Maya Musafir (Bagian-1)

Katakan aku baru saja mau melangkahkan kaki turun dari sebuah Jumbo Jet, kemudian aku menaiki sebuah helikopter carteran dan memasang earphone ditelinga untuk mengurangi berisiknya suara helikopter ditelinga sambil mendengar alun suara John Denver dengan Country Road nya, kemudian aku turun disebuah lapangan perkampungan terpencil, jauh dari kota dimana kota disebut mewakili peradaban moderen, orang kota, orang maju, orang pintar, orang kaya, berkecukupan, maka itulah yang dapat aku katakan siapa diriku.

Aku melihat orang-orang disekelilingku berdiri menatapku sementara anak-anak kecil berlari-lari sambil mendekat menghampiriku. Helikopter itu berangkat dan aku tertinggal dalam tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang sekitar. Sepintas aku melihat penampilan diriku memakai sepatu cats, celana tebal berkantong banyak, T-shirt dibalik jaket yang berkantong banyak pula, bertopi pet, menyandang ransel dipunggung, dileher tergantung digital camera yang bersanding dengan kalung sebesar rantai anjing, dipinggang terselip CD-walkman yang masih tersambung dengan tali-tali earphone di telinga, bahkan masih terdengar alun ‘CCR – Cotton Field Back Home’, dipergelangan masih terlilit jam tangan yang dilengkapi dengan alat pengukur altitude dan kompas. Begitulah penampilanku saat itu.

Sesaat aku tersadar bahwa aku dikerumuni oleh sekian banyak manusia namun tak terdengar olehku bahwa mereka sudah banyak mengeluarkan suara-suara, mungkin mereka sudah bertanya siapa aku, mungkin sudah mengatakan selamat datang, mungkin sudah mengajak aku untuk dijamu oleh mereka, tapi aku tidak mendengarnya, seolah aku tidak memperdulikannya, aku hanya menatap mereka ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada yang berteriak, bahkan ada yang hanya terpaku memandang dari kejauhan.

Sesaat kemudian aku menarik tali-tali yang menghubungkan earphone tergantung ditelingaku, maka aku mulai mendengar dan ternyata telah banyak suara-suara disekelilingku yang tak pernah kusadari sebelumnya. Aku memandang disekelilingku dan terlihat orang-orang sekitar, anak-anak yang tak memakai baju, orang-orang dewasa bertelanjang dada, tak beralaskan kaki, dan para wanitanya hanya menggunakan sarung dengan penutup buah dada – bra, dan bahkan hanya menggunakan sarung yang dililit sampai diatas dada. Mereka begitu lusuh, kumal, dengan wajah berkeriput, dan rambut teracak-acak. Kubandingkan diriku seorang diri dengan keberadaanku diantara banyak manusia seperti yang kusebutkan itu.

Aku menjadi merasa asing dan bertanya dalam hati, mungkinkah aku dianggap oleh mereka ‘orang gila’? karena hanya aku yang berpenampilan demikian diantara mereka, bahkan yang pernah mereka lihat sepanjang hidupnya, karena mereka memang berada pada suasana yang terkurung dalam berbagai situasi, walaupun tidak dikatakan sebagai manusia purba. Katakan bahwa mereka memang terpencil dari hubungan transportasi, terpencil dari hubungan komunikasi, terpinggirkan dan bahkan terpencil dari hubungan peradaban. Kata mereka pernah sesekali dikunjungi orang pemerintahan, mungkin hanya untuk mencacah mencatat jumlah kependudukan. Mereka tidak pernah tau apakah mereka punya Negara, juga tak pernah tau apakah mereka mendapat perlindungan dari undang-undang Negara, juga tak pernah tau apakah mereka memang punya hak dan kewajiban untuk itu.

Sekilas aku terkesan dengan peristiwa yang pernah terekam oleh indraku dimana aku pernah mengunjungi seorang ahli nujum yang kuasanya sangat tinggi sehingga aku bersenang hati memohon kepadanya untuk disulap menjadi apa yang aku mau. Sejenak kemudian aku memohon agar disulap menjadi seekor anjing maka jadilah demikian.

Aku seekor anjing yang diadopsi oleh seseorang yang menyenangi aku dan menjadi majikanku. Demikianlah aku menjadi anjing yang manusia bilang sudah diberkati, dengan segala keberadaanku mendapat makanan yang enak sehingga makanan yang kumakan setiap bulan akan mampu menghidupi kelompok manusia yang kujumpai sebelumnya selama satu bulan pula. Aku berbahagia diurusi dan dimandikan dengan shampo dan sabun wangi, dihanduki, disisir sehingga aku menjadi cantik, tampan, lucu sehingga majikankupun akan sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Sementara sekelompok manusia yang aku jumpa tersebut diatas tidak pernah tahu apa yang dinamakan shampoo, sabun wangi, sisir. Aku hidup dilingkungan yang bersih, rumah yang teduh, tidur di tempat yang empuk, bahkan tidur bersama majikan yang menyayangiku. Majikanku sudah harus memikirkan keperluanku apabila aku mau pipis atau buang kotoran maka majikanku akan membawa aku berjalan-jalan ditaman yang indah, atau ditempat yang memang khusus disediakan untukku.

“Oh…. Alangkah bahagianya aku ini dan memang aku benar-benar sudah diberkati”. Aku tidak sempat tau apakah ada anjing-anjing lain didunia ini, tetapi aku sempat berpikir andaikan aku seekor anjing yang berkeliaran dijalanan, ditendang, dipukul, dilempari batu oleh manusia, bahkan mungkin aku akan sampai di kuali menjadi penganan penghangat tubuh yang menyukai dagingku. Karena aku seekor anjing maka aku tak mampu memikirkan lebih jauh lagi tentang aku, tentang anjing-anjing lain yang mungkin ada selain aku. Karena aku seekor anjing yang sudah tau berpikir maka aku merasa bahwa aku memang ada namun tak mampu memikirkan lebih daripada seekor anjing. Aku memutuskan untuk melarikan diri dari majikanku karena aku tidak mampu mencari jawaban sebagai anjing yang memikirkan tentang anjing.

Dalam pelarianku, akhirnya tiba di tempat ahli nujum yang kujumpai sebelumnya, dengan terengah-engah lidah terjulur, aku berhadapan dengan nenek si ahli nujum dan dia berkata: “Hai anjing! Mengapa kau kesini lagi?”. Dengan malu dan loyo aku menjawab: “Begini nek!, Aku sudah tak tahan menjadi anjing dirumah majikanku, karena aku tak mendapat jawaban apakah masih ada anjing selain diriku!”. Kemudian si nenek nujum berkata: “Seharusnya sebagai seekor anjing tidak perlu memikirkan anjing-anjing lain, kan kau sudah senang dirumah majikanmu!”. “Ya, nek. Tapi ubah lagi lah aku menjadi yang lain, kalau boleh jadi banteng saja” kataku lugu.

Nenek nujum yang baik hati jadi mengubah aku menjadi banteng, dan aku hidup bersama ribuan bahkan jutaan banteng-banteng lainnya dipadang Serengeti di Afrika. Aku dan banteng-banteng lainnya hidup mengembara di padang sabana dengan kelimpahan rumput segar makanan sepanjang hari. Dalam kehidupanku hanya ada satu yang aku pikirkan yaitu makan dan makan. Kadang aku menjadi incaran pemangsa dan memang menjadi mata rantai makanan di alam yang indah ini. Ada sahabatku banteng lain yang dimangsa oleh macan, ada pula dimangsa oleh sekelompok hyena atau sekelompok serigala atau sekelompok singa, bahkan oleh buaya sewaktu menyeberangi sungai bersama kelompokku demi untuk memenuhi kelangsungan hidup kelompok. Aku melihat sahabat-sahabatku dicabik-cabik oleh pemangsa, sampai siburung elang dan burung nazar yang kecil dibanding tubuhku ikut mencabik-cabik bangsaku.

Tetapi aku masih dapat bersyukur bahwa ada banyak kelompok manusia yang melindungi kehidupan kami. Ada mereka menamakan kelompok manusia ‘Green Peace’, adapula kelompok manusia pencinta binatang, kelompok manusia di pemerintahan Negara, bahakan katanya ada kelompok manusia badan dunia yang melindungi kami binatang banteng dan binatang-binatang lainnya. Aku banteng berpikir maka aku merasa ada dan bersyukur mengetahui ada kelompok manusia yang memberikan perlindungan kepada kami bangsa banteng dan bangsa bangsa binatang lainnya.

Karena aku berpikir maka aku ada memikirkan manusia yang melindungi aku. Aku banteng melihat di bumi dimana kami berpijak hidup kelompok manusia di pedalaman Afrika yang hidup bermasyarakat, berbudaya, namun mereka terancam mati kelaparan karena ketiadaan pangan. Mereka sungguh senang memakan daging, dan daging kami adalah kesenangan mereka pula, tetapi tragis bahwa kami tidak diperbolehkan untuk diburu walau jumlah kami ada jutaan. Mereka terkesan dibiarkan hidup terlantar, terancam mati kekurangan pangan ditanahnya yang berlimpah sumber makanan. Aku tidak mampu lagi memikirkan kelompok manusia yang menanti ajal dan tak punya harapan untuk layak hidup sebagaimana manusia.

Kesan itu membuat aku banteng berniat untuk menjadi yang lain saja, atau apasaja yang aku bisa merasa senang hidup dibumi yang dipersiapkan untuk hidup. “Aku banteng mau jadi manusia saja” pikirku. Katanya manusia mempunyai derajat yang tertinggi diantara mahluk hidup yang ada. “Tapi kemana aku harus meminta bantuan agar boleh menjadi manusia lagi!” pikirku sambil merenung menyendiri diantara jutaan banteng bangsaku.

Hingga suatu saat terlintas dipenglihatanku berupa manusia yang mendekat kearahku. “Aku merasa was-was jangan jangan aku akan menjadi mangsa maka akan tamatlah sejarahku di bumi ini” pikirku dalam hati. Ternyata yang datang menyerupai manusia itu adalah nenek nujum yang menolongku, dan aku merasa mendapat harapan baru untuk berubah lagi menjadi manusia yang aku inginkan. Setelah nenek nujum tepat berada dihadapanku, aku memohon kepadanya: “Nek!, terimakasih, nenek telah menolongku dua kali sehingga aku seperti sekarang ini berada disini bersama banteng-banteng bangsaku ini” kataku perlahan. “Ya, memang aku suka membantu yang membutuhkan bantuan dariku” katanya dengan pasti.

Dengan hati berat aku ingin memohon kembali kepada nenek nujum itu, tetapi kata-kata tak mampu keluar dari mulutku, selain hanya dengusan nafas dari hidungku sambil air liurku berceceran keluar dari bibir yang sedang mengunyah rumput segar di padang itu. Tetapi kemudian kuberanikan untuk berkata: “Nek!, maafkan aku sudah menyusahkan nenek” kataku dengan suara yang hampir tidak kedengaran. “Ada apa Teng!, kan terlihat kau bahagia hidup ramai berkelompok dipadang ini, apa kau mau dirubah lagi?” katanya seolah dia sudah mengetahui apa yang ada dibenakku. “Ya nek, aku sudah tak mampu memikirkan ada sekelompok manusia disekitar sini yang menjelang mati kelaparan, sementara kami diijinkan dimangsa oleh binatang lainnya agar mereka dapat tetap hidup dibumi ini, dan kami dilarang diburu oleh kelompok manusia itu untuk dikonsumsi sebagai penyambung hidup mereka” kataku dengan suasana iba. “Ah… kau ini ada-ada saja!. Masa kau banteng susah-susah memikirkan kehidupan manusia. Biarkan mereka memikirkan mereka, pikirkan dirimu sendiri saja” demikian kata nenek itu menasihatiku. “Tidak nek, aku mau jadi manusia saja, karena katanaya manusia itu mahluk tertinggi derajatnya, jadi aku lebih baik jadi manusia walau nanti aku mati dimangsa, biarlah mati sebagai manusia dan bukan sebagai binatang” kataku dengan pasti. Akhirnya nenek nujum yang baik hati itu menyetujui mengubah aku menjadi manusia. Sebelum menghilang nenek itu berkata: “Kalau kau perlu pertolonganku, sebut saja ‘nenek nujum’ maka aku akan ada dihadapanmu”, lalu ia menghilang.

Kini aku telah menjadi manusia lagi dan terdampar disuatu benua yang luas untuk waktu yang masih belum kuketahui masa kapan aku berada saat ini. Ternyata aku kini berada di Benua Amerika yang luas, besar, hebat. Katanya tempat itu disebut Amerika Serikat. Aku ada berjumpa dengan salah satu diantara mereka dan berbincang dengannya karena aku ingin mengetahui banyak tentang mereka. Manusia Amerika ini terlihat mengetahui banyak tentang keberadaan benua ini. Suasana tempat itu begitu indah termasuk manusia manusianya yang cantik dan ganteng untuk ukuran manusia yang menuju nilai sempurnah. Katanya di benua Amerika itu ada Negara Super Power yang penuh kuasa atas Negara-negara lain. Katanya negaranya sebagai pelopor demokrasi yang menganut kebebasan. Karena kata demokrasi agak asing ditelingaku maka aku bertanya dengan orang pintar tersebut, dan ia menjelaskan: “Demokrasi adalah hak kebebasan melakukan segala sesuatu yang dimaui oleh setiap manusia didalam rambu-rambu yang disepakati bersama. Jadi setiap manusia berhak melakukan apasaja yang dia mau sepanjang yang dia mau itu tidak mengganggu yang dimaui orang lain” demikian kata orang pintar Amerika itu berteori. Aku hanya terpaku melongo mendengar perkataannya dan merasa sulit untuk mencerna yang dimaksudkannya. Dia yakinkan lagi dan berkata: “Panutan inilah yang kami ajarkan kepada setiap manusia di bumi ini, dan kami sudah menikmatinya sehingga kami menjadi maju, besar, berkuasa, dan paling makmur diantara bangsa-bangsa di dunia ini.”

Mendengar kata-kata ‘bangsa’ aku menjadi berpikir mengenai apa dan siapa bangsa-bangsa lainnya. Kemudian aku bertanya kepadanya: “Apa dan siapa bangsa Amerika ini?” “Kami adalah kumpulan dari berbagai bangsa-bangsa yang datang ke benua ini ratusan tahun lalu, dan bersepakat membentuk Negara sehingga kami sekarang menjadi bangsa yang disebut bangsa Amerika Serikat.” “Apa tidak ada bangsa asli benua ini yang kalian temukan?” tanyaku lebih lanjut. Dia melanjutkan ceritanya: “Dahulu ada beberapa bangsa di benua ini yang kami jumpai ratusan tahun lalu, tetapi kami sudah membasmi mereka dan mereka kini sudah punah. Dahulu mereka disebut bangsa Maya, bangsa Aztek, bangsa Inka, dan bangsa-bangsa lain yang kini sudah kami punahkan”. Dari penjelasannya ini aku menjadi semakin bingung dan kesulitan untuk berpikir, karena semua yang kudapati selama beberapa penjelmaanku ternyata semuanya bertolak belakang antara harapan dan kenyataan. Lalu aku bertanya dalam hati: “Mungkinkah bangsa-bangsa lain akan punah seperti bangsa-bangsa di benua Amerika ini? Apakah bangsa Maori di New Zeland dan bangsa Aborigin di Australia akan menyusul pula?” pikirku.

Didalam kekalutanku memikirkannya, aku merasa tidak lagi berdaya memikirkan manusia ini lebih jauh lagi. Maka terlintas dibenakku untuk menyebut nenek nujum sebagaimana dia pesankan apabila aku memang mendapat kesulitan dibumi ini. Kemudian memang akhirnya nenek nujum ada dihadapanku menjadi tempat aku bertanya memohon apasaja yang aku inginkan darinya. “Nek, mohonlah aku diubah lagi menjadi manusia lain yang tidak lagi mempunyai otak untuk berpikir karena aku sudah tak mampu lagi mengendalikan pikiran-pikiranku” kataku memelas. “Wahai manusia, kalau kau meminta bantuanku untuk mengubahmu menjadi binatang, atau batu maka aku mampu melakukannya karena aku merubah kederajat yang lebih rendah, tetapi apabila engkau memintaku untuk merubah manjadi manusia lain, maka itu adalah urusanmu dan Tuhanmu” katanya dengan pasti. “Nek, apa dan siapa Tuhan itu?” kataku penuh tanda Tanya. “Tuhan adalah yang menciptakanmu dan dunia ini diwariskan untuk manusia seperti kau”. “Karena engkau sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya dari semua ciptaannya, maka engkau manusialah sebagai pewaris ciptaan itu dan engkau harus menguasainya sesuai keperluanmu sebagaimana sudah diwasiatkan kepadamu manusia” katanya sambil pergi raib entah kemana.

Kemudian aku berpikir lagi maka aku merasa ada sebagai manusia. Katanya aku mahluk sempurnah yang bertubuh sempurnah, yang mempunyai kecerdasan tertinggi karena rasio volume tengkorak kepalaku yang paling besar diantara mahluk lainnya, yaitu sekitar dua ribu senti kubik atau dua liter. “Pantas aku tak mampu memikirkan tentang kehidupanku dahulu sewaktu sebagai binatang, apalagi memikirkan kehidupan manusia, karena volume otakku memang hanya duaratus lima puluh senti kubik atau seperempat liter saja” pikirku dalam hati.

Kemudian katanya aku sebagai manusia di dalam perjalanan hidupku mempunyai hati nurani sebagai roh yang menyertai kehidupanku, aku memiliki akal budi dan pikiran, aku memiliki cinta dan benci, aku memiliki nafsu dan emosi, tawa dan tangis, putih dan hitam, terang dan gelap, itulah kesempurnaanku sebagai manusia. Itu hanyalah getaran-getaran saraf di otakku untuk menggambarkan dua hal yang betolak belakang didalam perjalanan hidup manusia disuatu alam yang sama, suatu lingkungan yang sama, katakan saja habitat yang sama, yang terbelenggu didalam suasana ketidak tahuan, ketidak mauan, ketidak perdulian, atau kata-kata sebutan lain yang mampu diwakili oleh bahasa.

Jelas terlihat olehku bahwa aku yang berdiri ditengah-tengah mereka yang mempunyai gambaran yang sama, sama seperti yang digambarkan oleh agama bahwa aku manusia diciptakan menurut gambarnya, yang tidak begitu perlu aku uraikan apa makna yang terkandung didalam kata-kata yang disebut ‘firman’ itu. Sebagai manusia didalam pengembaraan alam pikirannya tentu akan berkembang tahap demi tahap, dari suatu tahap ke tahap berikutnya yang tidak henti-hentinya sampai manusia itu berada pada tahap dimana ia akan mencari jatidirinya yang memunculkan banyak pertanyaan dibenaknya: “Siapa aku? Siapa orangtuaku? Siapa kakekku? Siapa nenek moyangku? Siapa penciptaku?” demikian pula berkembang pertanyaan: Dimana? Bagaimana?, Mengapa?, dan seterusnya, dan seterusnya.

Demikian pula bangsa-bangsa Maya, bangsa Aztek, bangsa Inka yang membuat ritual-ritual dijamannya. Mereka membangun dan menyusun batu-batu sedemikian rupa posisinya agar mampu berkomunikasi dengan Tuhannya. Demikian pula bangsa Sumer di Mesopotamia, sekarang bernama Irak, yang membangun Zigurat ribuan tahun yang lalu untuk tempat melaksanakan ritual mencari Tuhannya. Demikian pula bangsa Mesir kuno yang mencari Tuhannya dengan membangun Piramida sebagai tempat bersemayam raja-rajanya dengan prosesi ritual mummifikasi agar tubuh tetap abadi dan Tuhannya akan memberikan roh hidup menuju immortality.

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

>>> Selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: