Batak – Ternyata Bangsa Purba

Oleh: Maridup Hutauruk

Bangsa Batak adalah suatu bangsa besar yang sudah dikenal pada jaman purba masa Sebelum Masehi oleh bangsa-bangsa lain terutama oleh bangsa-bangsa yang ada di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Masih belum banyak penelitian yang dilakukan oleh kalangan ahli mengenai Bangsa Batak, karena berbagai faktor yang mengurungkan niat itu.

Dari kalangan Bangsa Batak sendiri belum ada terlihat keinginan tersebut dikarenakan mereka masih terhibur dengan eforia datangnya peradaban baru dalam kehidupan mereka sehingga hal yang mendasar tentang identitasnya peradaban terlupakan bahkan ada kecenderungan untuk menghilangkan budayanya baik secara sengaja maupun tanpa disadari atau ada upaya lain dari luar kalangan yang secara sistematis berusaha menghilangkan peradaban kuno ini.

Jejak-jejak Purba

Bangsa Batak yang besar itu pada masanya di jaman purba sudah menjalani sejarahnya yang panjang, bahkan jejak-jejaknya masih ditemukan di berbagai kawasan dimana manusia pernah menjejakkan kakinya di Bumi ini.

Bangsa Batak pernah menjejakkan kakinya di bumi Filippina dan mereka masih menghormati dan mempertahankan nama sakti bangsanya yaitu Batak. Walaupun jumlah mereka hanya tinggal sekitar 500 orang tetapi Batak Filippina ini sudah masuk dalam program penyelamatan dunia. Batak di Filippina menjadi orang terpinggirkan dan mereka seolah tidak memiliki hak sebagai warga negara walaupun dalam sejarahnya mereka sudah bermukim ribuan tahun sebagai penduduk asli.

Bangsa Batak juga pernah menjejakkan kakinya di Eropah dan masih menghormati nama saktinya yaitu Batak yang ada di daerah pegunungan di Selatan Bulgaria. Batak Bulgaria ini hampir mengalami sejarah yang mirip dengan bangsa asalnya di Tanah Batak yaitu bahwa mereka hampir dipunahkan oleh Ottoman dari Turki dengan menyembelih lebih dari 5.000 orang dari total 6.000 orang jumlah Batak pada masa itu, dengan maksud untuk memaksakan faham Islam di tahun 1876, sementara leluhur mereka di Tanah Batak juga disembelih dengan menggunakan pedang-pedang Turki sehingga sekitar 600.000 bangsa batak dibantai oleh Paderi yang memaksakan faham Islam di tahun 1816 – 1820.  Akhirnya Bangsa Batak di Selatan dimasuki faham Islam dan di Utara dimasuki Faham Kristen.

Jejak-jekak kaki Bangsa Batak ini tentu jejak yang masih dapat terlihat dipermukaan sampai saat ini, namun jejak-jejak lainnya masih memungkinkan untuk ditemukan melalui kepedulian untuk mencari identitasnya sendiri, lalu kemudian merangkai sejarahnya untuk memastikan bahwa dahulu mereka pernah berjaya.

Kajian sejarah mengatakan bahwa Bangsa Batak adalah bangsa yang disebut sebagai Proto Melayu, sementara Bangsa Melayu adalah bangsa-bangsa yang berasal dari satu ras yang disebut ras bangsa Austronesia yang meliputi bangsa-bangsa dimulai dari Madagaskar, Indonesia, Malaysia, Brunai, Thailand, Burma, Vietnam, Kamboja, Filippina, atau boleh disebut sebagai bangsa Asia Tenggara, yang kemudian membentuk ras bangsa baru yang disebut ras bangsa Melanesia, ras bangsa Polynesia, dan ras bangsa Micronesia.

Untuk komunitas Bangsa Batak lebih dahulu mendiami Pulau Sumatra, kemudian berkembang menjadi Melayu yang ada di Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaysia

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat maka sejarah peradaban manusia sudah mulai mendapat titik terang untuk menemukan asalmuasal peradaban.

Pada awal berkembangnya kelompok ilmu yang mempelajari peradaban manusia bahwa ancestory manusia dikatakan berasal dari Afrika, akan tetapi ilmu genetika yang begitu maju dengan teknologi DNA (deoxyribonucleic acid) dan mtDNA (mitocondrial deoxyribonucleic acid) sehingga memunculkan teori baru mengenai ancestory manusia yang bukan lagi berasal dari Afrika tetapi dari Asia Tenggara.

Penelusuran genetika manusia untuk mencari asal-muasal nenek moyang manusia mulai membuyarkan teori lama bahwa Adam dan Siti Hawa bukanlah sebagai pasangan yang hidup bersama sebagai Ibu-Bapa biologis yang menurunkan keturunan manusia-manusia. Mengapa penentuan ibu biologis dengan metode tercanggih DNA dan mtDNA memunculkan rentang waktu kehidupan mereka yang sangat jauh berbeda puluhan ribu tahun?

Spencer Wells seorang doktor ahli genetika dan kepurbakalaan dari Universitas Texas dan Universitas Harvard mengemukakan penelitiannya bahwa manusia sekarang berasal dari Chromosom-Y Adam atau lebih dikenal dengan istilah Y-MRCA (Y-Most Recent Common Ancestor = Chromosome-Y laki-laki, nenek moyang terawal) yang diperkirakan hidup 60.000 tahun yang lalu di Afrika. Sementara Metode mtDNA menelusuri kode genetika melalui penelusuran garis ibu dan ibu biologis manusia pertama ditaksir ada 140.000 tahun lalu.

Tentu karena para ahli genetika masih membawakan asumsinya dengan asalmuasal manusia adalah Afrika sebagai parameter. Mungkin masih perlu waktu untuk merubah paradigma asal-muasal manusia, adalah dari Batak.

Dikatakan oleh para ahli bahwa Gunung Toba meletus sekitar 73.000 – 75.000 tahun lalu telah menimbulkan perubahan iklim yang sangat radikal dan dicurigai telah merubah genetika keturunan manusia. Jumlah manusia diperkitakam pada masa itu sekitar 1 juta jiwa mengalami kepunahan hingga hanya tinggal sekitar 10.000 jiwa atau bahkan kurang atau sekitar 1.000 pasang saja.

Kekuatan letusan diperkirakan sekitar 1 gigaton TNT dan kalau dibandingkan dengan bom nuklir di Hirosima yang besarnya hanya 13 kiloton TNT berarti daya rusak Gunung Toba adalah 77 juta kali lipat besarnya.  Volume debu yang disemburkan ke angkasa sebanyak 2.800 Km kubik dan bila dibandingkan ledakan sejenis seperti Gunung Pinatubo di Filippina hanya sebesar 4 Km kubik, maka gunung Toba adalah 700 kali besarnya, makanya permukaan angkasa tertutupi debu dan mengalami total gelap selama 6 tahun dan dan terjadinya perubahan cuaca yang sangat dingin selama 1.000 tahun dan selama 10.000 tahun berikutnya bumi mengalami pendinginan yang disebut jaman es (glacial age atau ice age).

Endapan debu pasir yang menyebar ke seantero dunia (Afrika Timur, Asia, Timur Tengah) menutupi permukaan bumi seperti di Malaysia setinggi 9 m dan di India setebal sampai 6 m. Apakah manusia yang tinggal disekitar Gunung Toba tidak ada yang selamat? Para ahli menyimpulkan tidak mungkin, tetapi perlu dikemukakan pendapat yang memungkinkan bahwa ada manusia sekitar yang selamat dan mungkin itulah manusia Batak? Alasan tidak mungkinnya ada manusia disekitar yang selamat menyurutkan para ahli untuk melakukan penelitian. Orang lain saja sudah enggan melakukan penelitian apalagi orang Batak sendiri?

Millenia Sebelum Masehi

Mungkin akan menarik untuk membuat kajian bahwa Indonesia merupakan tempat berkembangnya peradaban yang tercanggih yang pernah ada di dimuka bumi? Sementara ahli-ahli dari bangsa Eropah dan Amerika sibuk untuk meneliti dalam rangka menguak rahasia yang berawal dari suatu cerita yang dianggap legenda, maka orang-orang Indonesia tidak pernah membuka ruang di benak untuk mengenal apa yang disebut Atlantis sebagai benua yang hilang.

Dari sekian banyak upaya untuk menguak misteri ini yang tentusaja sudah mengeluarkan dana yang sangat besar baik oleh perorangan, kelompok, maupun institusi keilmuan, ternyata benua Atlantis yang hilang itu adalah Indonesia. Dari puluhan parameter kajian menyimpulkan bahwa Sumatra menjadi pusat bangsa Atlantis yang disebut hilang misterius itu. Plato menjadi sumber awal untuk mencari harta karun peradaban yang hilang itu.

Millenia Sesudah Masehi

Sejarah yang masih baru juga dijejakkan oleh kelompok Batak yang membentuk komunitasnya di Negri Malaysia, namun mereka sudah banyak yang menghilangkan marga dan disebut Melayu. Dalam lingkup kecil sebagai bangsa, Bangsa Batak di Indonesia hanya diklasifikasikan sebagi suku dan bahkan yang suatu saat nanti akan hilang sama sekali.

Marga adalah bentuk-bentuk peninggalan peradaban purbanya oleh karena marga-marga memiliki kemuliaannya sendiri-sendiri yang menjadi ke-khusus-an pada Bangsa Batak yang berdiri sendiri-sendiri dan saling menghormati satu sama lainnya diatas kemuliaannya masing-masing. Marga marga memanglah menjadi suku-suku pada Bangsa Batak dan setiap marga menjadi satu suku yang membawakan tatanan kemasyarakatannya sendiri, bergaul dalam kelompok suku-suku lainnya yang disebut Bangsa Batak.

Bangsa Batak yang ada di Indonesia terdiri dari sekitar 300-san suku yang diwujudkan dalam bentuk marga-marga. Pada awal kemerdekaan, sejarah kebangsaan Indonesia masih menyebutkan marga sebagai suku, namun seiring dengan perjalanan waktu istilah tersebut mengalami perubahan menjadi suku marga dan kemudian terjadi penciutan makna menjadi marga saja dan sekarang semua marga-marga yang ada hanya disebut sebagai satu dalam penyebutan suku Batak.

Kalau kita urutkan dengan bahasa umum seperti Nation – Tribe – Clan – Surname (Bangsa – Suku Bangsa – Marga – Sub marga). Dalam hal penggolongan ini untuk Bangsa Batak adalah Bangsa Batak (keseluruhan) – Suku Bangsa Batak (Batak Toba termasuk Mandailing – Angkola – Sipirok, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Dairi, Batak Pakpak, Batak Kluet, Batak Alas, Batak Gayo, Batak Dalleh yang sudah menghilangkan marganya, termasuk Melayu Deli yang pada dasarnya berasal dari keturunan Suku Bangsa Batak yang melingkupi letak geografis hampir seluruh Sumatra Utara..

Saat ini, Batak bukanlagi sebagai bangsa melainkan hanya disebut sebagai suku. Banyak faktor terjadinya penciutan pengakuan Batak sebagai Bangsa, dan kebanyakan datangnya dari kalangan Batak sendiri. Pengaruh yang merubah peradaban tersebut adalah seperti uraian berikut.

1. Masuknya Faham Agama Islam di Tanah Batak Selatan.

Faham keagamaan (Islam) pertama kalinya masuk ke Tanah Batak adalah dari kawasan Tanah Batak di Selatan. Masuknya Islam bukan secara langsung dilakukan oleh penyebaran yang bersumber dari tanah asalnya Islam berkembang di Timur Tengah karena sejak berkembangnya faham Keagamaan Islam memang sudah banyak semacam sekte yang saling tarik menarik satu sama lainnya bahkan menjadi konflik ajaran yang saling menunjukkan kebenarannya dengan cara peperangan.

Bangsa Minangkabau sejak beberapa ratus tahun kebelakang sudah menganut faham keagamaan (Islam) bermazhab Syiah sebagai satu dari 3 aliran besar Islam yang tebentuk setelah Nabi Muhammad SAW wafat tahun 632 H, yaitu Islan Syiah, Islam Sunnah, Islam Khawariz.

Islam Syiah dipelopori oleh Keponakan Nabi Muhammad SAW yang mengambil putrinya Fatimah sebagai istri. Islam Sunnah dipelopori oleh Mertuanya Abubakar As Siddik dengan anaknya Aisah yang menjadi istri Nabi Muhammad SAW, Sementara Islam Khawariz dipelopori oleh orang-orang yang bukan Arab.

Dari golongan Islam Sunnah berbagi menjadi 4 sekte yang disebut Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafii, Mazhab Hambali. Mazhab Hambali inilah yang kemudian menghancurkan tatanan kemasyarakatan Minangkabau yang matriarki termasuk memberangus kerajaan Pagaruyung. Islam Mazhab Hambali ini pula yang kemudian menghancurkan tatanan kemasyarakatan Tanah Batak di Selatan yang mereka anggap sebagai paganis dan berhasil memaksakan faham Islam menggantikan Faham Mulajadi Nabolon.

Bangsa Minangkabau sudah sejak jaman purba saling bersahabat dengan Bangsa Batak yang patriarki, menghormati eksistensinya masing-masing tanpa ada gesekan apapun. Agama Islam Mazhab Syiah sudah sejak tahun 1503 semasa pemerintahan Tuanku Burhanuddin Syah. Tahun 1700 sudah seluruh Bangsa Minangkabau memeluk Islam Mazhab Syiah ini, dan akur-akur bertetangga dengan Bangsa Batak yang memeluk agama Mulajadi tanpa ada anggapan ‘paganis’.

Sama halnya Kerajaan Islam di Aceh yang pada masa itu dipimpin oleh Sultan Alaudin Johar Syah (1801-1829) masih berhubungan erat dengan Raja Sisingamangaraja-X dan tidak menganggap sebagai ‘paganis’. Batas demarkasi antara Bangsa Minangkabau di Muarasipongi dan Bangsa Batak di Lubuk Sikaping sudah dihormati sejak ribuan tahun.

Perang Saudara yang terjadi di Minangkabau (1804 -1807) yang menghancurkan kerajaan Pagaruyung  Ali Alam Syah. Minangkabau dikuasai oleh Paderi. Pendirian benteng Bonjol di tahun 1808 dan benteng Rao di tahun 1811 tentu mengkhawatirkan para raja-raja Batak di Tanah Batak Selatan karena hubungan perdagangan yang berpusat di Lubuk Sikaping dari Bangsa Batak sudah dianggap ancaman apalagi para petinggi Paderi adalah Orang-orang sakti Batak.

Kerajaan Aceh juga melihat kekhawatiran ini bahwa Paderi akan invasi ke Tanah Batak untuk tujuan lanjut menyerang Aceh melalui penguasaan Tanah Batak. Sultan Alaudin Johar Syah memberi isyarat bahaya yang akan datang dari Paderi makanya Raja Sisingamangaraja-X dengan Panglimanya Jomba Simorangkir beserta  120 orang pasukan berkuda mengadakan pertemuan dengan raja-raja Batak di Tanah Batak Selatan membentuk kekuatan pertahanan. Sisingamangaraja-X, Raja Pakantan Lubis di Mandailing, Raja Parausorat, Raja Baum Siregar dari Sipirok yang kemudian menggunting dalam lipatan ternyata menjadi pimpinan pasukan Paderi melawan Sisingamangaraja-X di Tanah Batak Utara.

Terjadinya Perang Saudara Paderi yang mengawali terjadinya kehilangan kepercayaan diri (Down Syndrome) sebagai bangsa yang bersatu di Tanah Batak. Masuknya faham Islam yang disebut Islam Putih bermazhab Hambali, meluluh lantakkan tatanan kemasyarakatan yang sudah aman tenteram selama ribuan tahun. Suku bangsa di Tanah Batak Selatan inilah yang paling menderita akibat terjadinya perang saudara ini, setelah sebelumnya sukses menghancurleburkan Ranah Minang 1803 – 1807 sehingga Bangsa Minang yang sebelumnya telah menganut faham Islam bermazhab Syiah berubah haluan secara paksa.

Setelah sukses menguasai Ranah Minang sambil menyusun kekuatan dan mendirikan Negara Darul Islam, maka Paderi berhasil merebut Tanah Batak Selatan di Mandailing , Angkola, Sipirok, Padang Lawas di tahun  1816-1818 dan meng-Islam-kan Tanah Batak Selatan serta merekrut pasukan baru dari orang Batak yang baru di-Islam-kan di Tanah Batak Selatan untuk menggempur Tanah Batak Utara yang pada saat itu dipimpin Oleh Raja Sisingamangaraja-X yang akhirnya tewas pada tahun 1819.

2. Ekspansi Faham Agama Islam Di Tanah Batak Utara.

Sukses menguasai Tanah Batak Selatan memampukan Paderi mempersiapkan pasukan Islam Paderi yang direkrut dari Tanah Batak Selatan. Para pemimpin Paderi yang meluluhlantakkan Tanah Batak Selatan adalah orang-orang Batak sendiri. Tahun 1816 – 1818 sudah dapat membentuk pasukan besar, yang semuanya sudah dipaksa memeluk Islam. Tanpa disadari bahwa Bangsa Batak di Selatan yang dipaksa memeluk Islam hanya menjadi pion yang dikorbankan oleh Paderi. Alasan penyebaran faham agama Islam tidak mungkin kesuciannya bisa difahami oleh Bangsa Batak di Selatan yang hanya dalam waktu singkat dapat merubah agama Mulajadi yang sudah ribuan tahun dianut. Tentu ada pemaksaan yang sangat hebat terjadi dan kenyataannya perampokan harta, perkosaan dan pembunuhan anggota keluarga menjadi keterpaksaan dengan sadar dan rela akan membunuh saudaranya sendiri di Utara. Jadila pion-pion dipertaruhkan. 75% orang Batak baik dari Tanah Batak Selatan dan Tanah Batak Utara mati akibat perang saudara dan begu-antuk (penyakit sampar, kolera).

Keturunan Bangsa Batak yang ada sekarang adalah hasil seleksi ketat akibat perang saudara tersebut makanya harus bersyukur menjadi penyambung keturunan dan selamat dari kepunahan yang terencana.

Dalam 2 tahun pembunuhan massal di Tanah Batak Utara (1818 – 1820) telah meninggalkan catatan kelam bagi Bangsa Batak yang entah kenapa kebodohan datang sekonyong-konyong yang hampir menumpas satu peradaban kuno yang disebut Bangsa Batak.

Ternyata pemaksaan yang berhasil sukses di Tanah Batak Selatan tidak terjadi di Tanah Batak Utara. Paderi keluar dari Tanah Batak Utara dan masih meninggalkan perang saudara yang berkepanjangan di Tanah Batak Selatan.

3, Masuknya Faham Agama Parmalim Di Tanah Batak Utara

Persahabatan Dinasti Kerajaan Sisingamangaraja sudah berlangsung lama dengan Kerajaan Islam Aceh. Sejak Raja Sisingamangaraja-I sampai dengan Sisingamangaraja-X sudah terjalin hubungan yang akrab. Indikasi penyerangan Paderi ke Tanah Batak sudah diwanti-wanti oleh Sultan Alauddin Johar Syah kepada Raja Sisingamangaraja-X.

Seakan tidak percaya bahwa hubungan Bangsa Minangkabau yang begitu akrab tanpa pernah ada konflik dengan Bangsa Batak tidak langsung ditanggapi oleh Raja Sisingamangaraja-X. Sementara Kerajaan Aceh yang mencium adanya bahaya karena kecurigaan penyebaran agama Islam yang memang dimungkinkan terjadi disebabkan Kerajaan Islam Aceh sudah pengalaman dan memahami gerak-gerik faham Islam yang beraneka warna. Disamping itu Kerajaan Aceh sudah pernah menguasai Bangsa Minangkabau sehingga ada kecurigaan akan berekspansi melalui Tanah Batak memang menjadi kebenaran rencana Paderi.

Raja Sisingamangaraja-X mulai mengajarkan agama Parmalim yang disebarkan oleh para datu Parbaringin. Kemudian dibentuk pula kelompok pemimpin eksklusif yang disebut Parhudamdam terpisah dari kekuasaan raja-raja wilayah.

Agama ini masih berpatokan dengan agama Mulajadi yang dipercayai oleh Bangsa Batak purba dan mengadopsi ajaran Islam yang sudah tidak asing lagi bagi Sisingamangaraja-X yang akrab berhubungan dengan Kerajaan Islam Aceh. Pelaksanaan ritual leluhur yang mengadopsi ritual islam dan menerapkan pantangan memakan daging babi, daging anjing, dan darah membuat ajaran ini menjadi aneh bagi masyarakat awam Bangsa Batak di Utara. Walaupun masih membawakan agama leluhur Mulajadi namun kemudian agama ini tidak berkembang menjadi anutan di masyarakat melainkan terjadi eksklusifisme hanya untuk kalangan yang disebut Parbaringin.

Pemikiran yang sebenarnya cemerlang untuk terus mendapat dukungan dari Kerajaan Islam Aceh, dan dengan perkiraan bahwa Paderi akan mengurungkan niat ekspansif dari Tanah Batak di Selatan karena ada kemiripan anutan.

Sisingamangaraja-X mengalami kondisi yang dilematis untuk situasi yang berkembang pada masa itu. Sang Raja tidak mau mengambil resiko untuk memaksakan agama barunya dianut secara umum oleh masyarakatnya disamping karena budaya leluhur yang tidak bisa dihilangkan begitusaja juga khawatir kehilangan dukungan, juga karena keputusan besar seperti ini harus dengan musyawarah raja-raja adat secara demokratis.

Resiko kehilangan dukungan dari rakyat, ancaman yang sudah ada dihadapan mata, takut tak mendapat dukungan dari Kerajaan Islam Aceh, maka agama baru Parmalim tidak dapat berkembang dan malah menjadi agama tertutup di lingkaran dalam kerajaan saja.

4. Masuknya Faham Agama Kristen Di Tanah Batak Utara

Selepas hengkangnya Paderi dari Tanah Batak di Utara di tahun 1820 maka di Tanah Batak Utara khususnya di Silindung sudah seperti kawasan tak bertuan. Kesatuan raja-raja di Tanah Batak di Utara sudah sulit dipersatukan karena masih shock dengan peristiwa perang saudara Paderi dan bakal Raja Sisingamangaraja-XI baru lahir sehingga tidak ada  raja pemersatu dan di Bakkara sementara dipimpin oleh Datu Amantagor Manullang.

Masa kekosongan raja pemersatu dimanfaatkan oleh para evangelis yang pada saat itu memulai evangelisasinya di Tanah Batak Selatan berbagi tugas untuk masuk ke Tanah Batak Utara yang dipelopori oleh pendeta Burton, pendeta Waard termasuk pendeta Verhoeven. Pengkristenan masih berlanjut kemudian oleh pendeta Lyman dan Munson yang kemudian mati dibunuh dan kabarnya dimakan di Lobu Pining.

Sementara di Tanah Batak Selatan masih terus juga berlangsung peng-Kristenan oleh pendeta Van Asselt, Van Danen, dan Dammerboer. Sikecil Sisingamangaraja masih sekolah perang di Kerajaan Aceh. Raja Pontas Lumbantobing merangkul para evangelis membangun kembali Tanah Batak Utara khususnya Silindung, sehingga kehancuran peperangan dapat dibangun penataan settlement yang baru termasuk sekolah-sekolah.

Evangelisasi yang dijalankan oleh Nommensen di tahun 1864 berkembang pesat. Kekuasaan monotheist Debata Mulajadi Nabolon dengan sangat elegan tetap dipakai oleh Nommensen pada awalnya yang kemudian dihilangkan samasekali.

Penyakit menular kolera yang berkecamuk di Silindung di tahun 1867 menjadi alasan utama Nommensen untuk menghapuskan kekuasaan Mulajadi Nabolon berganti menjadi Debata yang dipercaya sebagai tuhan dalam faham Kristen.

Dinasty Raja Sisingamangaraja yang dimitoskan sebagai titisan Debata Mulajadi Nabolon ternyata meninggal akibat kolera dimana pengikut Nommense seolah kebal terhadap kolera (dengan pola hidup bersih). Runtuhlah pamor Mulajadi Nabolon. Masyarakat Bangsa Batak khususnya di Silindung berlomba-lomba memeluk agama Kristen. Pada masa inilah banyak berubah nama-nama orang batak menjadi nama-nama eropah.

5. Masuknya Kolonialis Belanda di Tanah Batak.

Tahun 1834, Belanda mulai memasuki Silindung dan merubah sistim kekuasaan raja-raja agar dapat dipecah belah (Raja Bius >< Raja Ihutan). Raja-raja Batak tidak lagi mempunyai kekuatan persatuan. Banyak perselisihan terjadi akibat pembentukan kekuatan raja-raja yang diangkat oleh Belanda. Tatanan kemasyarakat berubah total dimana masyarakat dibingungkan oleh faham baru melalui evangelisai Kristen dan penguasaan pemerintahan oleh Kolonial Belanda. Kekuatan Parbaringin yang diciptakan Raja Sisingamangaraja-X tidak bergigi.

Tahun 1830 Sisingamangaraja-XI dinobatkan menjadi raja pada usia 10 tahun, dan tidak begitu terdengar perjuangannya dan hanya terlihat sebagai penyambung rentang waktu kepada keturunannya yang kemudian menjadi Raja Besar Sisingamangaraja-XII. Sesekali Sisingamangaraja-XI membuat kejutan menyerang Belanda yang mulai menginjakkan kakinya di daerah Toba. Kekuasaan Sisingamangaraja-XI di Silindung ternyata kalah pamor dengan Raja Pontas Lumbantobing sehingga beliau kurang berpengaruh bagi masyarakat Silindung hingga meninggalnya di tahun 1867 akibat penyakit kolera.

Sementara Evangelisasi yang dijalankan oleh Nommensen di tahun 1864 berkembang pesat. Kekuasaan monotheist Debata Mulajadi Nabolon dengan sangat elegan tetap dipakai oleh Nommensen pada awalnya yang kemudian dihilangkan samasekali. Penyakit menular kolera yang berkecamuk di Silindung di tahun 1867 menjadi alasan utama Nommensen untuk menghapuskan kekuasaan Mulajadi Nabolon berganti menjadi Debata yang dipercaya sebagai tuhan dalam faham Kristen. Dinasty Raja Sisingamangaraja yang dimitoskan sebagai titisan Debata Mulajadi Nabolon ternyata meninggal akibat kolera dimana pengikut Nommense seolah kebal terhadap kolera. Runtuhlah pamor Mulajadi Nabolon.

Politik pecah-belah yang dilakukan oleh Kolonial Belanda mulai merasuk ke daerah Toba dan ini langsung ditangkal oleh Raja Sisingamangaraja-XII yang memproklamirkan perang dengan Belanda di tahun 1876.

Kekacauan penguasaan wilayah yang dibentuk oleh Belanda untuk melemahkan perlawanan dari raja-raja di Tanah Batak Utara (Raja Bius) mulai ditata kembali oleh Raja Sisingamangaraja-XII. Di Tanah Batak dibentuk persatuan raja-raja sebagai penguasa wilayah.

Tanah Batak dibagi dalam 4 wilayah, sama seperti yang dahulunya terbentuk semasa Sisingamangaraja-X, yang diwakili oleh masing-masing seorang yang disebut Raja Naopat. Raja Naopat merupakan perwakilan raja di tiap wilayah yang juga dikuasai oleh raja yang disebut Raja Maropat. Jadi satu wilayah kekuasaan diperintah oleh 4 raja yang disebut Raja Maropat, dan satu diantara Raja Maropat diangkat sebagai perwakilannya kepada Sisingamangaraja-XII yang digelari sebagai Raja Naopat. Makanya pemerintahan kerajaan Sisingamangaraja-XII memiliki sistim pemerintahan diwakili oleh raja opat-opat (bukan opat pulu opat) tetapi 16 orang raja untuk seluruh Tanah Batak semasa pemerintahan Sisingamangaraja-XII.

Pembentukan sistim 4 x 4 raja cukup berhasil dan terbukti Perang Batak dapat berlangsung selama 30 tahun (1876-1907) menentang penjajahan Belanda hinga Sisingamangaraja-XII tewas tertembak tentara KNIL Belanda.

Masuknya faham Kristen dianggap berhasil di Tanah Batak Utara, sementara di Tanah Batak Selatan peralihan faham Islam Pidori berubah menjadi faham Islam yang dianut sekarang. Sementara ke dua faham ini masuk belakangan ke Tanah Batak Lainnya seperti Tanah Simalungun, Tanah Karo, Pakpak-Dairi melalui tahapan-tahapan yang variatif.

Dua faham yang boleh dibilang sama tak sebanding ini, dengan metode-metode yang berbeda dan masing-masing memiliki tingkat keberhasilan yang berbeda-beda pula. Yang menarik untuk difahami dan kontras perbedaan metode dan kontras pula tingkat keberhasilannya adalah antara Agama Islam di Tanah Batak Selatan seperti Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas dengan masuknya Agama Kristen di Tanah Batak Utara seperti Silindung, Toba, termasuk Humbang dan Samosir.

Masuknya Islam ke Tanah Batak Selatan yang dilakukan dengan pemaksaan ternyata berjalan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, sementara pada saat yang relatif bersamaan evangelisasi Kristen yang tidak dengan pemaksaan dianggap gagal. Sebaliknya masuknya Islam di Tanah Batak Utara dengan pemaksaan tidak membuahkan hasil sama sekali, akan tetapi masuknya Kristen tanpa unsur pemaksaan dianggap berhasil sukses. Sementara kedekatan etnik antara Tanah Batak Selatan dan Tanah Batak Utara relatif lebih banyak kesamaannya karena sejarah garis keturunan yang relatif masih dekat dibanding dengan Tanah Batak lainnya. Fenomena ini memerlukan kajian yang mendalam dalam upaya membentuk Batak Bersatu.

6. Batak Setelah Jaman Kemerdekaan

Kemerdekaan menjadi wujud kebebasan dari penjajahan dan bertekad menjadi Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa yaitu Indonesia. Batak yang tadinya disebut bangsa harus rela sementara waktu disebut sebagai suku. Sama hal nya dengan bangsa lainnya yang juga rela tidak disebutkan kebanggaannya melainkan hanya satu dalam Indonesia. Bahkan kerajaan-kerajaan yang pernah ada dan berkuasa di masing-masing wilayah yang ada di Indonesia sekarang ini harus rela pula menghilangkan semua predikatnya. Tidak ada lagi kekuasaan sultan-sultan atau raja-raja kecuali Kesultanan Jogja yang diistimewakan. Apakah semisal Sultan Deli kalah hebat dengan Sultan Jogja? Atau sultan-sultan lainnya yang dulu pernah berkuasa harus rela sebagai rakyat biasa.

Semua yang bernaung di wilayah indonesia harus tunduk kepada kesepakatan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak adalagi kekuasaan raja-raja, sultan-sultan dalam kepemimpinan yang sudah dimandatkan kepada yang disebut sebagai Pemerintah, yang dipimpin oleh seorang presiden dan segala aparat yang berkaitan dengan pemerintahan.

Jadilah NKRI yang berdaulat diatas kepentingan rakyatnya. Jadilah Pemerintahaan yang dimandatkan oleh rakyat bekerja untuk kepentingan rakyatnya. Mungkin tidak seperti pengorbanan kelompok masyarakat lainnya tetapi masyarakat Batak mempunyai andil membentuk NKRI, memberi mandat kepada Pemerintahan, dan ikut berpartisipasi mempertahankannya sebagai Tumpah Darah.

Bangsa Batak yang sangat ketat bernaung dibawah budayanya yang unik dahulunya lebih senang menutup diri dari pergaulan antar bangsa kecuali sebagian kaum yang dikhususkan sebagai barisan depan, sementara pusat peradaban terisolir dalam ketertutupan yang penuh misteri.

Kemerdekaan membawa bangsa ini bebas untuk hidup bersama dengan yang lainnya dimana hukum yang bernaung dalam NKRI berlaku. Pada awal kemerdekaan banyak kaum Batak keluar dari ibu pertiwinya (bonapasogit) untuk ikut berkarya membangun bangsa yaitu Bangsa Indonesia.

“Dimana kaki berpijak dan langit dijunjung disitulah negriku” adalah prinsip umum yang ada pada insan Batak yang sudah keluar dari ibu pertiwinya.  Banyak faktor yang membuatnya tidak kembali lagi kepangkuan ibupertiwinya. Perjalanan waktu membawa suku-suku marga dan beranak pinak membentuk komunitasnya di luar bonapasogit. Terlepas dari unsur-unsur negatif yang mungkin pernah diasumsikan oleh komunitas yang dijumpainya maka komunitas Batak terbukti telah berperan ikut membangun dan meramaikan kegiatan masyarakat sehingga geliat perekonomian menjadi hidup dan berdayaguna untuk pembangunan disegala bidang.

Prinsip-prinsip pendidikan moderen yang dibawa oleh zending-zending Islam maupun Kristen membawa pemikiran moderen bagi angkatan pembaharuan untuk meningkatkan kualitas hidup yang memang ternyata diperlukan dalam kebebasan bersaing. Kerinduan kepada bonapasogit dapat terpenuhi akibat jumlah komunitas yang memadai untuk berkumpul dan berserikat menghidupkan budaya peradabannya.

Akhirnya terjadi rentang generasi yang tidaklagi mengenai ibupertiwinya dan dengan sendirinya ibupertiwi tertinggal dari modernisasi segala bidang. Masyarakat yang menjaga ibupertiwi tidak mampu memberdayakan diri ke dunia moderen yang materialistis sehingga tidak berdaya pula untuk menjaga budaya leluhurnya. Tertinggallah mereka disegala bidang.

7. Batak Jaman Sekarang

Kaum Batak pada jaman sekarang yang hidup diperantauan dan yang tinggal menjaga ibupertiwinya sudah memiliki rentang perbedaan yang jauh dalam segala bidang. Sungguh sulit untuk menilai mana yang lebih baik bila ditinjau dengan parameter kultur. Di satu pihak ketidak berdayaan memelihara kultur dikarenakan ketidakberdayaan ekonomi dan tingkat pengetahuan yang mendukung peningkatan ekonomi kemasyarakatannya, disamping itu pusat-pusat kemajuan yang terbentuk tidak menyebar secara merata keberbagai daerah di Indonesia melainkan hanya terfokus di Pulau Jawa.

Dipihak lain rantai kultur yang terputus pada generasi muda membercepat hilangnya nilai-nilai kultur, dimana pada saat yang bersamaan Indonesia yang berdiri sebagai bangsa belum mampu membentuk kultur dengan nilai-nilai kesetaraan mengadopsi ratusan kultur yang berbeda-beda menjadi satu budaya bangsa.

Kaum Batak Toba (Silindung, Humbang, Toba, Samosir) masih menjadi kaum Batak yang jelas dan pasti, menjaga, membanggakan, mempertanggung-jawabkan Batak sebagai sebuah bangsa. Tidak jarang terdengar bila seorang dari suku Batak Karo bermarga yang mengatakan bahwa dia bukanlah Batak, karena misalnya marganya yang berasal dari keturunan bangsa lain, padahal dahulu kala mereka mempersunting putri Batak Karo dan diberi marga anak beru dengan tambahan bangsa asalnya, lalu diberikan harta benda dan tanah warisan, lalu menyangkal sebagai Batak.

Atau seorang Batak bermarga dari Simalungun yang mengatakan dirinya bukan Batak hanya karena menyangsikan garis keturunan asalnya dianggapnya bukan dari garis keturunan Batak Toba. Atau seorang Batak bermarga di Selatan yang menhilangkan marganya dan mengatakan bukan Batak hanya karena anutan agama yang berbeda dari Batak Toba kebanyakan.

Ada juga seorang Batak yang sudah beberapa generasi tidak memakai marga dan mengatakan Melayu karena pergaulan dipesisir dengan suku-suku jauh. Seorang Batak bermarga yang terlahir dari generasi baru yang sudah jauh berhubungan dengan kulturnya, walau menyadari dianya sebagai Batak tulen tetapi tidak mengakui Batak dalam pergaulannya.

Tetapi banyak juga kejadiannya bahwa setelah beberapa generasi terputus generasinya dan belakangan menyadari bahwa mereka adalah orang Batak yang berketurunan di Takengon Aceh, lalu datang ke Tarutung mencari kampung nenek moyangnya dengan sedikit informasi bahwa mereka dari suku bermarga Pasaribu. Ada juga yang datang ke Bonapasogit dari Minangkabau yang mencari marga nenekmoyangnya hanya bermodalkan catatan keluarga yang berasal dari nama suatu kampung. Seorang Batak yang sudah beberapa generasi berada di negri jiran Malaysia masih mengakui Batak walaupun telah menghilangkan marganya.

Sering juga terjadi pemberian marga kepada non-Batak dengan segala konsekwensi menyandang sebuah marga yang disandang, memungkinkan pada suatu saat nantinya akan menuntut pertanggungjawaban hak di suatu kampung pemberi marga.

Batak sebagai bangsa yang menganut asas patriarki tentu harus menjaga darah biru marganya. Bila kejadiannya seorang putri batak yang dipersunting oleh bangsa lain tentu sudah seharusnya hilang dari percaturan tarombo Batak karena penyematan marga yang memang bukan haknya sebagai titisan darah biru marga pada saatnya akan bermasalah. Lain halnya seorang pewaris marga yang mempersunting bangsa lain tenti akan tetap dalam lingkaran darah biru marga.

Pengajuan pembentukan Propinsi Tapanuli meninggalkan kesan masih ada pemahaman yang salah tentang Batak sebagai bangsa, malah memicu pembentukan Propinsi lain yang memperjelas bahwa dominasi agama ternyata bukan sebagai wadah pemersatu malah menjadi pemisah yang memperbesar perbedaan ketimbang kebersamaan.

8. Kesimpulan

1. Batak memang sebagai bangsa yang disebut Bangsa Batak yang terdiri dari suku bangsa Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, Silindung, Toba, Samosir, Simalungun, Karo, Pakpak, Dairi, Gayo, Alas, Kluet, Singkil, Pesisir, Melayu Deli, berdasarkan tinjauan geografis yang dipetakan oleh Marco Polo dan William Marsden.

2. Bangsa Batak tidak lagi memakai satu budaya purba-nya melainkan sudah bercerai-berai akibat berbagai faktor yang mempengaruhinya seperti pengaruh faham agama, pengaruh pergaulan antar suku, pengaruh letak geografis, pengaruh modernisasi.

3. Batak sebagai insan atau kelompok lebih cenderung memperkecil diri keluar dari sebutan bangsa dan lebih senang memecahkan diri menjadi suku-suku yang berdiri sendiri dan tidak berkaitan satu sama lainnya.

4. Batak sebagai insan atau kelompok dinilai terlalu toleran dan extrovert setelah jaman kemerdekaan sehingga ikatan kultur sudah tidak sekuat sebelum pengaruh asing mempengaruhinya.

5. Ada kecenderungan terkikisnya budaya asli dan hilangnya identitas peradabannya.

6. Terputusnya rantai peradaban asli akan menyulitkan berkomunikasi untuk membuka kaitan kultur dalam satu peradaban kuno-nya.

7, Agama ternyata menjadi hambatan komunikatif untuk mempersatukan Batak sebagai bangsa.

8. Masih ada anggapan sinisme terhadap sebutan Batak.

9. Perlu adanya kajian yang mendasar tentang Batak.

Mulak tu bona

38 Responses to “Batak – Ternyata Bangsa Purba”

  1. manroe703 Says:

    Saya bukan pembaca yg baik.. Tetapi setelah membaca artikel lae ini saya hanya mau bilang mantttttaaapppppp.. Disini diuraikan ttng bangsa batak dari segala aspek, sekali lagi saya bukan pembaca yang baik, tpi saya rajin membaca dan semua yg saya baca disini berkaitan erat den.gan semua yg saya baca ttng batak.
    Ada juga kemiripan orng batak dengan salah 1 suku di india yang di yakini dunia sebagai salah 1 suku israel yg hilang
    Horas ma dihita sude

  2. Terima kasih sdr Tristancura, ada telahmenanggapinya poin per poin, dengan bahasa jujur dan sopan. Saya akan menanggapi komen anda sebagai berikut.
    1. Di benak saya tidak ada terlintas menyudutkan Islam (sebagai faham agama utuh), tetapi anda boleh simak lebih rinci bahwa ada mahzab2 dalam Islam sendiri yang saling kontra sebagai mana yang sudah di anut di Ranah Minang jauh sebelum Paderi terbentuk, termasuk Islam yang di anut di Aceh pada masa itu. Saya sebutkan ‘pada masa itu’. Saya saran supaya anda membedakan dengan Islam moderen sekarang yang hanya 1 atau 2 polarisasi faham saja.
    2. Saya menganut warisan agama dari Orang Tua saya, termasuk dari kakek saya. Tetapi kakek ayah saya meyakili bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Mulajadi Nabolon (saya terjemahkan sebagai ‘Pencipta Alam Semesta’). Jadi saya meyakini bahwa saya bertuhankan sosok Pencipta Alam Semesta ini.
    3. Setelah saya menelusuri sejarah Paderi, bahwa mereka saya yakini tidak sejujurnya sebagai pelaku syiar agama. Catatan-catan sejarah raja-raja yang digilas oleh Paderi, baik di Pagaruyung, di Selatan Tanah Batak, Utara Tanah Batak, ternyata mereka sangat condong untuk tujuan duniawinya><bukan sorgawinya. Salah satu sumber saya dari Onggang Parlindungan 'Tuanku Rao'. Silahkan telusuri sendiri.
    4. Penyakit Kolera pasca Paderi adalah karena banyak mayat2 korban perang saudara (Perang Paderi) itu tidak dikuburkan sehingga mewabah hebat. Zending Kristen yang awalnya di selatan dan masuk ke Tanah Batak Utara mendapat angin segar atas sikon itu. Artinya walaupun tidak ada kolera (Begu Antuk) mereka tentu saja terus menyebarkan agamanya, tetapi peristiwa ini menjadi 'Blessing in disguise' bagi mereka untuk lebih berhasil atas missi-missinya. Pada masa itu miisi mereka kurang berhasil di Tanah Batak Selatan, sedang di Utara kondisi masyarakatnya sedang goyah pasca Paderi. Dan missi mereka berhasil di Utara.
    5. Belanda dan Nomensen adalah dua missi yang berbeda. Belanda adalah aneksasi penguasaan wilayah sebagai jajahan setelah Traktat London, sementara Nommensen adalah Zending agama Kristen. Catatan sejarahnya bahwa Sisingamangaraja bukan berpikir untuk melawan ajaran missi agama tersebut, tetapi dia total menentang penguasaan Belanda. Zending Kristen Nommensen lebih berbau kepada menataan sosial masyarakat untuk kualitas hidup yang lebih baik, sementara Belanda adalah menguras keekonomian masyarakat Batak. Itu/

    Saya mengulas bagian dari sejarah Batak ini adalah sejujurnya atas kecintaan saya terhadap Batak sebagai sebuah komunitas termasuk kelebihan dan kekurangannya. Saya pribadi lebih mementingkan menyoal kehidupan orang-orang Batak sebagai manusia, sebagai mahluk hidup. Saya tidak mementingkan agama apapun yang melekat pada komunitas Batak itu. Biarlah itu urusan pribadi masing-masing kepada tuhannya, tetapi harus digaris bawahi, janganlah sebuah faham yang mungkin akan silih berganti di dunia ini, lantas akan memberangus manusia sebagai bagian dari Alam Semesta sebagai ciptaan yang berharga bagi kehidupan ini. Itu.

  3. Sangat memalukan tulisan ini terhadap orang batak . dimana-mana menjadi korban pembantaian Orang Batak di Bulgaria dibantai ottoman sebanyak 600.000 orang, di negeri sendiri dibantai Paderi Padang sebanyak 600.000 orang ,sedang pada perang dunia II yang dibantai oleh Jermanpun saya rasa dan pasti orang Batak dibantai paling sedikit juga 600.000 orang ( karena menurut sinyalemen Orang Batak itu adalah orang Jahudi/Israel yang hilang)
    Saran saya membuat tulisan selalu berdasarkan fakta jangan asal kutip dan membuat kesimpulan yang akhirnya tidak masuk akal. Kapan Orang Batak menginjakkan eropa (Bulgaria) dengan jumlah orang Batak sampai 600.000 orang sejaman dengan kerajaan Ottoman, karena penyerangan Ottoman ke Bulgaria dan Hongaria pada tahun 1521
    Tetapi aku yakin anda meng adopsi versi Armenia 1915, baca selengkapnya di (http://mirajnews.com/id/artikel/feature/apa-yang-terjadi-pada-tahun-1915-di-kekaisaran-ottoman/)

    Kalau Bisa tolong lah kita konsisten dengan segala pernyataan ,jangan orang batak toba yang suka main api.

    • Terimakasih kepada saudara Adil yang sudi mengomentari tulisan ini. Tulisan ini tentulah disajikan bersumber pada studi literatur yang memang sengaja tidak saya sebutkan sumber-sumbernya, dengan maksud supata kita sama-sama dulu menelusuri sumbernya selengkapnya

      Bahasa saudara Adil yang mengatakan bahwa tulisan ini ‘memalukan’ tentu atas dasar persepsi saudara yang sempit tentang menggaris bawahi poin-poin penting tentang tulisan ini mengenai Batak.

      Tetapi saya penulis artikel ini merasa senang bahwa anda menanggapinya, berarti saudara Adil telah membacanya walaupun saya begitu yakin bahwa anda membacanya hanya sekilas, dimana pas ada membacanya menjumpai yang tidak selaras dengan apa yang anda pahami, lantas anda menghilangkan keseriusan anda membacanya lebih lanjut.

      Kalau boleh saya saran supaya anda membacanya ulang secara serius, sebagai kebutuhan anda untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi yang anda perlukan, kemudian anda simpulkan untuk kekayaan ilmu pengetahuan anda. Thanks bro Adil/

  4. aku cinta jadi orang batak

    HORAS halak batak di bolahan bumi on

  5. yg muslim sangat tidak suka dengan tulisan ini. mereka slalu berusaha mnutupi kekejaman paderi. paderi zaman itu di tanah batak, seperti Isis saat ini..

    • Saya penulis, hanya ingin berbagi informasi berdasarkan penelusuran study literatur. Muslim, atau faham agama lainnya yang ada dalam tulisan ini, bagi saya bukanlah inti dari tulisan ini. ‘Batak’ adalah intinya. Trims sdr. Maerly

  6. Batak Gila Says:

    Seluruh umat manusia adalah keturunan batak, karena adam dan hawa adalah orang batak. Tuhan mengusir adam dan hawa dari surga lalu terdampar di pusuk buhit dekat danau toba. Dari tanah batak keturunan adam dan hawa menyebar ke seluruh dunia. Jadi seluruh bangsa di dunia harus hormat pada orang batak. Sehebat apa pun orang eropah, orang cina, orang amerika, orang jepang, tetap saja mereka itu anak cucunya bangsa batak. Batak adalah bangsa purba yang pertama di dunia. Batak adalah bangsa paling hebat, paling agung, paling segalanya di dunia ini. Hai bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, sadarilah bahwa asal-usul kalian dari bangsa batak atau dari pusuk buhit danau toba.

  7. Hans Naibaho Says:

    Mantap Sejarahnya…. Kren

  8. abinove Says:

    songon-songon on ma nian molo boi na jinaha asa lam mangattusi hita akka bangso i. ndang lomo rohaku molo idok haporseaon ni ompunta na jolo idok sipelebegu. Persoalan kepercayaan adalah ekspresi manusia menunjukkan penghormatan kepada kuasa yang dianggap lebih tinggi daripada kuasa manusia. Horas Bangso i… Batak

  9. wakhinuddin Says:

    Ada juga Islam masuk dari Barus dan Singkil.
    Syech Abdul Rauf as Singkil itu konon bermarga Tamba.

    • Banyak tokoh-tokoh pada awal millenia di Barus yang sudah masuk, tetapi mereka belum dapat kita kategorikan sebagai penyebar atau befokus kepada syiar agama. Sama seperti peninggalan sejarah Nestorian di Barus belum berkategori sebagai penyebar penggalan kekristenan di Tanah Batak

  10. Nikolas Simanjuntak Says:

    Jika boleh sy tambahkan utk dikembangkan lanjut, yakni:
    1. “Sejarah Batak Hilang” sejak thn 1200 s.d. 1810an. Thn 1200 adalah mega tsunami yg menenggelamkan peradaban kota Emporium Barus kuno. Peradaban di Barus itu masih ‘belum pasti’ ada keterpautan dg Tanah Batak yg masih SPLENDID ISOLATION krn tertutup rapat rimba raya pegunungan dan lembah curam penuh hewan buas. VOC yg bangkrut krn KKN pd 31Des 1799 dipastikan tdk ada pengaruh langsung ke Tanah Batak yg terisolasi alam, juga krn itu tiada pengaruh Suku2 lain ke Batak.
    2. Thn 1800 Nusantara menjadi Provinsi Kerajaan Belanda di Timur Jauh sbg Hindia Belanda. Baru sesudah itu, di 1824 dlm Traktak London, Inggris menyerahkan Tanah Batak kpd Belanda, yg anehnya “Org Inggris dan Belanda tdk pernah tahu bagaimana bentuk orang Batak yg telah mereka transaksikan… dan juga Orang2 Batak di masa itu tak pernah tahu dan sadar bahwa tanah dan orang Batak telah diperjual-belikan org Inggris dan Belanda.”
    3. Sejak thn 1800-1824 itulah baru sederet ilmuwan peneliti dari Eropah berdatangan ke tanah Batak utk berbagai tujuan penelitian, yang hampir pasti juga utk menjadi dasar kebijakan POLITIK PEMERINTAHAN Kolonial Belanda. Dan sejak itu kita ketahui banyak catatan terutlis berdirinya perkebunan tembakau, karet, dan kelapa sawit, serta usaha perminyakan di Sumatera Timur. Bisaj jadi benar, pun William Marsden ikut dlm rombongan ini menjelajah ke tanah Batak. Lalu semua notasi tahun sesudah 1810 itu adalah penjelajahan org2 Eropah dan Amerika ke tanah Batak dg maksud dan tujuan utk kepentingan masing-masing, termasuk Van der Tuuk (1852 menerjemahkan Alkitab ke dlm bhs Batak) kemudian menyusul Nommensen 1863 dst… Hemat sy, hampir semua data dan riset tertulis ttg tanah Batak asli (di luar Barus dan Aceh, serta pantai Timur lain) yg dilakukan oleh orang2 Eropah dimulai sejak thn 1800an itu. Krn itu kita perlu SUPER KRITIS menggunakan hasil riset org2 Eropah sebab segala ASUMSI dan HIPOTESIS serta TUJUAN RISET yg mereka bangun pastilah utk kepentingan mereka, dan pasti bukan utk “pencarian budaya Batak yg hilang” sprti yg kita mau saat ini.
    3. Hemat sy, pastilah moyang kita Batak asli, belum bisa baca-tulis hasil didikan sekolah, sebelum thn 1824an. Sehingga semua kisah NARASI BATAK dg segala Maxim yg diturunkan sbg TUTUR LISAN BERANTAI, tidak berkategori laporan wartawan sebagai sejarah fakta dan peristiwa, dan pasti juga tutur lisan itu bukan hasil riset ilmiah. Hemat sy, semua Narasi Kisah ttg Orang Batak dan segala maxim yg diwariskan hingga kini adalah berkategori FOLKLORE sbg “cerita rakyat yg mengandung Nilai-nilai tradisi dan moral yg mereka anggap baik”. Maka menurut hemat sy, semua FOLKLORE perlu dan harus dilakukan TAFSIR TEKS dan KONTEKS (hermeneutik) untuk bisa memperoleh Nilai-nilai Kultural khas (particular indigeneous) yg bernilai luhur tinggi utk diwariskan. METODOLOGI Eliminasi dan pembersihan topik2 yg tdk bernilai utk diwariskan, sy kira harus kita kerja keras melakukan proses pembersihannya, sehingga misalnya jangan sampai diwariskan nilai-nilai “permusuhan antar saudara” krn hal itu pastilah TIDAK RASIONAL dan itu melanggar HAM di masa kini dan ke depan.
    4. Pembangunan semua sarana INFRASTRUKTUR KERAS yg kita nikmati kini berupa jalan penghubung antar kampung, daerah pemukiman HUTA dan wilayah sawah dan perlandangan serta irigasi, sy kira hampir pasti itu dimulai sejak thn 1830an setelah aman dari Perang Paderi dan kemudian berlanjut di thn 1870 dg berlakunya AGRARISCHE WET (hukum agraria) yg dengan dasar itu para pejabat kolonial masuk desa pedalaman mengukur setiap jengkal tanah utk membangun infrastruktur keras. Dan para pekerjanya adalah moyang kita yg dg sistem KERJA PAKSA. Situasi ini yg kemungkinan besar menjadi gara-gara, singkam mabarbar terjadinya PERANG BATAK… Seharusnya ketika kita menikmati jalan dan Desa/Huta sekarang ini, disitu kita baiknya tepekur merenung panjang berapa banyak korban meninggal kerja paksa dan mati krn tidak makan atau kena penyakit disentri dst..

    Beberapa topik itu dan lain yg terkait seyogianya bisa digali dan dikembangkan secara kreatif inovatif bagi kemaslahatan BATAK MODERN generasi internets-gadgets di era zaman ini.

    Salam kami dari Jakarta.
    Nikolas Simanjuntak
    nsplaw@gmail.com

    • Memang banyak betulnya yang Bung Nikolas Simanjuntak paparkan di ruang komen ini. Mengenai Mega Tsunami boleh jadi pernah ada di kurun waktu yang disebutkan itu, karena sejarah mencatat kejayaan Kerajaan Barus pada Abad-11, namun masa berikutnya hilang raib begitu saja?

      Sebenarnya kapal-kapal dari Eropah Barat seperti Portugis, Belanda, Inggeris, bahkan Perancis sudah berlabuh di berbagai pelabuhan Pantai Barat Sumatera di Abad-17, seperti di Singkil, Barus, Tapian Nauli. Jadi merekapun tentu saja sudah melihat wajah2 Orang Batak Pada waktu itu.

      Buku History of Sumatera oleh William Marsden memang diterbitkan di Tahun 1811, tetapi ekspedisi yang dilakukannya sudah dimulai di tahun 1776 bahkan sudah mem-petakan Tanah Batak, yang disebutkannya kira2 hampir seluruh Sumatera Utara sekarang dan sebagian Aceh. Berdasarkan ini tentu saja mereka (setidaknya Team Ekspedisi telah mengenal orang Batak). Dalam hal Belanda memang baru masuk setelah Traktat London 1824 dan merekapun awalnya hanya bercokol di Sumatera Barat (Di Tarutung tercatat baru tahun 1840-an Belanda memasukinya.)

      Sepertinya memang setelah terbitnya History of Sumatera maka bangsa2 Eropah mulai menaruh kepentingannya di Tanah Batak..

      Terimakasih atas masukannya yang cukup bernilai.

  11. Sepertinya Sdr Adolfo & Saudara Anto Simatupang menitik beratkan Artikel ini dari sudut pandang poin-1 & 2. Bagaimana Sdr.2 lain? mungkin belum berkomentar dari sudut pandang hanya poin-3, atau hanya dari poin-4&5. Saya memaparkan dalam artikel ini berupa resitasi Sejarah Batak secara keseluruhan. Anyway, thanks bro Anto Simatupang atas pendapat dari sisi pandang anda.

  12. salam kenal lae, semangat baca blog anda. sangat informatif. Saya Buddhis, walaupun bapak saya Lubis. Ibu saya Cina.

    Saya tidak pernah melepaskan marga, malah bangga sebagai orang batak. Mohon izin, blog anda saya share di blog saya.

    • Terimakasih Lae Lubis tertarik pada artikel2 yang di posting di WebBlog ini. Silahkan share blog ini di blog anda. Kebanggaan anda tentang Batak tentu anda berusaha menghargai dan memuliakan diri sendiri. Thanks.

  13. Perlu anda catat, bahwa masuknya Kristen ke Toba juga adalah atas bantuan orang2 Tapsel dengan basisnya dari Sipirok, padahal waktu itu Sipirok adalah 99% sudah Islam.

    • maridup Says:

      Nampaknya bro Adolfo belum baca butir-4 artikel ini. Boleh juga diulangi lagi membacanya bro Adolfo.

      Anyway, bro Adolfo cukup bersemangat untuk menanggapi, dan ini mengindikasikan bahwa bro Adolfo care terhadap ‘Batak’, mauliate/Horas

      • jai boa do gereja nestorian abad ke 6 mang ke 7 nadi Barusi to? holan pedagang nadi pesisir ido jemaatna haroa dang adong penduduk lokal?

  14. Pertama2 saya haturkan Horas,

    Sepertinya anda memberikan informasi yang salah terhadap masyarakat. Misalnya anda menyebutkan bangsa Batak sampai ke Bulgaria, hanya untuk menyudutkan Islam…..menurut saya itu menyesatkan dan juga cerita2 itu hanyalah dongeng di Bulgaria dari orang2 anti Islam.

    Yang kedua, anda sebutkan bahwa orang2 Islam dari Angkola, Sipirok, Padangbolak dan Mandailing membantai orang2 Toba di zaman Paderi. Menurut sejarah turun-temurun dari dinasti pewaris Raja Batak (dari garis Tetea Bulan), sebenarnya ada hal terbesar dibalik itu……anda tidak menguasai seluruhnya sejarah Batak. sejak kekalahan Sumatera terhadap India (Rajendra Cola), terjadi perpecahan masyarakat Batak dan terpecah menjadi kerajaan2 kecil sehingga pihak pewaris kerajaan migrasi ke daerah selatan. Dalam kurun yang sama terjadi perdagangan budak di dunia. Kerajaan2 kecil di Toba secara terus menerus melakukan penjarahan, pencurian dan penculikan manusia untuk dijadikan budak (HATOBAN) untuk dijual ke Sumatera Timur dan Semenanjung Malaysia. Toba yang pagan waktu itu adalah manusia2 yang sangat primitif dan buas……sampai hari ini masih tertanam dalam pikiran orang2 Sipirok.

    Tentu saja bagi orang Selatan yang sudah mayoritas Islam (agama yg universal), ingin mengurangi gangguan dari serangan masyarakat primitif tersebut….tidak ada pilihan kecuali ditaklukkan dan diberikan pencerahan ke arah yg lebih baik. (saya kira hal sama yg dilakukan Nonmensen dan Belanda). Dinasty Sorimangaraja di Sipirok dan Dinasty Siregar (Ompu Palti Raja) kebetulan secara politik memiliki dendam yang sudah berlangsung selama 500 tahun terhadap Toba.

    Menurut saya 500 tahun lebih daerah Toba berada dalam dunia kegelapan (perang, budak/jappurut/hatoban, pengorbanan manusia, merampas dan pagan).

    Patut kita syukuri dengan datang nya Islam dan Kristen mengembalikan kita ke zaman sebelum datangnya Rajendra Cola.

    Saran saya, anda melakukan koreksi terhadap tulisan ini sangat tidak pas dibaca, sangat tendensius dan kurang intelektual atau no-brainer.

    • maridup Says:

      Terimakasih atas tanggapannya brother Adolfo. Sebelum saya lanjutkan, saya hanya ingin bertanya; Apakah bro Adolfo seorang Batak? Bila ya… maka bacalah artikel ini sebagai seorang Batak, bukan sebagai Islam, bukan sebagai Kristen, bukan sebagai Parmalim.

      Dari saran bro Adolfo, tidak perlu ada koreksi untuk tulisan ini, kalau memang sangat tidak pas dibaca – ukuran tidak pas nya dimana bro? Kalau dikatakan tendensius, tendensiusnya kearah mana bro? Yang jelas konteksnya adalah ‘Batak’ sebagai komunitas bangsa. Kalau dibilang ‘no-brainer’ mungkin ada benarnya dan diharapkan tanggapan pun dari yang ‘no-brainer’ juga lah…

      • Anto Simatupang Says:

        yah ,sy setuju dgn bung Adolfo.
        Anda sepertinya membuat “sejarah” ini dr sudut pandang anda sendiri dgn cara memojokkan Islam,tapi anda berkelit dgn mengatakan:bacalah artikel ini sebagai seorang Batak, bukan sebagai Islam, bukan sebagai Kristen, bukan sebagai Parmalim..trus klo sy buat artikel sejarah ttg batak dan memojokkan kristen bagaimana?dan sy berkelit dgn jawaban yg sama dgn Anda.ini akan memecah belah batak.Batak adalah Batak dan sampai kapanpun seorang batak tetap jadi orang batak,takkan bisa jadi org china,india,jawa dll.tp klo agama,tiap tahun bahkan tiap bulan org bisa berganti agama,siapa yg larang?? intinya lae,bagimu agamamu bagiku agamaku,yg penting kita sama2 org Batak.

    • tullisan nihamunaon ito berbau korban jajahan bolanda ho hulala bah to,,,boasa didok hamuna halak Batak hea di jaman kegelapan sedangkan nadisombape Ompung Mula Jaid Nabolon? Sebelum ro agama modern tu tanah Batak hau2 mardiameter lebih 500m dah, ditabai ma tambah sebab tanpa perasaan bersalah tu alam tu penciptana, ai didia do Tuhani di jolam songoni ito? Carita nadibegemuna tentang hejugulanni halak Tobai ai disude bangso dohot luat do adong najugul , unang digeneralisai hamuna, dangi? Pasti ompung nihalak itope najolo ngadihasut monjo ra asa benci tu halak Toba hapeni Tuanku Raope pamboan monjo tu tanah Batak akhirna membelot Tuanku Imam bonjol alani biadabna , situkang holocaust Bataki inna ito Onggang Parlindungan Siregar .Ringkotnii boasama digelari ompu Sisingamangaraja ‘raja nahimiahon’? nahimiahon artina nadihormati, disayangi jala dipasu2 jolma dohot Tuhan alani alimna, burjuna makan dilean Tuhani sahala tu ibana . dangna lobi 150.000 tentra diboan Tuanku Rao meyerang Toba naeng mangholocaust halak Toba alai boasama holan 30.000 halak namulak selamat dohot ibana tu rao hapeni ngahampi punah halak Toba tingkisi alani holocausti , nagamatutung sude jabu , nagsega juma dohot pinahan ianggo soalani pasu1ni Tuhani tu raja nahimiahoni dohottu bangsona sae dibantai Tuanku Rao ro museng sibottar mata menjajah alai boasa sampe sonnari tetap exist halak Batak ianggo soalani habatahonta/hamalimonta dohot pasu2ni Tuhani? jai halak Batak tohoma trus halak naalim saturut tu antusani hata Bataki: suci.alim, solam..horas…satu kesalahanni SM IX dohot X makana gabe parsili Tuanku Rao berenai alana ngadiboto sian parnidaannni datu songoni boasa pola dioloi hasil diskusini angka tua2 lao palaohon/eksekusi siPongki ( nama asli Tuanku Rao ) sian tano Batak sebelum diban tor-tor pangurason(penyucian) alai lak dibaen SM Raja sandiwara eksekusina asa selamat si Pongky, molodibaen hinan tortor pangurasoni dang pala gabe dajal siboan jea Tuanku raoi ..dangi to?

      • Horas ito, maksud ni iba di si, i ma jaman kegelapan menurut versi umum na binoto ni halah awam secara umu, molo pendapathu, halah Batak on torus do dibagasan haporseaonna tu Debata Simula Tompa. Horas

    • Sebanarnya memang Ada benarnya tulisan Ini, mengenai kehilangan identitas diri orang Batak Karena masuknya ajaran Islam.kita bisa lihat bukti bukti itu…dimana orang Batak yang Sudah menganut Islam, berusaha menghilangkan Marga atau idientitasnya, Dan cenderung mengikuti melayu atau Minangkabau atau aceh.

  15. ricko purba Says:

    trimah kasih aku senang membacanya dan aku baru tau sekarang sejarah batak sedetail itu, saya sangat bershukur bisa jadi keturunan batak. Salam selalu.

  16. Royskots’s Blog http://royskots.wordpress.com dan Blog Punguan Sinurat http://pungsin.wordpress.com mem-posting artikel ini “Batak Ternyata Bangsa Purba” tanpa membuat tautannya dari Batak One. Infogue.com mempromosiken artikel ini dari Blog Punguan Sinurat http://pungsin.wordpress.com

    Kedua Blog sudah diberikan pemberitahuan termasuk infogue.com, dan Blog Punguan Sinurat http://pungsin.wordpress.com sudah menanggapinya secara positif. Terimakasih atas ketertarikannya menyebarkan info tentang Batak dari Blog Batak One.

  17. Terimakasih atas perhatiannya, tujuan saya hanya ingin memperkenalkan budaya batak kepada kita orang batak khususnya untuk keturunan pomparan Sinurat, Ok, saya akan perbaiki sekali lagi saya mengucapkan terimakasih, horas

    • Terimakasih dunkom, Batak One mendukung upaya anda dan artikel2 menarik lainnya dapat anda posting di blog Punguan Sinurat tentusaja dengan mencantumkan tautannya. Horas.

  18. Aku bangga sebagai orang batak ……

    • Thanks friend, siapa menyusul?

      • Ada banyak kejanggalan di dalam tulisan Lae.,sy sebutkan bbrp saja..sebab ulasan diatas cukup panjang.diantaranya ialah;
        1.Lae bbrp x menyudutkan Islam melalui kontroversi sejarah “paderi”,yang tentunya perlu Lae ketahui bahwa paderi sendiri tercatat berhubungan baik dengan Sisingamangaraja.baik bonjol-silindung-aceh adlah 3wilayah target yg terencana penghancurannya oleh Belanda dalam tarikh(masa) yang sama.bhkan dlm bbrp ulasan dikatakan bhwa antara panglima paderi-sisingamangaraja-raja aceh terjalin komunikasi yg baik dalam,dan pastinya bukan hubungan sebagai penganut kristen atau ke-batakan.bahkan sisingamangaraja Xll melarang rakyatnya menerima kolonial beserta agama yang dibawanya.jelas bahwa kedatangan belanda tak sekedar misi penjelajahan samudera,melainkan misi zending dan pengkristenan.lalu bagaimana pula 350tahun belanda dan voc menjajah negeri ini tk bisa dikatakan memaksakan akidah kristen? Lae mengatakan paderi memperkosa,membantai dsb.. Dari opini Lae,lantas bagaimana dengan fakta kristen yg dibawa kolonial?

        2.Lae bicara soal kearifan dan keagungan batak dlm bingkai “mulajadi”,apa Lae sendiri beragama itu?,bila Lae beragama Kristen,mengapa Lae meninggalkn agama mulia bangsa batak? Mula jadi na bolon tdk bisa kita sebut agama,sebab tidak ada kitab atau aturan hukum yg absolut di dalam ajaran kepercayaan itu.

        3.Lae mengakui kekerabatan sisingamangaraja dengan Aceh,sementara islamnya aceh dan barus diawali dgn proses yg sama.bagaimana Lae bisa menuding islam secara sepihak? Bilamana paderi seburuk itu dgn islamnya,lalu bagaimana mungkin sisingamangaraja yg arif bijaksana bisa berhubungan baik bahkan sempat tinggal di aceh? Mengapa islam aceh tdk memusuhi sisingamangaraja layaknya tudingan Lae thdp paderi?

        4.kalaulah cuma untuk perihal penanganan kolera,buat apa nomensen jauh2 dari eropha ke toba? Apa nomensen dri eropha udah meramalkan wabah korea? Berarti nomensen peramal?

        5.sekali lagi menyoal sisingamangaraja yg agung.. Bagaimana mungkin masyarakat toba yg bgitu memuliakan raja sisingamangaraja,yg jelas anti kristen dan jd target pembunuhan oleh bangsa pembawa kristen justru kini menganut agama pembunuh rajanya?(andai mmg benar sisingamangaraja terbunuh).

        Ada baiknya kita mengulas sejarah batak dengan sejujur2nya menyertakan apasaja,tidak masalah bila mmg mesti menyoal agama,tp tdk lah lantas menyudutkan tanpa disertai alasan yg konkrit dan bukti yg jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: