Terkesima (Bagian-4)

Kemudian Tondi berbisik yang menyentak keterkagumanku mendengar cerita yang disampaikannya tentang belangit, kadang aku terkagum dan juga sulit untuk memahami karena semua ciptaan Mulajadi Nabolon demikian tak terjangkau oleh pikiran. Lalu Tondi berkata: “Mari… aku akan menceritakan kepadamu tentang belangit yang harus difahami manusia, karena manusi akan berhubungan langsung dan saling ketergantungan dengannya yaitu Bulan, Bumi, dan Matahari, beginilah ceritanya”: 

Sejak jaman dahulu kala, bulan sudah menjadi pengukur waktu bagi mahluk Bumi dan banyak mempengaruhi peradaban sejak berabad-abad yang lalu.  Sedemikian tertariknya manusia akan Bulan, sehingga ada tercatat lebih dari 70 kali perjalanan ke Bulan, bahkan menginjakkan kaki dan berjalan di Bulan dan bahkan telah membawa sekitar 400 kg batu-batuan dan lapisan tadahnya ke Bumi demi untuk memahaminya. 

Keberadaan Bulan ternyata membuat kestabilan cuaca selama lebih dari miliaran tahun, dan tentu saja berpengaruh besar terhadap kelangsungan dan perkembangan kehidupan di Bumi. Bagaimana awal terjadinya Bulan? Suatu benda angkasa seukuran Mars pernah menghantam Bumi yang mengakibatkan terlemparnya bongkahan campuran Bumi dan benda angkasa tersebut sehingga terbentuk Bulan. Diperkirakan terjadinya Bulan adalah sekitar 4,5 milliar tahun SK. Pada awal terjadinya Bulan, permukaannya melebur dibawah temperatur yang sangat tinggi dan pembekuan lava yang tidak seragam sehingga ada terlihat permukaan yang gelap dan terang. Permukaan lava yang gelap ini terjadi sekitar 2,5 miliar tahun SK. 

Permukaan Bulan dapat terlihat dengan mata telanjang dari Bumi dan selalu dalam bentuk yang sama oleh karena Bulan hanya berotasi sekali saja pada aksisnya pada saat bersamaan mengorbit Bumi. Bila kita melihat Bulan, maka seakan terlihat “Manusia di Bulan”, yaitu paduan daerah terang dan gelap. Daerah terang merupakan daerah lunar di dataran tingginya, sedangkan daerah gelap merupakan lembah lava. Sejak awal terbentuknya Bulan, hampir tidak pernah mengalami perubahan kecuali akibat benturan meteor dan komet. Demikian juga tidak ada kegiatan gunung berapi, tetapi pernah ada gempa dan letusan gas dari beberapa kawah yang dikenal sebagai Aristarchus, termasuk adanya daerah bermedan magnet disekitar kawah, tetapi medan magnet ini tidak mirip seperti di Bumi. Juga ada ditemukan air-es dikedua daerah kutubnya. 

Dibanding dengan Belangit lainnya maka tak ada yang lebih dikenal manusia selain Bumi. Hari demi hari dan bulan demi bulan adalah gerak kehidupan manusia yang sejak jaman dahulu sudah menjadi patokan penanggalan bagi manusia. Tak bisa lagi dipungkiri bahwa Bumi dan Bulan merupakan suatu kehidupan di galaxy Bisak. Bumi dan Bulan bisa diibaratkan sebagai Suami-istri yang hidup dalam ketergantungan. Kehadiran Bulan bagi Bumi adalah untuk kestabilan. Begitu rajinnya dan teraturnya Bulan mengorbit Bumi dan kemudian bersama-sama mengitari Matahari sebagai majikan yang menjamin sumber penghidupannya. Hari demi hari Bulan memantau ritme kehidupan di Bumi, dan memang betul Bulan itu adalah istri yang baik bagi Bumi, sehingga bermiliar tahun iklim dapat distabilkannya dan kehidupan di Bumipun dapat terus berlangsung. 

Permukaan kerak Bumi dimana manusia tinggal dipengaruhi oleh gravitasi Bulan, sementara dari dalamnya dipengaruhi oleh gaya tarik yang bersumber di intinya. Ada terdapat kristal raksasa di dalam inti perut Bumi yang berjarak sekitar 5.000 km dalamnya dari permukaan. Kristal ini berukuran sekitara 600 km garis tengahnya. Kulit inti bumi ini juga mengandung besi dan nikel yang berkristal, dan berukuran sekitar 2.440 km garis tengahnya. Pada inti Bumi ini terjadi tekanan sebesar 3,5 juta kali tekanan di permukaan Bumi, artinya tekanannya sebesar 3.500.000 atm (tekanan di permikaan Bumi = 1 atm). Akibat tekanan ini maka temperaturnya terukur sebesar lebih dari 6.000 0C, atau sedikit lebih tinggi dari temperatur di permukaan matahari. Bumi berputar pada porosnya di dua kutub utara dan selatan. Oleh karena inti Bumi mengandung kristal besi yang padat dan dilapisan sebelah luar inti terdapat cairan, maka perputaran pada porosnya ini menimbulkan medan magnit pada kutb-kutubnya. 

Matahari adalah belangit yang sangat memegang peran penting di dalam Sitasur. Matahari adalah benda angkasa terbesar dan mempunyai massa sekitar 99,86% dari total massa Sitasur.  Kepadatan Matahari sekitar 333.400 kali Bumi. Bulatan matahari sebanding dengan sejumlah seratus sembilan Bumi, dan bagian dalamnya bisa menampung 1,3 juta Bumi. Lapisan luar Matahari yang dapat terlihat mata disebut photosphere dan temperatur 6.000ºC. Permukaannya berupa leburan akibat ledakan-ledakan turbulensi energy di permukaannya. Energy radiasi panas muncul dari pusat Matahari sebesar 383 milliar-triliun kilowat, yang sama dengan energy yang dihasilkan oleh 100 miliar ledakan TNT dalam setiap detiknya. Pada pusatnya ini bertemperatur 15.000.000ºC; dan panas ini memerlukan 27.000 tahun perjalanan untuk mencapai permukaannya. Setiap detik terdapat 700 juta ton hidrogen berubah menjadi debu Helium. Dalam prosesnya, 5 juta ton energy murni, sehingga semakin lama Matahari akan semakin ringan. 

Daya tarik gravitasinya menghasilkan tekanan dan temperatur di pusatnya sekitar lebih dari satu milliar kali atmosfer di Bumi, dengan kerapatan 160 kali kerapatan air.  Dipermukaan matahari terdapat lapisan photosfer setebal 500 km, dan di atasnya lagi terdapat lapisan chromosfer, yang dapat terlihat pada saat gerhana matahari total. Pada lapisan chronosfer akan meningkat temperatur sampai 50.000 ºK, sementara kerapatannya menurun 100.000 kali dibanding pada lapisan photosfernya. Di atas chronosfer ada lapisan corona (mahkota). Setiap detik 700.000.000 ton hidrogen dirubah menjadi 695.000.000 ton Helium, dan 5.000.000 dalam bentuk sinar Gamma. 

Matahari dipersonifikasikan menjadi dewa di banyak mitologi seperti Yunani menyebutnya Helios, Romawi menyebutnya Sol, dan Bangsa Batak menyebutnya Mata ni Ari. Mengetahui sifat-sifatnya yang sedemikian menakjubkan, maka bangsa-bangsa menyebut sebagai dewa. Bagaimana pula hebatnya Mulajadi Nabolon Maha Penciptanya? Demikianlah pengembaraanku bersama Tondi di Alrase sudah selama 11 miliar tahun untuk menyaksikan ciptaan Mulajadi Nabolon yang maha dahsyat itu dan aku mengagumi keindahannya. 

Demikianlah penciptaan ini oleh Mulajadi Nabolon yang menciptakan Alrase didalam sebuah bentuk balon yang maha besar. Alrase dengan segala isinya dan bagi Mulajadi Nabolon hanyalah sebuah balon?  Bumi ada di dalam balon, Matahari ada di dalam balon, Sitasur ada di dalam balon, galaxy ada di dalam balon, 400an miliar galaxy ada di dalam balon, semuanya ada di dalam balon, lalu saya termasuk bersamanya ada di dalam balon itu. Betapa kecilnya Bumi ini, betapa kecilnya Indonesia ini, betapa kecilnya Jakarta ini, betapa kecilnya rumahku, betapa kecilnya aku………………. Bagi si Maha Pencipta Mulajadi Nabolon semuanya berarti tak berarti. 

“Itulah perjalan pengelanaanku bersama Tondi mengarungi Alrase maka itulah hari pertamaku bersama Tondi.” 

PERHATIAN:  Isi artikel ini adalah bagian dari buku novel Perjalanan Spiritual Ke Tanah Batak adalah Copy Right dan apabila menyadur atau memetik isi novel ini agar meminta izin melalui situs ini, dan harus mencantumkan judul bukunya dan sumbernya dari BATAK ONE https://batakone.wordpress.com.

Sebelumnya<<<>>>Selanjutnya

Mulak tu bona>>>

2 Responses to “Terkesima (Bagian-4)”

  1. andrian panjaitan Says:

    di mana bisa dapat buku ini saya sangat dng artikel anda

  2. andrian panjaitan Says:

    di bisa dapat buku ini. Makasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: