Cerita Dahulu (Bagian-3)

Warisan Hukum dan Takdir bagi Manusia di Bumi (Banua Tonga)

Leangleangmandi menyampaikan niat Siboru Deakparujar agar Mulajadi Nabolon dan dewa-dewa di Banua Ginjang datang berkunjung ke Banua Tonga dan memberkati keluarga Siboru Deakparujar. Mulajadi Nabolon mengumpulkan semua penghuni Banua Ginjang dan berkumpul dibawah pohon Sangkamadeha sebagai Sikkam Mabarbar Siara Sundung. Lalu Mulajadi Nabolon bertitah kepada semua penghuni Banua Ginjang dan berkata: “Siboru Deakparujar sudah bekerja keras mengelola bumi menjadi indah dan pantas untuk dimilikinya, dan dia sudah mendapat keturunan dari pasangannya Siraja Odapodap, maka kita akan turun ke Banua Tonga untuk memberkati mereka dan semua ciptaan. Tetapi sebelum turun ke Banua Tonga kalian akan aku bekali kuasa untuk mengatur semua ciptaan sesuai dengan porsi kuasa masing-masing.” 

Sebelum menyampaikan titah kuasa kepada masing-masing dewa maka Mulajadi Nabolon menggeser tubuhnya dari bersender di batang pohon Sikkam Mabarbar Siara Sundung sehingga pohon itu bergoyang mengakibatkan ulat-ulat dari pohon itu jatuh ke dalam air di lautan di Banua Tonga, dan itulah menjadi awal kehidupan dilaut. Kemudian Mulajadi Nabolon bersandar lagi ke batang pohon Sikkam Mabarbar Siara Sundung sehingga pohon itu kembali bergoyang dan menjatuhkan ulat-ulat ke tanah yang ditempa oleh Siboru Deakparujar di Banua Tonga dan ulat-ulat tersebut menjadi asal mula terjadinya semua jenis mahluk yang ada di daratan dan yang terbang diudara. Maka tersebutlah jenis-jenis burung disebut juga sebagai manuk yang berkokok memberitahu tanda akan terjadi terang hari, terciptalah burung ambaroba memberitahukan terik matahari, terciptalah serangga sese memberi tanda sore hari, terciptalah sosoit dan araroma memberi tanda pergantian masa. 

Lalu Mulajadi Nabolon mulai menyampaikan titahnya kepada dewa-dewa mengenai patokan menjadi tatanan kehidupan manusia yang akan dikuasai oleh para dewa-dewa. Dia mengambil satu buah dari pohon Sikkam Mabarbar Siara Sundung dan mencampakkannya ke Bumi di Banua Tonga lalu biji buah itu tumbuh berbuah dan mati, lalu buah yang jatuh itu tumbuh berbuah dan mati lagi. Demikianlah pohon itu ada di Bumi menjadi pertanda waktu di siang hari. Benih pohon Sikkam Mabarbar Siara Sundung yang tumbuh di Bumi disebutlah namanya menjadi Arasundung. 

Pohon Arasundung menjadi penunjuk waktu selama siang hari dimulai dari bertunas di Binsar Mata ni Ari (terbit matahari) sampai Mate Ari (terbenam matahari), disebutlah mulai tumbuh bernama ‘Komis’, lalu berdaun dinamai ‘Bisnu’, lalu berbunga dinamai ‘Sori’, lalu berbuah dinamai ‘Hala’, kemudian buah itu jatuh dan mati dinamai ‘Borma’. (Tunas/Binsar, Tumbuh/Komis, Berdaun/Bisnu, Berbunga/Sori, Berbuah/Hala, Buah Jatuh/Borma). 

Demikianlah pohon Arasundung ini berulang-ulang tumbuh setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun maka pohon ini tumbuh berantai sambung menyambung. Karena pertumbuhan pohon ini menjadi penunjuk waktu setiap hari maka disebutlah namanya ‘Ari-ara’, kemudian menjadi ‘Hari-ara’. Dalam perjalanan tumbuhnya pohon Hariara selama setahun, siang hari dipengaruhi oleh angin dan matahari dan malamnya dipengaruhi oleh Bulan dan Bintang, maka ada terjadi perubahan yang berulang-ulang. Pengaruh tanda waktu itulah disebut sebagai Pane Nabolon. Pohon Hariara yang tumbuh diatas delapan buah akar yang kuat yang mewakili Desa Naualu mengikuti arah mata angin yang disebut namanya berturutan sebagai: Purba, Anggoni, Dangsina, Nariti, Pastima, Manabia, Utara, Irisanna. 

Batangnya mengeluarkan dua belas cabang yang mewakili perputaran bulan dalam setahun dan dinamai sebagai: Sipaha Sada, Sipaha Dua, Sipaha Tolu, Sipaha Opat, Sipaha Lima, Sipaha Onom, Sipaha Pitu, Sipaha walu, Sipaha Sia, Sipaha Sampulu, Li, dan Hurung. Itulah nama-nama dua belas bulan yang ada dalam setahun. Lalu dari setiap cabang keluar dua ranting berpasangan dan dari semua duabelas cabang seluruhnya ada dua puluh empat ranting yang masing-masing dinamai: ‘Haroro ni Panangko’ selepas tengah malam, Tahuak Manuk-1, Tahuak Manuk-2, Buha-buha Ijuk, Torang Ari, Binsar Mata ni Ari, Pangului, Tarbakta, Tarbakta Raja, Sagang ni Ari, Humara Hos, Hos ni Ari, Guling, Guling Dao, Tolugala, Duagala, Sagala, Mate Ari, Samon, Hatiha Mangan, Tungkap Hudon, Sampe Modom, Sampe Modom na Bagas, Tonga Borngin. Itulah yang disebut penunjukwaktu, dinamai ‘Ombas’. 

Kemudian dari setiap ranting tumbuh daun masing-masing berjumlah tiga puluh helai yang melambangkan hari demi hari dalam satu bulan  kehidupan manusia dan dinamai: Artia, Suma, Anggara, Muda, Boraspati, Singkora, Samisara, Antian ni Aek, Suma ni Mangadop, Anggara Sampulu, Muda ni Mangadop, Boraspati ni Tano, Singkora Purnama, Samisara Purnama, Tula, Suma ni Holom, Anggara ni Holom, Boraspati ni Holom, Singkora Mora Turun, Samisara Mora Turun, Antian ni Angga, Suma ni Mate, Anggara na Begu, Muda ni Mate, Boraspati na Gok, Bulan na Gok, Singkora Duduk, Samisara Bulan Mate, Hurung, Ringkar. 

Mulajadi Nabolon memerintahkan Pane Nabolon bersama istrinya Siboru Lindungbulan untuk berkuasa atas segala benda-benda langit. Mereka mempunyai dua anak yang terlahir kembar bernama Sialapariama dan Sialasungsang yang kegiatannya seharian adalah berkeliling-keliling di angkasa dan dari banua Tonga terlihat sebagai bintang. Mereka saling tidak sepaham satu samalainnya dan berpandangan saling bertolak belakang. Apabila satu di utara maka yang satunya di selatan, tetapi keduanya ditugaskan untuk memeriksa perjalanan semua bintang-bintang dan bulan yang bergerak di malam hari. Demikianlah mereka terlihat setiap malam berkeliling mengitari delapan penjuru mata angin ‘desa na ualu’ mengamati Bulan Sasabi, Bulan Tula, Bulan Mate, termasuk dua belas nama bulan, sampai kepada pengamatan Bintang Marihur, Bintang Martimus, Bintang Bisnu, Bintang Borma, Bintang Sori, Bintang Ilala, Bintang Sijombut, Bintang Sigaraniapi, Bintang Sidongdong, dan lainnya yang mempengaruhi kehidupan tumbuh-tumbuhan dan manusia yang ada di Banua Tonga. 

Tersebutlah ke dua Bintang Sialapariama dan Bintang Sialasungsang yang aktif dimalam hari berkelapkelip melumpatlumpat kesanakemari di malam hari seolah sedang menarinari, disebutlah namanya Pane Nabolon, ternyata kedua bintang tersebut sedang berkelahi. Mereka disebut ‘munsatunsat’ kesana kemari untuk saling mengintip mencari kelemahan masing-masing sambil menyusun startegi mengalahkan lawan. ‘Munsat’ menjadi ‘Monsak’ yang berarti ‘pencak’ dan itulah asalmuasal seni beladiri ‘marmonsak’. 

Bintang Sialapariama dan Bintang Sialasungsang bentuknya sama yaitu seperti dua ekor naga setengah melingkar, tetapi mereka mempunyai pendirian dan sifat-sifat yang berlawanan, dan apabila mereka bertemu kepala dengan kepala untuk berkelahi maka dunia akan kiamat. Mereka bergerak mengitari Desa Naualu sepanjang tahun. Sialapariama bertindak sebagai sipemelihara pertanian, sementara Sialasungsang bertindak sebagai sipemelihara ternak. Apabila Sialapariama dan Sialasungsang sedang bergerak, maka mereka akan saling mempengaruhi pergerakan bulan. Bila kepala Sialapariama berada di arah Purba, maka kepala Sialasungngsang akan berada di Pastima, demikian sebaliknya, dan bila kepala Sialapariama berada di Utara maka kepada Sialasungsang akan berada di Dangsina. Ke arah mana posisi kepala mereka berada maka akan mempengaruhi tiga pergerakan bulan. Bila kepala ada di arah Purba maka bulan sipaha sada, sipaha dua, sipaha tolu akan dipengaruhi oleh Pane Nabolon menjadi satu musim. Maka dalam setahun akan ada empat musim yang dipengaruhi oleh Pane Nabolon, yang akan berguna bagi manusia untuk melakukan kegiatannya bertani dan beternak. Pada saat munculnya pergerakan bulan di malam hari maka kemunculan bulan dari mulai Bulan Sasabi, Bulan Tula, dan Bulan Mate selama dua belas bulan setahun juga akan menentukan takdir dan sifat-sifat manusia. Saat tenggelamnya Bulan Mate di suatu bulan tertentu sampai muncul kembali Bulan Mate di bulan berikutnya, demikian seterusnya perjalanannya selama dua belas bulan dalam setahun akan mempengaruhi sifat-sifat manusia dari kelahirannya, maka disebutlah peredaran bulan ini sebagai ‘Parmesa’. 

Dua belas Parmesa disebut sebagai Nitano yang bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Sada sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Dua,  Marsaba bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Dua sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Tolu, Mesa bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Tolu sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Opat, Harahata bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Opat sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Lima, Singa bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Lima sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Onom, Hania bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Onom sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Pitu, Tala bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Pitu sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Ualu, Martiha bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Ualu sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Sia, Dano bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Sia sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Sampulu, Marhara bermula dari Anggara ni Begu di bulan Sipaha Sampulu sampai Suma ni Mate di bulan Li, Martumba bermula dari Anggara ni Begu di bulan Li sampai Suma ni Mate di bulan Hurung, Mena bermula dari Anggara ni Begu di bulan Hurung sampai Suma ni Mate di bulan Sipaha Sada. Berdasarkan pergerakan benda-benda langit yang mempengaruhi alam dan manusia dicatat dalam setahun menjadi kalender yang disebut Parhalaan. 

Mulajadi Nabolon berfirman bahwa alam semesta akan menyediakan sumber kehidupan bagi manusia sesuai tahapan-tahapan yang belaku di dalam setiap perputaran benda-benda langit ciptaanNya.  Setiap takdir kehidupan manusia akan tergambar di pohon Sikkam Mabarbar Siara Sundung tersebut. Kemudian Mulajadi Nabolon bertitah bahwa semua takdir manusia akan tertulis semuanya di Pohon Sikkam Mabarbar Siara Sundung maka inilah sebagai pohon kehidupan manusia dikemudian hari, kemudian dijelaskan sebagai berikut: 

  • Takdir manusia yang berumur panjang akan tertulis di akar pohon itu, dan takdir manusia sebagai raja diraja, raja agung yang tak kurang suatu apapun dan mencapai umur yang panjang akan tertulis di akar yang mengarah sebelah Timur yang disebut Purba.
  • Takdir manusia sebagai raja biasa tertulis di akar pohon sebelah Tenggara yang disebut Anggoni.
  • Takdir manusia menjadi orang yang sangat kaya, tertulis di akar sebelah Selatan yang disebut Dangsina.
  • Takdir manusia menjadi orang kaya biasa tertulis di akar sebelah Barat Daya yang disebut Naradia.
  • Takdir manusia menjadi seorang dukun tertulis di akar sebelah Barat yang disebut sebagai Pastina.
  • Takdir manusia menjadi rumah tangga yang harmonis tertulis di akar sebelah Barat Laut yang disebut Manabia.
  • Takdir manusia yang mempunyai banyak suami dan banyak istri, dan menjadi mikin melarat akan tertulis di akar sebelah Utara yang disebut Utara.
  • Takdir manusia yang hidup mengabdi pada orang lain tertulis di akar sebelah Timur Laut yang disebut Irisanna.
  • Takdir Manusia yang baru punya anak kemudian meninggal akan tertulis di batang kayu.
  • Takdir manusia yang meninggal masih anak-anak akan tertulis di cabang.
  • Takdir manusia yang hanya mencapai umur remaja akan tertulis di Dahan Pohon.
  • Takdir Manusia yang meninggal saat muda akan tertulis di Ranting.
  • Takdir Manusia yang meninggal di dalam kandungan tertulis pada Daun yang sudah jatuh.
  • Takdir Manusia yang meninggal saat sudah bisa duduk tertulis pada Tangkai daun yang sudah tua.
  • Takdir Manusia yang meninggal saat merangkak tertulis pada ujung daun yang akan jatuh.
  • Takdir Manusia yang meninggal saat belajar berjalan tertulis pada Tangkai Daun.
  • Takdir Manusia yang meninggal saat bisa berbicara tertulis pada Daun yang sudah busuk.
  • Takdir Manusia yang di masuki roh tertulis pada Dahan yang bercabang.
  • Takdir Perempuan yang dapat mengobati tertulis pada Ranting yang sudah tua.
  • Takdir Manusia yang sakti tertulis pada Buah yang bagus.
  • Takdir Manusia penakut dan orang bodoh tertulis pada Buah yang tidak bagus.
  • Takdir Manusia pencuri tertulis pada buah yang hendak jatuh. Demikianlah takdir dan suratan tangan kehidupan manusia.

Kemudian Mulajadi Nabolon bertitah kepada Debata Asiasi yang berwujud Manuk Mandoangdoang, bahwa mereka akan diberi tugas untuk memberikan tanda-tanda bagi manusia yang kemudian harus dilaksanakan oleh manusia. Apabila kalian turun ke Banua Tonga atas perintahku, maka itulah sebagai pertanda bagi manusia untuk menyediakan persembahan syukur kepadaku sebagai pencipta alam semesta. Demikianlah pertanda tersebut:

  • Apabila suatu hari nanti dari keturunanmu melihat paruhmu maka segera buat sebuah persembahan berupa babi Simenengeneng agar segala tanaman yang kamu tanam membuahkan hasil.
  •  Apabila kamu menampakkkan perutmu, maka manusia harus segera membuat sebuah persembahan berupa ayam putih agar tidak terjadi mara bahaya.
  • Bila kamu menampakkan kupingmu, maka manusia harus segera membuat sebuah persembahan berupa kambing putih agar tidak terjadi wabah penyakit.
  • Bila kamu menampakkan jengger maka manusia harus segera membuat persembahan berupa kuda merah agar tidak terjadi kelaparan.
  • Bila kamu menampakkan ekor, maka manusia segera membuat dupa  persembahan berupa kerbau agar tidak sampai niat jahat dari kekuatan roh jahat merasuki manusia.
  • Bila kamu menampakkan bulu, maka manusia harus segera membuat persembahan berupa lembu agar tidak terjadi kegelapan.
  • Bila kamu menampakkan badanmu, maka manusia harus segera membuat persembahan berupa kerbau yang mempunyai empat pusaran bulu agar manusia sehat dan mempunyai rejeki melimpah.

Kemudian Mulajdi Nabolon bertitah lagi kepada Debata Asiasi agar sewaktu turun ke Banua Tonga maka kamu harus menyampaikan kepada manusia yang aku katakan ini sebagai pertanda bahwa manusia suatu waktu kelak akan mengalaminya. Maka demikianlah katakan yang akan terjadi pada manusia:

  • Bila kamu menyentuh kepala manusia maka katakanlah bahwa nantinya manusia akan mengalami kematian suami atau istri atau anak.
  • Bila kamu menyentuh bagian mata manusia maka katakanlah bahwa nantinya manusia akan menangis.
  • Bila kamu menyentuh bagian telinga manusia maka katakanlah bahwa nantinya manusia akan disusahkan oleh telinganya.
  • Bila kamu menyentuh bagian mulut maka katakanlah bahwa nantinya manusia akan disusahkan oleh mulutnya.
  • Bila kamu menyentuh pipinya maka katakanlah bahwa nantinya manusia akan mendapat penyakit luar.
  • Bila kamu menyentuh lehernya maka katakanlah bahwa manusia nantinya akan mengalami penyakit dalam.
  • Bila kamu menyentuh bahu dan pundaknya maka katakanlah bahwa nantinya manusia akan mengalami susah payah untuk kehidupannya.
  • Bila kamu menyentuh punggungnya maka katakanlah bahwa manusia nantinya akan mengalami penyakit yang akan susah menggerakkan tubuhnya.
  • Bila kamu menyentuh tangannya maka katakanlah bahwa manusia akan mengalami kesusahan dengan sesamanya.

“Demikianlah katakan kepada manusia dan mereka akan mewarisi keturunan bagai bintang dilangit dan bagai pasir dipantai banyaknya dengan segala kuasa yang aku sampaikan kepadamu untuk engkau berikan sebagai takdir bagi manusia”.

Lalu Mulajadi Nabolon bersabda kepada Bataraguru:

“Wahai engkau Bataraguru, Akulah Mulajadi Nabolon, Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun. Engkaulah yang kuberi kuasa untuk Kebijaksanaan, Hukum Keadilan, Hukum Kerajaan, Pengetahuan, menguasai nasib dan takdir. Engkau pemegang timbangan ‘Gantang Tarajuan’ akan berkuasa dan senantiasa dari Bukit Siunggas ke Bukit Parsambilan, dari embun berlapis tujuh, dari langit tujuh tingkat, dari lembah Sitandiang Sitolu Rupa, dari hutan Pungu ke hutan keramat di Gua Sibada-Bada, dari pohon kayu Simanualang, dari ujung dahan sampai ke akar di ujung bumi, dari batu Garagajulu itulah tempat pensucianmu, dari tikar bambu duri, dari simpang empat, dari rotan terbalik yang bercabang sampai ke Batu Sigiling-giling, dari pohon Kayu Junjung Buhit, dari pohon Hariara yang tumbuh di langit itulah jalanmu ke Banua Ginjang dan Banua Tonga. Turun ke Banua Tonga untuk mengambil dan mengantar keperluan manusia melalui Batu Siungkap-ungkapon melangkahi tangga batu permukaan datar yang terbuat dari gading jalanmu menjumpai manusia, sebab engkaulah yang memakai sorban tudung kepala ‘Talungkup’ seperti perahu besar berikat kepala dari kain berpilin tiga warna, punya Gagak Hitam, punya Burung Nanggarjati di taman bukit yang ditumbuhi pohon bagot, di taman yang ditumbuhi pohon Sirih, jika suatu hari nanti manusia datang kepadamu berikanlah mereka kehidupan sebab engkaulah yang membuka telinga pendengaran manusia, mengetahui kata-kata yang salah dan benar, juga membuka telinga manusia. Engkau menunggang kuda hitam dan memakai baju hitam”.

Demikianlah Mulajadi Nabolon bertitah kepada Debata Bataraguru dan Mulajadi Nabolon bertitah kepada Debata Sori:

“Wahai Debata Sori, Akulah Mulajadi Nabolon, Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun. Engkau kuberi kuasa atas manusia untuk segala Keabadian, Hukum Kesucian, Kemuliaan dan Kharisma. Jagalah manusia seperti bayi, gembalakan manusia, jagalah manusia sewaktu mencari nafkah. Engkau menunggang kuda putih, berpakaian putih dan berikat kepala merah, engkau menyandang pisau bermata dua, membuka mata manusia untuk mengetahui yang benar dan yang salah. Ajarkan manusia bahwa akan ada kehidupan roh abadi selain hidup semasa hidup manusia, Ajarkan manusia bahwa hidup dan mati adalah kuasaku, Ajarkan manusia supaya bersyukur atas apapun yang dialaminya dibumi, Ajarkan manusia bahwa mereka akan mendapat ‘Tumpal Hangoluan’ kelak sesuai dengan perbuatannya di bumi”.

Kemudian Mulajadi Nabolon bertitah kepada Debata Mangalabulan:

“Wahai Debata Mangalabulan, Akulah Mulajadi Nabolon, Maha Mulia, Maha Kuasa,  Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun. Engkaulah yang berkuasa atas manusia untuk Kekuasaan, Kekuatan, Kesaktian. Engkau disebut juga Debata Mangalabulan dan keturunanmu Bala Bulan, Bulan Martabun, Bulan Marubun, Datu Paratalatal, Datu Parusulusul, yang mengendarai kuda sembrani merah, memakai pakaian baju merah berikat kepala putih, memakai pisau bermata dua, tombak berujung dua, dan sebagai mula kuasa pengobatan perdukunan. Keturunanmu disebut juga sebagai Raja Padoha, Naga Padoha Niaji yang berwujud Ular Naga bertanduk tujuh, berkuasa di Banua Toru dan menjadi sumber segala malapetaka bagi manusia yang tidak mematuhi ‘patik’ dan ‘uhum’ seperti yaitu Dalihan Natolu dan Tarombo.”

Kemudian Mulajadi Nabolon berkata kepada semua dewa-dewa:

”Wahai dewa-dewa, itulah kuasa-kuasa yang kuberikan kepadamu agar manusia dapat meminta kuasa itu untuk kebajikan manusia memuliakanku. Dengan kuasa-kuasa itu maka manusia akan mempunyai perbedaan-perbedaan sesuai dengan kuasa yang dimilikinya”. Kemudian mereka turun dari Banua Ginjang; Mulajadi Nabolon, Debata Asiasi, Debata Natolu dan dewa-dewa lainnya turun dari langit dari parlangitan, melalui benang yang dipintal oleh Siboru Deakparujar ke Banua Tonga dan mereka tiba dimana Siboru Deakparujar, Raja Odapodap beserta dua anaknya Raja Ihat Manisia dan Siboru Itam Manisia berada. Tempat itulah yang disebut Sianjur Mula-mula, Sianjur Mulajadi, Sianjur Mulatompa di puncak Dolok Pusuk Buhit, yang berhadapan dengan laut, disana mengalir air terjun melingkar, dan kolam yang dikelilingi jabi-jabi tempat untuk memcuci muka dan mandi disiang hari dan malam  hari. Tempat itu diapit oleh dua lautan dimana Dolok Pusuk Buhit bertumpu. Disitu juga terdapat tempat keramat Nalaga dimana Mulajadi Nabolon menjejakkan kakinya di Banua Tonga.”

Maka mereka yang tinggal di Banua Tonga membuat sajian persembahan kepada Mulajadi Nabolon berupa Kuda Putih yang disebut Hoda Sihapaspili, Daun Kemangi, dan Daun Sirih, yang disajikan diatas benda-benda berharga yang disebut Homitan, agar manusia dapat dan mampu berhubungan langsung dengan Mulajadi Nabolon. Kemudian kepada Debata Natolu diberikan sajian persembahan berupa Jeruk Purut, Daun Kemangi, dan Tuak Tangkasan yang disajikan diatas cawan. Kepada Debata Asiasi disajikan persembahan berupa Lampet dan itak, Daun Sirih dan bunga-bungaan yang wangi, lalu mereka diberkati. Lalu bersabdalah Mulajadi Nabolon agar para dewa menyampaikan hukum-hukum dan pengetahuan kepada manusia. Kemudian Mulajadi Nabolon bersama para dewa naik ke Banua Ginjang melalui benang yang dipintal oleh Siboru Deakparujar.

Siboru Deakparujar dan Raja Odapodap juga turut serta ke Banua Ginjang karena mereka memang dewa dan dewi penghuni Banua Ginjang, tetapi Debata Asiasi bersama Raja Ingotpaung masih tinggal untuk menyampaikan kodrat dan takdir yang akan diterima oleh Raja Ihat manusia dan Siboru Itam Manisia. Sewaktu Mulajadi Nabolon dan para dewa naik ke Banua Ginjang melalui benang yang dipintal oleh Siboru Deakparujar maka Raja Ihat Manisia dan Siboru Itam manisia ingin ikut serta ke Banua Ginjang, tetapi benang tersebut terputus dan melayang layang ke segala arah Desa Naualu, maka tinggallah mereka di Banua Tonga bersama Debata Asiasi untuk mendapatkan takdir. Debata Asiasi akan mengajarkan semua Patik dan Uhum yang sudah difirmankan oleh Mulajadi Nabolon.

Setelah seluruh takdir disampaikan oleh Debata Asiasi kepada Raja Ihat Manisia dan Siboru Itam Manisia maka naiklah Debata Asiasi ke Banua Ginjang melalui Batu Nanggarjati, dan selanjutnya Debata Asiasi menjadi penghubung antara manusia dan Mulajadi Nabolon di Banua Ginjang. Demikianlah manusia berkembang beranak-pinak keseluruh Desa Naualu sampai saat ini.

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

Sebelumnya <<<>>> Selanjutnya

One Response to “Cerita Dahulu (Bagian-3)”

  1. relinawati Says:

    trimakasih atas kisahnya, saya sangat senang membacanya, membuat bertambhnya pengetahuan …….syalom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: