Maya Musafir (Bagian-2)

Demikianlah upaya manusia Mesir kuno yang mengirimkan para pendetanya ke negeri timur untuk mencari kamfer untuk mummifikasi mayat, kemenyan untuk wewangian, emas dan perak sebagai media ritual pada masanya. Demikian pula personifikasi Sidharta Gautama atau yang disebut juga sebagai Budha telah mengalami tahap-tahap perjalanan hidupnya untuk tujuan mencapai kehidupan abadi dengan segala prosesi perjalanan hidupnya menuju Nirwana. Demikian pula personifikasi Yesus yang disebut penganutnya sebagai Tuhan dan menuju Bapanya di kerajaan surga dengan segala prosesi perjalanan hidupnya dimana semua manusia sekarang ini bebas menelusurinya di kitab-kitab yang meriwayatkannya. Demikian pula manusia-manusia sekarang yang berupaya mengungkap dimana ibu biologisnya yang pertama sekali ada di bumi ini? Dimanakah Taman Firdaus yang dikatakan oleh banyak ajaran kepercayaan manusia sebagai tempat asal pertama sekali manusia berkembang biak? Apakah di Timur Tengah sana? Atau di Afrika? Atau ada suatu tempat lain yang memang layak disebut Taman Penciptaan?

Banyak ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu berupaya untuk mengungkapnya dengan segala daya pikir yang dikatakan orang merupakan warisan dari pencipta alam semesta yang berfirman bahwa manusia adalah serupa dengan dirinya. Semuanya terserah kepada pribadi manusia-manusia untuk bertualang di alam pikirannya masing masing demi mencapai supermasi kehidupannya. Apabila aku meminjam prinsip-prinsi demokrasi yang diceritakan oleh seorang manusia Amerika yang kujumpai sebelumnya maka dengan penuh keyakinan akan banyak persoalan-persoalan manusia, pribadi demi pribadi diantara sekitar tujuh milyar ini akan berjalan dalam suatu nilai kebaikan yang masing masing insan akan mematuhi dan mengakuinya.

Pemikiran pemikiran seperti ini akan muncul dari tahapan pemikiran manusia yang telah mengembangkan peradabannya, dimana manusia merasa tulisan menjadi salah satu roh kehidupannya yang mampu mencatat perjalanan hidupnya, mampu menyampaikan pesan-pesan selama perjalanan hidupnya, atau sebagai media yang mampu memutar kembali sejarah kehidupan manusia tersebut.

Demikianlah perangkat-perangkat yang mendukung roh peradaban ini berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia. Cuniform sejenis tablet yang terbuat dari tanah liat digunakan oleh bangsa Sumer untuk menulis sejarah hidupnya, Dinding batu Piramida digunakan bangsa Mesir untuk menyampaikan sejarah kehidupannya, Papyrus digunakan oleh bangsa Yunani untuk merekam sejarah hidupnya, Kertas digunakan bangsa Cina merekam sejarah kehidupannya. Kulit, tulang, kulit kayu, bambu digunakan oleh bangsa Batak untuk merekam sejarah hidupnya, Daun Lontar digunakan bangsa Jawa untuk merekam sejarah hidupnya.

Maka manusia sekarangpun tak ketinggalan menggunakan perangkat-perangkat tulis dalam bentuk apapun namanya, pena, pinsil, mesin ketik, komputer, Cassette, Diskette, Disk, Harddisk, Flashdisk, dan banyak media-media lain yang digunakan bangsa-bangsa untuk merekam perjalanan hidupnya, termasuk aku. Sama halnya manusia sudah mengembangkan peradaban komunikasi sebagai penyampai perjalanan kehidupannya sehingga manusia menggunakan bahasa-bahasa, perangkat navigasi, gelombang radio micro wave, gelombang magnetic, gelombang sinar, kode morse, sampai kepada yang disebut GSM, GPS, GPRS, dengan perangkat-perangkat seperti Mikrophone, teropong, Sonar, Radio-tape, Kamera, Satelit, Telepon, Telepon Genggam, Televisi, dan perangkat-perangkat lainnya yang sudah pampu dikembangkan oleh manusia. Untuk mendukung roh-roh kehidupan tersebut manusiapun telah mengembangkan perangkat yang akan mampu membawanya dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pemanfaatan binatang seperti Gajah, Keledai, Kuda, Anjing, papan seluncur, Roda, Gerobak, Kereta Kuda, perahu, kapal laut, sepeda, mobil, pesawat terbang, pesawat ulang-alik, pesawat angkasa antar planet menjadi sejarah berkembangnya peradaban manusia.

Bagaimana pula suku Kombai dan suku Mek di Papua yang masih hidup seperti di jaman batu, yang masih menggunakan batu sebagai alat untuk menebang pohon sagu makanan mereka. Mereka juga belum menggunakan pakaian selain daripada ‘koteka’ untuk penutup kemaluan laki-laki dewasa, dan rumbai-rumbai sebagai penutup kemaluan wanita dewasa. Sementara anak-anak sama sekali tidak memakai pakaian. Dalam memenuhi kebutuhan protein, mereka memanfaatkan air sungai yang meluap lalu kemudian membuat perangkap yang terbuat dari bambu atau anyaman dari daun sagu atau daun palem. Mereka masih menggunakan gesekan kayu untuk mendapatkan api. Mereka hidup berkelompok sekitar 20-30 orang di rumah-rumah pohon, rumah yang dijalin terikat diatas pohon. Mereka sangat rentan dengan penyakit untuk kondisi lingkungan yang seperti ini. Malaria dan demam tinggi adalah penyakit yang rutin mewabah pada suku ini dan mereka menyebutnya suangi. Mereka percaya bahwa suangi adalah roh jahat yang merasuki seseorang yang mengalami penyakit. Orang yang terkena penyakit dapat saja menuduh seseorang dari kelompok suku lain yang melepaskan roh jahat tersebut dan sitertuduh akan tidak berdaya untuk dihukum mati dan bahkan dimakan oleh suku yang menuduhnya. Apabila memang tuduhan tersebut salah maka suku yang menghukum harus mengganti kerugian untuk orang yang dihukum dengan lima ekor babi, artinya satu manusia sama nilainya dengan lima ekor babi. Sedemikianlah mereka menjalani peradabannya.

Dari sisi pandang manusia sebagaimana keberadaanku sekarang maka aku dapat memastikan bahwa mereka tidak akan sempat untuk bertanya siapa nenek moyangnya, siapa penciptanya, apalagi untuk mencari dimana dan bagaimana? Mungkin cerita ini dapat menjadi pemikiran tentang The Missing Link yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Mungkin pula apa yang ditemukan yang disebut ‘Java Man’ oleh Eugene Dubois di tahun 1891 yang berusia sekitar satu juta tujuratus tahun lalu menjadi kebenaran evolusi manusia yang dikatakan di daerah yang sama telah hidup manusia moderen bernama Homo Sapien dan manusia purba Homo Erectus yang hidup berdampingan pada waktu yang bersamaan, sama seperti manusia Amerika dan manusia Kombai dan Mek yang hidup di masa yang sama.

Yang menjadi pertanya besar bagiku adalah mengapa dari rentetan cerita yang terjadi ada kontradiktif yang begitu mendasar? Apakah manusia Amerika dikatakan sebagai manusia, lalu manusia-manusia Kombai dan Mek bukan sebagai manusia? Apakah manusia Amerika dikatakan manusia yang beradab lalu manusia Kombai dan Mek bukan manusia beradab? Apakah manusia Amerika dikatakan moderen lalu manusia Kombai dan Mek disebut manusia purba? Bagaimana mereka manusia-manusia ini dapat hidup berdampingan di bumi yang sama, dimasa yang sama, menghirup udara yang sama. Dan pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah Tuhan ikut campur tangan didalam kehidupan manusia-manusia ini? Atau apakah mereka ini mempunyai Tuhan yang sama yang menciptakan manusia-manusia mempunyai derajat sama dihadapannya tetapi tidak sama dimata manusia itu sendiri?

Semua pencaharian manusia terhadap jatidirinya adalah setelah mencapai tahapan-tahapan yang berkembang didalam alam pikir dan kehidupannya menuju pencaharian ketahap yang lebih tinggi, lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi sampai ketahap yang tertinggi yang mampu dicapai oleh pikiran manusia. Manusia Kompai dan Mek masih belum mempunyai aksara tulis sehingga belum memikirkan hal-hal lain selain kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, apalagi mencari siapa jati dirinya dan siapa Tuhan penciptanya tentu masih jauh dari harapannya. Bila aku berani membandingkan rentang waktu yang membedakan manusia Amerika dengan manusia Kombai dan Mek, maka sebelas ribu tahun adalah ukuran waktu yang membedakan peradabannya.

Kemudian aku membayangkan bahwa aku seorang manusia Amerika yang membawa Hologram-Energizer, turun dari helikopter di antara suku Kombai dan Mek di Papua, maka mereka boleh jadi katakan bahwa Tuhan telah turun dari langit dengan suara yang bergema menderu-deru, sama seperti yang dikisahkan oleh bangsa Jahudi tentang Musa yang menerima Tuhannya dalam bentuk tiang awan dengan suara angin ribut.

Kemudian aku memancarkan energi hologram dalam gambar penampilanku sebagai Manusia Amerika, tentu manusia Kombai dan Mek akan terperanjat, heran, takut karena aku ternyata dapat membelah diri menjadi dua wujud yang sama. Mungkin mereka akan menyerangku dengan kapak batunya, atau dengan panah berburunya, tentu tidak akan berpengaruh apa-apa bagiku karena aku hanyalah berupa kesan diriku yang tidak nyata dihadapan mereka, aku menjadi immortal bagi mereka. Dan mungkin pula aku akan menjadi yang layak disembah layaknya tuhan bagi mereka. Jadilah aku menjadi tuhan bagi mereka karena aku dapat melakukan mujizat yang tak mampu mereka pikirkan sebelumnya. Aku akan dapat menyediakan cahaya semisal cahaya senter, atau aku dapat mengeluarkan suara yang menggema dengan menggunakan mike, atau bila marah aku dapat mengeluarkan suara tembakan dari senjata api yang kubawa dan bahkan dapat mematikan. Aku juga dapat mengobati demam mereka dengan aspirin atau pil kina. Dengan keberadaanku yang serba bisa itu maka aku sungguh sangat berkuasa atas mereka, maka layaklah aku tuhan bagi mereka.

Kemudian aku berangkat kembali menaiki helikopterku dan mereka akan mengatakan tuhan-nya kembali ke surga, sama seperti yang ada tertulis di kitab-kitab agama Jahudi yang mengatakan seorang nabi bernama Elia terangkat ke surga dengan kereta yang berbentuk api, atau Yesus yang naik kesurga disaksikan pengikut-pengikutnya. Sama seperti aku dahulu yang berkelana di alam pikiranku tentang Sinbad dengan tikar terbangnya. Atau mengelana di alam pikiran dengan cerita-cerita fiksi yang sangat memukau dan mempengaruhi alam pikiran bahwa kedigdayaan tubuh dapat memampukan segala sesuatunya sesuai kemauan alam pikiran.

Maka jadilah aku immortal, menjadi alpha dan omega, mengetahui yang lampau dan kini dan yang akan datang, yang mengetahui siapa manusia dan siapa binatang, menjadi sumber sejarah siapa saja, menjadi yang berkuasa dan akulah tuhan, sama seperti yang digambarkan oleh suku Kombai dan Mek terhadap diriku. Aku kini bebas mengharungi perjalanan alam pikiranku, melintasi benua-benua, pulau-pulau, lautan-lautan, tanah, udara, suku-suku, bangsa-bangsa, dan alam semesta.

Kini aku ingin bertualang ke suatu tempat yang menjadi tempat asal manusia dan tentunya asalku. Mengapa aku harus mencari asalku, leluhurku, tuhanku? Tentu karena aku sudah mencapai tahapan yang memang harus mencarinya karena tahapan lain sudah aku lalui sepanjang hidup yang sudah ku lampaui. Aku sudah mengetahui dan merasakan makanan yang enak dan juga yang tak enak sewaktu makanan menjadi tujuan utamaku untuk hidup. Mungkin samasaja seperti binatang-biantang yang tujuan hidupnya memang tidak lebih daripada makan. Aku sudah merasakan asam dan garam. Aku sudah merasakan pahit dan manis. Aku sudah merasakan pernah punya uang yang cukup dan pernah pula bokek berat. Aku sudah pernah mengharungi berbagai lautan dan daratan, menjumpai banyak rupa-rupa manusia. Aku sudah pernah mengalami rasa sakit dan juga merasakan sehat. Aku sudah pernah merasakan kesedihan dan juga merasakan bahagia. Aku sudah pernah merasakan nasib malang dan juga mendapat keberuntungan.

Kini aku ingin mencari tau asal muasalku, ingin juga mencaritau siapa nenek moyangku, ingin juga mencaritau dimana tanah asalku, ingin juga mencaritau siapa tuhanku. Sama seperti bangsa Sumer mencari tuhannya, sama seperti bangsa Babilonia mencari tuhannya, sama seperti bangsa Mesir kuno mencari tuhannya, sama seperti bangsa Maya mencari tuhannya. Sama seperti Sidharta Gautama mencari tuhannya, sama seperti Mahatma Gandhi mencari tuhannya, mungkin juga sama seperti saudara-saudaraku yang membaca novel ini yang sungguh sedang bertanya dalam hati: “Siapasih sebenarnya Tuhanku? Apasih mau-Nya dariku? Kalau aku hanya satu diantara tujuh miliar manusia, apakah aku akan terpilih juga untuk didengar-Nya permintaanku?” Tapi aku bisa saja mengatakan bahwa aku punya tuhan dan tuhanku serba maha yang menjagai hidupku tetapi tuhanku itu tidak menjagai orang lain?, karena aku berbeda dari mereka-mereka.

Demikianlah manusia-manusia bertuhan mengatakan tentang tuhannya yang bukan tuhan bagi orang lain, yang bukan tuhan bagi hewan, yang bukan tuhan bagi bumi, yang bukan tuhan bagi alam raya semesta (Alrase). Karena setiap orang mendefinisikan tentang tuhannya menjadi milik pribadinya maka banyaklah jumlah tuhan-tuhan sebanyak jumlah manusia yang dikatakan bertuhan.

Pemahaman tentang banyak tuhan disebut politeisme pada masanya pernah berkembang subur dijamannya namun dijaman yang dikatakan moderen seperti sekarang ini tentu menjadi sesuatu yang nista bagi seseorang penganut politeisme. Manusia-manusia sekarang lebih memahami tren anutan yang disebut monoteisme yang mengartikan adanya satu tuhan dengan konsep berpikir bahwa tuhanmu bukanlah tuhanku dan bukan pula tuhan mahluk lainnya seperti hewan, unggas, tumbuhan, alam.

Apabila demikian sedemikian rumitnya manusia untuk mengenal tuhan dalam pencariannya maka ada beberapa pemikiran tentang tuhan yang mungkin ada maknanya untuk dicaritau kebenarannya sebagaimana diilustrasikan pada pandangan-pandangan berikut ini:

Karena manusia masih dalam proses pencarian tuhannya maka manusia itu hanya mampu menggambarkannya dalam pengandaian yang dicitrakannya. Citra manusia sebagai mahluk yang tertinggi tentu menjadi pendekatan utama untuk mencari tuhannya. Pengandaian manusia sebagai tuhan adalah sebagai pencipta. Karena aku manusia maka aku menyebut aku tuhan.

Tersebutlah aku mengeluarkan sebuah teori yang disebut teori balon dimana aku sedang menghembuskan sebuah balon untuk suatu penciptaan. Aku menghembus sebuah balon maka balon itupun dipenuhi oleh nafas kehidupanku. Pada saat awal kuhembuskan nafas kehidupan itu maka pada celah leher balon itu terjadi semburan nafas kehidupan yang mengalir menggelembungkan balon dengan kejadian yang menyertakan berbagai parameter fenomena alam. Balon berbentuk dan zat hidup yang kuhembuskan berada di dalam balon terkungkung membentuk proses sebagaimana Alrase tercipta. Kalau demikian terjadinya Alrase yang kuciptakan maka tentu saja aku akan tetap berada di luar balon tersebut. Demikian maha besarnya aku dibanding balon itu sehingga aku berkuasa atasnya, apakah balon itu akan kutempatkan disesuatu tempat atau akan kuledakkan dengan sulutan api rokokku, tentu akulah yang tau.

Pandangan penciptaan Alrase oleh aku-tuhan sebagaimana penguraian ini tentu akan meninggalkan rentetan pemikiran yang meng-akurkan pandangan yang berkembang pada masa ini bahwa demikianlah besarnya derajat ketuhanan terhadap ciptaannya. Namun dibalik pandangan tersebut terbesit juga pengertian yang menggambarkan betapa tidak berartinya ciptaan itu bagi sipenciptanya, mengapa pula manusia harus bersusah-susah memikirkan ciptaan tersebut? Atau mengapa pula manusia harus berolah pikir tentang tuhannya? Mengapa manusia harus menyembah tuhannya sementara tuhannya ada diluar ciptaannya itu, yaitu diluar balon yang disebut sebagai Alrase tadi, dan tuhan tidak ambil pusing dengan ciptaannya itu. Kalau manusia berteori maka teori balon ini akan disebut sebagai faham atheis. Diberbagai Negara termasuk di Indonesia bahwa manusia yang ber-faham atheis dianggap haram dan sesat.

Adapula pemahaman tentang tuhan ini yang disebut dengan teori semut yang juga mencitrakan manusia sebagai tuhan dengan pengandaian semut-semut sebagai manusianya. Membandingkan hirarki manusia dengan semut tentu ibarat membandingkan langit dan bumi. Hirarki semut tentu tidak mampu melihat tuhannya atau bagaimana bentuk tuhannya itu, padahal tuhannya adalah manusia yang mempunyai bentuk. Maka aku menyebut aku tuhan dan semut-semut adalah manusianya. Di ilustrasikan sejumlah 7 miliar semut berkumpul dihadapan seorang manusia yang sedang mengamati semut-semut itu dimana jumlah 7 miliar merupakan gambaran jumlah manusia yang ada di planet Bumi saat ini.

Maka tersebutlah aku menjadi tuhan dan semut menjadi manusia. Dalam pengamatanku, aku menempatkan egoku menjadi supermasi untuk memenuhi keinginanku. Lalu suatu saat suasana hatiku menginginkan agar semut-semut yang ada dihadapanku bersikap bersalam-salaman agar hatiku sebagai tuhan menjadi senang sehingga selamatlah semut-semut itu dari murkaku. Namun ada diantara semut-semut itu yang menyimpang dari keinginanku yaitu ada diantara mereka bukan bersalam-salaman melainkan berkelahi satu sama lainnya. Murkaku sebagai tuhannya memuncak dan membawa suasana hatiku untuk membinasakan semut-semut yang menyimpang dari keinginanku itu, maka binasalah mereka yang tak kuingini.

Sesaat kemudian suasana hatiku berubah dan menginginkan agar semut-semut yang ada dihadapanku dapat kulihat saling berkelahi dan bila demikian maka senanglah hatiku ini. Ternyata tidak semua juga semut-semut itu melakukan perkelahian, malah sebagian mereka bersalam-salaman. Oleh karena itu aku murka kepada mereka dan aku membinasakan mereka.

Dari dua suasana hati itu terlihat olehku seekor semut menggeliat-geliat yang berusaha menyelamatkan diri dari kemurkaan tuhannya dan diapun berjalan terseokseok kearah kaki tuhannya walaupun sebenarnya dia tidak mengetahui bahwa tuhannya ada disitu karena memang dia tidak mengenal bahkan tak mampu mengenal tuhannya, karena dia hanyalah seekor semut dihadapan seorang manusia yang menjadi tuhannya. Apakah seekor semut mampu menggambarkan rupa seorang manusia sebagai tuhannya?

Dia mulai melangkahkan kakinya menaiki kaki tuhannya dan sampailah ia di atas kuku jempol kaki tuhannya. Diapun berkata dalam hatinya, “Ahh… akhirnya aku sampai di atas marmer ini dan cocoklah aku beristirahat disini” katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kuku jempol kaki tuhannya itu. Dia menyadari bahwa dia berada di atas marmer, tetapi anda yang membaca ini tentu tau bahwa dia sedang berada di atas kuku jempol kaki tuhannya.

Selesai memulihkan tenaga selama istirahat setelah selamat dari bencana murka tuhannya maka diapun meneruskan perjalanannya kearah atas. Dia merasa menaiki sesuatu dan merasa sampai disuatu lokasi yang rimbun dengan pepohonan untuk kemudian kembali beristirahat dan berpikir untuk bersembunyi dari tuhannya yang telah mengancamnya dengan bencana. Ternyata dia tidak menyadari bahwa dia sedang berada diantara bulu-bulu kaki di betis tuhannya yang dianggapnya sebagai hutan belantara. Karena tuhannya merasa terusik dengan keberadaannya maka tuhannyapun melaksanakan hukuman terakhir dengan menyolekkan ujung jari telunjukknya untuk mematikan semut itu. Demikianlah nasib semua semut-semut itu dipunahkan oleh tuhannya, yang hanya ditentukan oleh dua suasana hati saja.

Perilaku ketuhanan pada pandangan ini adalah mutlak atas keinginan tuhan terhadap yang mempertuhankannya. Semut-semut tidak mempunyai tolokukur apa yang harus diperbuatnya untuk selamat dari murka melainkan sematamata hanya berdasarkan keabsotutan suasana hatinya. Paandangan ini memunculkan faham apatisme yang merelakan segala sesuatunya bergantung pada takdir dari tuhan. Apatisme membunuh kreativitas manusia sebagai mahluk yang mengandung daya cipta.

Aku seorang manusia pembuat gerabah dan oleh karena keahlianku maka aku mengeluarkan yang disebut teori gerabah. Aku menjadi tuhan pencipta yang menciptakan bentuk-bentuk sesuai dengan keinginanku. Aku mengambil sebongkah tanahliat lalau kubentuk menjadi bentuk yang menyerupai aku. Aku mengerahkan kehidupanku pada ciptaanku itu maka senanglah hatiku dan kunyatakan ciptaanku itu mempertuhankan aku menurut keinginanku. Kemudian aku menciptakan bentuk-bentuk lain dan mereka juga mempertuhankan aku. Mereka masing-masing mengakui ada tuhannya yang menciptakannya sampai suatu saat bahwa tuhannyalah yang maha kuasa dan tuhan yang lain tidak maha kuasa terhadapnya. Demikianlah aku sipembuat gerabah menjadi tuhan atas ciptaanku.

Kini aku kembali menjadi manusia seutuhnya untuk kemudian berusaha memaknai ilustrasi dari teori balon, teori semut dan teori gerabah tentang keberadaan tuhan. Kemudian aku melihat aku, melihat aku-aku yang lain, lalu kututup pengelanaanku sebagai maya musafir dengan menghening cipta.

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

Sebelumnya <<<>>> Selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: