Pesan Leluhur

Bangsa Batak memang bangsa yang unik. Ini dikemukakan oleh Marco Polo pada saat pengelanaannya di Sumatra pada tahun 1290. William Marsden bekas Gubernur Bengkulu dari Kerajaan Inggeris menjadi ingin membuktikannya, lalu dia mengadakan penelitian dan mengatakan memang unik dan berbeda dengan bangsa lainnya yang ada di pulau Sumatra, dan dia juga mengatakan bahwa Bangsa Batak dianggap sebagai bangsa yang paling asli di Sumatra. Kemudian pada saat masuknya pengaruh asing ke Tanah Batak maka banyak perjalanan sejarahnya yang memang unik. Hal ini ditandai dengan masuknya Islam dan Kristen yang memang unik. Keunikan masih berlanjut pada saat penjajahan menguasai Tanah Batak. Jaman kemerdekaanpun memiliki perjalanan sejarahnya yang unik. Dan yang paling unik adalah sekarang ini bahwa banyak orang Batak yang tidak Batak lagi. Ini kan memang betul-betul unik lho….

Ini Satu Cerita Lugu

Ompu Raja Ijolo, martungkot sialagundi. Pinungka ni omputa na parjolo, hita ihuthon ma di pudi. (Baginda Raja diraja, bertongkat dari kayu sialagundi, yang sudah dititahkan oleh leluhur sejak jaman purba, wajib diikuti orang-orang dikemudian hari).

Pantun Nasihat (umpasa) ini kebetulan dipinjam dari bahasa Batak Toba tetapi pemahamannya harus menjadi penuntun bagi keturunan leluhur Bangsa Batak. Bila diterjemahkan dengan pengartian yang luas maka pantun nasihat ini menyampaikan suatu pesan yang harus dipatuhi oleh setiap keturunan Bangsa Batak yang hidup pada masa ini dan sampai masa yang akan datang. Sudah banyak pergeseran adat istiadat terutama dilakukan diperantauan sehingga ada kecenderungan penolakan terutama dari generasi muda. Baru sekitar 200 tahun Bangsa Batak dimasuki pengaruh bangsa asing akan tetapi sudah banyak nilai-nilai budaya yang hilang dan dihilangkan, sementara budaya tercipta dari kebaikan dan kearifan pada tatanan kemasyarakatnya. Haruskah kita menunggu hilangnya identitas Batak?

Apabila diumpamakan seorang anak yang sudah pantas untuk marjalang (merantau), maka dengan berbekal apa yang sudah dibekali secara turuntemurun, dia akan mampu melintasi gunung, menuruni lembah, menyeberang lautan dan membaur dengan orang-orang kebanyakan. Kemudian seorang anak akan mengeluarkan jurus pertamanya sebagaimana perumpamaan berikut: “Tinintip sanggar bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga asa binoto partuturan.”  Pengertiannya kira-kira diartikan sebagai berikut: “Sangkar dibuat untuk pengeraman, harus saling bertegur sapa lalu saling berkenalan”. Seorang Batak ternyata tidak pernah datang kesuatu tempat dengan bersembunyi-sembunyi. Dia selalu memperlihatkan siapa dirinya walau dipelosok mana atau dilingkungan yang asing sama sekali, akan selalu memperkenalkan siapa dirinya. Prinsip ‘datang tampak muka, kembali tampak punggung memang ciri khas seorang Batak. Dengan jurus leluhur yang sudah melekat ini maka seorang Batak akan mendapatkan teman yang banyak.

Seiring banyaknya pertemanan maka seorang Batak akan mencari siapa saudaranya, biasanya saudara semarga agar dia merasa tidak sendirian di negri yang baru didatanginya. Namun walaupun dia sudah menemukan saudara sendiri bukan berarti dia akan meninggalkan para sahabatnya. Hal ini terlihat dari pepatah berikut ini: “Jonok dongan partubu, jonokan dongan parhundul” yang diartikan menjadi, “Akrab teman semarga, masih lebih akrab bersahabat karib”. Sifat yang mendasar dari orang Batak ini membuat persahabatannya diluar teman se-suku atau se-marga akan tetap langgeng.

Masuk di lingkungan baru tentusaja berjumpa dengan penguasa, atau yang dituakan dikawasan itu. Rasa hormat dan penghormatan tentu ditunjukkan oleh seorang Batak. Apabila ada suatu instruksi atau kewajiban yang wajar maka seorang Batak akan patuh tanpa pamrih demi kebersamaan disuatu lingkungan. Hal ini terlihat dari pepatah yang selalu diajarkan kepada seorang Batak seperti “Baris-baris ni gaja dirura Pangaloan, molo marsuru raja dae do so oloan” yang artinya kira-kira, “Gajah berbaris-baris di lembah Pangaloan, kalau raja yang menyuruh tak mungkinlah dilawan.” Disini terlihat bahwa seorang Batak selalu bersikap tanpa pamrih apabila memang sewajarnya sesuai hierarkinya, karena dalam budaya Bangsa Batakpun berlaku yang disebut Dalihan Natolu dan Tarombo yang menyiratkan bahwa ada posisi kedudukan yang saling bergantian dalam tatanan kemasyarakatan.  Bahkan seorang yang dituakan atau disebut raja harus diagungkan dengan sesungguhnya dan bukan hanya manis dibibir. Hal ini terlihat dalam petuah berikut, “Dijolo raja sipareahan, di pudi sipaimaon” yang diartikan “Bila raja di depan harus diagungkan, dan bila dibelakangpun harus dinantikan.” Sikap ini memang benar-benar dipraktekkan oleh seorang Batak, karena mereka akan merasa malu bila dikatakan seperti petuah berikut, “Unang songon ulubalang so mida musu” yang artinya bahwa seorang Batak tidak boleh seperti hulubalang yang tidak melihat musuh, beraninya hanya dibelakang layar.

Konsistensi sikap seorng Batak memang tidak bisa dianggap remeh. Sikap gentleman sudah menjadi pandangan umum bagi seorang Batak diantara suku-suku lainnya. Pergaulan dengan banyak kalangan tentu membawanya bermuara pada kata sepakat, se-ia sekata, berjanji dan bahkan sumpah merupakan sikap yang selalu dijunjung tinggi dan terlihat pada petuah berikut, “Habang ambaroba paihut-ihut rura, Padan naung pinaboa ndang jadi mubauba.”  Yang diartikan, “Burung ambaroba terbang melintasi lembah, sumpah yang sudah seiasekata tidak boleh dirubah”

Banyak teman akan banyak keberuntungan, tetapi banyak pula tantangan dan pertentangan. Berbisnis memulai suatu kegiatan dengan keuntungan dan kerugian adalah bagiannya. Terdampar diperantauan membuat akal dan pikiran terkadang berubah menjadi kemarahan dan keberanian, tetapi hati tidak boleh berbohong bahwa kepasrahan sering menjadi keputusan yang tak sampai terlihat di wajah, maka petuah berikut sering menjadi peluluh hati seorang Batak, “Niarit tarugi pora-pora, molo tinean uli, tong do tenon dohot gora.” Yang diartikan sebagai “Diarit batang nibung untuk menumbak ikan tawes, kalau pernah beruntung harus siap pula mengalami apes”.

Kadang kadang seorang Batak memang jatuh terpuruk dalam kehidupan perekonomiannya akan tetapi biasanya dia akan berguru dari pengalaman dan hatinya akan mampu disabarkan dengan petuah berikut, “Agia pe lapalapa asal di toru ni sobuon, agia pe malapalap asal ma dihangoluon”. Petuah ini diartikan menjadi “Walau hidup bagai kayu bakaran asalkan dibakar diapi yang marak, walaupun mendapat kerja serabutan asalkan masih bisa hidup bergerak”. Sakit bagaimanapun mampu dialami seorang Batak karena merasa masih ada harapan selama hayat dikandung badan, dan biasanya mereka menghibur diri dengan petuah, “Diginjang bulung botik binoto do paetna, bunipe parsisiraan binoto do assimna” yang diartikan “Walau daun pepaya ada diatas pohon tetapi kita tau rasanya pahit dan walaupun garam tersimpan tersembunyi kita taupula rasanya asin” yang bermakna bahwa hidupnya sudah pernah merasakan enak tak enak dalam perjalanan hidupnya.

Kehidupan memang berputar bagaikan roda pedati, yang kadang di atas dan kadang dibawah silih berganti. Demikian pula siorang Batak yang akibat ketekunan dan keyakinan diri untuk menjalani kehidupannya maka harapan hati berwujud kepada pencapaian seperti yang dipesankan oleh pepatah berikut, “Manuk mirasialtong molo martubi monang-monang, salpu do angka parungkilon jala ro do parsaulian pansamotan”. Diartikan sebagai, “Ayam simerah hitam kalau bersabung selalu menang, sudah lewat masa kelam dan datang pula rejeki berkelimpahan.”. Kepercayaan diri siorang Batak meningkat seiring membaiknya rejeki kehidupannya, maka diapun berani melangkahkan jejak kehidupannya.

Siorang Batak sudah pantas untuk berumah tangga, tetapi sudah lama jauh dari kampung halaman untuk mempersunting siputri paman. Seorang putri disanding dari perantauan dan sudah pas menjadi pasangan, lalu pamanyapun menyambut dengan memberi petuah seperti berikut, “Hot pe jabu i sai tong do margulang-gulang, sian dia pe berei mangalap boru i sai hot do i boru ni tulang”. “Walaupun rumah itu kokoh berdiri tetapi tetap saja ada bergoyang, darimanapun ponakanku mempersunting istri tapi dia tetap sebagai putri paman tersayang.” Maka jadilah siorang Batak mempersunting istri dan dianggap pula sebagai putri si paman, lalu mereka diberkati dengan satu petuah, “Binsar mataniari poltak matani bulan, sai tubu madihamu boru namalo mansari dohot anak nagabe raja panungkunan.” Yang diartikan, “Matahari terbit dipagi hari, malam hari diterangi rebulan, semoga kau mendapat putri yang pandai mencari (harta) dan anak yang menjadi pengaduan.” Kata-kata berkat dari paman akan menjadi berkat yang jadi kenyataan. Pasangan siorang Batak menjadi berkelimpahan harta dan mendapat keturunan seperti yang dipetuahkan dahulu kepada mereka, “Bintang narumiris tu ombun na sumorop, anakmuna pe riris, boru pe tung torop.” Yang diartikan sebagai, “Bintang bertaburan embun berarakarakan, semoga anakmu lahir berturutan dan putrimupun banyak beriringan.” Keinginan untuk memiliki banyak anak adalah pesan leluhur tetapi orang Batak malah menyangkal perintah leluhur sehingga Batak sebagai bangsa menjadi tetap kecil dalam jumlah, maka jadilah Batak tetap sebagai bangsa yang terpinggirkan.

Jadilah keluarga siorang Batak mempunyai banyak keturunan dan hartapun berlimpah karena suami dan istri memang sangat menghormati orang tua dan mertua sehingga rejeki bertambah-tambah, dimana semuanya terjadi karena mengikuti petuah seperti berikut: ”Tinaba hau toras bahen sopo di balian, naburju na marnatoras ingkon dapot parsaulian.” Yang diartikan sebagai berikut, “menebang kayu harus yang sudah tua supaya bagus untuk pondok di ladang, orang yang baik berorang tua akan mendapat harta lagi terpandang,”.

Siorang Batak membaur dengan kerabat dan sahabat diatas tatanan adat istiadat. Saling menghormati satu sama lainnya, menjadi kekompakan yang dicemburui oleh banyak orang. Keakraban hubungan persahabatan dan kekerabatan berdasarkan falsafah yang dimengerti bersama yang disebut Dalihan Natolu. Hubungan kekerabatan yang satu marga masih dianggap sebagai saudara sekandung yang disebut sebagai dongan sabutuha (teman satu perut) yang mengartikan harus kenyang dan lapar bersama. Hubungan kekerabatan yang unik memampukan orang Batak berkata untuk sesama dengan sebutan “mangkuling do mudar” yang diartikan bahwa darah yang mengalir dalam tubuh memberi sinyal adanya hubungan kekerabatan dengan sesama orang Batak walaupun belum saling berkenalan. Oleh karena itu ada petuah yang mengatakan, “Habang amporik mangalumbalumba solu, songgop siputi dipunsu hau natimbo, Adong do patik sian dalihan natolu, mangaruhuti sude angka tarombo” yang diartikan, “Burung pipit mengejar sampan yang berlalu, burung kepala putih bertengger diujung galah, Ada hukum yang diatur pada Dalihan Natolu, dan berlaku berdasarkan urutan silsilah.”

Keluarga Batak yang sudah banyak anak, harta berlimpah lagi terpandang merupakan kebahagiaan yang tiada tara dan merupakan keinginan dan harapan setiap orang. Sikeluarga Batakpun mencapai umur tua dalam kebahagiaan, sampai suatu saat hayat dijemput malaikat tetap masih mendapatkan berkat sebagaimana dalam pernyataan penghormatan berikut. “Marurat ibana bagas tu toru, marbulung timbo tu ginjang, mardangka dao tu siamun, marranting dao tu hambirang.”dan diartikan sebagai, “Berakar dalam sampai ke bawah, berdaun ke atas sampai menjulang, jauh kekiri ranting mengarah, jauh kekanan berdahan dan bercabang.”. Pernyataan ini menjadi puncak pemberitaan kepada umum bahwa seorang Batak yang mendapat dan menjalankan petuah dari para leluhur tentu akan terwujut harapan dan cita-cita dan pengakuan itupun tidak perlu didengar seorang Batak semasa hidupnya tetapi dalam kematiannya tetap menjadi terhormat.

Demikian satu sisi kehidupan seorang Batak yang menggambarkan rangkaian kehidupannya dari mulai terlahir di tanah leluhur Bonapasogit (Ibu Pertiwi), dibekali petuah-petuah manjur dari doa para leluhur untuk menjalani kehidupannya mendapat kebahagiaan di tanah perantauan yang dahulu disebut tano parhatobanan (tanah perbudakan). Sekarang sudah banyak yang tak ingat kepada ibupertiwi dan malah lebih senang di tanah perbudakan.

Kenyataan yang ada muncul dikalangan masyarakat Bangsa Batak sekarang ini bahwa banyak diantara mereka seolah sudah terputus dari leluhurnya. Dalam kurun waktu 200 tahun sejak bersentuhan secara intensif dengan peradaban bangsa luar, ada beberapa tahapan tahapan yang merubah peradaban Bangsa Batak, sehingga Bangsa Batak tidaklagi menjadi satu kesatuan sebagaimana yang pernah dicatat oleh petualang Eropah seperti Marco Polo di abad-13 atau William Marsden di abad-18.

22 Responses to “Pesan Leluhur”

  1. sahala simanjuntak Says:

    Ompu Raja Ijolo, martungkot sialagundi. Pinungka ni omputa na parjolo, hita ihuthon ma di pudi. Pengertian harfiahnya terletak pada kata sialagundi sejenis tanaman keras dapat tumbuh sampai berdiameter 50Cm, Pada saat berdiameter 2-3Cm dipakai sebagai tongkat yang elastisitasnya menyerupai rotan tidak mudah patah pada saat tongkat tersebut dipergunakan.Bahwa budaya itu dapat disesuaikan dengan jamannya tetapi tetap bertumpu pada budaya yang diciptakan leluhur nenek moyang.Mauliate

    • Saya sependapat dengan pendapat Batak menjadi tetap kecil dalam jumlah, maka jadilah bangsa yang terpinggirkan karena menyimpang dari pesan leluhur.

      Kalau menurut pendapat para pengamat, sejarah migrasi orang orang melayu ke Indonesia, maka bangsa Batak adalah kelompok pertama migrasi ke ke pulaian Nusantara (terdiri dari Batak, Toraja, Tagalog, dll). Suku suku lain (Jawa, Sunda, dll.) datang pada migrasi tahap kedua dan ketiga. Tetapi apa yang menjadi kenyataan sekarang ini jumlah orang Batak paling sekitar 6 juta jiwa di seluruh Indonesia, sehingga suranya minor dalam skala nasional dalam melakukan bargaining apapun. Apalagi pada event pilkada akan selalu kendala utama, misalnya untuk menjadi pemimpin di Sumatera Utara.

      Nah, kalau keadaan sudah demikian faktanya dan kita sadar bahwa tidak mendapat dukungan dari segi jumlah penduduk (Demografic Advantage), maka salah satu yang perlu disadari dan dilakukan adalah menumbuhkan anak anak yang berkualitas yang mampu melakukan terobosan terhadap kendala tersebut. Kemampuan lebih seseorang (integritas, intelektualitas, mentalitas, kejujuran, dll) dari orang rata rata kebanyakan akan mampu menarik perhatian banyak orang karena memberi harapan lalu mengikutinya. Keunggulan ataupun keberhasilan diukur bukan dari jumlah onggokan manusia tetapi dari segi kualitasnya.

      Untuk itulah fungsi keluarga perlu di reposisi kembali kepada pesan leluhur Batak, dan dikembangkan menjadi keluarga sebagai wadah tempat persemaian bibit bibit unggul yang nantinya akan mampu melanjutkan, membina dan mengembangkan Bangsa dan Budaya Batak. Kalau tidak maka akan tetap kerdil, akan semakin kerdil dan lama lama bisa menjadi punah di suatu era, karena persaingan kekuatan global dalam hal perebutan kekuasaan dan pengaruh.

      Baiknya kita jangan seolah olah menyerahkan segala persoalan ke Tuhan akan selesai, Tuhan itu bukan tempat pelemparan masalah, kita insan yang hidup yang diberi tubuh dan roh. Di dalam badan ada pikiran dan akal untuk berkreasi harus berusaha untuk melanjutkan hidup dengan bimbingan Tuhan, kalau terbentur/ gagal lalu minta pertolongan Tuhan. Memang sebagai orang beriman kita percaya bahwa Tuhan punya rencana, tetapi kalau rencana itu tidak kita sambut/ dekati/ selaraskan dengan rencana Tuhan melalui persiapan diri kita dengan melakukan upaya upaya atau tindakan nyata tentu hasilnya tidak seperti yang diharapkan atau tertunda.

      Hal yang lebih penting untuk dipahami adalah keberadaan leluhur kita sehingga kita sampai ada di jaman sekarang ini. Apakah kehadiran leluhur kita di dunia ini bukan bagian dari rencana Tuhan?, dan di dalam interaksi sosial dan budayanya pada jamannya memang seperti itu, dan itu adalah bahasa/ komunikasi mereka di jaman itu untuk memuliakan Tuhan. Ada yang mengatakan tondi ni ompunggna, dst. tetapi bagi saya adalah semangat/ karakter unik/ ciri spesifik yang melekat pada diri mereka dan itulah modal dalam menjalani perjuangan hidup mereka, tetapi banyak disalah persepsikan orang sekarang ini. Haruskah ditinggalkan secara total karena dianggap tidak sesuai dengan keimanan jaman modern sekarang?. Untuk itu semua perlu kearifan yang lebih dalam menyikapinya, dan perlu diingat beberapa hal berikut ini:
      1. Yesus tidak menghapuskan Hukum Taurat, malah menyempurnakannya.
      2. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya ( para leluhur adalah pahlawan bg keturunannya).
      3. Kita masih hidup di dunia ini sekarang, jangan seolah olah kita sudah tinggal di surga, turunlah ke bumi sewaktu waktu karena di bumi banyak masalah dan persoalan serta dosa, berbuatlah sesuatu mulai dari yang kecil kecil dulu sampai ke hal hal besar untuk memperbaiki dunia. Mungkin disitulah letaknya dapat kita temukan apa maksud dan tujuan rencana Tuhan kita dilahirkan ke dunia.

  2. waduh…. tambah rumit….. batak namarugamo kristen juga sering diadat dikatakan diikuti tondi oppungnya… sementara kristen tidak mempercayai diikuti oleh roh kudus… apalagi pendapat klian mengenai ini ito??????????

  3. pantun puisi Says:

    good job

  4. ian gaitaro hutapea Says:

    Mantap…horas

  5. raviman saragih Says:

    bgs

  6. […] Pesan Leluhur June 2009 4 comments […]

  7. edwin sembiring brahmana Says:

    saya lebih heran lagi…
    saya hanya bisa menggunakan atau memanfaatkan kekuatan itu.
    tetapi saya tdak bisa mengetahui jati diri saya siapa.
    tolong info mengenai jati diri yah.

    • @Bung Edwin Sembiring Brahmana.
      Di dalam tubuh ini ada dua bentuk energi (kekuatan) yang disebut energi kasat mata dan energi nyata atau sering juga disebut alam bawah sadar (subconsious mind) dan alam sadar (consious mind), yang keduanya dapat difahami (dipelajari) secara logika.

      Energi alam nyata sering kita kenal dengan belajar pengetahuan apasaja termasuk sekolah formal atau informal yang tentusaja menjadi keahlian kita untuk melakukan sesuatu, termasuk misalnya menjadi dokter mengobati penyakit atau menjadi ahli teknik atau menjadi ahli ekonomi, dagang dan sebagainya. Semua energi alam nyata ini menjadi kekuatan kita untuk melakukan segala sesuatunya yang diperlukan dalam kehidupan diri sendiri maupun untuk orang lain.

      Energi alam bawah sadar adalah kekuatan pribadi yang kita miliki tanpa kita sadari. Kekuatan ini dapat berguna untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain sesuai keperluannya misalnya memberi nasihat untuk kebaikan orang lain seperti melihat aura seseorang yang sedang surut (misal akan jatuh sakit atau akan mengalami musibah) dan menasihatinya untuk menjadi sehat atau selamat. Kekuatan ini ada pada seseorang berdasarkan bakat dan insting dan kalau dipelajari untuk mengarahkannya maka dapat dimanfaatkan untuk kebaikan.

      Secara tradisional kekuatan alam bawah sadar atau kasat mata ini sering diterjemahkan sebagai kedatangan arwah dari nenek moyang sehingga dirinya memiliki kekuatan supranatural misalnya untuk mengobati penyakit atau kemampuan melihat masa depan. Pada dasarnya kekuatan kasat mata ini dapat dijelaskan secara logika berdasarkan ilmu pengetahuan (science). Misalnya seseorang memiliki kemampuan supranatural alami (datang sendiri) untuk mengetahui dan mengobati penyakit (diluar pengetahuan/ science), ada kemungkinan bahwa dirinya adalah keturunan dari orang sebelumnya yang berkemampuan untuk itu, jadi secara alami kemampuan itu diwariskan dalam tubuhnya. Ilmu genetikas moderen sudah mampu menjelaskan ini dengan metoda DNA dimana sel pembawa sifat itu dapat muncul kepada keturunan dan menjadi dominan.

      Kalau yang dikatakan oleh bung Edwin Sembiring Meliala yang berkemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan kekuatan metafisika tersebut tetapi tidak mengetahui jatidiri, kalau mau menelusurinya ke generasi keturunan sebelumnya, apakah dari garis keturunan ibu atau bapak, kemungkinan besar memiliki kekuatan itu. Jadi kekuatan itu adalah diwariskan dalam tubuh bung Edwin. Yang menarik bahwa bung Edwin tidak mengaitkannya dengan pandangan tradisional semisal berdasarkan turun melalui mimpi atau kesurupan atau didatangi roh leluhur, tetapi lebih menonjolkan logika dan proteksi agama, tetapi toh kekuatan itu ada pada anda.

      Mungkin penjelasan ini dapat memberikan pemahaman jati diri bung Edwin. Terimaskasih atas kunjungannya.

  8. Sdr. Tigor Parulian Sihombing. Bangsa Batak sangat kaya dengan definisi Alam Roh (Datu bolon mengartikannya sebagai energi kasat mata), yaitu diantaranya Tondi, Sumangot, Sahala, Begu. Tondi adalah bentuk roh yang hidup atau roh dari orang hidup. Sumangot adalah bentuk roh yang berasal dari garis keturunan (sudah meninggal) yang dapat dirasakan atau dilihat oleh matahati. Sahala adalah bentuk roh yang berasal dari garis keturunan (sudah meninggal) yang energinya masih mampu mempengaruhi garis keturunannya yang masih hidup. Begu adalah bentuk roh yang tidak dikenal. Orang Batak biasanya sangat takut kepada begu, tetapi tidak pernah takut kepada Tondi, Sumangot, Sahala.

    Setiap penyakit tentu ada obatnya. Kalau penyakit berupa fisik maka pengobatannya adalah mencari penyeimbang berupa obat-obatan yang mampu mensinergikan organ-organ fisik agar berfungsi seimbang. Kalau penyakit berupa psikis maka pengobatannya berupa terapi psikis pula (psychiater). Kalau penyakitnya yang berkaitan dengan tondi tentu harus diseimbangkan tondinya.

    Penyakit yang berkaitan dengan tondi biasanya ada hubungannya dengan keyakinan dan/atau agama (kepercayaan). Pengobatannya tentu menyeimbangkan tondi dan tubuh supaya dapat bersinergi antara roh dan tubuh menjalani kehidupan. Pengobatannya tentu upaya untuk menjamin kesehatan fisik diseimbangkan dengan pengobatan roh dengan doa sesuai keyakinan dan kepercayaan. Wujud dari berdoa dengan cara meditasi mungkin dapat membantu.

    Kalau ada yang mendeteksi anda niihuthon tondi ni ompung, tentu orang (datu) itu mampu meilihat secara metafisika (kasat mata) dan seharusnya mampu pula memberikan nasihat terbaik atas apa yang dilihatnya.

    Sebagai contoh ilustrasi dapat digambarkan semisal dipunggung anda terdapat setitik cat yang melekat. Anda tidak mampu melihat cat yang melekat itu dengan mata kepala sendiri. Apabila anda meminta tolong kepada orang lain untuk memeriksanya maka orang tersebut mampu melihatnya dan tentu mampu pula untuk menghilangkan cat itu dari punggung anda. Semoga nasihat ini bermanfaat. Horas

  9. tigor parulian sihombing Says:

    saya lama menderita sakit ini, saya sudah capek ke dokter tidak ada penyakit, akhirnya. namanya berusaha, saya pergi kebeberapa datu bolon. jawaban mereka bahwa saya na niihuton ni tondi ni ompungku. titik sampai disitu saja. karena ketika saya tanya lebih lanjut, siapa tondi itu, kenapa saya, bagaimana berkomunikasi dengan mereka. para datu hanya bisa jawab sabar. jadi tolong bantu saya kepada siapa harus berbicara masalah ini. dan siapa yang sanggup berkomunikasi langsung dengan tondi ompung saya biar saya tanya langsung tondi itu. dan apa yang harus saya lakukan sekarang, mohon bantuan

    • Ramot Pasaribu Says:

      Lae Tigor tinggal di mana? Klau di p.siantar mungkin bisa dibantu. Yang bisa membantu lae bukan datu, tapi Rajai.

    • darmawati situmorang Says:

      Buat ito tigor parulian sihombing, dan ito/eda2 yang lain, saya ada kenal seorang oppung boru ( panggilan saya kepada beliau ) di medan, perjumpaan kita tanpa sengaja, jika ito mau bisa saya sarankan kesana, karna sebelum saya kembali ke jakarta, saya pernah pertanya apakah saya boleh menyarankan orang lain datang ketempat oppung jika membutuhkan pengobatan, dan oppung itu berkata, silahkan aja, dan jika mereka yakin dan percaya, kesembuhan itu akan datang dari Yesus, saya hanya perantara saja. Silahkan infokan saja ke no 081281083384. Mauliate GBU

    • leluhur orang Batak adalah orang yg dekat dengan Tuhan, artinya kelebihan itu datangnya dari Tuah dan pabila menggunankannya harus untuk kemanusiaan daripada komersilnya, jadi berdoalah supaya Tuhan menjumpakanmu dgn orang yg bisa menuntunmu untuk menggunakannya untuk kemanusiaan bukan untuk kejahatan dan kesombongan atau cinta uang, maukah menyuratiku ke ronauli17@yahoo.com? mungkin teman saya mau berbagi pada anda dia bermarga Gurning

    • andy irvan Says:

      Tigor Sihombing yang dikasihi Tuhan,
      Berbagai roh di sekitar kita, seperti Begu Ganjang semuanya manifestasi dari roh anggota sibolis yang gentayangan di udara (Epesus 6:12).
      Mereka itu hanya akan merugikan saudara kalau minta tolong kepada mereka!
      Tetapi yang dapat menyembuhkan hanya satu:”Tuhan Yesus Kristus”!
      Ingat pesan orang tua kita:”Jolma marsangkap, Tuhanta do manantuhon”!
      Untuk mendapatkan solusi, coba hubungi hamba Tuhan di Grj Tiberias:
      Theodorus Tabaraka, Advent Bangun
      Tiberias konseling: 021-45841322 Senin-Sabtu NON STOP 24 jam!
      (Tiberias Center, lt 3, Jl.Boulevard Raya blok PD1/22).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: