesir kuno dahulu.

Semua dari bagian-bagian kecil dari keagungan leluhur terdahulu hanya dapat dinilai dengan yang disebut Tondi, karena Tondi adalah perangkat yang paling awal yang dihadiahkan Pencipta Alam Raya Semesta untuk mampu berkomunikasi dengan penciptanya, dengan sesamanya, dan dengan alam. Apakah pemahaman tentang Tondi masih dimaknai sesuai dengan pengartian yang sebenarnya oleh anak-anak Bangsa Batak? Masing-masing pribadi yang mampu menjawabnya tetapi secara kasat mata  mampu dirasakan dengan mata-hati bahwa pemaknaan Tondi sepertinya sudah jauh menyimpang dari makna kesuciannya.

Tondi bukan hanya diartikan sebagai wujud roh yang bersemayam dalam tubuh manusia yang hidup dan seolah diartikan memiliki zat inti yang terpisah secara fungsi dengan tubuh. Leluhur Bangsa Batak kuno mengartikan Tondi adalah zat asli dari Perncipta Alam Raya Semesta yang ditumpangkan kepada tubuh untuk mengatur keseluruhan gerak kehidupan tubuh. Diyakini oleh Bangsa Batak bahwa Tondi mampu keluar dari tubuh yang hidup dan memiliki energy untuk melakukan kegiatan hidup secara non fisik dalam alam bawah sadar sehingga dalam keadaan kesadaran fisik, Tondi menjadi petunjuk untuk berpikir, berbuat, dan bertindak berdasarkan azas-azas kesuciannya (Astral Body). Oleh karena itu layaklah anak-anak Bangsa Batak memelihara Tondinya ditempatkan di tempat yang paling suci dari dirinya, seperti pada tubuhnya yang bersih secara fisik terutama di hati yang bersih (positive thought) sehingga pribadi seseorang mengandung kearifan (wisdom) dalam dirinya.

Kalau begitu, apabila Tondi yang aslinya adalah milik dari Pencipta Alam Raya Semesta sudah tidak terpelihara sesuai dengan kesuciannya, maka tidaklah lancang mengatakan bahwa Sang Pencipta akan menuntut kesucian itu dari setiap anak-anak Bangsa Batak yang sudah meninggalkan banyak hal tentang Kearifan Leluhur Bangsa Batak (Habatakon). Kapan yang mulia Pencipta Alam Raya Semesta datang meminta pertanggungjawabannya dari setiap anak Bangsa Batak?

Dalam mitologi Bangsa Batak mengisahkan tentang Tondi yang disematkan kepada seorang anak manusia tidaklah sekaligus berfungsi penuh. Bila kita mencontohkan mengisi sebuah gelas dengan air maka air itu akan terisi secara bertahap hingga sampai saatnya gelas penuh dengan air. Demikian pula tentang Tondi dalam diri seseorang akan terisi secara bertahap sesuai dengan perjalanan waktu dalam hidupnya. Ada tondi yang memfungsikan panca indra seperti mata, hidung, telinga, mulut, kulit, atau fungsi-fungsi tubuh lainnya seperti kaki-tangan, ubun-ubun, jantung-hati, alat kelamin dan semua fungsi2 organ tubuh, dan semuanya adalah untuk kegunaan dalam nilai-nilai suatu kearifan. Itulah fungsi-fungsi Tondi yang akan dituntuk oleh pemiliknya dari anda di masa hidup anda ini, bukan setelah mati. Lantas apabila tuntutan itu ada semasa hidup anda maka konsekuensinya tentunya ada pula semasa hidup anda itu, bukan setelah anda mati.

Pengetahuan leluhur Bangsa Batak salah satunya diwujudkan dalam konsep berpikir tentang bintang-bintang yang mempengaruhinya, sebut saja salah satunya tentang Sihalapariama dan Sihalasungsang. Bila digambarkan maka bentuk gambar visualnya mirip dengan keberadaan Yin dan Yang dalam konsep berpikir Bangsa Cina dimana ada dualisme alami dalam setiap kepribadian seseorang yang saling bertolak belakang dan tidak akan pernah bertemu muka satu sama lainnya. Contohkan saja Matahari terbit di Timur dan terbenam di Barat, gelap-terang, panas-dingin, tinggi-rendah, air-api, lakilaki-perempuan, dan lain sebagainya.

Sihalapariama dan Sihalasungsang adalah bintang atau galaksi yang mempengaruhi kehidupan keseharian manusia di bumi. Misalnya, masa bertanam dan masa beternak tidaklah dilakukan secara bersamaan karena akan saling merusak dan tidak akan membawa manusia untuk berhasil dalam melakukan sesuatu kegiatannya. Apabila musim tanam (padi) datang, maka ternak harus dikandangkan, dan sebaliknya bilan selesai masa panen maka ternak dikeluarkan dari kandang. Sihalapariama dan sihalasungsang digambarkan sebagai dua naga yang berputar mengitari angkasa raya secara bersamaan kearah yang sama tetapi antara kepala dan kepala tidak pernah saling bertemu melainkan kepala Sihalapariama tetap dibagian ekor dari Sihalasungsang dan demikian sebaliknya. Demikianlah galaksi ini terus berputar sepanjang masa dan pada masing-masing posisinya akan mempengaruhi kehidupan manusia. Apabila terjadi antara kepala dan kepala sudah saling bertemu maka bencana besar yang akan terjadi pada kehidupan manusia (kiamat).

Adakah kemungkinan Sihalapariama dan Sihalasungsang bertemu muka yang mengakibatkan terjadinya kiamat? Ada yang mengartikan kiamat adalah kehancuran yang mengakhiri segalanya. Setelah kiamat maka tak ada lagi apa-apa, tak ada kehidupan, finished? Banyak pula kalangan mengartikan kiamat dengan sebuah akhir untuk memulai babak baru kehidupan, sebagaimana banyak diterjemahkan tentang kalender Maya untuk akhir jaman. Sebut saja Peristiwa Air-Bah Nuh merupakan kiamat dan memulai kehidupan baru umat manusia. Tsunami di Aceh 2001 adalah kiamat bagi warga Aceh tetapi menjadi pembuka pembaharuan bagi Aceh. Peristiwa Perang Saudara Bonjol adalah kiamat bagi Bangsa Batak tetapi menjadi babak baru kehidupannya di kemudian hari. Pendekatan pemahaman lainnya bila air dipertemukan dengan api maka terjadi saling benturan sifat alaminya dimana air akan memadamkan api dan keduanya membentuk uap sebagai babak barunya. Gelap dan terang yang dipertemukan akan memunculkan suasana yang tak jelas, abu-abu. Laki-laki dan perempuan dipertemukan akan terjadi pergumulan dan memunculkan babak pembaharuan tentang manusia.

Nyatanya belakangan ini telah terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrim (Global Warming), dimana terjadi kekeringan karena tingkat radiasi matahari yang tinggi membuat penguapan air begitu cepatnya. Sebaliknya banyak juga peristiwa banjir yang massif berskala bencana, termasuk gempa bumi baik tektonik maupun vulkanik. Alam sudah memperlihatkan keadaan ekstrim termasuk kepada perubahan paradigma sosial yang mempengaruhi manusia dan peradabannya. Sebut saja terjadinya kelaparan di balik kelompok-kelompok yang berkelimpahan makanan. Terjadinya kemiskinan dibalik kemewahan akibat korupsi dimana-mana.  Memang sudah tidak terjadi lagi keseimbangan kehidupan dan alam.

Dalam sejarah bumi sejak terbentuknya hampir lima miliar tahun lalu maka sudah silih berganti terjadinya Zaman-Es (Ice-age) dan Pemanasan Global (Global Warming). Lima Era Zaman-Es termasuk empat Era Pemanasan Global, para ahli mencatat terjadinya banyak kepunahan mahluk, baik hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan saat ini bumi memasuki era ke lima Zaman Pemanasan Global sudah tercatat pula banyak terjadi kepunahan mahluk, namun masih disyukuri bahwa dari semua era yang dilalui manusia itu maka mereka tetap survive menjalani kehidupannya.

Terhitung mulai dari meletusnya Gunung Toba di Tanah Batak sekitar 75.000 tahun lalu menjadi tanda mengawali Era Zaman-Es terakhit yang juga menimbulkan banyak kepunahan mahluk seperti punahnya Dinosaurus, punahnya tumbuh-tumbuhan sehingga membentuk Padang Pasir diberbagai kawasan bumi, tetapi kawasan Nusantara yang dikenal sebagai The Isands In The Sun menjadi salah satu tumpuan dunia untuk menjadi kawasan yang menyelamatkan bumi. Sekitar 10.000 s/d 20.000 tahun kebelakang adalah masa dimulainya Global Warming yang mencairkan es di kawasan kutub, dan sampai saat ini proses Global Warming yang sudah berusia hampir duapuluh ribu tahun itu semakin intens untuk memunahkan mahluk-mahluk di bumi. Apa yang sedang anda pikirkan untuk keselamatan bumi? Bila anda adalah mahluk pribadi yang individualist maka anda boleh bersembunyi dibalik EGP (Emang Gua Pikirin) dan andapun akan tenggelam dengan anak cucu yang tak berpengharapan untuk survive di bumi yang diwariskan dan sudah dimintakan pertanggungjawabannya sejak leluhur-leluhur anda masih memiliki kearifan budaya.

Kini Sihalapariama dan Sihalasungsang sudah berniat untuk berhadap-hadapan satu sama lain. Planet Bumi akan kedatangan tamunya dari Solar System lain di Tata Surya Bimasakti yaitu Nebula atau Planet Merah si-Hercolubus. Planet-X ini akan begitu dekatnya (60-70AU) dengan garis edar bumi untuk ukuran dimensi Tata surya yang diyakini para ahli akan sangat mempengaruhi kehidupan di bumi. Ramalan Isac Newton untuk kiamat di Tahun 2060 memang masih jauh dibanding perhitungan habisnya Kalender Maya untuk 21 Desember 2012, tetapi dunia maya sudah banyak disibukkan dengan penantian kiamat pada Desember tahun ini. Kelatahan ini disikapi pula oleh kaum agamawan dengan memunculkan ramalan-ramalan dari ayat-ayat suci keyakinannya, lalu bagaimana dengan anda?

Ketidakseimbangan sudah banyak tersaksikan timbul dimana-mana. Ketidakseimbangan pada saatnya akan menuju keseimbangannya dan mungkin itulah titik dimana orang-orang menyebutnya sebagai ‘Kiamat’. Adakah ketidakseimbangan yang anda lihat pada diri anda? Apakah itu terjadi pada diri anda sendiri? Pada keluarga anda? Pada lingkungan anda? Pada Komunitas anda? Munkin itu pertanda adanya proses menuju kepada keseimbangannya dan saatnya pertemuan keseimbangan itu boleh jadi muncul hal-hal yang bersifat bencana (apocalyptic), coba direnungkan.

Kalau begitu Sihalapariama dan Sihalasungsang yang dikenal Bangsa Batak dahulu, berkeinginan saling bertemu di suatu titik nanti. Mungkin telah banyak ketidakseimbangan yang dialami oleh Bangsa Batak, baik perilaku yang diperbuatnya sendiri maupun perlakuan yang dialaminya selama kurun waktu ini. Lihatlah peristiwanya; sejak terjadinya Perang Saudara Monjo, Masuknya Penjajahan Belanda, Masuknya faham Evangelis, Masuknya Zaman Kemerdekaan, sampai kepada titik pandang mata ada di diri anda, adakah peradaban Batak yang hilang? Bagaimana dengan norma-norma sosial terhadap komunitas Bangsa Batak di Ibu Pertiwinya, sudahkah terlepas dari kemiskinan sepanjang melewati peristiwa-peristiwa tersebutkan di atas? Mungkin Dewi Deak Parujar akan berkunjung ke Bonapasogit di Banua Tonga dengan mengendarai Nibiru untuk menuntut janji waris yang ditinggalkannya kepada keturunannya yaitu Manusia Batak yang terlahir dari perut dewi, lalu berkata: “Mana janjimu?” “Aku menangis melihat engkau keturunan-keturunanku!” “Kini aku akan datang mengunjungi engkau dengan suara bumi yang menggetarkan engkau, dengan suara angin bagaikan auman harimau, dengan suara aliran air yang menderu-deru, dengan cahaya berkilau yang mengerutkan kulit!” “Nantikan aku dipenghujung tahun ini, supaya di tahun hadapan kau boleh memulai kehidupan barumu yang bermulia penuh dengan Tondi!”

Dewi Deak Parujarpun datang berkunjung dipenghujung tahun ini, layaknya kaum perantau yang mudik ke Bonapasogitnya untuk bertemu dengan kaumnya, dengan missi keseimbangan menuju kehidupan manusia-manusia Batak keturunan Dewi Deak Parujar. Sambutlah dengan ‘Horas… Horas… Horas!”

2 Responses to “Dewi Deak Parujar Mau Berkunjung?”

  1. sahala simanjuntakBatak Says:

    Ompunta Tuan Humarahiri, Sihumara Naboru
    Paraji tambatua, paraji pulungpulungan
    Parsonduk ni ompunta Siraja Odapodap
    Namarsigantung di TALI SIUBAR
    Nameat di MOMBANG BORU………….dst.
    Demikian bait pertama Tonggotonggo Sideak Parujar yang konon ditemukan dari buku Laklak(?). Mari kita mencoba memahami arti kata di TALI SIUBAR dan di MOMBANG BORU. Dari beberapa kamus batak, Mombang = gambaran ayam dari ijuk dibuat secara kasar dan digantungkan dalam rumah, Mombang boru = sej anggrek yang tergantung pada pohon kayu. Kata Ubar belum saya temukan artinya. Tarubar = Rumah tempat berbagai macam tuah adalah tempat lahirnya putera dan puteri pembawa tuah. Menurut pemahaman saya kata TALI SIUBAR bertujuan menjelaskan apa saja yang berkaitan dengan hormon lakilaki. Sedangkan MOMBANG BORU menjelaskan apa saja yang berkaitan dengan rahim perempuan. Tentang Sihalapariama dan Sihalasungsang. bila digambarkan maka bentuk gambar visualnya mirip dengan keberadaan Yin dan Yang dalam konsep berpikir Bangsa Cina dimana ada dualisme alami dalam setiap kepribadian seseorang yang saling bertolak belakang dan tidak akan pernah bertemu muka satu sama lainnya. Contohkan saja Matahari terbit di Timur dan terbenam di Barat, gelap-terang, panas-dingin, tinggi-rendah, air-api, lakilaki-perempuan, dan lain sebagainya. (?)Tetapi apabila bertemu muka satu sama lainnya akan tercipta sesuat hal yang TIADA menjadi ADA. Mohon share………..utk kita mewujudkan bahwa HABATAHON itu adalah KNOWLEDGE. . Mauliate.

    • Sepertinya kita sama dan sefaham dalam hal ini Bung Sahala Simanjuntak! HABATAKON memanglah KNOELEDGE. Sajauh yang saya fahami tentang konsep berpikir pada budaya-budaya etnis yang ada di Indonesia, maka saya masih menganggap Konsep Berpikir pada HABATAKON yang paling sempurnah, bukan semata karena saya adalah salah satu pribadi sebagai orang Batak! yang menjadi masalah bahwa Konsep Berpikir pada HABATAKON itu belum banyak diminati oleh kalangannya sendiri untuk digali kearifan yang ada di dalamnya.

      Dalam suatu kesempatan berdiskusi dengan seorang rekan Orang Jawa, mengatakan, bahwa Budaya Jawa sudah ‘settled’ artinya ‘sudah lengkap’ untuk dipakai mereka di dalam kehidupan manusia jawa dan ‘tidak perlu berkembang lagi’. Artinya lagi, dengan bermodalkan budaya yang mereka miliki itu maka mereka akan survive untuk hidup dimanapun di pojok bumi ini? Apakah kita mampu memaknai statement ini bila kita bandingkan dengan orang Batak yang mengandalkan budayanya?

      Sementara ini saya hanya mampu menilai diri sendiri bahwa masih banyak yang harus digali dari HABATAKON yang memang jelas sebagai KNOWLEDGE. Diantaranya yang seharusnya ter-implementasi dalam keseharian orang Batak, misalnya ‘Identitas diri melalui penyebutan: tulang, amangboru, lae, tunggane, amang-inang, dst, dst (lebih seratusan sebutan) yang pasti berkaitan dengan ‘sikap bertutur sapa’ dan ‘mimik tubuh dlm berkomunikasi’. Kemudian penggalian pengetahuan yang berkaitan dengan ;science’, kemudian memunculkan kembali ritual-ritual yang berkaitan dengan memuliakan alam sebagai tempat tumpangan hidup manusia Batak. Sepertinya topik2 ini yang sudah terdegradasi dari keseharian manusia Batak jaman sekarang ini. Horas lae.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: