Cerita Dahulu (Bagian-6)

Dinasti Batak Menetap di Tanah Kelahiran Manusaia Pertama

Tersebutlah seorang bijaksana di antara sedikit manusia yang tersisa dari keturunan Raja Miokmiok yang tetap menghuni Bonapasogit memohon ampun kepada Mulajadi Nabolon untuk menghentikan kemarahan Naga Padoha yang berniat membinasakan manusia dan mahluk lainnya. Manusia tersebut mendapat petunjuk dari Mulajadi Nabolon untuk mengikat Naga Padoha. Manusia yang mengikat Naga Padoha tersebut disebutlah namanya Sisiak Dibanua, yang mempunyai arti ‘Seorang yang mengalami penderitaan dibumi’. 

Demikianlah Sisiak Dibanua berupaya menata kembali kehidupan masyarakatnya. Mereka menjadi taat kepada Mulajadi Nabolon, kepada para dewa-dewa dan kepada penguasa-penguasa di Banua Ginjang, Banua Tonga, Banua Toru. Bumi membentuk kehidupan yang baru, kegelapan menjadi terang, awan gelap menyingkir dari angkasa, Matahari memunculkan dirinya, bulan keluar dari persembunyiannya, air mengalir dari gunung-gunung membentuk alur yang baru, hujan turun membasahi ketandusan, tunas-tunas segala tumbuh-tumbuhan berkembang dan binatang-binatang berkembang biak memenuhi bumi. 

Siklus alam berjalan menjadi lebih baik. Manusia dicukupkan dengan ketersediaan pangan yang berlimpah. Manusia hidup berumur panjang dan bertubuh tinggi dan besar. Manusia bertambah banyak jumlahnya sehingga mereka hidup berkelompok-kelompok untuk mengolah bumi sesuai keperluannya. Pengetahuan mereka semakin bertambah dan menggali kembali peradabannya yang sudah diajarkan oleh Mulajadi Nabolon dan para dewa-dewa kepada nenek moyangnya terdahulu. Mereka melakukan banyak ritual-ritual penyembahan kebada pencipta dan nenek moyangnya sebagai wujut pengucapan syukur kepada pencipta, dan alam-pun telah menyediakan kehidupan kepada mereka. Maka mereka ada yang hidup di lembah, pegunungan, ada di dataran rendah, ada di tepi pantai pinggiran laut. Berkerkembanglah manusia berketurunan generasi bergenerasi. 

Sedemikian banyaknya manusia, ratusan ribu banyaknya bahkan sudah jutaan, maka mereka perlu mengembangkan wilayah pemukiman yang dapat mendukung ketersediaan pangan bagi mereka. Setelah manusia berkembang seratus generasi maka mereka secara berkelompok-kelompok yang sepaham berbagi wilayah yang disebut: Kelompok Sijau Nias ke arah Dangsina menyeberang lautan ke pulau Nias, Kelompok ‘Siujung Aceh’ yang bermigrasi ke arah Pastina, dan Kelompok yang tetap menempati wilayah asal mereka yang dipimpin oleh Raja Bonang-bonang. Kelompok Sijau Nias mengembangkan peradaban masyarakatnya dengan segala kebiasaan-kebiasaan yang menjadi adat istiadatnya. 

Demikian pula Siujung Aceh mengembangkan peradaban masyarakatnya dengan segala kebiasaan-kebiasaan yang menjadi adat istiadatnya, dan kelompok yang dipimpin Raja Bonang-bonang juga mengembangkan mayarakatnya sesuai kebiasaan-kebiasaan yang menjadi adat istiadatnya demikianpula berkembang sejarahnya masing-masing. Peristiwa ini memicu manusia menyebar ke penjuru dunia mencari tempat bermukim yang lebih baik untuk kelompoknya dan sebagian kelompok menutup diri didalam keterbatasan dan merasa terpuaskan di alam lingkungannya. 

Generasi demi generasi dari kelompok Raja Bonang-bonang bermukim diwilayah peradaban tua nenek moyangnya yaitu dikawasan Pusuk Buhit dan pulau Samosir termasuk dipinggiran luar Danau Toba. Mereka sudah mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang bercocok tanam dan mengolah lahan, ilmu perbintangan, ilmu pengobatan, ilmu tentang hukum, ilmu pemerintahan, dan keagamaan. Semua ilmu yang berkembang saling berkaitan dan berhubungan satu sama lainnya, karena itulah disebut Bonang-bonang. 

Pada masa ini perkembangan spiritual masyarakat antara pencipta, para dewa-dewa, arwah leluhur menjadi sesuatu yang sakral dan tidak boleh dipermain-mainkan. Pada masa ini sudah berkembang aksara sebagai media sakral dan suci. Orang yang memegang dan menguasai aksara menjadi orang pintar, panutan, tempat bertanya, memiliki kesaktian dan kemampuan supranatural, menjadi media untuk berhubungan dengan arwah leluhur dan Mulajadi Nabolon dan para dewa-dewa. Maka mereka inilah yang disebut ‘datu’. Mereka mengenal kepintaran dibidang perbintangan seperti Parmesa, Parhalaan, Penunjuk waktu dari mulai jam, hari, bulan, dan tanda-tanda alam. 

Pada masa ini sudah berkembang pemerintahan yang berbentuk kerajaan, namun seorang raja bukanlah berbentuk absolut, namun kepemimpinan seorang raja lebih banyak bersifat ‘Hasangapon’ diluar konteks harta dan kekayaan, karena tidak ada istilah perbudakan, melainkan harmoni kehidupan  merupakan kehidupan yang normatif. Masyarakat memegang teguh ‘Dalihan Natolu’ sebagai roh kehidupan bermasyarakat yang tidak memandang bulu dari strata mana seseorang berinteraksi dengan sesamanya. 

Ritual-ritual kemasyarakatan yang menyajikan kurban sajian berupa tanam-tanaman, ternak dan binatang dari mulai ihan (ikan batak), manuk (ayam/burung), kambing-domba, kuda, kerbau, gajah, sebagai pengejawantahan pengucapan syukur kepada pencipta alam semesta. Pada masa ini sudah berkembang pantun-pantun dan puisi sebagai alat komunikasi diantara sesama masyarakat. Pemerintahan sudah terbagi atas beberapa tingkatan (bukan kasta) dari tingkatan regional sampai terpusat yang dipimpin oleh seorang raja. 

Demikianlah kelompok generasi Raja Bonang-bonang ini berkembang menjadi suatu Dinasti yang mengembangkan masyarakatnya selama ribuan tahun dan menjadi makmur tanpa mengenal adanya konflik internal maupun eksternal. Sejarah bangsa ini berulang kembali, semuanya karena sifat manusianya yang tidak lagi menjaga keseimbangan alamnya, sampai suatu ketika malapetaka bencana alam yang maha dahsyat kembali menghancurkan keberadaan Dinasti ini, bahkan sampai kedaratan dan kepulauan lain yang mengitari Sumatera seperti kepulauan Andaman, Afrika, Asia dan Semenanjung. 

Tatanan kehidupan masyarakat juga ikut berantakan layaknya tak berjalan lagi sistim kemasyarakatan yang sudah sedemikian maju sebelum terjadinya bencana alam itu. Masyarakat terpecah belah kedalam kelompok-kelompok kecil. Kebanyakan mereka secara berkelompok memutuskan untuk keuar dari kawasan tanah leluhurnya. Kelompok-kelompok masyarakat ini tersebutlah kelompok-kelompok yang membentuk dinasti-dinasti baru seperti; 

Dinasti Mbahar yang kemudian menjadi asal muasal Suku Batak Karo, Dinasti Gayo yang kemudian menjadi asal muasal Suku Batak Gayo, Dinasti Alas yang menjadi asal muasal Suku Batak Pakpak dan kemudian terjadi pencabangan Suku Batak Dairi, Dinasti Nagaisori yang kemudian menjadi asal muasal suku-suku di Selatan sampai ujung Sumatra seperti Minangkobau, Maulae, Purajungan, Pugalumbang, Raja Nabasa, Bungkulan, sementara dipusat tanah leluhur bermukim yang sulung Dinasti Raja Tantan Debata. 

Dinasti Raja Tantan Debata berkembang mengikuti tatanan kehidupan masyarakat leluhurnya terdahulu. Demikian pula kelompok Deanggo, Tauraja, Bagaslaut. Mereka sudah melakukan hubungan dagang dengan kelompok-kelompok masyarakat dari pencabangan terdahulu yaitu dari suku-suku di Aceh, Gayo, Nias. Hubungan dari luar sudah berlangsung saat itu yaitu dengan keturunan-keturunan manusia terdahulu yang sudah terdampar di kepulauan-kepulauan lain, benua lain dan semenanjung lainnya. 

Hubungan dengan dunia luar ini belum begitu padat intensitasnya sebagaimana hubungan dagang jual beli atau barter, melainkan manusia dari benua lain berkunjung sebatas yang diistilahkan mudik sambil membawa kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh mereka dari tanah leluhurnya untuk keperluan ritual. Ilmu pengetahuan tertinggi dibumi sudah mereka miliki, seni pahatan, seni ukir-ukiran, lukisan dengan warna dominan hitam-putih-merah, teknologi bagunan, dan bercocok tanam. 

Sistim Pemerintahan sudah berkembang yang dipimpin oleh Maharaja yang disebut ‘Siraja Batak’. Siraja Batak bukanlah nama seorang raja melainkan sebagai nama kelompok dinasti yang turun temurun memegang kultur dan peradaban Batak dengan menerapkan ‘Dalihan Natolu’ secara utuh sebagaimana nenek moyangnya terdahulu dari kelompok Dinasti Raja Bonang-bonang dan kelompok Dinasti Raja Tantan Debata. 

Kelompok-kelompok terdahulu yang sudah menyebar keseluruh penjuru bumi tidak lagi mempunyai kesamaan peradaban dengan peradaban masyarakat yang bermukim di tanah leluhur manusia itu. Intensitas hubungan dengan dunia luar sudah demikian ramai yang mengakibatkan sering terjadinya ekses-ekses keamanan negri. 

Pada masa Dinasti ini Siraja Batak mengembangkan pengamanan negrinya dengan membentuk berkelompok-kelompok pasukan, dari mulai pasukan infantri, pasukan berkuda termasuk kereta perang berkuda, pasukan gajah, dengan persenjatan seperti ambalang, panah-busur dan tameng. Sementara pasukan laut diperlengkapi di pintu-pintu muara sungai yang dimasuki oleh kapal-kapal. Para datu mengembangkan jenis-jenis senjata rahasia yang difungsikan mampu untuk terbang, yang hanya ditempatkan disekitar pusat pemerintahan saja. Semua perangkat-perangkat pertahanan yang demikian ditempatkan dikawasan jauh dari pusat pemerintahan, seperti dipantai-pantai dan akses yang bisa dimasuki oleh musuh. 

Pusat pemerintahan ditempatkan di tanah leluhur di pulau yang dikelilingi oleh kanal air yang besar dan luas sehingga akan menyulitkan musuh untuk masuk ke pusat pemerintahan. Pusat pemerintahan ini lebih tepatnya disebut sebagai kawasan suci yang sakral. Di kawasan sakral ini terdapat airterjun dan tempat pemandian raja dan keluarganya. Disinilah Siraja Batak bermukim sebagai maharaja yang lebih banyak mengabdi sebagai utusan Tuhan untuk membawa bangsanya menjadi aman sentosa dan makmur tanpa kekurangan sesuatu apapun. Siraja Batak hanya merupakan sebutan bagi kelompok yang disebut Bangsa Batak dan berkembang generasi demi generasi ribuan tahun lamanya dan tertutup sebagai pemerintahan teokrasi. 

Dalam pemerintahan turun temurun Siraja Batak sampailah dimasa salah satu raja dari Siraja Batak mempunyai dua orang menteri yang sangat bijaksana dan sangat berkuasa atas pemerintahan Dinasti Siraja Batak. Kedua menteri mengendalikan pemerintahan sementara Siraja Batak hanya sebagai maharaja yang dianggap berhubungan langsung dengan Mulajadi Nabolon dan para dewa-dewa. Ke dua menteri tersebut bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Untuk memberikan pembagian kekuasaan kepada ke dua menterinya maka Siraja Batak bermohon doa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan kebijaksanaan kepadanya untuk menentukan fungsi ke dua menterinya itu, maka dia berdoa: 

“Hamba memanggil dan berdoa kepada yang mulia leluhurku Debata Asiasi, Debata Natolu, tiga kekuasaan, tiga kerajaan, dikediaman yang mulia, Mulajadi Nabolon, yang awal dari segala yang ada, yang awal dari hikmat, hikmat dari malaikat Siuntunguntung Nabolon, malaikat Leangleangmandi, yang selalu membawa rejeki dimasa kesulitan, selalu ringan kaki bila diminta bantuan, selalu datang berkunjung mengayomi, selalu membukakan pintu bila dikunjungi, yang suka mencerahkan langit, suka mengumpulkan embun dikala terik matahari, yang bersedia menyampaikan sembah sujut kepada yang mulia Mulajadi Nabolon. Datanglah yang mulia dari surga Banua Ginjang, dari tempat yang maha tinggi, dari langit diatas langit, dari embun bertujuh lapis, dari langit tiga tumpuan, datanglah yang mulia; tidur diawali kesenangan, pengayoman diawali dari nama baik, niat diawali dari ingatan, kata pembuka diawali tabuhan gendang, menari diawali irama gendang. Kami sangat mengenal yang mulia dari surga pemilik telaga beriakriak, pemilik air berlimpah ruah, pemilik batu galangan, pemilik cawan suci, pemilik kuda sibelang, pemilik malaikat siburung sakti Patiaraja, pengiring balatentara. Agar yang mulia memberkati kami, hikmat mulia, hikmat kerajaan, menjadi bagian dari anakku yang dua ini, Tatea Bulan dan Isumbaon.”  

Demikian Siraja Batak berdoa ‘martonggo’ dan dipenuhi oleh Mulajadi Nabolon dengan mengirimkan dua bandul gulungan kitab. Kitab pertama berisi tetang hadatuon (ilmu pengobatan), habeguon (ilmu gaib), parmonsahon (ilmu beladiri), pangaliluon (ilmu sulap/menghilang, dan disebut sebagai kitab ‘Pustaha Homitan’ dan diserahkan kepada Guru Tatea Bulan. Kitab kedua berisi tentang harajaon (ilmu pemerintahan), paruhumon (ilmu tentang hukum), parumaon (ilmu tentang tatakota), partigatigaon (ilmu perdagangan) disebut sebagai kitab ‘Pustaha Paradaton’ dan diserahkan kepada Raja Isombaon. 

Dengan sedemikian banyak ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Siraja Batak maka dinasti ini sangat makmur, aman, tenteram, sentosa, dan menjadi pusat peradaban bagi dunia luar sampai ke benua-benua lain. Pusat pemerintahan di kawasan Toba hanya sebagai kota suci dan menjadi tahta raja-raja, sementara kegiatan rakyat berserak sepanjang Banuarea. Ada juga kerajaan-kerajaan lainnya dari turunan generasi sebelumnya yang tunduk kepada kemaharajaan Siraja Batak seperti Raja Asiasi Tunggulniuji dan Langkasomalidang, namun mereka berkembang dan membentuk komunitasnya diluar kawasan leluhur. 

Dinasti Siraja Batak berlangsung ribuan tahun lamanya sampai suatu ketika kembali bencana mahadahsyat terjadi lagi akibat Naga Padoha terlepas lagi dari ikatannya, dia mengutuk, menggeliat dan mengguncangkan badannya sehingga api membakar, batu dan debu berhamburan, bumi gelap dan dingin, Air dari laut naik sampai kepuncak gunung menghancurkan segala yang dilaluinya. Dinasti ini hilang tertimbun batu dan debu puluhan meter dibawah kisaran pusat kota suci dan bahkan hancur terbakar api dari muntahan yang keluar dari mulut Naga Padoha, tereret oleh aliran air dan hanyut terbawa sampai keujung bumi. Puluhan ribu manusia yang bertempat tinggal dikawasan disekitar pusat kota suci punah. Manusia-manusia dari kerajaan-kerajaan luar ikut hancur lebur akibat bencana kemarahan Naga Padoha. Dataran subur diluar kota suci menjadi bergunung-gunung dan berbukit-bukit tertimbun tanah yang berguncang dan berhamburan, sehingga semuanya terlihat memerah dan tandus. Sejak kejadian ini kehidupan manusia sudah tidak lagi tertata.

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

Sebelumnya <<<>>> Selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: