Cerita Dahulu (Bagian-7)

Berkembangnya Dinasti-dinasti Marga

Tersebutlah sekelompok orang dari keturunan dinasti Siraja Batak setelah sembilan dinasti yang merindukan dan mencari tanah leluhur mereka setelah ribuan tahun hilang lenyap dari pandangan dan hati mereka , yang tercatat adalah Raja Biak-biak, Siboru Biding Laut, Sariburaja, Siboru Pareme, Limbong Mulana, Anting Sabungan, Sagalaraja, Sinta Haumasan, Silauraja, Nan Tinjo. Mereka hanya mengelana dimana masingmasing dapat hidup seadanya saja. Mereka mengenang sejarah peradaban leluhur namun tidak menemukan apa-apa, tak berbekas adanya peninggalan peradaban, hanya hutan belantara, tetapi roh dan naluri mereka mengatakan kebenaran mereka menemukan tanah leluhurnya. 

Dalam perjalanan menyusuri tanah suci leluhurnya mereka tiba di bekas pusat kota suci dan Raja Biakbiak dan saudaranya menemukan kitab ‘Pustaha Homitan’. Kemudian menyusul datang seorang bernama Sorimangaraja yang juga ingin mengenang dan mencari tanah suci leluhurnya, dan dia menetap di pinggir kota suci dan dia menemukan peninggalan leluhurnya yaitu ‘Pustaha Paradaton’ dan inilah menjadi modal hidupnya di tanah leluhur itu. Sehingga mereka ada sepuluh orang yang sampai ditanah suci leluhur dan Mereka memulai kehidupan mereka kembali dari awal seperti kehidupan nenek moyang mereka ribuan tahun silam. 

Sementara keturunan yang bermukim diluar tanah suci leluhur seperti Raja Asiasi Tunggulniuji dan Langka somalidang bergenerasi dan berketurunan dengan kelompoknya. Diantara mereka terjadi hubungan perkawinan, diantaranya Sariburaja mengawini dua orang istri, Siboru Pareme dan Siboru Mangiring Laut yang diambil dari luar kelompok sepuluh ini. Kemudian Sorimangaraja mengambil tiga orang istri yaitu Siboru Paromas, Siboru Biding Laut dan Siboru Sanggul Haomasan. Yang lainnya dari kelompok ini mengambil istri dari luar kelompok sepuluh ini. Raja Biak-biak dikatakan bertubuh kate sehingga terlihat seperti tidak memiliki tangan dan kaki, namun memiliki ilmu kesaktian yang tinggi setelah dia bertemu Debata Bataraguru, maka dia disebut juga sebagai titisan dewa yang tidak bisa mati (immortal). Demikianlah mereka beranak pinak, generasi demi generasi. 

Kehidupan mereka tidak begitu gemilang lagi seperti leluhur terdahulu sebelum terjadinya bencana. Mereka lebih menutup diri dari dunia luar dan lebih banyak menata kehidupan spiritual daripada kehidupan fisik. Mereka lebih traumatis untuk mengembangkan penataan hunian akibat sering terjadi bencana oleh Naga Padoha. Disamping itu penyakit menular sering menimpa masyarakatnya akibat kondisi alam yang tidak segera pulih normal apabila terjadi bencana. Mereka lebih banyak berupaya untuk menanggulangi kondisi alam yang kurang mendukung untuk hidup dalam ketenteraman. Akibat ketertutupan dari dunia luar, maka mereka lebih terbelakang dibidang pembangunan tatakota yang baik dibanding nenek moyang mereka terdahulu yang sudah memiliki ‘parumaon’ dan ilmu-ilmu lainnya. 

Generasi-generasi mereka hidup berkelompok membentuk lima dinasti selama sembilan puluh generasi, sampai kepada perpecahan dan perselisihan kelompok yang membentuk dinasti dinasti kecil, dan generasi inilah yang memulai terbentuknya marga-marga, dan menyebar disemua penjuru mata angin menjadi kurang lebih limaratus kerajaan kecil marga-marga. Pada awalnya dinasti empat, dinasti diantara nan-lima, berkembang dilingkaran dalam kawasan leluhur yaitu Dinasti Sariburaja, Dinasti Limbong-mulana, Dinasti Sagalaraja, dan Dinasti Malauraja sementara satu dinasti yang menyusul kemudian berada di lingkar luar kawasan tanah suci disebut Dinasti Sorimangaraja, dan mereka mulai menata kehidupan sosial masyarakat dan diantara dinasti-dinasti ini terjadi kerukunan hubungan sosial satu sama lainnya. 

Dinasti-dinasti dari generasi purba bangsa Batak yang tersebar disekitar kawasan tanah suci Tano Batak ditambah dengan generasi dari Raja Asiasi Tunggulniuji dan Langkasomalidang. Dinasti-dinasti ini turun temurun hingga saat ini dan membentuk kelompok-kelompok marga yang masih memegang sebagian tatanan adat-istiadat leluhurnya, walaupun pada masa ini mereka tidak lagi memakai tatacara kehidupan leluhurnya sebagaimana nenek moyangnya terdahulu yang pernah menjadi yang paling agung peradabannya dimuka bumi ini, tetapi mereka ternyata dapat survive walau hanya mengambil sebagian kecil filosopi nenek moyangnya yaitu ‘Dalihan Natolu’. 

Degradasi budaya mereka cenderung untuk hilang karena hubungan-hubungan dengan bangsa-bangsa luar yang sudah lebih berhasil mengembangkan budayanya lebih maju, walaupun bangsa-bangsa luar tersebut adalah berasal dari keturunan leluhur mereka yang menyebar mengisi pelosok bumi sejak penciptaan manusia dan peradabannya. 

Pada awal dinasti-dinasti ini berkembang, budaya mereka sudah tak mampu lagi membendung pengaruh-pengaruh yang merugikan tatanan kehidupan mereka, dikarenakan budaya mereka sempat terputus oleh kuasa alam yang memang datang dari penciptanya. Namun mereka masih mampu tetap berusaha untuk hidup dengan sikap menutup diri dari dunia luar. Ketertutupan dari dunia luar membuat jauh dari modernisasi, sementara masyarakat diluar tanah leluhur sudah mengembangkan kebudayaannya lebih maju mengikuti perkembangan budaya akibat adanya hubungan dagang satu sama lainnya. 

Dinasti-dinasti dari keturunan Raja Asiasi Tunggulniuji dan Langkasomalidang mengembangkan kemasyarakatannya diluar tanah leluhur walaupun masih tetap memelihara budaya leluhurnya tetapi sudah banyak juga pengaruh budaya luar yang diserap didalam kehidupan bermasyarakat. Mereka pada umumnya berkembang di daerah pinggir pantai di empat arah mata angin. Namun karena mereka tidak menganut budaya offensif maka dinasti-dinasti ini tidak membangun kerajaan yang berbasis militer yang kuat melainkan hanya sebatas kerajaan berbasis damai dengan perdagangan. 

Dinasti-dinasti yang berada di tanah leluhur bermukim di kawasan pegunungan dan lembah yang dikelilingu oleh gunung-gunung, sehingga mereka memang menjadi jauh dari jangkauan dunia luar, baik untuk perdagangan maupun hubungan budaya. Akibatnya dinasti-dinasti marga ini hanya mengandalkan kehidupannya dari bercocok tanam. Oleh karena tidak adanya indikasi ancaman dari luar maka dinasti-dinasti di kawasan tanah leluhur tidak pernah mempersiapkan kekuatan fisik militer melainkan mereka lebih banyak mengembangkan kegiatan yang hubungan dengan penciptanya. Metafisika lebih dominan dikuasai oleh masyarakat dari dinasti-dinasti di kawasan tanah leluhur. 

Kemasyarakatan yang sangat tertutup di antara dinasti-dinasti membuat mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang saling menjaga interaksi antara satu dinasti dengan dinasti lainnya. Hubungan antar dinasti lebih banyak dikarenakan hubungan perkawinan antara masyarakatnya yang kadangkala menimbulkan perselisihan antar dinasti. Hampir tidak pernah tercadi peperangan antar dinasti dikarenakan oleh perebutan lahan atau harta, akan tetapi menjaga harkat dan harga diri dari setiap dinasti menjadi hal yang sangat utama. Ilmu metafisika yang sedemikian berkembangnya sehingga sangat banyak dihasilkan hasil karya berupa manuskrip yang berisi tentang pengobatan, nasihat-nasihat, penanggalan, hukum-hukum, sastra, ritual-ritual, pemerintahan. 

Perkembangan budaya tulis yang sedemikian tingginya sehingga mereka tidak memerlukan hubungan budaya dari dunia luar, bahkan dunia luar yang ingin menambah keilmuan dari dinasti-dinasti yang berada di kawasan tanah leluhur tersebut. Dinasti-dinasti ini dipimpin oleh raja-raja yang kemudian bersatu dalam satu kepemimpinan yang disebut Siraja Batak. Siraja Batak bukanlah sebuah nama melainkan gelar yang disepakati oleh raja-raja dari setiap dinasti kepada seorang yang dihormati sebagai Siraja Batak. Kerajaan Batak yang dipimpin oleh Siraja Batak bukanlah kerajaan yang bersifat monarki melainkan lebih bersifat sebagai theokrasi, yang mengurusi tentang keagamaan dan adat-istiadat. Yang dimaksud adat-istiadat dalam Kerajaan Batak juga menyangkut masalah hukum kemasyarakatan, hukum tataniaga, dan hukum pertanahan. 

Perjalanan sejarah keturunan mereka sejak berkembangnya peradaban dari mulai manusia pertama sampai kepada dinasti-dinasti terdahulu ternyata tidak ada yang abadi untuk terus berkembang di dalam kemakmuran masyarakatnya. Sejarah mereka selalu berulah seiring dengan bertambahnya jumlah manusia yang cenderung menjadi lupa kepada penciptanya. Oleh karena itu kerajaan Batak yang berkembang semasa kepemimpinan dua mentri yang terkenal itu lebih cenderung mengembangkan budaya aslinya dan tertutup dari pengaruh dunia luar. Kerajaan Batak menganut azas demokrasi Dalihan Natolu dengan struktur yang disebut Na Opat Maropat yang berarti diseluruh kawasan tanah leluhur Bangsa Batak terbagi atas empat wilayah kerajaan yang dikuasai oleh empat raja, yang terpilih secara supranatural dan diakui oleh raja-raja dari setiap dinasti disetiap wilayah. Raja Maropat adalah empat orang raja yang menguasai satu wilayah kerajaan. 

Diantara empat raja ini akan terpilih satu diantaranya menjadi Sihahaan ni Harajaon dan inilah yang disebut sebagai Raja Naopat yang menjadi raja tertinggi di satu wilayah. Disamping Raja Naopat juga didampingi oleh seorang raja yang disebut sebagai Raja Ihutan yang berfungsi sebagai penasihat bagi Raja Naopat sebelum melakukan sesuatu tindakan. Di dalam setiap dinasti marga juga ada terpilih raja-raja yang memimpin daerahnya masing-masing dan disebut sebagai Raja Huta, Raja Lumban, Raja Horja, Raja Bius. Raja-raja ini biasanya dipilih sebagai raja ijolo ni marga dari anak tertua atau anak sibulangbulangan. 

Disamping raja-raja yang berbasis struktural pemerintahan yang disebutkan di atas, maka Raja Bius juga mengangkat raja-raja lainnya yang disebut sebagai Raja Parhobas dengan gelar Raja Pande yang berperan sesuai keahliannya dan bukan karena pengaruh politiknya. Raja Pande berperan dibidang pengairan persawahan, juru bicara adat, pandai besi, bangunan, dan lain-lainnya yang diperlukan disetiap daerah Bius. Orang-orang pintar sesuai dengan keahlian dan apengetahuannya sangatlah dihargai dan merupakan profesi pada masa itu yang disebut sebagai ‘datu’. Datu adalah gelar kehormatan yang disandang oleh seseorang sesuai dengan keahliannya. Gelar-gelar datu yang ada pada masa itu antara lain; Datu Parbaringin sebagai gelar ahli dalam menentukan hari-hari baik, Datu Panuju sebagai gelar ahli dalam hal perbintangan-cuaca-musim, Datu Panawar sebagai gelar ahli dalam pengobatan, Datu Partonggotonggo sebagai gelar ahli untuk hubungan roh leluhur, Datu Parmangmang sebagai gelar ahli untuk menolak bala, Datu Pangarambu, Datu Pasipuspus, dan banyak gelar datu lainnya. 

Demikianlah Kerajaan Batak berkembang di dalam kehidupan masyarakatnya menjadi aman dan sentosa dengan sedikit terjadi konflik internal. Oleh karena konsep kerajaannya yang tidak mencantumkan perlunya kekuatan militer untuk mencegah adanya ancaman dari luar sehingga konsentrasi pasukan tidak pernah ada, maka pihak luar memanfaatkan titik lemah ini dan dengan sendirinya mengundang kekerasan dan kerakusan pasukan luar yang pernah menghancurkan Kerajaan Batak ini. Agama leluhur Bangsa Batak yang memang dikhususkan hanya untuk Bangsa Batak saja secara tertutup ternyata bukanlah menjadi jaminan untuk aman di tanah leluhur bangsanya sendiri. Masyarakatnya ternyata lebih bertuhankan berhala dibanding penyembahan kepada Maha Pencipta Mulajadi Nabolon, maka kutukanpun terjadi kepada Bangsa ini. 

Perkembangan budaya dari bangsa-bangsa diluar tanah leluhur Bangsa Batak ternyata memunculkan faham-faham keagamaan yang bersifat fanatisme kebenaran diatas kebenaran. Dengan mengatasnamakan kebenaran tuhannya atas anutan keagamaannya maka penganut keagamaan dari luar tanah leluhur Bangsa Batak ini berniat memaksakan anutannya walaupun harus mengangkat pedang untuk membunuh sesama manusia atas nama tuhan mereka yang juga mereka fahami sebagai pencipta manusia. Penganut agama luar ini menganggap bahwa tuhannya menitahkan kepada mereka untuk memaksakan kehendak dengan cara apapun yang mungkin belum mampu dilakukan oleh tuhannya. 

Maka demikianlah bangsa Batak ini kembali mengalami kenistaan yang hampir memusnahkan Bangsa ini.  Pada saat sekarang ini Bangsa Batak sebagai bangsa yang langsung bergaris keturunan dari manusia pertama sudah mulai terbebas dari kebinasaannya namun kekayaan budaya leluhur sudah mulai terlupakan oleh mereka karena mungkin tidak sempat mereka ketahui dan tentu saja nilai-nilai luhur budaya leluhur yang hilang itu sudah tidak lagi dihargai oleh Bangsa Batak sendiri, apalagi oleh orang lain. Selaras dengan sejarah peradaban mereka, ada kemungkinan besar akan terulang lagi kenistaan yang mungkin pula dan menjadi awal kepunahan Bangsa Batak ini. 

Bangsa Batak yang katanya keturunan langsung para dewa-dewa dan menjadi asal dari semua bangsa-bangsa, pada saat ini harus bergaul dengan keturunannya dalam kesetaraan walaupun dalam pikiran insan Bangsa Batak bahwa mereka semuanya adalah keturunan raja-raja. Ratusan bangsa-bangsa yang berkembang mengisi seluruh pelosok Bumi dengan keberagaman sekitar enam ribu bahasa membawakan adat istiadat yang didukung oleh alam lingkungannya sehingga dalam keberagaman itu dapat memunculkan keunggulan masing-masing demi untuk memelihara Bumi yang diwariskan kepada manusia. Bahkan dalam sejarahnya bahwa manusia itu sebenarnya sedemikian jauh dari kesempurnaannya karena untuk sesamanyapun sudah tidak lagi saling mengenal dan bahkan ada kecenderungan yang akan saling mengeliminasi demi kepentingan yang eksklusif. 

Sikap apatis dan pasrah dengan keadaan membuat mereka menjadi larut dalam budaya global yang dalam banyak hal mengeliminasi budaya unik yang tercipta sejak awal terciptanya manusia yang beradab. Bahkan masyarakat Bangsa Batak sekarang ini hampir seratus persen menganggap budaya luar itu lebih baik daripada budayanya sendiri, maka akibat pengaruh budaya dan kepercayaan asing yang masuk kedalam tatanan kebudayaannya sehingga terjadilah kata-kata satire dan sinisme diantara mereka yang menyebut Hosom Teal Elat Late, dimana pada masanya dahulu istilah ini tidak pernah ada terlintas dibenak insan Bangsa Batak,  yang dalam waktu tidak akan lama lagi bangsa ini diperkirakan punah dari peradabannya.

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

Sebelumnya<<<>>>Selanjutnya

5 Responses to “Cerita Dahulu (Bagian-7)”

  1. kalo kronologinya (urutan, silsilah, tarombo, dsb) ??

    • Tarombo yang beredar secara umum (marga2 batak) pada awalnya 1920-an adalah untuk kepentingan penjajah belanda dlm rangka penyelesaian konflik tanah ulayat marga2. Tarombo yang paling akurat adalah yang dipegang oleh marga2 itu sendiri. Kalau mau merunut tarombo batak sampai ke yang mampu di capai masih banyak biasnya, misalnya Tarombo Dinasti Sorimangaraja ada 104 generasi. Sisingamangaraja ada sekitar 16 generasi sampai sekarang, Diatas Dinast Sorimangaraja mungkin ratusan generasi juga, Yang disebu Si Raja Batak mungkin pula ada seratusan generasi. Kalau tarombo saya baru mampu menelusurinya sampai 30 generasi. Thanks bung Bayu, saran supaya minta advise ke Mr. Google, karena kita sama2 sdng menelusurinya. Horas

  2. Menarik…, ini asli kumpulan legenda batak asli atau sudah di modifikasi bos?

    • Karena legenda di tanah Batak diturunkan ke generasi berikutnya berdasarkan budaya tutur sehingga tidak mampu kita sebut yg mana yg asli, namun dari sekian banyak variasinya maka dicoba merunutnya dengan menempatkan pola pikir ke masa kapan kira2 legenda itu berkembang dan mencoba mengkaitkannya dengan pola pikir kehidupan komunitas itu di masa sekarang. Thanks bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: