Cerita Dahulu (Bagian-5)

Perkembangan dan Penyebaran Manusia di Bumi

Tiga anak manusia itu selalu berjalan berdampingan dihutan-hutan, gunung-gunung sambil berburu binatang untuk dimakan maupun untuk sajian persembahan. Disuatu hari sewaktu mereka berjalan bersama, mereka mendengar suara-suara nyanyian, berpantun, tertawa-tawa yang datang dari arah kolam pemandian yang terbentuk dari aliran  air-terjun, lalu merekapun  menghentikan langkahnya lalu berseru menanyakan siapa yang ada dikolam pemandian itu, tiba-tiba senyap dari suara dan terlihat tujuh wanita  cantik terbang ke angkasa dan menghilang. 

Pada kesempatan berikutnya mereka bertiga berniat untuk mengintip dan mengetahui siapa wanita yangmandi tersebut. Tiba suatu saat tujuh putri yang sedang mandi tersebut tanpa sadar sudah diamati oleh tiga anak manusia itu. Ke tiga anak manusia itu terpesona melihat ke tujuh putri yang sedang mandi itu, maka secara diam-diam mereka bertiga berniat menangkap tiga diantara tujuh putri tersebut. Lalu Raja Miok-miok, Patundal Nabegu, dan Aji Lapas-lapas memilih yang tercantih bagi mereka dan mengambil pakaian tiga putri tersebut. Sewaktu ke tujuh putri tersebut menyadari ada kehadiran manusia maka mereka pergi terbang ke angkasa namun tiga diantaranya tertinggal karena pakaiannya telah diambil oleh tiga anak manusia. Demikianlah Raja Miok-miok, Patundal Nabegu, dan Aji Lapas-lapas membawa masing-masing satu putri menghadap kepada orangtuanya dan mereka diberkati menjadi pasangan dan berkembanglah keturunan manusia. 

Demikian kejadiannya  manusia berkembang berketurunan generas-bergenerasi menguasai bumi yang mampu dikuasainya. Dalam perjalanan kehidupannya Raja Miok-miok lebih banyak memakai dan mempertinggi roh Sidari Mardumpang, roh Si Raja Alim, roh Si Aji Humik. Oleh karena kuasa atas roh-roh ini dikuasai oleh Debata Sori yang bertahta di Banua Ginjang, maka Raja Miok-miok lebih mengabdi kepadanya dan dia membangun Dinasti kerajaannya bernama Dinasti Sori yang berlangsung selama beratus-ratus generasi. Patundal Nabegu, dalam perjalanan kehidupannya mengabdi kepada Debata Mangalabulan yang menguasai roh Si Aji Runggu-runggu, roh Si Raja Kuat, roh Sidari Mangambat. Sementara Aji Lapas-lapas mengabdi kepada Debata Bataraguru yang menguasai roh Si Raja Aksara, roh Si Raja Muda, roh Si Aji Porjat. 

Dalam pengabdiannya kepada Debata Bataraguru, Aji Lapaslapas selalu menyediakan sesajian lalu manortor dan martonggo untuk diberikan kebijakan dan kepintaran. Maka Debata Bataraguru memberikan ilmu pengetahuan tentang aksara, dan melalui Debata Asiasi maka diturunkan  sebanyak tujuh belas aksara sama seperti banyaknya roh yang bersemayam pada mereka, kemudian ada empat tanda bunyi suara, satu tanda pangolat, satu tanda hamisaran bunyi sengau, dan satu kumpulan tanda hitungan. Disuruhnya anaknya Mangarapintu mempersiapkan bambu dan kulit kayu yang disebut Laklak agar aksara yang disampaikan Debata Bataraguru dapat diukir dikulit kayu tersebut. Setelah seluruh aksara telah dipahat dan diukir oleh oleh Siaji Lampaslampas bersama anaknya Mangarapintu, maka senanglah dia dan bertambah pengetahuannya dan lembaran Laklak kulit kayu yang berisi aksara itu dinamai Lopian. Maka terciptalah aksara dan tanda-tanda bacanya untuk dipergunakan oleh manusia di dalam kehidupannya. Ke tiga anak manusia dan pasangannya hidup secara kelompok berkelompok namun masih dalam satu hukum dasar yang disebut ‘Patik Dalihan Natolu’. 

Kelompok Raja Miokmiok menjadi kelompok manusia berkulit merah, sementara kelompok Patundal Nabegi menjadi kelomok manusia berkulit putih, sedang kelompok Aji Lampaslampas menjadi kelompok manusia berkulit hitam. Mereka hidup berdampingan antar kelompok dan berumur panjang sampai ada yang berusia seribu tahun umurnya. Demikianpula manusia beranak pinak berkelompok-kelompok dan masing-masing mempunyai peran dimasyarakatnya sesuai dengan dominasi roh-roh yang bersemayam di dalam dirinya, ada yang berfungsi sebagai pemimpin seperti raja, ada sebagai masyarakat biasa, semuanya hidup rukun, makmur turun temurun ribuan tahun lamanya. 

Demikianpula Raja Miokmiok berketurunan generasi ke generasi Siraja Ingotingot, Siraja Hatahutan, Simarimbulubosi, Siporhasladang, Siraja Marhosa, Siraja Niasi, Siraja Ijolma, Sianggobanua, Siraja Domia, Siraja Mandapoti. Demikianpula Patundal Nabegu berketurunan dan bergenari sampai dua belas generasi, demikianpula Aji Lampaslampas berketurunan sebanyak dua belas generasi, sehingga manusia bertambah banyak, ratusan ribu banyaknya. Generasi-generasi manusia ini masih keturunan langsung dari para dewa yang turun ke Banua Tonga untuk melahirkan nenek moyangnya. Mereka adalah keturunan manusia yang cerdas, berpengetahuan tinggi, dan mampu berhubungan langsung dengan para dewa di Banua Ginjang. Dari awal generasi mereka patuh akan ‘Patik dan Uhum’ yang diturunkan langsung dari Banua Ginjang yaitu yang disebut ‘Dalihan Natolu’. 

Seiring dengan perjalanan waktu maka generasi demi generasi berkembang dengan pengetahuan teknologi yang tinggi memampukan mereka dapat berkomunikasi satu sama lainnya hanya dengan kekuatan pikiran telepati. Mereka dapat bepergian ke berbagai tempat dengan wujud maya atau dengan sejenis kendaraan yang dapat melayang-layang di angkasa. Sedemikian berkembangnya pengetahuan manusia itu, demikianpula bertambah banyak yang berperilaku menyimpang dari ajaran-ajaran yang dititahkan oleh Mulajadi Nabolon. Sementara di Banua Ginjang pun terjadi juga pertengkaran antara Sihalapariama dan Sihalasungsang yang belum mau berdamai sehingga mereka tidak lagi mau bertemu satu sama lain, Tetapi Mulajadi Nabolon tidak begitu mempersoalkan mereka yang tidak mau berjumpa satu sama lain, karena kalaupun berjumpa mungkin akan kacau semua angkasa. 

Debata Natolupun melihat perangai manusia sudah jauh menyimpang lalu mereka berembuk untuk melaporkan perangai manusia ini kepada Mulajadi Nabolon agar merestui pemberian hukuman kepada manusia. Ketika Debata Natolu menyampaikan laporan mereka maka Mulajadi Nabolon setuju untuk menghukum manusia tetapi bagi mereka yang patuh menjalankan ‘Dalihan Natolu’ dan memelihara ‘Tarombo’ supaya diberikan kekuatan agar dapat lolos dari hukuman yang akan dijatuhkan kepada manusia. 

Manusia yang tetap mematuhi ‘Patik dohot Uhum’ akan memiliki kesempatan untuk selamat. Manusia yang berbudi luhur, menghormati ajaran leluhur, berhati jujur dan membela kebenaran akan masuk ke Banua Ginjang sesuai perilaku dan ditempatkan di langit pertama sampai ketujuh. Manusia yang terutama tidak memelihara ‘Tarombo dan Dalihan Natolu’ akan keluar dari Kerajaan Mulajadi dan menjadi penghuni Banua Toru dan masuk menjadi kelompok ‘Hatoban = Budak’ dan tak lagi masuk kepada kelompok bangsa pilihan. 

Demikianlah kuasa diberikan kepada Naga Padoha, belenggunya dilepas dari ikatannya dan bumi bergoncang, beterbangan dan pindah dari tempatnya. Api dan lahar keluar dari mulut Naga Padoha, pitu-pintu air dibuka oleh penguasanya, matahari bersembunyi bertahun-tahun lamanya, Bulan dan Bintang menyingkir di malam hari. Tak ada lagi kehangatan matahari, seluruh bumi menjadi dingin sehingga kehangatan ulos tidak mampu menghambat dingin, bumi gelap gulita sehingga manusia yang tidak memiliki ‘sahala’ dan ‘tondi’ dari Mulajadi Nabolon menemui ajalnya. 

Segala manusia yang tidak menyembah dan memberikan sesajian kepada Naga Padoha sebagai penguasa Banua Toru binasa. Akibat merontanya Naga Padoha maka semua yang dimiliki manusia hancur binasa. Sejumlah kecil manusia dari kelompok keturunan Raja Miokmiok, Patundal Nabegu, dan Aji Lampaslampas yang tetap memegang ajaran leluhur dapat selamat walaupun mereka ada yang terpencar kesegala penjuru dunia. Ada juga kelompok manusia yang mampu meloloskan diri ke angkasa luar. 

Demikianlah murka itu menimpa Bumi yang tadinya indah menjadi porak poranda, bahkan bongkahan bumi berpindah pindah tidak karuan membentuk pulau-pulau kecil. Untuk kurun waktu yang lama suasana bumi menjadi gelap gulita dan tiada penerangan dimalam hari. Matahari tidak memunculkan diri dan bulan pun bersembunyi. Awan gelap menutupi angkasa dan mahluk yang hidup di angkasapun ikut binasa. Dataran menjadi gunung-gunung yang muncul disana sini dan tidak terlihat pepohonan tumbuh. Kemarahan Naga Padoha layaknya tidak akan berhenti untuk menghukum manusia menuju hari kiamatnya. Keputusasaan dan kepasrahan manusia berserah kepada maha pencipta Mulajadi Nabolon membuatnya sadar akan ketidak berdayaannya sebagai ciptaan yang harus menjaga ciptaan lainnya. 

Demikianlah kelompok-kelompok manusia yang memiliki ‘Sahala’ dan ‘Tondi’ dari Mulajadi Nabolon menjadi selamat, tetapi mereka sudah terpencar kesegala penjuru Bumi. Mereka kembali menjadi manusia yang tidak memiliki apa-apa lagi, tak mampu bahkan untuk berpakaian seperti nenek moyangnya terdahulu, bahkan merekapun sulit mencari makanan dengan berburu binatang yang masih tersisa selamat dari bencana, termasuk serangga dan binatang melata yang mampu beradaptasi dengan keadaan masa itu. Adapula jenis binatang yang terkena bencana menjadi berubah drastis kepintarannya dan mampu menyelamatkan diri dan bahkan menjadi seperti manusia dan hidup berdampingan dengan manusia. 

Kelompok keturunan Raja Miokmiok bertahan hidup di Bonapasogit, sebagian terdampar ke berbagai pulau-pulau. Ada yang ke arah Barat, ada yang ke Timur, ada yang ke Utara, dan ada yang ke Selatan, sampai ke Asia kecil, dan sampai pula ke Benua Amerika. Setelah mereka dapat bertahan ribuan tahun sampai keadaan Bumi menjadi pulih kembali maka kehidupan merekapun berkembang menjadi bangsa-bangsa. Dari kelompok keturunan inilah bangsa yang hidup di Kepulauan Nusantara, Bangsa Melanesia, Bangsa Mikronesia, Bangsa Amerika, Bangsa Indus, Bangsa Andaman. 

Kelompok Patundal Nabegu terdampar menyelamatkan diri ke Asia Barat. Setelah mereka dapat bertahan ribuan tahun sampai keadaan Bumi menjadi pulih kembali maka kehidupan merekapun berkembang menjadi bangsa-bangsa. Dari keturunan kelompok inilah bangsa yang hidup di Irak, Turki dan berkembang menyebar sampai ke Eropah, dan sebagian menyebar ke Asia Kecil  di Pakistan, India, Mongolia. Oleh karena Bumi di kawasan ini lebih lama mengalami pemulihan sehingga mereka menjadi nomad dan berpindah jauh ke segala penjuru Eropa dalam kelompok-kelompok kecil. 

Kelompok Aji Lampaslampas terdampar menyelamatkan diri ke Afrika. Setelah mereka dapat bertahan ribuan tahun sampai keadaan Bumi menjadi pulih kembali maka kehidupan merekapun berkembang menjadi bangsa-bangsa. Dari keturunan kelompok inilah bangsa yang hidup di Sudan, Etiopia, dan sebagian mengembara ke Afrika Utara menjadi bangsa Mesir. Sebagian kecil kelompok manusia yang pada masa itu sudah mengembangkan teknologi maju mengungsi ke angkasa luar dan setelah ribuan tahun mereka menjadi bangsa Alien. Sementara adajuga kelompok binatang cerdas mampu selamat dan menjadi manusia Purba.

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

Sebelumnya <<<>>> Selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: